Playing With Fire

Playing With Fire
Part 18



Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca..


********************


Seminggu kemudian...


Hilda dan Alex sudah pisah rumah sejak kejadian pertengkaran mereka malam itu. Hilda memutuskan untuk keluar dari rumahnya, meninggalkan Alex sendirian. Dan Alex tidak mencegah nya sama sekali. Entah kenapa perasaan nya dulu pada Hilda hilang begitu saja dalam sekejap. Malah dia ingin segera menggugat cerai wanita itu dan menikah dengan Elica putri nya.


Namun Surat gugatan cerai antara Alex dan Hilda pun sudah keluar, itu semua karena Leo juga ikut turun tangan agar ibu Elica bisa cepat terlepas dari Alex.


Dan dia pun segera membawa Elica pergi.


Di kantor, Alex sedang berkutat dengan tumpukan berkas yang ada di meja kerja nya. Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan kerjanya. Tak lama sekretaris nya pun masuk dengan membawa beberapa dokumen di tangan nya.


"Permisi Tuan, ini ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani. Dan ada satu dokumen yang di kirim dari pengadilan" ujar sekretaris cantik itu.


Dan sontak Alex pun langsung menghentikan aktivitas nya, dan menatap dokumen yang di katakan sekretaris nya.


"Siapa yang mengirim kesini?" Tanya Alex


"Seorang kurir tuan"


"Baiklah. Kau bisa pergi"


"Kalau begitu saya permisi."


Setelah sekretaris nya keluar, Alex pun buru-buru membuka dokumen tersebut. Dan benar saja, itu adalah surat gugatan cerai dari Hilda yang bahkan sudah di tanda tangani langsung oleh Hilda.


Alex merasa harga dirinya di injak. Padahal dia yang berniat akan melayangkan gugatan pada Hilda, bukan malah sebaliknya. Namun Alex langsung terpikirkan oleh suatu hal. Ini semua pasti ada campur tangan dari Leo, karena pria itu ingin membawa pergi Elica. Dan Alex tidak akan membiarkan semua nya terjadi.


********************


Di tempat lain, Elica sedang membuat minuman untuk dirinya dan ibunya. Ya, saat ini ibu nya tinggal bersama nya di rumah milik Leo.


Leo menyuruh ibu Elica untuk tinggal dengan nya sampai proses perceraian selesai. Alasan mengapa Leo membawa Elica dan ibu nya ke rumah nya karena Alex sudah mengetahui apartemen nya yang dulu. Dan mau tidak mau Leo harus menyembunyikan Elica di rumah ini bersama ibu nya.


Sekarang Hilda sedang menyiram tanaman di teras rumah Leo. Hal yang sejak dulu selalu dia lakukan, baginya melihat tanaman yang segar bisa menghilangkan beban pikiran nya.


Tak lama Elica pun datang membawa dua gelas minuman yang telah dia buat tadi.


"Mom" Elica meletakkan minuman nya di meja. Hilda pun menoleh ke arah Elica dan tersenyum.


"Kau buat apa sayang"


"Aku buat jus jambu. Minum dulu Mom"


"Terimakasih Elica"


Mereka pun minum bersama di depan teras rumah sambil memandangi tanaman yang baru saja disirami oleh Hilda.


"Mom... Mengenai perceraian mu dan__"


"Mommy sudah menandatangani nya Elica. Tadi malam Leo memberikan berkasnya pada Mommy. Dan mungkin hari ini surat gugatan itu sudah sampai di kantor Alex"


"Mom yakin akan bercerai lagi?"


Tanya Elica dengan pelan. Sejujurnya dia masih  trauma dengan kata "perceraian".


"Yakin sayang. Setelah bercerai Mommy akan mencari pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan Mommy sendiri. Mommy menyesal sekali, terhadap apa yang Mommy pilih kemarin. Ternyata kau juga terseret dalam masalah ini juga. Dan lebih fatal nya lagi kau menjadi korban"


Jawab Hilda sambil menatap kosong kedepan. Elica menatap ibu nya dengan iba.


Dia tau jika ibunya salah, tapi saat ini tidak penting menyalahkan siapa yang salah.


"Aku akan menikah dengan Leo di Jerman setelah semua ini selesai. Aku harap Mommy kembali saja pada Daddy, aku yakin dia pasti bisa memaafkan mu Mom"


"Tidak Elica. Mommy sudah tidak punya wajah lagi untuk bertemu Daddy mu. Mommy malu."


