
Rintik hujan malam hari ini menambah suasana syahdu bagi siapapun yang menikmati nya. Seorang wanita lebih memilih menenggelamkan tubuh nya di kasur empuk nya yang terasa sangat nyaman. Bahkan lampu kamar pun sengaja tidak dia nyalakan, hingga suasana didalam sangat gelap.
Elica sedari tadi hanya berbaring di kamar nya. Rasa bosan menghampiri nya, karena Elica belum mengaktifkan ponsel nya dari beberapa hari yang lalu. Sebenarnya dia sangat lapar, namun rasa malas nya ditambah suasana dingin membuat nya enggan untuk melangkah keluar dari kamar tersebut. Suara ketukan pintu akhirnya membuat Elica terpaksa bangun untuk membuka nya. Ternyata Bella lah yang melakukan nya, terlihat jika gadis itu membawa sekantung plastik yang di sodorkan pada Elica.
"Makanlah, aku akan berangkat kerja sekarang" ucap Bella
"Kau sudah makan?" Tanya Elica.
"Sudah. Kalau begitu aku pergi dulu, jangan buka pintu jika ada orang asing yang mengetuk Elica"
"Baiklah. Terimakasih Bella"
Gadis itu menjawab nya hanya dengan anggukan kepala, lalu pergi meninggalkan Elica.
Sepeninggalan Bella, Elica pun langsung membuka makanan yang tadi dibawakan Bella dan langsung melahap nya. Sambil makan Elica menyusuri ruangan tempat nya tinggal. Apartemen Bella terlihat kotor, banyak baju yang terseok di sofa maupun di lantai.
Dan dapur pun banyak sekali sampah yang belum tergeletak begitu saja. Hal itu lah yang membuat Elica malas untuk memasak. Namun karena dia juga mengingat kebaikan Bella, maka setelah makan selesai Elica berniat akan membersihkan tempat ini agar lebih bersih.
***
Bryan terlihat sedang duduk dengan ayah Elica. Keduanya sedang berada di sebuah bar hanya sekedar minum, pria itu menenggak sebuah bir yang ada dihadapannya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Albert ayah Elica.
"Dia baik, dan dia tinggal di rumah saudara perempuan ku"
Tuan Albert terlihat menghela nafas nya pelan, kemudian dia juga meminum sebuah bir sama seperti Bryan. Dia memang baru saja pulang siang tadi dan langsung menghubungi Bryan untuk menemani nya minum.
"Kenapa kau membatalkan kepergian kalian ke luar negeri paman?" Ucap Bryan tiba-tiba.
"Aku bingung Bryan. Hari itu Alex datang ke rumah ku, dia memohon agar aku mau memberikan nya restu untuk menikahi Elica. Dia berkata jika dia akan bertanggung jawab atas kandungan Elica, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Sepertinya putri ku sudah sangat membenci nya, meskipun dia juga telah menyukai pria itu. Jadi aku memilih pergi untuk memberikan Elica waktu untuk berpikir, namun jika ini keputusan nya, maka aku hanya bisa membiarkan nya"
"Tapi aku yakin Alex tidak akan diam saja paman" ujar Bryan.
"Aku tau, biarlah mereka yang akan menyelesaikan nya"
"Apa kau juga sudah mengetahui keberadaan Bibi Hilda, paman?" Tanya Bryan mencoba mencari informasi.
"Sudah. Saat ini dia bersama Mia, kemarin Mia menelpon ku"
"Syukur lah kalau begitu, aku lega mendengar nya"
"Tapi Mia bilang, kondisi Hilda memburuk jadi dia membawa nya untuk dirawat di rumah sakit"
"Apa Elica tau tentang hal ini paman?"
"Belum. Tapi lebih baik jika dia tidak tau, kau mengerti maksud ku kan Bryan"
"Baik paman, aku tidak akan memberitahu nya"
Albert pun membalas nya dengan Anggukan kepala.
