
Di rumah besar, Elica terlihat sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Semilir angin menerpa wajah cantik nya dengan lembut. Entah mengapa malam ini dia terlihat Gelisah tanpa alasan hingga di tidak bisa tertidur. Tidak berselang lama terdengar ponsel nya berdering yang berada diatas ranjang tidur nya, dengan segera Elica pun berjalan kedalam kamar untuk mengangkat panggilan tersebut. Dan ternyata Bryan lah yang menelpon dirinya.
"Halo Bryan.."
("Halo Elica, kau baik-baik saja? Aku sedang di Seattle ingin menemui mu. Tapi tidak ada. Kau berada dimana?")
Tanya Bryan dengan cemas, dan Elica baru teringat jika dia belum memberitahu pada Bryan jika dia kini sedang berada di kediaman rumah Alex.
"Astaga Bryan, maafkan aku. Aku lupa memberitahu mu. Kemarin Alex datang ke Seattle dan membawa ku bersama nya" jawab Elica.
("Apa, lalu apa yang terjadi? Apa dia menyakiti mu?")
"Tidak Bryan. Aku baik-baik saja"
("Lalu sekarang kau dimana? Apa perlu aku menjemputmu?")
"Aku berada di rumah mendiang orang tua Alex. Tapi kau tidak perlu kemari Bryan, karena Alex meminta ku disini hingga aku melahirkan. Setelah nya dia akan melepaskan ku"
("Benarkah itu?")
"Iya Bryan, kau tenang saja. Dan aku ingin merepotkan mu lagi Bryan, tolong jaga ayah ku Bryan jangan sampai dia minum alkohol.")
("Baiklah Elica. Kau tenang saja Elica, aku pasti akan menjaga ayah mu")
"Terimakasih Bryan. Kalau begitu aku tutup dulu panggilan nya"
("Iya Elica")
***
Sudah hampir satu pekan Alex belum kembali ke rumah besar. Dan paman Jo bilang pada Elica jika hari ini akan ada Tante Alex yang akan datang. Sebenarnya Elica sedikit gugup jika nanti saudara Alex itu bertanya tentang keberadaan nya di rumah ini, dan lebih parah nya yang Elica takutkan jika perempuan itu tidak suka dengannya.
Namun Elica berusaha menepis pikiran nya tersebut karena dia lebih memilih menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan oleh saudara Alex itu.
"Selamat bibi Christin" sapa Elica pada bibi Christin yang baru saja keluar dari kamar tamu.
"Selamat pagi Elica. Sarapan mu sudah di meja makan ya. Maaf bibi tidak bisa menemani mu, karena bibi sibuk menyiapkan keperluan nyonya Muda yang akan datang"
"Iya bi, lalu dimana paman Jo?"
"Dia sudah berangkat ke bandara untuk menjemput Nyonya"
"Apa Alex juga pulang?" Tanya Elica
"Bibi tidak tau Elica. Karena sampai saat ini Tuan muda belum memberi kabar"
"Baiklah kalau begitu"
Elica pun memilih untuk sarapan terlebih dahulu, karena dia berniat setelah ini dia akan membantu bibi Christin menyambut Tante dari Alex itu.
Sekitar satu jam kemudian, terdengar suara mobil yang memasuki teras rumah. Benar saja, ternyata itu paman Jo. Elica melihat mobil tersebut dari jendela bersama bibi Christin. Paman Jo pun turun dan membukakan pintu belakang, tidak lama seorang wanita cantik dengan pakaian elegan nya juga turun.
Wanita tersebut berjalan kearah pintu masuk, yang langsung di sapa oleh Bibi Christin.
"Selamat datang kembali di rumah besar Nyonya Irene" sapa Bibi Christin dengan sopan dan dibalas anggukan oleh wanita itu.
Elica yang tidak tau harus melakukan apa, hanya bisa berdiri disamping bibi Christin.
Wanita yang bernama Irene itu pun lebih memilih duduk terlebih dahulu di sofa untuk menghilangkan rasa lelah nya. Dia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung nya.
Beberapa saat kemudian Bibi Christin dan Elica membawakan minuman serta makanan ringan untuk sang nyonya muda.
"Alex tidak pulang?" Tanya Irene pada bibi Christin dengan suara nya yang tenang.
