Playing With Fire

Playing With Fire
Part 51



Damian baru saja tiba di Mansion mewah milik Alex. Dia pulang dari Amsterdam karena memiliki acara di suatu tempat dengan relasi kerja nya di New York.


Dan sudah cukup lama pula Alex memboyong Nancy dan Irene ke Mansion nya yang dulu dari pada tetap tinggal di Rumah besar. Dengan alasan jika jarak tempuh dari tempat kerja nya lebih efisien. Mengingat jika dulu Alex mengalami kecelakaan karena perjalanan dari pusat kota dan rumah besar cukup jauh.


"Damian.." pekik Nancy dengan senang saat melihat Damian yang memasuki ruang tengah.


"Hai My Princess, merindukan ku?"


Tidak lama Nancy pun beranjak dari duduknya yang tengah mewarnai gambar, dia berlari kearah Damian dan disambut dengan pria itu kemudian langsung menggendong Nancy.


Gadis kecil itu memeluk leher Damian dengan erat. Dan tidak selang lama Irene pun muncul menghampiri mereka berdua dengan tersenyum.


Nancy memang memanggil Damian dengan sebutan nama saja, karena sejak dulu Damian menolak dipanggil "uncle" karena dia merasa terdengar sangat tua.


Meskipun demikian Nancy selalu mendapat kasih sayang dari pria itu karena Damian juga menganggap Nancy seperti anak nya sendiri.


"Dimana Daddy mu Princess? Kenapa dia tidak menemani mu, ini kan hari libur?"


Mendapatkan pertanyaan tersebut Nancy justru mengerucutkan bibirnya dan terlihat kesal.


"Alex sedang pergi menemui Dokter Josh untuk melakukan terapi penyembuhan" sahut Irene karena Nancy tidak kunjung menjawab nya.


Damian pun mengangguk mengiyakan, dia mengerti jika Nancy mungkin kesal karena sang ayah tidak memiliki waktu untuk nya meskipun di hari libur. Hal tersebut sangat di sayangkan oleh Damian, meskipun dia belum berkeluarga namun dia mengetahui betul jika seorang anak seumuran Nancy sangatlah membutuhkan perhatian melimpah dari orang tua nya.


Tak ayal dia juga selalu menghubungi Nancy walaupun melalui panggilan video karena jarak mereka berjauhan.


"Kenapa tidak memberitahu ibu kau hari ini pulang?" Tanya Irene.


"Ada pertemuan bisnis besok, dan aku juga mendapatkan undangan dari rekan ku mengunjungi pameran disini pekan depan Bu"


"Jadi kau akan disini selama satu Minggu?"


"Ku rasa begitu Bu"


"Yeay.. aku akan tidur dengan Damian setiap hari. Bolehkan Oma?" Ucap Nancy yang sangat gembira karena dia memiliki teman bermain dan tidak akan merasa kesepian.


"Boleh sayang" kata Irene dan dibarengi tawaan Damian yang gemas melihat tingkah lucu Nancy.


***


Hari berikutnya Elica juga melakukan penerbangan menuju ke New York bersama dengan Ayah nya dan Ren.


Ren yang awalnya terkejut mengetahui jika akhirnya Elica mau ikut dengan nya, tapi dia senang karena bisa mengajak Elica kembali ke negaranya.


Dan besar juga harapan Ren jika Elica bisa bertemu dengan anak nya. Bagaimana pun juga Elica sudah menjadi seorang ibu dan anak nya pun berhak mendapatkan kasih sayang dari Elica.


Setibanya mereka di New York, Ren langsung memesankan hotel untuk Elica dan Ayah nya. Karena Elica berkata jika besok dia dan ayahnya akan kembali ke rumah mereka yang dulu untuk dibersihkan dan menginap disana.


Sedangkan Ren memilih kembali ke apartemen milik nya dari pada memesan hotel. Karena tadinya dia berniat mengajak Elica dan ayahnya untuk tinggal di apartemen nya juga namun Elica menolak.


Keesokan harinya, Elica pun menuju ke makam ibu nya. Dia dan ayahnya membersihkan rumput yang menjalar dan daun-daun kering yang berjatuhan. Keheningan terjadi antara Elica dan Ayah nya. Mereka berdua bergulat dengan pikiran nya masing-masing dan mengingat memori kenangan nya dulu.