****
Setelah 2 jam membersihkan Apartemen milik Bella, Elica pun memutuskan untuk mandi. Ruangan tersebut sudah berubah menjadi lebih enak di pandang, dan tidak ada lagi dapur yang kotor.
Selanjutnya Elica berniat akan ke minimarket untuk membeli beberapa bahan makanan, karena di kulkas dia tidak melihat apapun untuk dijadikan makanan.
Elica telah rapi dan langsung bergegas ke minimarket. Ternyata jarak nya tidak jauh dari apartemen, hanya jalan kaki dan membutuhkan waktu 10 menit saja dia sudah sampai di tempat yang dia tuju. Elica pun masuk dan langsung meraih troli untuk menampung belanjaannya.
Cukup banyak bahan yang Elica beli, kemungkinan stok tersebut hingga beberapa hari kedepan. Meskipun minggu depan dia sudah akan pindah ke Seattle, tapi setidaknya dia tidak mau merepotkan Bella lagi karena urusan makanan.
Elica membawa belanjaan nya ke kasir, dia pun membayarnya dengan kartu debit nya. Untuk pulang Elica memilih menggunakan taksi, karena tidak mungkin dia membawa barang sebanyak itu dengan berjalan kaki
Sesampainya di rumah, Elica langsung menata apa yang tadi dia beli kedalam kulkas. Kemudian Elica langsung memasak makanan untuk dia dan Bella makan nanti.
Ditempat lain seorang Pria misterius tengah berjalan kedalam sebuah kantor dengan langkah lebar nya. Pria tersebut menggunakan maker dan topi berwarna hitam untuk menutupi wajahnya.
Tidak disangka, pria tersebut langsung masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan "Direktur" sesaat dia mendapatkan izin dari resepsionis.
"Selamat malam tuan Alex" sapa si pria misterius itu.
"Kau sudah mendapatkan informasi?"
"Ya tuan. Nona ada di Tacoma, saya melacak dari kartu debit yang dia pakai beberapa jam yang lalu"
"Sial" gerutu Alex karena mengetahui jika Elica benar-benar ingin pergi dari pengawasan nya.
Dia pun berdiri dari duduknya lalu beranjak menuju jendela kaca seraya melihat kearah lampu lalu lintas dibawah.
"Ada hal yang bisa saya lakukan lagi tuan?"
"Siapa yang membantu nya pergi ke tempat itu?" Tanya Alex
"Saya belum mengetahui nya tuan, tapi jika tuan menginginkan saya mencari tau, maka saya akan melakukan nya"
"Tidak. Tidak perlu, lagi pula jika aku menyuruh nya untuk kembali dia pasti tidak akan mau. Begini saja, cari tahu keberadaan Hilda secepatnya. Aku ingin kau membuat wanita itu menjadi menderita bagaimana pun caranya."
Ujar Alex dengan suara menakutkan. Dia sudah kepalang marah karena Elica tidak memikirkan apa yang pernah di ucapkan Alex.
"Apa anda yakin tuan? Bagaimana jika nona tau?"
"Itu bukan urusan mu. Dan usahakan Jangan sampai dia tau. Lakukan saja apa yang aku perintahkan, lagi pula Elica tidak mendengarkan ancaman ku. Maka ini lah yang akan dia dapatkan, dan juga ini salah satu cara agar wanita itu kembali tanpa aku paksa. Tapi aku ingin kau terus mengawasi nya sana, pastikan anak ku baik-baik saja"
"Baik tuan"
****
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan Elica sudah terlelap dalam tidur nya. Tiba-tiba terdengar suara bel yang mengganggu indra pendengaran Elica. Meskipun dia mencoba menghiraukan nya namun bel terus saja berbunyi. Dengan terpaksa Elica pun bangun, dia melirik kearah jam. Dia sedikit bingung, tidak mungkin jika sekarang Bella pulang dari kerja nya. Mengingat Bella selalu pulang hampir pagi hari.