"Satu Minggu lalu tuan muda datang kemari Nyonya. Kemudian keesokan harinya Tuan muda sudah berangkat lagi ke New York"
Ucapan Bibi Christin pun hanya di balas anggukan oleh Irene.
Kemudian wanita itu meminum minuman yang telah di sediakan pada nya.
"Siapa dia? Pelayan baru?" Tunjuk Irene yang mengarah pada Elica.
"Nama nya Elica Nyonya" jawab Bibi Christin. Kemudian Elica pun tersenyum pada Irene.
"Kau sedang hamil? Kenapa masih bekerja?" Pertanyaan tersebut membuat Elica mati kutu. Karena dia bingung harus menjawab apa.
"Maaf Nyonya, tapi Tuan muda lah yang membawa Elica kemari satu Minggu yang lalu" kata Bibi Christin menjelaskan.
"Ah begitu. Berarti kau bukan pelayan. Tapi tunggu dulu.... Apa hubungan mu dengan Alex?"
"Saya...." Demi tuhan jika Elica bisa menghilang saat ini mungkin dia akan memilih hal itu. Karena Elica tidak tau harus menjawab nya bagaimana.
Beberapa saat suasana pun hening. Dan Elica masih belum tau harus mengatakan apa, dia pun terlihat melirik ke bibi Christin berharap agar dia bisa membantu Elica menjelaskan nya pada Irene.
"Saya teman Alex Nyonya. Dia membantu saya dengan mengizinkan saya untuk tinggal disini"
Jawab Elica berbohong.
"Baiklah. Aku akan istirahat terlebih dahulu, setelah itu kita bisa berbicara lagi, Elica" ujar Irene terlihat acuh.
"Silahkan nyonya, kamar nya sudah saya siapkan." Kata Bibi Christin
Irene pun beranjak dari duduknya, dan pergi ke kamar yang berada di atas.
Seketika Elica langsung menghela nafas nya lega.
Nyata nya berbicara dengan Tante nya Alex sangat menegangkan juga. Karena sifat dari Irene tidak jauh berbeda dengan Alex yaitu sama-sama Dingin.
***
Irene sudah duduk di meja makan, tapi wanita itu belum menyentuh makanan yang telah di sediakan oleh Bibi Christin. Karena Irene sedang menunggu Elica untuk makan malam bersama.
Tidak lama Elica pun sampai di meja makan, kemudian Irene pun mempersilahkan Elica untuk duduk hanya dengan gerakan kepala nya saja.
"Makan lah. Aku tidak suka makan sendirian" ucap Irene.
"Terimakasih"
Keduanya pun mulai makan dalam diam. Sebenarnya Elica sangat canggung dengan suasana seperti ini, untuk menelan makanan nya saja terasa sulit.
"Jadi kau itu teman Alex?" Tanya Irene tiba-tiba. Seketika Elica langsung menghentikan aktivitas makan nya.
"Benar Nyonya"
"Jangan panggil aku Nyonya, lagi pula usia ku masih 45 tahun."
"Baiklah" jawab Elica dengan senyuman
"Tapi setahu ku Alex tidak pernah seperduli itu pada teman-teman nya"
"Maaf, maksud anda saya tida mengerti" ujar Elica.
"Ini rumah mendiang orang tua Alex, dan dia tidak pernah membawa teman nya kemari. Dan aku tidak bodoh Elica, jika kau hanya beralasan bahwa kau adalah teman Alex" ucap Irene pada Elica To The Poin, seketika raut wajah Elica terlihat tegang.
"Jadi apa sebenarnya hubungan mu dengan Alex?" Tanya Irene bernada mengintrogasi.
Elica masih menutup mulutnya dan belum siap untuk menjelaskan semuanya.
"Elica, kau tidak bisa menjawab nya?"
"Maaf" hanya itu saja yang keluar dari mulut Elica.
"Baiklah jika kau tidak mau menjawab. Bagaimana jika aku mengganti pertanyaan nya. Apakah bayi yang ada di kandungan mu adalah anak Alex?"
Damn. Pertanyaan tersebut sangat tepat sasaran, hingga Elica pun memejamkan mata nya sesaat. Elica tidak bisa lagi menutupi nya lagi, dan cepat atau lambat semua nya juga akan terbongkar.
