Playing With Fire

Playing With Fire
Part 48



Suara tangisan seorang anak kecil terdengar di rumah besar. Sudah berkali-kali Irene mencoba menenangkan Nancy yang terus menangis tiada henti tanpa sebab.


"Na..na..i.. i..na..." Jerit tangis balita kecil itu terus meronta-ronta di gendongan Irene. Nancy memang selalu memanggil Alex "i" yang berarti "Daddy" dan menyebut dirinya dengan ucapan "Na" yang berarti "Nancy".


"Iya sayang. Nanti Daddy kamu juga pulang. Jangan menangis terus ya Nancy sayang" ucap Irene menepuk-nepuk pelan punggung Nancy.


Sudah tiga hari Alex memang sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Dan malam ini dia dijadwalkan akan pulang, namun beberapa jam yang lalu Alex memberitahu pada Irene jika pesawat nya Delay. Hingga dia akan pulang terlambat sampai ke rumah, dan akan sampai sekitar tengah malam.


Dan kebetulan malam ini sedang hujan membuat Irene sangat bingung mengatasi Nancy yang tidak mau tidur dan terus menangis.


Setelah beberapa menit kemudian, Irene pun mencoba memberikan Nancy susu formula yang tadi terus ditolak nya. Namun ternyata gadis kecil itu pun sudah mau meminumnya, dan tidak lama Nancy pun tertidur.


Irene membawa Nancy ke kamar agar gadis kecil itu bisa tertidur nyenyak. Setelah nya, Irene mengambil ponsel nya untuk menghubungi Alex menanyakan keberadaan nya saat ini.


Panggilan tersebut berdering namun Alex belum mengangkat nya. Irene masih mencoba menghubungi Alex namun tetap saja sama, pikir Irene mungkin Alex sudah tertidur di mobil dan dalam perjalanan pulang. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur di samping Nancy yang sudah pulas.


***


Kini Alex memang sudah berada di dalam mobil, dia merasa sangat kelelahan karena perjalanan bisnis nya. Dia pun memilih memejamkan matanya seraya menunggu mobil yang bawa oleh supir itu sampai di rumah. Karena arloji nya sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Sial.. sial" umpat seorang pria yang berusaha menginjak pedal rem mobil namun sama sekali tidak membuat laju mobil itu melambat.


Alex yang mendengar nya pun langsung membuka matanya. Dia merasa ada hal aneh pada mobil yang di tumpangi nya. Mobil itu berjalan sangat cepat dan tidak terkendali.


"Ada apa?" Tanya Alex yang berada di kursi belakang supir.


"Maaf Tuan, sepertinya rem nya blong. Saya tidak bisa mengendalikan mobil nya" jawab supir itu masih berusaha fokus melihat ke jalanan seraya menginjak rem yang sudah tidak berfungsi itu


Suasana pun semakin mencekam karena saat ini mobil tersebut akan melewati sebuah lereng yang gelap. Hal itu karena letak Rumah besar memang berbeda jauh dari hiruk pikuk kota.


"Bagaimana ini tuan?" Ujar supir terus ketakutan.


Alex pun segera mengambil ponsel nya, dan terlihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Irene yang tidak di dengar nya. Namun dia berniat menghubungi seseorang dan mengindahkan panggilan dari sang Tante.


"Halo. James, pantau terus GPS ponsel ku. Ada seseorang yang sudah menyabotase mobil yang aku tumpangi. Dan sepertinya aku akan mengalami kecelakaan, datang lah segera" ujar Alex terdengar sedikit panik memberikan perintah pada orang kepercayaan nya.


("Baik Tuan, saya akan segera kesana")


Tidak menunggu lama, Alex pun memutuskan panggilan itu dengan cepat. Mobil nya pun sudah berkali-kali limbung ke kana dan ke kiri.


Dia mencoba beranjak dari duduknya di belakang dan berpindah ke depan di kursi samping supir. Alex juga mencoba membantu dengan menarik rem tangan namun laju mobil masih belum melambat, sedangkan supir nya tetap mengendalikan setir yang sudah semakin sulit di gerakan.


"Tuan tolong pakai sabuk pengaman, ini berbahaya" kata si supir yang mengingatkan Alex. Namun Alex tidak mengindahkan nya


Merasa usaha mereka akan sia-sia, terbesit ide gila muncul di benak Alex. Namun itulah cara terbaik menurut nya.


"Benturkan mobil nya ke pohon" ucap Alex tegas.


Supir tersebut tampak terkejut mendengar ucapan Alex.


"Tapi Tuan..."


"Tabrakan mobil nya ke pohon sekarang. Jika tidak sebentar lagi kita akan melewati jurang." Kata Alex berpendapat.