Elica ragu haruskah dia membuka pintu atau tidak. Namun suara itu terus saja mengusiknya, akhirnya dia pun memberanikan diri melihat siapa yang bertamu tengah malam begini.
Elica membuka pintu, dan ternyata Devan lah yang datang.
"Devan.. apa yang kau lakukan tengah malam begini? Bella belum pulang" ujar Elica memberitahu Devan
"Tidak Elica, aku tidak ingin bertemu dengan Bella. Tapi dengan mu"
"Dengan ku?" Elica mengernyitkan dahi nya.
"Setidaknya bolehkah aku masuk dulu Elica?"
"Baiklah masuklah" ucap Elica dengan malas. Karena sebenarnya dia sangat mengantuk, apalagi sore tadi dia membersihkan apartemen Bella. Membuat nya sangat lelah.
Devan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Ada hal apa hingga kau bertamu semalam ini Devan?"
"Maaf jika aku menganggu mu Elica, tapi jika ada Bella aku tidak enak hati jika ingin berbicara dengan mu. Jadi tengah malam begini aku datang" jawab Devan
"Baiklah tidak masalah. Tapi bisakah kau langsung ke inti nya? Karena aku sangat mengantuk"
Devan terlihat mendekat kearah Elica hingga mereka berdua duduk berhadapan. Dan pria itu pun memegangi kedua tangan Elica. "Apa yang kau lakukan Devan?" Ucap Elica terkejut dengan tingkah Devan
"Aku akan mengatakan nya secepat mungkin Elica, tapi kau harus tau jika aku mengatakan ini dengan tulus. Sebenarnya aku sangat menyukai mu Elica, bisakah... bisakah kita menjalani suatu hubungan? Maksudku.. maukah kau menjadi kekasih ku? Karena aku sudah lama menyimpan perasaan ini, Elica" ucap Devan bersungguh-sungguh menatap kearah Elica.
Dengan cepat Elica pun menarik tangan nya sendiri dari genggaman tangan Devan hingga terlepas. Dia sangat kaget dengan apa yang dikatakan Devan. Rasa kantuknya yang tadi menghampiri nya kini hilang entah kemana.
"Devan.. kau gila. Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan tadi? Kau itu sudah menjadi kekasih Bella. Ingat itu" desis Elica terlihat menahan amarahnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat seolah tidak setuju dengan apa yang dikatakan Elica.
"Tidak Elica. Perempuan yang selalu aku cinta itu diri mu Elica bahkan sejak dulu. Aku yakin kau juga tau hal itu kan." Ucap Devan.
"Apa kau mabuk Devan? Kau membicarakan hal yang mustahil. Apalagi kau sudah menjadi milik Bella, kau tidak pantas mengatakan hal itu"
"Ku mohon Elica, coba kau pikirkan kembali ucapan ku tadi"
"Tidak ada yang perlu aku pikirkan Devan. Karena jawaban ku tentu saja TIDAK" jawab Elica tegas.
"Kenapa tidak Elica, kau bahkan tidak memberikan aku alasan"
Elica sangat tidak percaya dengan perbuatan pria yang ada dihadapannya ini. Haruskah dia menelpon Bella jika saat ini kekasihnya sudah gila.
"Jawab aku Elica..." Cecar Devan
"Aku sedang hamil. Kau puas? Dan kau tau artinya kan, jika aku sudah memiliki pria lain. Jadi singkirkan pikiran gila mu Devan. Dan jangan mengatakan hal konyol seperti ini lagi" tandas Elica marah
"Hamil? Tidak. Itu tidak mungkin" ujar Devan tidak percaya.
Elica yang melihat raut wajah pria itu kemudian terlihat menyunggingkan senyuman seringai nya karena berhasil membuat Devan terkejut.
"Aku bukan perempuan yang sebaik kau kira Devan. Lagi pula, Elica yang dulu kau kenal sudah mati. Jadi jangan berharap apapun lagi pada ku" ucap Elica menjelaskan pada pria yang masih tertegun tidak percaya itu.
