Playing With Fire

Playing With Fire
CERITA DIMULAI - PERTUNANGAN




POV Sean


Kamar Sean, Pukul 09.00 pagi


Bruk!


Aku membaringkan tubuhku ke kasur. Entah kenapa tubuhku jadi terasa berat, padahal ini masih pagi. Setiap gerakan yang aku lakukan saat berada di kasur sangat tidak nyaman, sampai aku menyadari ada yang salah dengan tanganku.


"Ada apa dengan tanganku, kenapa tanganku gemetaran dari tadi? Mungkinkah gara gara..."


Setelah dari kebun bunga sakura itu aku memutuskan untuk pulang, jadi aku membolos hari ini. Perasaanku jadi aneh setelah bertemu gadis pengguna elemen air itu. Saat tanganku bersentuhan dengannya, aku merasa kalau dia menggunakan kekuatannya saat bersalaman denganku sampai sampai tangan kita menjadi berasap, jadi aku kaget saat menyentuhnya.


Tok tok tok! Suara pintu terdengar. Aku menghentikan apa yang aku pikirkan dan fokus melihat siapa yang akan masuk. Ternyata itu adalah ibu, dia memperlihatkan ekspresi terkejut saat melihatku terbaring di kasur. Sepertinya dia sudah tau kalau aku membolos hari ini.


"Sean, ibu diberitahu sekolah kalau kau tidak masuk hari ini. Apa terjadi sesuatu?" Ucap ibu khawatir.


Dia adalah ibu terbaik di dunia, bukannya marah dia malah mengkhawatirkanku karena bolos sekolah. Tidak seperti di film, keluarga kaya raya sepertiku belum tentu memiliki keluarga yang berantakan. Dia malah mendidikku dengan sangat baik dan selalu mendukung apa yang aku lakukan. Di samping aku sangat konsisten dan pintar, dia memang selalu mempercayai keputusanku.


"Tidak terjadi apa apa bu, tubuhku hanya sedikit lelah saja."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Sean, bisa kau turun ke bawah satu jam lagi? Ibu ingin membicarakan sesuatu."


"Baiklah" Jawabku sambil mengangguk.


Tidak biasanya ibu menyuruhku ke bawah hanya karena ingin bicara, biasanya dia hanya mengungkapkannya begitu saja. Apa dia ingin mengatakan sesuatu yang penting?


*****


Ruang keluarga, pukul 10.00 pagi


Aku berjalan menuruni tangga untuk sampai ke ruang keluarga, karena kamarku berada di lantai atas. Semakin mendekat ke bawah aku mendengar suara 4 sampai 5 orang di sana sebab indra pendengaranku sangat baik.


Dan sesampainya disana aku terhenti karena kaget. Semua keluarga Arlert berkumpul disana dan semua sofa di ruang keluarga terisi penuh. Bahkan kakak Jean yang selalu sibuk di rumah sakitpun berada di sana. Mereka semua menatapku seakan sedang menungguku.


Dengan refleks aku membungkukkan tubuhku sebagai hormat kepada mereka semua sambil sedikit tersenyum.


"Sean, duduklah disini." Ucap Ayah, dia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.


Tanpa banyak berpikir aku langsung menuruti apa kata ayah dan duduk di sebelahnya. Aku benar benar tidak tahu apa yang terjadi dan situasi seperti ini baru kali ini ku rasakan.


"Sean, apa kau punya pacar?" Tanya ayah serius padaku. Jujur saja aku terkejut, pertanyaan macam apa itu? Dia mengatakannya dengan lantang di hadapan semua orang.


"Aku tidak punya, memangnya kenapa?"


"Lalu... apa kau punya seseorang yang kau sukai?"


Lagi lagi ayah mengatakan pertanyaan absurd itu. Aku merasa seperti ada yang aneh dengan keluargaku sekarang. Padahal hanya pertanyaan sepele tapi semua orang sepertinya menunggu nunggu jawabanku.


"Sebenarnya apa yang ingin ayah katakan?" Ucapku. Mereka semua langsung berhenti menatapku, seperti sedang terpergok ketika aku tau ada yang mereka sembunyikan.


"Ayah ingin kau bertunangan." Ucap ayah tanpa aba aba.


"Sean? Kau dengar ayah?" Tanya ayah yang sepertinya sadar bahwa aku terkejut sampai membisu.