"Meskipun tidak bisa bersatu kembali, setidaknya Mom harus bertemu dan meminta maaf pada Daddy, Mom. Percaya lah Mom, Daddy itu hati nya sangat lembut. Asal Mom mau menemuinya dia pasti akan memaafkan mu. Atau mau ku antar kesana"


"Tidak perlu sayang. Nanti Mommy akan kesana sendiri. Bagaimana dengan kandungan mu, apa kau tidak mual-mual?"


"Hanya sedikit mual. Tapi aku bisa mengatasi nya"


"Syukur lah. Mom harap kau segera menikah dengan Leo, dia pasti bisa melindungi mu Elica. Kapan kalian berangkat?"


"Leo bilang setelah semuanya selesai kita akan segera berangkat"


"Ya semoga saja Alex cepat menandatangani gugatan itu"


***********************


Sore itu Alex melajukan mobil sangat kencang untuk menuju suatu tempat. Dia terlihat sangat marah sampai melampiaskan nya dengan menggenggam setir mobilnya dengan erat. Beberapa menit kemudian dia sampai di depan perusahaan besar yang bertuliskan "Leonard Corporation ".


Benar saja, itu perusahaan milik Leo. Alex turun dari mobil nya dan segera memasuki kantor tersebut dengan membawakan sebuah dokumen di tangan nya.


Setelah beberapa saat dia pun langsung di izinkan masuk bertemu Leo diruangan nya. Tanpa mengetuk pintu Alex membuka saja pintu ruangan Milik Leo. 


"Wah ada tamu rupa nya" ujar Leo


"Tidak perlu basa-basi. Apa maksud nya dengan ini" ucap Alex marah sambil melempar dokumen yang dia bawa ke meja Leo.


"Duduk lah dulu, Tuan Alex. Mau ku pesankan minuman? Sepertinya kau sedang emosi" balas Leo santai.


"Jangan bermain-main dengan ku Leo. Kau memilih musuh yang salah jika ingin membuat masalah denganku" gertak Alex.


"Well, sebenarnya apa yang salah? Kau tiba-tiba masuk tanpa permisi, kemudian melempar dokumen kepada ku, dan tiba-tiba kau marah-marah? Apa masalah mu tuan Alex?"


"Jangan bertingkah polos didepan ku. Karena itu sangat menjijikkan. Kau.. tidak perlu ikut campur dengan urusanku dengan Hilda. Aku tau kau mengurus surat gugatan ini bukan? Sekarang katakan pada ku di mana Hilda dan Elica?"


"Kenapa kau bertanya pada ku tuan Alex? Hilda kan istri mu, dan kenapa kau menanyakan Elica kepada ku? Anda itu lucu sekali" ucap Leo dengan nada menyindir.


"Baiklah jika kau tidak mau menjawab nya. Tapi kau harus ingat satu hal. Aku tidak akan menandatangani surat gugatan cerai itu sebelum Elica menemui ku. Dan jangan berharap kau bisa membawa Elica pergi dari sini, karena dia itu milik ku" ucap Alex penuh penekanan.


"Jadi kau kemari untuk mengancam ku?"


Tanya Leo.


"Aku tidak mengancam, aku hanya memberi mu peringatan. Jangan bermain-main dengan ku, atau kau akan lihat perusahaan mu ini akan lenyap dalam hitungan detik jika aku menginginkan nya. Kau paham"


"Hahahaha lakukan saja Alex, aku tunggu kalau begitu. Sekarang pergilah karena kau membuang waktu ku, atau perlu kah aku memanggil petugas keamanan?"


Alex pun memilih pergi setelah mengatakan hal yang ingin dia ucapkan tadi. Sedangkan sepeninggalan Alex, Leo terlihat sangat kesal. Salah jika berpikir Leo tidak berani dengan Alex, kenyataan nya sedari tadi Leo menahan amarahnya agar tidak meninju wajah Alex karena perilakunya dan ucap Alex barusan. Sangat memancing emosi nya, tapi Leo tidak ingin membuat keributan di kantor nya sendiri.


Namun hati Leo masih saja tidak tenang, mengingat Alex belum mau menandatangani surat cerai itu yang arti nya Alex sudah tau rencananya, jika Leo akan membawa Elica pergi setelah perceraian itu selesai. Jadi Alex akan menggunakan segala cara untuk mengulur perceraian nya.