"Siapa.." Ujar Devan pelan.
"Apa?"
"Siapa.. siapa pria yang menghamili mu Elica?" Pekik Devan tiba-tiba.
Sontak Elica pun terlonjak kaget saat pria itu meninggikan nada bicara nya.
"Kau tidak perlu tahu siapa dia, yang jelas jangan mendekati aku lagi. Dan ingat, kau sudah punya kekasih. Dan dia adalah Bella. Jadi jika kau sudah selesai, kau bisa langsung keluar sekarang Devan" usir Elica secara langgsung.
Elica pun berdiri lalu berjalan kearah pintu untuk membuka nya dan mengisyaratkan agar Devan cepat pergi.
Karena Elica khawatir jika Bella tau tentang hal ini, pasti perempuan itu sangat marah.
Namun raut wajah Devan sudah berubah, terlihat sekali kekecewaan dan amarah menyelimuti hati nya. Mengingat perempuan yang sangat dia kagumi dulu sudah berbeda.
Dia pun juga ikut beranjak dari duduknya nya dan menghampiri Elica yang tengah membuka pintu untuk nya. Mata nya tak beralih kepada Elica, seolah mengintimidasi Elica dengan sakit hatinya.
"Pulang lah Devan, ini sudah malam. Dan aku akan menganggap apa yang kau bicarakan tadi tidak pernah ter..."
Tanpa disangka, Pria itu langsung menarik kepala Elica dan mencium bibir nya. Elica yang terkejut dan tidak siap langsung mencoba memberontak.
Tetapi Devan malah menutup pintu apartemen itu dengan satu tangan nya tanpa melepaskan ciumannya. Dan mengiring Elica menuju sofa.
Elica yang mengetahui apa yang akan Devan lakukan Akhirnya memiliki ide, dia pun menggigit bibir Devan hingga ciuman tersebut terlepas.
Plakk..
Dengan cepat Elica menampar pipi Devan dengan keras.
"Kau gila Devan. Kau pikir apa yang telah kau lakukan" teriak Elica dengan marah di depan wajah pria itu.
Bukan nya menjawab ucapan Elica, Devan justru kembali menarik Elica dan mencium nya lagi dengan paksa.
Elica kembali memberontak mencoba melepaskan diri, namun kali ini tenaga Devan lebih kuat hingga dia kesulitan. Tanpa terasa air mata Elica keluar begitu saja, Devan yang mengetahui Elica menangis langsung melepas pautanya.
"Kenapa harus menangis Elica, bukankah kau sama saja dengan wanita murahan sekarang." Ucap Devan
Kalimat tersebut membuat hati Elica sangat sakit. Mengapa semua orang mengatakan dia murahan tanpa mengetahui kebenaran nya. Seperti dirinya sudah tidak memiliki harga diri lagi.
"Aku membenci mu Devan" ujar Elica seraya air mata nya yang terus keluar.
"Hanya ciuman kau menangis. Lalu bagaimana dengan pria yang menghamili mu? Apa kau juga menangisi nya hingga pingsan? Jangan bertindak Seolah kau perempuan suci Elica" tidak berhenti Devan justru malah menyudutkan Elica.
"Keluar.." sahut Elica.
Devan terlihat mengeraskan rahangnya kesal, namun belum juga mau pergi.
"Elica, aku harap aku bisa bertemu dengan Elica yang dulu.."
"Kubilang Keluar! Apa perlu aku panggil petugas keamanan" ucap Elica lagi.
Pria itu terlihat menghela nafas nya lalu memilih pergi keluar.
Sepeninggalan Devan, Elica langsung merosot kebawah dan menangis mengingat kejadian menyakitkan tadi.
Dia hanya ingin pergi tanpa harus ada orang yang menganggu nya. Kenapa hal sederhana seperti itu saja terasa sulit bagi Elica. Karena saat ini dia hanya ingin memikirkan keadaan kandungan nya.
TBC.
Jangan lupa untuk vote like dan komentar.