Namun supir tersebut malah berpikir jika ide dari Alex sangat berbahaya, karena bagaimanapun juga mobil ini sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Dan akan ringsek jika langsung di benturkan ke pohon.


"Cepat lakukan!!!" Teriak Alex karena mereka sudah mendekati lereng yang berjurang.


Tidak disangka supir dari Alex menggelengkan kepalanya tidak setuju dan masih memilih mempertahankan setir nya berada di jalanan.


Alex yang mulai geram akhirnya mencoba merampas kendali setir. Dan kedua nampak berebut mengemudikan mobil tersebut.


"Bajingan, singkirkan tangan mu" pekik Alex


"Tidak tuan, itu berbahaya. Kita bisa tidak selamat jika menabrakkan mobil ini" jawab sang supir.


Mobil itu pun melaju tidak terkendali dan langsung terjun ke jurang yang sangat gelap.


Brakkk...


Terdengar dentuman keras suara Mobil yang masuk ke sebuah jurang. Ternyata mobil tersebut sudah tidak berbentuk lagi karena terguling beberapa kali menuju ke tanah, juga terlihat asap yang keluar dari kap depan mobil yang tumpangi Alex.


"Elica...." Pria itu hanya mengucapkan nama Elica lalu setelah nya memejamkan matanya dengan wajah dan tubuhnya yang berlumuran darah.


****


"Aw" ucap Elica saat jari nya teriris pisau yang dia gunakan untuk memotong buah.


"Kau kenapa Anami?"


Kata seorang pria yang tidak lain adalah Ren


"Tidak apa-apa. Hanya tidak hati-hati" jawab Elica terlihat tenang.


Saat ini Elica memang berada di apartemen Ren, karena pria itu menghubungi Elica untuk merawat nya karena dia merasa tidak enak badan. Dan Elica pun hanya bisa menuruti nya, dan berniat mengupas kan buah untuk teman nya ini.


"Are you Okay?" Tanya Ren lagi saat melihat raut wajah Elica yang terlihat berbeda.


"Yeah i'm good." Sahut Elica. Ren pun kemudian membawakan Elica sekotak perlengkapan P3K.


"Biar ku bantu obati"


Ren membalut jari Elica yang teriris pisau dengan plaster. Pria itu menatap Elica yang sedang melamun.


"Ku rasa kau sedang ada masalah?"


Elica tersadar saat mendengar pertanyaan dari Ren. Dia pun hanya menggeleng pelan.


"Tidak. Hanya saja perasaan ku tiba-tiba tidak enak" jawab Elica.


"Ya sudah. Pulang lah, mungkin kau perlu di dekat ayah mu. Aku juga sudah lebih baik setelah meminum obat"


Elica pun hanya mengangguk mendengar ucapan Ren. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan apartemen pria itu. Namun entah mengapa perasaan Elica masih sangat tidak menentu, seperti gelisah tanpa alasan.


Dia masuk ke apartemen nya dan melihat sang ayah sudah tertidur di kamar nya.


Justru yang ada di benaknya kini adalah keadaan anak nya. Elica hanya bisa berdoa, semoga tidak ada sesuatu yang terjadi saat ini entah itu pada sang anak atau pun Alex.


***


Di rumah besar.


Irene terlihat sangat panik saat mendapat kabar jika Alex mengalami kecelakaan dan kini berada di rumah sakit.


Dia langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alex. Untungnya Nancy masih tertidur, hingga Irene menitipkan Nancy pada Bibi Christin.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Irene pun sampai.


Dia langsung menuju ke bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan Alex.


Ternyata Alex sedang berada di unit gawat darurat dan akan menjalani operasi.


Irene mendapatkan informasi jika kondisi Alex sangat kritis, dan naas nya supir dari Alex pun juga mengalami hal yang sama namun tidak sampai melakukan operasi.


Pria yang bernama James pun sudah berada di sana. Irene juga sudah mengetahui jika pria itu adalah orang kepercayaan Alex, dan dia langsung menghampiri nya.


"Nyonya.." sapa pria itu dengan sopan pada Irene.


"Bagaimana kondisi Alex sekarang? Kenapa hal ini bisa terjadi?"


Tanya Irene


"Mobil yang di tumpangi Tuan mengalami rem blong Nyonya, dan jatuh le jurang. Dan sangat disayangkan jika Tuan tidak memakai sabuk pengaman nya hingga mengakibatkan dia terpental keluar dari mobil"


Ujar James menjelaskan.


Irene sangat syok mendengar nya hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Astaga Alex" Irene pun menangis


"30 menit lagi Tuan akan melakukan operasi, saya berharap Tuan akan baik-baik saja"


"Dia pasti akan baik-baik saja" sahut Irene yakin meskipun air matanya terus keluar.