Leo pun akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal dan secepat nya memberitahu Elica dan ibu nya terhadap apa yang di katakan Alex tadi. Leo segera melajukan mobilnya untuk pulang.


Tanpa dia sadari ternyata Alex mengikuti nya dari belakang, tanpa disadari oleh Leo.


Leo pun sampai di sebuah rumah besar milik nya, sedangkan Alex kini sudah mengetahui dimana Elica berada. Ternyata benar jika Leo menyembunyikan Elica di rumah itu. Dengan segera Alex pun pergi setelah dia mengetahui hal itu.


*********************


"Tumben sekali sudah pulang, ada apa?" Tanya Elica.


"Dimana ibu mu?"


"Dia ada di kamar, ada apa sebenarnya Leo?"


"Bisa kau panggil ibu mu Elica? Ada hal yang ingin ku bicarakan" ucap Leo


"Baiklah tunggu sebentar"


Elica pun memanggil ibu nya di kamar, tak lama mereka pun sudah berkumpul di ruang tengah.


"Ada apa Leo?" Tanya Hilda.


"Begini bibi, tadi Alex datang ke kantor ku dan dia mengembalikan surat gugatan cerai yang telah di kirim kepada nya. Dan Alex tidak mau menandatangani nya"


"Kenapa dia bisa tau jika kau yang membantu ibu ku Leo?"


"Dia tau mungkin karena dia sudah menyadari jika setelah perceraian itu selesai, maka aku akan membawa mu Elica"


"Lalu dia bilang apa lagi?"


"Alex bilang mau menandatangani nya jika kau mau menemuinya Elica"


"Tidak. Kau Jangan menemui nya Elica, dia pria yang berbahaya dan juga licik. Bagaimana jika dia malah membawa mu kabur" ucap Hilda dengan nada cemas.


"Tenang bibi, jika pun Elica menemui nya pasti akan aku temani." Sahut Leo menenangkan Hilda.


"Mom tenang lah. Yang dikatakan Leo benar, aku akan menemui nya bersama Leo. Semua ini demi masalah ini cepat selesai Mom" ucap Elica.


"Tapi Mommy takut dia berbuat sesuatu kepada mu Elica"


"Itu tidak mungkin Mom, lagi pula aku sedang mengandung anak nya. Dia tidak akan menyakiti ku"


Ucapan Elica berhasil membuat Hilda dan Leo terdiam.


"Kapan kau akan menemui nya?" Tanya Hilda.


"Lebih cepat lebih baik, kurasa" jawab Elica.


"Baiklah, bagaimana jika besok. Kau mau?"


Sahut Leo.


"Tentu saja"


"Jaga Elica baik-baik, Leo"


"Baik bibi"


*************************


Keesokan harinya Elica dan Leo pun mendatangi kantor milik Alex. Mereka datang tanpa sepengetahuan Alex dengan membawa dokumen perceraian.


Sesampainya mereka di ruangan Alex, pria itu terlihat diam dan terus memperhatikan Elica.


Leo dan Elica duduk berhadapan dengan Alex di kursi. Kemudian Leo pun menyodorkan Dokumen itu pada Alex.


"Sesuai keinginan mu, aku membawa Elica agar kau menandatangani surat ini"


Ucap Leo.


Sedangkan Alex pun belum berniat menjawab ucapan Leo. Dirinya masih menatap tajam kearah Elica, namun sayang Elica membuang wajah nya menatap kearah lain.


"Aku bilang, aku akan menandatangani nya jika Elica datang tapi tanpa kau Leo"


Jawab Alex dingin.


"Apa beda nya? Sekarang Elica di sini, kau hanya perlu tanda tangan saja. Apa susah nya" Ucap Leo.


"Bisa kau keluar, ada hal yang ingin ku bicarakan berdua dengan nya"


Tanpa tidak langsung Alex mengusir Leo agar meninggalkan nya dengan Elica.


"Tidak akan" jawab Leo


"Baiklah jika itu mau mu. Kalian bisa pergi, dan jangan harap aku mau menandatangani nya" ucap Alex dingin.


Leo yang mulai tersulut Emosi akhirnya berdiri dari duduknya, namun dengan cepat Elica menahan lengan Leo.


"Keluar dulu sebentar Leo. Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja" ucap Elica.