Memang tidak terasa lima tahun sudah dia pergi dan meninggalkan jati dirinya yang asli. Bukan karena Elica takut dengan masa lalunya namun dia mencoba menjadi manusia yang relevan, yaitu meninggalkan apa yang pernah menyakiti nya.


Dan alasan nya datang kembali kesini hanya karena memenuhi kemauan sang ayah. Setelah selesai, dipastikan dia akan kembali lagi ke Jepang dan melanjutkan hidupnya seperti semula.


"Ayo, kita pulang Dad" ucap Elica setelah meletakkan sebuket bunga mawar ke pusara sang ibu.


Albert pun mengangguk ajakan putri nya, karena rencananya hari ini mereka juga akan membersihkan tempat tinggal nya dulu yang diyakini mungkin sekarang sudah terbengkalai.


***


Alex yang baru saja pulang dari kantornya malam ini, dia berpapasan dengan Damian yang terlihat rapi dengan setelan jas nya.


"Acaranya malam ini?" Tanya Alex yang mengetahui jika Damian akan datang ke pameran bisnisnya.


"Iya. Kau benar-benar tidak datang? Jika tidak aku akan menunggu mu bersiap, kita bisa berangkat bersama-sama" ucap Damian menawarkan.


Alex justru mendengus karena sebenarnya dia malas datang ke acara seperti itu meskinya dia juga diundang.


"Tidak, kau saja. Aku lelah ingin istirahat"


"Baiklah. Oh iya, jika kau mencari Nancy dia ada dikamar ku sudah tertidur" kata Damian memberitahukan Alex.


"Iya"


Kebiasaan Nancy mulai beberapa hari yang lalu meminta tidur dengan Damian. Alhasil malam ini Damian menidurkan gadis kecil itu lebih awal.


Sedangkan ditempat lain, acara pameran Arsitektur yang di hadiri oleh Elica terlihat sangat ramai. Rupanya acara tersebut bukan hanya kegiatan bisnis semata namun juga mengadakan penggalangan dana. Dan lebih mengejutkan nya lagi semua ini di gelar oleh kekasih Ren.


Berbicara soal Ren, rupanya itu sudah meninggalkan Elica selama satu jam. Mengingat Ren juga memiliki andil di pameran ini karena dia harus mengambil gambar dari semua proyek yang di perlihatkan.


Dan malam ini Elica terlihat sangat cantik karena dia mengenakan gaun berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Meskipun gaun tersebut sangat sederhana dengan lengan panjangnya, namun sedikit terbuka di bagian punggung.


Elica memilih duduk sendirian di meja dan ditemani segelas wine, matanya melihat semua orang-orang yang bercengkerama. Sedangkan dia sendiri tidak mengenal siapapun disini selain Ren.


"Anami" panggil Ren yang kemudian menghampiri nya.


Elica pun kemudian berdiri dan tersenyum saat melihat Ren dengan seseorang.


"Aku mencari mu ternyata kau disini. Oh iya perkenalkan ini Garry, kau tahu kan dia..." Ujar Ren menggantung kan ucapan nya karena ragu terdapat banyak orang.


"Aku tau" jawab Elica cepat.


"Halo Tuan Garry saya Anami, senang bertemu dengan anda" ucap Elica dengan mengulurkan tangannya.


"Tentu Nona Anami, saya sudah mendengar banyak tentang anda. Saya harap anda menikmati acara nya"


"Tentu. Terimakasih Tuan Garry"


Mereka mulai berbincang layaknya seorang teman yang sudah saling mengenal. Meskipun sesekali ada beberapa tamu yang menghampiri Garry sekedar untuk menyapa pria berperawakan gagah itu.


"Hei Garry.." panggil seseorang yang tidak lain adalah Damian yang baru saja tiba di acara tersebut.


Sontak ketiga orang yang sedang mengobrol itu menoleh ke sumber suara. Garry pun terlihat tersenyum saat Damian menghampiri nya. Karena pada kenyataannya mereka berdua sudah berteman sejak lama saat di Amsterdam.


"Oh Mr. Harlend kau datang" sahut Garry kemudian bersalaman dengan Damian.


