
Bianca sangat kesal pada Alex yang terang-terangan mengusir nya dari rumah besar. Padahal tadinya Bianca merasa senang karena Alex tidak pulang bersama Elica, namun apa yang dia dengar dari mulut Alex membuat nya sangat Emosi.
"Aku tidak mau pergi. Aku akan membicarakan hal ini pada ayah ku, jadi kau tidak bisa mengusirku begitu saja Alex" pekik Bianca yang merasa tidak terima.
"Itu terserah pada mu. Yang jelas aku lah pemilik rumah ini jadi kau tidak bisa menentang apa yang aku ucapkan"
Setelah mengatakan itu, Alex pun memilih pergi meninggalkan Bianca dan berjalan menuju kamarnya yang ada di atas. Bianca melihat punggung Alex yang mulai menghilang dengan tatapan tajam nya.
Sejak awal tujuan nya kemari adalah ingin memiliki Alex. Ternyata benar kabar yang beredar jika Alex merupakan orang yang sulit di taklukkan.
Tetapi Bianca masih kekeh ingin tetap tinggal di sini, hanya selangkah lagi dia bisa mendapatkan Alex. Dan Bianca tidak ingin usaha nya sejauh ini sampai harus gagal total. Dia meyakinkan dirinya jika Alex akan menikah dengan nya. Tidak perduli walaupun status Alex kini menjadi duda ataupun memiliki anak pada perempuan lain.
***
Sudah dua hari berselang, Bianca tampak nya membuat gara- gara. Dari kemarin dia tidak mau makan apapun dan mengunci dirinya di kamar saja.
Hal ini justru membuat Irene dibuat gemas ingin sekali menyeret perempuan itu keluar. Namun Alex juga tidak menghiraukan apa yang di perbuat Bianca, karena Alex tau jika Bianca melakukan hal ini hanya untuk mencari perhatian nya saja.
"Alex bisakah kau menyuruh wanita itu keluar dari kamarnya. Tante takut dia mati, dan Tante tidak mau ada mayat disini" ujar Irene yang tengah sarapan di ruang makan bersama Alex.
"Biarkan saja"
"Lagi pula kenapa kau masih memperbolehkan wanita gila itu disini. Tingkah nya, astaga seperti anak kecil"
Irene tidak bosan terus mengoceh pada Alex tentang Bianca. Dan hal yang Irene katakan semua memanglah benar, tapi hanya ada satu yang salah. Yaitu Bianca tidak akan mati kelaparan, karena setiap malam Alex melihat wanita itu turun ke dapur seperti pencuri untuk memakan semua yang ada di kulkas. Konyol sekali jika padahal Alex sudah mengetahui semuanya.
"Oh iya Alex, kapan Elica kembali?" Tanya Irene.
"Lusa"
"Tante tidak sabar bertemu dengan Elica. Apalagi bulan depan anak kalian akan lahir, akhirnya Tante sudah menjadi nenek" ujar Irene terlihat senang.
Alex yang mendengar ucapan Irene pun tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Irene. Ya karena sebentar lagi anak nya akan lahir ke dunia, Alex pun juga tidak sabar menanti hal itu.
***
Karena Irene terus saja meminta Alex menyuruh Bianca keluar kamar, akhirnya Alex pun kini berada di depan kamar yang di tempati Bianca.
Jika bukan kemauan Irene, Alex tidak mau membujuk Bianca keluar. Tetapi rupanya sang Tante tidak percaya dengan ucapan Alex.
Tok tok tok
Alex mengetuk pintu kamar tersebut tapi tidak ada respon apapun di dalam.
"Bianca buka pintu nya. Ini aku" sahut Alex
Tidak lama pintu pun terbuka dan memperlihatkan wajah Bianca yang terlihat berantakan seperti sehabis menangis.
"Ada apa?" Tanya Bianca dengan suara pelan.
"Keluar lah, Tante ku takut kau mati karena tidak makan"
"Aku tidak mau makan dengan nya. Dia selalu menggunjing ku"
Ucap Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.
"Setidaknya kau harus makan. Jangan sampai saat orang suruhan ayah mu menjemput mu pulang kau seperti ini. Sangat kacau"
"Kau benar-benar melakukan nya? Kau mau aku pergi Alex?"
"Iya"
Bianca pun akhirnya menangis dihadapan Alex dengan keras.