"Tidak Elica"


"Ku mohon Leo. Sebentar saja agar semua nya selesai"


Leo terlihat berfikir sejenak, dan akhirnya di mengangguk mengiyakan ucapan Elica. Sedangkan Alex terlihat tersenyum menyeringai melihat Leo keluar dari ruang kerja nya.


Tersisa lah Elica dan Alex. Mereka saling menatap satu sama lain dengan diam.


"Cepat tanda tangan sekarang"


"Santai sayang, bukankah kita juga ada masalah yang perlu di bicarakan?"


Ucap Alex


"Aku sudah tidak ada masalah lagi dengan mu Alex jadi ku harap kau jangan mempersulit perceraian ini"


"Kenapa jadi kau dan Leo yang repot masalah perceraian ku dengan ibu mu Elica. Padahal tadi nya jika kalian tidak ikut campur, aku akan senang hati mengurus nya hingga selesai. Dan aku pun baru tau, jika kalian melakukan ini agar kau bisa lari dari ku kan?"


"Jika iya, kenapa?" Tantang Elica.


"Aku suka kau jika bersikap begini sayang. Kau terlihat cantik jika menunjukkan sisi arogan mu. Dan wanita seperti itu memang cocok menjadi pasangan ku"


"Jangan bermimpi Alex."


"Kenapa tidak Elica, kau bahkan sedang mengandung anak ku. Buah cinta kita berdua dulu. Dan asal kau tau, aku tidak akan membiarkan orang lain menjadi ayah untuk anak ku. Dan selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan mu menikah dengan pria lain"


"Aku akan mengugurkan nya sesampainya aku di Jerman nanti. Jadi aku tidak akan terikat apapun dengan mu. Dan Leo akan menikah dengan ku setelah nya"


Ucap Elica dengan entengnya dan membuat Alex marah.


Alex pun berdiri dari duduknya nya lalu menarik Elica agar berdiri. Dengan cepat Alex pun mendorong Elica ke dinding.


Elica meringis saat punggung nya berbenturan dengan dinding. Tidak perduli dengan pekikan Elica, Alex pun langsung mencium bibi Elica dengan kasar.


Alex terus menekan tubuh nya pada Elica, seolah mengikis jarak antara keduanya. ******* demi ******* bibir Alex terus dia berikan pada Elica, hingga membuat Elica sulit bernapas.


"Pergilah sejauh mungkin kau bisa, kali ini aku akan melepaskan mu. Tapi jika nanti aku kembali menemukan mu, jangan berharap kau bisa lari lagi. Karena di saat itu kau hanya punya dua pilihan Elica. Pergi atau mati"


Bisik Alex di telinga Elica dengan nada tajam nya setelah pautan bibi mereka terlepas.


Keduanya sama-sama terengah-engah, kemudian Alex pun menjauhkan diri nya dari Elica, dan berjalan menuju meja.


Tanpa di sangka, Alex langsung menandatangani surat gugatan cerai tersebut. Dia pun kembali berjalan kearah Elica dan memberikan surat itu di tangan Elica. Sedangkan Elica masih diam atas apa yang Alex lakukan.


"Pergilah. Ingat apa yang aku katakan tadi" ucap Alex kemudian duduk di kursi kerja nya. Sejenak mereka saling bertatapan cukup lama, hingga kemudian Elica memutuskan tatapan tersebut lalu keluar dari ruangan tersebut.


Di luar, Leo sudah menunggu Elica. Dia dapat melihat jika Elica membawa dokumen di tangan nya.


"Bagaimana? Apa Alex sudah menandatangani nya" tanya Leo tidak sabaran.


"Sudah. Ini" ucap Elica menyerahkan dokumen itu.


"Kau serius? Dia langsung mau melakukan nya"


"Kau bisa melihat nya jika tidak percaya"


Leo pun langsung membukanya dan benar saja, ada tanda tangan Alex disana. Leo pun tersenyum melihat nya.


"Akhirnya kau dan ibu mu terlepas dari nya"


"Aku lelah Leo, bisakah kita pulang"


"Tentu saja. Ayo Elica."


Leo dan Elica pun menaiki mobil nya dan bergegas pulang kerumahnya. Tidak sabar memberi tahu hal baik ini pada Hilda. Namun berbeda dengan Leo, raut wajah Elica justru berubah. Dia terlihat cemas dengan apa yang di ucapkan Alex tadi padanya.


TBC.


Vote dan komentar nya di tunggu...


Follow IG : akiokokoru_69