Garry memang selalu memanggil Damian dengan nama Marga nya yaitu "Harlend". Meskipun Damian juga memiliki Marga lain yaitu "Dawson" seperti yang dimiliki oleh Alex, namun pria itu memilih menggunakan nama peninggalan sang Ayah.


Kedua pria itu pun berbincang sebentar, dan tidak lama Garry pun mengenalkan Ren dan Elica pada Damian juga.


Disaat Damian berjabat tangan dengan Elica dia tersadar jika wajah Elica tidak asing baginya. Dia berfikir keras mengingat sesuatu, sedangkan Elica sendiri belum mengetahui siapa Damian sebelumnya.


Ren akhirnya mengajak Elica ke sudut ruangan yang berbeda, melihat tamu yang datang semakin banyak menemui Garry. Dan Ren pun tidak ingin ada seseorang pun yang mencurigai hubungan nya dengan Garry, hingga dia memilih menjauh bersama Elica.


Saat Damian masih bercengkrama dengan tamu yang lain, tiba-tiba di teringat jika wajah dari wanita yang dia jumpai tadi memiliki kemiripan dengan Nancy. Dia sedikit tercengang saat menyadari hal itu, dengan cepat Damian pun langsung mencari keberadaan wanita yang tidak lain adalah Elica.


"Kau kenapa?" Tanya Ren saat membawa Elica ke tempat yang sedikit sepi.


"Tidak apa-apa aku hanya lelah. Apakan acaranya masih lama?"


"Ku rasa begitu. Kau seperti nya kedinginan, pakailah jas miliku. Aku akan mengantarkan mu pulang"


"Tidak Ren, aku bisa pulang sendiri. Kau tetap disini saja karena ini acaranya Garry. Biar aku pulang menggunakan taksi"


"Aku akan mengantar mu sampai di luar. Tapi pakai lah ini, kau terlihat tidak nyaman dengan gaun itu"


Ren pun melepaskan jas nya dan memberikan nya untuk dipakai Elica. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik keduanya.


***


Saat ini Alex dan Irene tengah makan malam bersama tanpa Nancy. Karena gadis kecil itu sudah terlelap di alam mimpinya.


Tidak lama ponsel Alex pun berbunyi dan memperlihatkan jika Damian lah yang menelpon nya.


Tanpa menunggu lama Alex pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo. Ada apa?"


("Kau benar-benar tidak akan datang kemari?")


"Tidak. Bukankah tadi sudah ku bilang pada mu"


("Ku rasa kau akan menyesal jika tidak datang")


"Apa maksud mu?"


("Aku tidak yakin karena dia memiliki nama yang berbeda, tapi sepertinya orang yang kau cari selama ini ada disini"


"Jangan bercanda dengan ku"


("Aku akan mengirimkan mu foto yang baru saja aku ambil")


"Baiklah, aku tunggu"


Tidak lama setelah panggilan tersebut selesai, ponsel milik Alex berbunyi dan menandakan ada pesan masuk.


Dia pun membuka kiriman gambar yang baru saja Damian berikan padanya. Alex tertegun saat melihat foto tersebut dan membuat Irene yang ada dihadapannya juga bingung.


"Ada apa Alex?"


Alex tidak menjawab apapun dengan pertanyaan Irene karena bagi nya dunia nya berhenti saat itu juga.


Karena sangat penasaran, Irene juga langsung merebut ponsel milik Alex. Seketika itu juga Irene juga terkejut melihat foto Elica saat ini yang terlihat bersama seorang pria yang sedang memberikan nya Jas.


"I-ini benarkah Elica?" Ucap Irene terbata.


"Aku harus kesana sekarang juga" kata Alex berdiri dari duduknya dengan tergesa-gesa.


Dia pun langsung menuju ke kamar nya untuk mengganti pakaian nya, karena bagaimanapun juga disana banyak relasi bisnisnya. Dan tidak etis jika Alex datang menggunakan kaos santai dengan celana training milik nya.


Tidak lama, Alex pun sudah kembali turun dengan setelan jas nya yang rapi. Terlihat berbeda dari sebelumnya, dan Irene sudah berada di bawah tangga menunggu Alex.


"Tante aku pergi dulu, tolong temani Nancy di kamar"


"Iya. Hati-hati dijalan Alex, dan bawalah Elica kembali"


"Tentu saja"


Tbc.


******


Follow IG Author @akiokokoru_69