"Tidak tau kah kau Alex, aku melakukan ini semua karena aku suka dengan mu. Aku mencintai mu Alex. Apa mau tidak mengerti juga hah?" Ucap Bianca dengan nada tinggi kepada Alex.
"Kau salah mencintai orang Bianca. Aku duda. Kau puas?" Jawab Alex ketus
"Aku tidak perduli apapun itu. Yang jelas aku mencintaimu Alex, aku tidak mau jauh dari mu"
Bianca pun mendekati Alex kemudian memeluk pria itu tiba-tiba dengan air mata yang masih keluar ke pipi nya. Sedangkan Alex yang mendapat perlakuan tersebut hanya diam tidak merespon apapun.
Entah apa yang diucapkan Bianca sambil menangis. Bagi Alex hanya gumaman yang tidak penting, dan kenyataan Bianca malah memeluknya lebih erat.
Setelah lebih tenang, Akhirnya Alex pun mengajak Bianca keluar untuk menghirup udara segar. Sekaligus menemaninya makan di restoran, Karena Bianca tidak ingin makan di rumah.
Hingga langit terlihat gelap, keduanya masih berada di sebuah kafe. Tidak ada pembicaraan sama sekali, karena Alex lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya nya. Sedangkan Bianca menikmati penyanyi Kafe yang sedang melantunkan lagu.
"Ayo pulang" ucap Alex namun di balas gelelengan kepala oleh Bianca.
"Aku masih belum ingin pulang Alex"
"Ini sudah malam. Lagi pula kita pergi dari tadi siang, Tante mencari kita"
Mendengar ucapan Alex, Bianca justru memutar matanya kesal. Lagi-lagi Tante Alex yang menyebalkan itu menganggu nya.
"Baiklah. Tapi aku ingin minum malam ini, setelah itu kita pulang" jawab Bianca.
"Aku tidak mau, kau pasti sangat merepotkan jika mabuk"
"Please Alex. Hanya beberapa gelas saja, lagi pula anggap ini malam terakhir kita sebelum aku di jemput pulang ke ayah ku" .
Tadi nya Alex ingin menolak, tapi Bianca terus saja meminta hal itu. Pada akhirnya Alex pun mengiyakan apa yang Bianca mau, dan pergi dari Kafe tersebut untuk menuju ke sebuah Pub malam di kota itu.
Setelah memakan waktu beberapa menit mereka pun sampai. Bianca pun turun dari mobil dengan gembira dan menggandeng Alex masuk ke dalam. Pria itu hanya bisa mengikuti kemauan Bianca. Karena bagi Alex tempat seperti ini bukanlah hal asing, mengingat dulu setiap malam Alex datang bersenang-senang di sini.
Alex dan Bianca duduk di depan Bar tender yang sedang menyiapkan minuman pada mereka. Bianca meminta satu botol minuman dengan kadar Alkohol tinggi. Dia menyodorkan satu gelas kecil pada Alex namun pria itu menolak nya.
"Aku akan menyetir" ucap Alex dan di balas Bianca dengan dengusan kesal.
Alex pun memilih memesan segelas bir tanpa Alkohol. Keduanya minum seraya melihat orang-orang yang sedang menari-nari di lantai dansa.
"Ayo kita menari bersama Alex" seru Bianca sedikit berteriak, mengingat jika suasana disini sangat berisik karena suara yang bersumber dari seorang DJ sangat lah keras.
"Tidak"
Lagi-lagi Bianca dibuat kesal oleh Alex yang selalu menolaknya.
Alex pun mendekat pada Bianca, dan mengatakan jika dirinya akan ke toilet. Bianca menjawab nya dengan Anggukan kepala.
Sepeninggalan Alex, Bianca terlihat tersenyum licik dan menaruh sesuatu pada minuman Alex.
Sedangkan Alex tidak benar-benar pergi ke kamar mandi. Karena sebenarnya dia mendapatkan telepon dari orang suruhan nya. Alex pun memilih pergi ke lorong yang lumayan sepi untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Ada kabar apa?" Tanya Alex pada si penelpon
("Tuan saya ingin memberitahu jika hasil autopsi dari Hilda sudah keluar. Dan jelas di sana hasil nya Hilda mengalami Overdosis akibat obat ilegal")
Jawab si penelpon.