"Tidak mau." Setelah otakku yang sedikit error ini sudah mulai sadar, hanya itu kata yang bisa aku ucapkan. Tidak perduli apapun alasannya keseluruhan dari tubuhku sepertinya menolak keinginan ayah. Bagaimana bisa dia mengatakan itu kepadaku? Aku bahkan belum pernah mengalami pengalaman romantis sepanjang hidupku.


"Kau langsung menolaknya? Apa kau tidak penasaran mengapa ayah menyuruhmu melakukan pertunangan?"


Aku mengepalkan tanganku dan mencoba mengumpulkan semua emosi yang ada dalam tubuhku ke kepalan tangan itu. Aku harus tetap berpikir logis, jika aku mencampur logika dengan perasaan emosi semuanya akan kacau.


"Kenapa aku harus bertunangan ayah?" Tanyaku dengan suara yang berat, aku sangat tidak ingin mendengar alasannya.


"Ayah sudah menemukan pasanganmu, Sean."


Perasaan emosikupun seketika hilang, gurauannya itu membuatku tersenyum. Dia bilang sudah menemukan pasanganku seakan pasanganku itu adalah barang yang hilang.


"Ayah bilang sudah menemukan pasanganku, bagaimana kau tau kalau yang kau temukan itu pasanganku, apa ayah bercanda?" Ucapku sembari tersenyum.


Tapi mendengar jawabanku itu, ayah tidak merubah ekspresinya sedikitpun, dia masih saja menatapku dengan serius dan hal itu membuatku berhenti tersenyum.


"Ayah, tolong jangan bicara setengah setengah. Alasan sudah menemukan pasanganku itu terlalu konyol."


"Kau sudah hampir dewasa, kekuatanmu akan segera muncul dan kau perlu bertunangan."


"Kenapa aku butuh bertunangan? Bukankah yang seharusnya perlu bertunangan itu kakak Jean? Dia bahkan belum menikah, Kenapa ayah mengurusi aku yang bahkan belum bisa dikatakan dewasa?"


"Kalian berbeda, Jean dan Sean tidak memiliki kekuatan yang sama. Jean terlahir dengan kekuatan api murni saja, sedangkan kau... kau terlahir dengan kekuatan api murni dan api biru. Kau tau apa artinya api biru?"


Api biru? Aku sangat tidak asing dengan elemen ini. Api biru adalah kasta tertinggi dari elemen api, belum ada yang dapat menguasai kekuatan api biru, bahkan kakekku yang kuat sekalipun. Dia meninggal karena tidak dapat mengontrol kekuatannya dan ternyata api biru itu juga mengalir di darahku.


"Jadi ayah pikir dengan aku bertunangan itu akan membuatku bisa menguasai api biru? Dan bisa menghindar dari kematian? Siapa yang memberitahumu akan hal itu?"


"Peramal Nostradamus yang mengatakkannya, jangan memandang sepele ramalannya. Semua yang dia ramalkan selalu menjadi kenyataan."


Aku tidak bisa berkata kata, diriku yang rasional dan selalu mempercayai saint. Kini terjebak dengan mitos yang di namakan ramalan. Penalaran dan logika yang aku percayai selama ini, jadi terasa sia sia.


Karena aku terlalu lama termenung, aku sampai tidak melihat ibuku yang sudah membuat genangan air melalui air matanya. Dia menatapku sedu, seakan dia yakin aku akan mati.


"Walaupun aku bertunangan dan memperlambat kematianku, pada akhirnya manusia juga akan mati jadi aku...."


PLAK!


Tamparan keras dari ibu membuatku menghentikan perkataanku. Tanpa dia katakan, aku tau maksud tamparan ibu. Tamparan ini seolah bahasa tubuh yang digunakan ibu untuk menyadarkanku.


"Jika kau tidak ingin hidup untuk dirimu sendiri, setidaknya lakukanlah demi ibumu. Ini adalah permintaan pertama dan terakhir ibu padamu." Ibu mengatakan itu dengan air matanya yang terus mengalir tanpa henti.


Sebenarnya bertunangan bukanlah masalah bagiku, kematian juga bukan masalah bagiku. Yang paling aku benci ialah ketika melihat ibuku menangis dan mendengar fakta bahwa masa depanku telah di ramal oleh seorang peramal yang bahkan aku tidak tau yang mana orangnya. Jadi aku memutuskan untuk...


"Aku akan melakukannya... Pertunangan itu."