Akhirnya Elica menjawab dengan anggukan kepala. Terdengar helaan nafas kasar dari Irene.
"Berapa usia mu?"
"21 tahun"
"Astaga. Apa dia memperkosa mu?"
"Tidak"
"Jadi... Kalian melakukan nya suka sama suka"
"Tidak"
Irene seketika langsung bingung saat mengetahui jawaban Elica. Sebenarnya apa yang terjadi selama ini. Karena setahu Irene, Alex memang telah menikah dengan wanita yang sudah terbilang tua tapi mereka baru bercerai beberapa bulan yang lalu. Tapi mengetahui kehamilan Elica, Irene pun sangat terheran dengan kejadian yang dia sendiri tidak tahu. Mengingat usia Elica yang sangat belia sangat disayangkan.
Irene pun memberikan air minum pada Elica.
"Kita bicara di ruang tengah. Ayo" ajak Irene lembut dan Elica pun membalasnya dengan anggukan.
Irene dan Elica pun duduk berdampingan di sofa ruang tengah.
"Tadinya aku hanya menebak-nebak saja dengan pertanyaan yang aku ucapkan pagi tadi. Tapi melihat ekspresi wajah mu yang berbeda, aku semakin yakin jika kau dan Alex memang memiliki hubungan yang tidak biasa" ucap Irene membuka pembicaraan. Dan Elica hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Lama Irene menatap wajah Elica yang masih belum mau menjelaskan apapun. Tidak menampik bagi Irene, jika Elica memiliki wajah yang cantik.
"Apa kau tau jika Alex, pernah menikah?" Tanya Irene.
"Iya"
"Berapa lama kalian berhubungan?"
"Aku tidak ingat pastinya, yang jelas aku mengenal Alex saat dia merebut ibu ku dari Ayah ku" ujar Elica dan berhasil membuat Irene sangat terkejut.
"Apa maksud mu?"
Elica pun akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap kepada Irene untuk berbicara.
"Orang yang di nikahi oleh Alex adalah ibu ku. Dia menghancurkan keluarga ku hingga kini menjadi berantakan" entah keberanian dari mana, Elica mampu berbicara hal demikian.
"Jadi kau... Anak tiri dari Alex? Dan kau mengandung anak nya, begitu?" Tanya Irene memastikan.
"Benar. Dan aku hamil bukan karena di perkosa oleh nya ataupun melakukan nya atas dasar suka sama suka. Tapi aku menyerahkan harga diri ku pada nya, dengan tujuan pernikahan itu tidak pernah terjadi. Tapi apakah anda tau, Alex adalah pria bajingan yang pernah saya temui. Dia tidak melakukan apa yang pernah dia janjikan dan justru meneruskan pernikahan tersebut. Dan beberapa waktu setelah nya dia membuang ibu ku hingga kini dia menjadi gila di rumah sakit jiwa." Ujar Elica panjang lebar dengan emosi nya.
"Kenapa kau menyerahkan diri mu pada Alex. Sedangkan banyak cara bisa kau lakukan untuk menghentikan hal itu"
Kata Irene.
Bukanya menjawab Elica justru menetes kan airnya sambil menatap Irene. Mata nya terlihat sendu dan entah emosinya pun seketika hilang.
"Kau mencintai Alex?" Ucap Irene menerka-nerka. Dan Elica pun kembali diam dan menangis.
Irene juga seorang wanita, dia tau apa yang dirasakan Elica saat ini. Saat wanita mencintai seorang pria, namun perasaan tersebut dibalas oleh sakit hati maka yang hanya bisa menjelaskan keadaan nya adalah air mata.
Tanpa berpikir panjang Irene pun memeluk Elica. Padahal mereka baru bertemu hari ini, namun Irene merasakan jika Elica sebenarnya adalah perempuan yang lembut.
"Maafkan aku Elica. Aku tidak tau masalah nya akan serumit ini. Dan aku juga tidak menyangka Alex akan tega melakukan hal ini pada mu. Tapi kau harus tau satu hal, banyak wanita yang ingin mendapatkan Alex. Dan melihat mu berada di rumah ini, aku yakin kau adalah perempuan yang sangat spesial bagi Alex."
TBC