("Masih di rumah sakit tuan")
"Bodoh. Harus nya kau lenyap kan bukti hasil itu. Bukannya malah menelpon ku sialan. Awas jika ada orang lain yang tau tentang hasil itu, kau akan tanggung sendiri akibatnya"
("Baik tuan saya akan melakukan nya")
Alex pun memutuskan panggilan tersebut dengan emosi. Dia mengusap wajah nya kasar karena kebodohan anak buahnya itu. Apalagi Alex sangat mengantisipasi sekali dengan saudara Elica yang bernama Zico itu. Saat Alex datang ke pemakaman Hilda pria yang bernama Zico dan Mia terlihat melempar kan tatapan tidak suka pada nya.
Hingga Alex pun cenderung harus lebih berhati-hati apalagi saat mengetahui jika Zico juga seorang Dokter.
Setelah selesai Alex pun kembali menemui Bianca. Wanita itu terlihat sudah mabuk karena minum sambil berteriak-teriak.
"Alex.. lama sekali. Dari mana saja" ujar Bianca yang mulai melantur.
"Kau sudah mabuk, ayo pulang"
"Tidak. Tidak mau, aku masih ingin minum. Kau juga belum minum apapun"
"Aku sudah minum. Ayo berdiri" ujar Alex agar Bianca berdiri dari duduknya.
"Satu gelas lagi. Aku belum melihat kau minum, setelah ini kita pulang"
Ucap Bianca menyodorkan Bir yang di pesan Alex
Akhirnya Alex pun meminum nya hingga habis karena kesal dengan tingkah Bianca yang menyebalkan. Di pun menyeret Bianca ke mobil untuk pulang.
Di perjalanan Bianca pura-pura tertidur, sedangkan Alex merasa jika ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Dia merasakan panas dan tidak fokus menyetir. Dan Alex baru sadar jika Bianca pasti telah menaruh sesuatu kedalam minum nya.
"Sial" gerutu Alex dan melirik pada Bianca yang tertidur. Dia sudah tidak bisa fokus menyetir lagi, mata nya berkabut dan tubuh nya butuh pelampiasan segera. Jika tidak rasa panas di dalam dirinya akan semakin memburuk. Namun Alex masih berusaha waras agar tidak memakan Bianca di dalam mobil. Meskipun sesuatu di bawahnya sudah sangat menegang.
Akhirnya dengan sisa tenaga Alex menghentikan mobilnya di sebuah Hotel. Bianca pun terbangun saat tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Alex langsung menarik nya kedalam Hotel.
"Alex kau kenapa?" Tanya Bianca namun tidak ada jawaban. Pria itu terus menyeret nya hingga ke meja resepsionis untuk memesan kamar VIP.
"Alex Kenapa kau membawa ku kesini. Kau mau apa?" Tanya Bianca lagi.
"Diam" bentak Alex di depan Bianca. Keduanya pun sampai di sebuah kamar. Alex mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamar tersebut.
Setelah terbuka, Alex pun mendorong Bianca ketembok dan mencekik lehernya.
"Kau. Apa yang masuk kan kedalam minuman ku?" Desis Alex marah saat melihat wajah Bianca yang kesakitan.
"Aku.. tidak.. melakukan apa-apa. Alex sakit" jawab Bianca terbata-bata seraya tangannya meminta Alex melepaskan cekikan nya.
Alex menatap tajam ke arah Bianca, namun dia tidak bisa lagi menahan nafsu nya. Dengan cepat Alex melepaskan cekikan tangannya pada Leher Bianca dan langsung ******* kasar Bibir wanita itu.
Bianca yang tidak siap mendapatkan serangan mendadak dari Alex mencoba untuk mengimbangi nya. Karena itu lah tujuan nya malam ini, mendapatkan Alex.
Alex mendorong lagi Bianca ke atas ranjang kemudian menindih nya. Sempat terlepas pautan bibir mereka, Alex pun kembali menyesap kuat bibir Bianca.
Nafsu sudah mengalahkan kesadaran Alex. Bahkan kini di hadapan Alex yang terlihat oleh mata nya adalah Elica. Hal itu justru membuat Alex merasa senang dan ingin segera memasukkan tubuh pada wanita yang terlihat seperti Elica dibawah nya.