Malam itu Irene dengan setia menunggu Alex yang sedang menjalani operasi. Dia tidak bisa tenang saat berada di depan ruang operasi.


Setelah dua jam akhirnya operasi pun selesai. Dan dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter bagaimana kondisi pasien sekarang?" Tanya Irene mencegat Dokter yang baru saja keluar.


"Apakah anda keluarga dari pasien?"


"Iya Dok"


"Mari ikut ke ruangan saya"


"Baik"


Kini Irene berada di dalam ruangan sang Dokter sembari duduk menunggu.


Tidak lama Dokter pun datang setelah selesai mengganti pakaian nya setelah melakukan operasi.


"Bagaimana Dok, tolong jelaskan sekarang" cecar Irene tidak sabaran.


"Iya Nyonya. Jadi saat ini pasien masih dalam keadaan kritis. Dikarenakan beberapa tulang kaki dan lehernya patah. Dan banyak sekali luka dalam karena tubuh pasien terbentur sangat keras. Ditambah kepala pasien juga mengalami cidera yang cukup serius."


"Lalu apakah dia akan baik-baik saja setelah melakukan operasi dokter?"


Dokter itu nampak diam dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Irene.


Irene yang melihat nya merasa kesal karena dia tidak sabaran menunggu jawaban Dokter itu.


"Jawab saya Dok"


Si Dokter pun nampak menarik nafas sebelum memberikan penjelasan pada Irene.


"Maaf Nyonya, saya belum bisa memutuskan pasien akan baik-baik saja atau tidak, sebelum dia melewati masa kritis nya. Karena banyak sekali kemungkinan terjadi, jika pasien tidak bisa melewati masa kritis nya kemungkinan dia akan mengalami koma beberapa waktu. Dan jika dia sadar,  pasien mungkin tidak bisa berjalan normal lagi, karena kaki nya mengalami mati rasa. Itu disebabkan karena cidera yang didapatkan cukup berat"


Ujar Dokter tersebut menjelaskan.


"Apa? J-jadi... Jadi dia akan mengalami kelumpuhan, begitu maksudnya Dokter?" Tanya Irene terbata


"Benar Nyonya"


Irene kembali menangis saat mengetahui jika Alex tidak bisa berjalan lagi. Dia juga teringat dengan Nancy saat ini.


"Apakah bisa disembuhkan Dok?"


"Semuanya bisa terjawab saat pasien sadar nyonya, lebih tepatnya saat kami melakukan pemeriksaan intensif pada pasien. Tetapi untuk sementara waktu mungkin pasien harus menggunakan kursi roda kedepan nya. Saya harap anda dan keluarga bisa memberikan dukungan positif agar saat pasien sadar agar tidak mengalami mental yang memburuk dan memiliki keinginan untuk sembuh"


Irene hanya bisa mengangguk pasrah mendengar penuturan yang dia dengar.


Setelah selesai, Irene pun keluar dari ruangan tersebut dengan kesedihan yang mendalam. Bagi nya Alex sudah menjadi anak nya sendiri, jadi dia tidak bisa membayangkan saat Alex sadar nanti mengetahui jika dia sudah tidak bisa berjalan lagi.


Wanita itu menghubungi seseorang dengan ponselnya.


("Halo Mom?") Sapa seorang pria saat panggilan Irene terjawab.


"Damian"


("Apa yang terjadi Mom? Kenapa aku merasa Mom sedang menangis?") Tanya Damian yang tidak lain ialah anak semata wayang Irene yang kini berada di Amsterdam.


"Damian... Alex.. Alex.." kata Irene tidak jelas


("Mom jawab aku. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Alex?")


Pria itu sangat bingung saat mendengar ibu nya meracau tidak jelas.


"Alex mengalami kecelakaan, Damian" ujar Irene memberitahu anak nyA.


("Apa? Lalu bagaimana kondisi nya sekarang?")


"Dia kritis saat ini, dan baru saja menjalani operasi. Bisakah kau pulang sekarang sayang, Mom bingung sekali saat ini. Tubuh Momi juga sangatlah lemas"


("Ya. Baiklah aku kan pulang sekarang. Aku akan mengambil penerbangan lebih awal. Please don't worry about anything, oke. I will be there" )


"Yeah Honey, Momi menunggu mu, hati-hati dijalan"


Sambungan itu pun terputus dan lagi untuk kesekian kalinya nya Irene menangis mengingat kondisi Alex.


"Tolong selamatkan nyawa anak ku Alex, tuhan. Aku mohon" kata Irene yang berdoa berharap keajaiban datang.


***


TBC.


Follow Instagram Author @akiokokoru_69.


Jangan lupa komentar nyo. Sampai ketemu Minggu depan 🌹🌹😘😘