Sedangkan Bianca yang dibuat mabuk oleh sentuhan Alex yang sensual hanya bisa mengeluarkan ******* nya. Dan hal itu membuat Alex lebih bergairah.
"Aku akan merindukan mu Elica" ucap Alex seraya mencumbu tubuh Bianca yang hanya menyisakan pakaian dalam nya saja.
"Ahh.. Alex"
"Iya sayang. Sebut namaku"
Tanpa menunggu lama, Alex pun membuka celana. Bianca yang melihat Alex langsung tersenyum. Akhirnya penantian nya selama ini akan terwujud. Meskipun Alex menganggap nya sebagai wanita sialan itu.
Alex membuka semua pakaian dalam Bianca dan membuat wanita itu telanjang. Bianca mencoba menutupi tubuh dengan tangan nya namun Alex menahan nya.
"Aku sudah melihat nya. Jangan ditutupi sayang" ucap Alex
"Tapi"
"Ssstt... Percaya pada ku. Malam ini kau hanya menikmati sentuhan ku saja"
Bianca pun mengangguk mendengar ucapan Alex.
Keduanya sama-sama mendesah saat pergaulan panas itu terjadi.
Cukup lama Alex menghujam Bianca dan membuat wanita itu gila karena kenikmatan duniawi yang diberikan Alex pada nya.
"Kau nikmat Elica" ucap Alex yang masih menganggap Bianca adalah Elica.
"Alex aku akan keluar.. hh"
"Bersama sayang"
Setelah pelepasan tersebut. Alex pun ambruk di atas tubuh Bianca. Keduanya tersengal-sengal karena lelah.
Sejenak pikiran Bianca tertuju pada Elica, dia membenci wanita itu karena pasti mendapatkan sentuhan Alex berulang kali. Bianca yang tidak terima dengan pikiran nya sendiri akhirnya mengambil kesempatan ini untuk melanjutkan bermain dengan Alex.
Wanita itu menggulingkan Alex dan naik ke atas tubuh Alex. Dia bermain dengan agresif. Toh besok tidak ada yang bisa di ingat Alex dengan jelas. Karena Bianca akan menyusun rencana jika Alex sudah memperkosa nya saat mabuk.
****
Sudah tengah malam Elica terbangun dari tidurnya. Dia merasakan haus, dan pergi menuju dapur untuk minum. Dia menuangkan air kedalam gelas, namun saat dia mengambil gelas tersebut, gelas itu jatuh dan pecah.
Elica pun kaget dan tiba-tiba perasaan nya menjadi tidak enak. Entah kenapa dia merasakan cemas dan khawatir tanpa Alasan.
Saat Elica sedang membersihkan pecahan tersebut ayah nya pun datang ke dapur.
"Elica. Kau kah itu?" Tanya Albert saat melihat seseorang sedang berjongkok di bawah. Karena lampu dapur dimatikan hingga membuat Albert sedikit waspada.
"Iya Dad. Ini aku" terdengar suara lega dari Albert. Pria itu pun mencari saklar lampu untuk menerangi dapur.
"Apa yang kau lakukan sayang? Dan tadi kenapa ada suara sesuatu yang pecah?"
"Aku ingin minum, tapi gelas nya terjatuh Dad"
"Ya sudah biar Daddy saja yang bersihkan. Ini sudah malam kau istirahat saja, kasihan kandungan mu"
"Terimakasih Dad"
"Iya sayang. Ini bawa lah minum ke kamar agar tidak perlu ke dapur" Elica pun mengambil gelas yang di sodorkan ayah nya. Dan beranjak menuju ke kamar nya kembali.
Di kamar Elica mengambil ponsel nya dan dilihat Sudah hampir pukul 3 pagi. Kini pikiran Elica tertuju pada Alex, entah mengapa dia ingin sekali menghubungi pria itu. Antara perasaan Rindu dan khawatir kini dirasakan oleh dirinya.
Elica berniat menelpon Alex, namun dia urungkan. Pria itu pasti baik-baik saja, seorang Alex pasti tidak akan dalam bahaya bukan, pikir Elica. Lagi pula lusa dia juga akan kembali ke rumah besar dan bertemu Pria itu.
Elica pun kembali beranjak ke atas ranjang untuk melanjutkan tidur nya, meskipun perasaan masih sama. Yaitu Rindu dan Cemas.
TBC.