
Sudah dua hari Elica tinggal di rumah Bryan. Karena ayahnya memberitahu jika dia tidak pulang tepat waktu dikarenakan salju turun menutupi seluruh jalanan. Bryan yang khawatir meninggalkan Elica sendirian di rumahnya pun memutuskan untuk membawa Elica ke rumahnya. Dan juga ibu Bryan sangat senang jika Elica menginap di sana.
Mereka sudah menganggap Elica seperti keluarga walaupun kenyataannya Bryan dan ibunya adalah tetangga yang telah lama pergi. Hal yang membuat hati Elica sakit yaitu ketika orang lain menganggap nya sebagai keluarga, namun keluarga yang dia miliki terasa seperti orang lain.
Elica berharap semua masalah ini segera berakhir, entah nanti kedua orang tua tidak akan kembali bersatu, Elica sudah ikhlas menerima kenyataan tersebut tanpa lagi ada dendam di hati nya kepada orang lain.
"Kau belum tidur?" Tanya Bryan saat masuk ke kamar yang ditempati Elica, karena pintu nya sedikit terbuka dan lampu pun masih menyala. Jadi Bryan pun masuk dan mendapati Elica yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
"Ah ya. Aku...belum mengantuk" jawab Elica.
"Ada sesuatu yang kau pikirkan?"
"Hanya teringat pada Mommy, aku merindukan nya"
"Jadi keberadaan nya belum di ketahui?"
"Yah, aku sangat khawatir. Alex bilang dia sudah memberikan semua fasilitas pada Mommy setelah bercerai. Tapi semuanya tidak satu pun di pakai, jadi aku tidak tau sekarang dia tinggal dimana" ucap Elica terdengar sedih.
"Dia pasti baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan nya, ingat pada kandungan mu juga"
"Kau benar, Bryan. Terimakasih untuk bantuan mu"
"Sama-sama Elica"
Elica merasa Bryan sudah seperti kakak nya sendiri. Pria ini selalu pasang badan untuk melindungi nya dan juga selalu membantu Elica kapan pun dia butuhkan.
"Bryan.." ucap Elica saat keduanya terdiam
"Ada apa Elica?"
"Bisakah... Kau membantu ku pergi dari sini?" Pertanyaan tersebut membuat Bryan bingung.
"Maksud mu?"
"Bantu aku pergi dari kota ini. Agar aku bisa membuka lembaran hidup baru dengan anak ku."
"Tapi ayah mu?"
"Aku rasa ayah hanya beralasan jika dia terlambat pulang. Entah mengapa ayah menjadi berubah pikiran dengan membatalkan kepergian kami ke luar negeri"
Bryan pun langsung diam mencerna ucapan Elica. Sebenarnya dia bingung harus membantu Elica atau tidak, namun dia juga tidak tega melihat Elica yang terus menderita seperti ini.
"Tapi dia akan sangat marah Elica jika tau kau pergi. Apalagi kau sedang mengandung anak nya" ucap Bryan yang mengarah pada Alex.
Mengingat pria itu sangat Licik dan kejam, saat Leo berusaha membawa Elica pergi dan berujung pada celaka.
Namun bukan hal itu yang Bryan takutkan. Dia hanya tidak mau jika Elica harus menanggung kemarahan Alex yang sangat murka dan malah membuat Elica menderita.
"Ku mohon, Bryan. Aku ingin pergi" ucap Elica dengan mata yang berkaca-kaca memohon. Karena dia tidak tau lagi harus meminta tolong pada siapa lagi untuk menjauhi pria itu.
Bryan pun menghela nafasnya pelan sambil memikirkan sesuatu hal. Dia menatap Elica dengan kasihan.
"Baiklah. Aku akan memikirkan cara nya Elica" ujar Bryan
"Terimakasih" balas Elica tersenyum dan langsung memeluk Bryan. Karena hal tersebut membuat hati nya sedikit lega.
***
"Seattle?"
"Iya Elica. Di sana ada rumah peninggalan nenek dan kakek Bryan, tapi masih terawat dan bisa di tempati. Kau bisa tinggal disana" ucap Merry, ibu Bryan.
"Tapi di sana dingin" tambah Bryan. Dan ibu nya pun mengangguk mengiyakan ucapan Bryan. Elica menatap keduanya dengan tersenyum.
"Baiklah. Tidak apa-apa, itu tidak masalah. Aku mau" jawab Elica antusias.
"Oke, aku akan mengambil kunci rumah nya dulu di kamar" ucap Ibu Bryan.
"Terimakasih bibi Merry" balas Elica
"Yes Elicasandra"
Elica pun juga berterima kasih pada Bryan. Dia sangat senang akhirnya bisa meninggalkan kota ini.
"Tolong jangan beritahu pada siapapun Bryan. Termasuk kedua orang tua ku"
"Tentu Elica"
***
Suasana Klub Elite dimalam hari terlihat sangat ramai. Ada banyak wanita cantik dan pria kaya raya yang hadir malam ini. Termasuk Alex, pria itu datang ke tempat ini berniat mengurangi rasa penat nya setelah bekerja. Hal itu dikarenakan saat berada di kantor ada beberapa masalah yang membuat kepalanya sangat pusing dan membutuhkan pelepasan.
Jas serta dasi yang pagi tadi dia kenakan pun sudah tidak dia pakai lagi. Kemeja nya pun sudah dia gulung sampai ke siku tangan nya dan rambut nya terlihat acak-acakan. Malah menambah aura seksi pada pria itu.
Alex datang hanya sendiri malam ini, karena dia berniat untuk minum beberapa botol saja agar menghilangkan beban pikirannya. Walaupun banyak wanita yang terang-terangan menawarkan diri untuk menemani nya, namun Alex sama sekali tidak menggubris nya. Dia hanya memilih duduk di sendiri dan menyalakan rokok yang dia bawa.
"Boleh aku duduk disini?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba datang dan membuat pria itu menatap nya.
"Ya" jawab Alex singkat, kemudian dia pun menenggak minuman yang ada di gelas kecil.
"Seperti nya kau sedang kacau?" Ujar si wanita di balas Alex dengan senyuman kecilnya.
"Kau juga kan, alasan mu datang ke tempat ini" sahut Alex
"Aku? Tidak. Aku baik-baik saja, hanya ingin bertemu dengan mu"
"Untuk?" Tanya Alex
"Oh.. benar"
"Mantan anak tiri mu. Kalian memiliki hubungan tidak biasa. Aku benar kan?"
"Benar. Kau pintar sekali Evelyn"
Wanita itu adalah Evelyn. Setelah mendengar Alex mengucapkan hal tadi, wanita itu langsung tersenyum tanpa arti. Sebenarnya kedatangan kemari hanya ingin bertemu dengan Alex, tapi pria itu justru mengungkapkan hal yang telah mengganjal di pikiran nya.
"Setelah membuang ibu nya, kini kau memangsa anak nya. Ternyata perubahan yang aku berikan pada mu cukup besar. Apa kau sepatah hati itu setelah aku meninggalkan mu, Alex?"
Evelyn terlihat sangat percaya diri saat mengatakan hal tersebut. Karena dia berpikir, saat dulu meninggalkan pria ini semua nya akan berubah. Dan Evelyn yakin sekali jika sekarang pun Alex masih memiliki perasaan pada nya.
Bahkan saat malam dia akan meninggalkan Alex demi memilih menikah dengan pria lain yang sekarang menjadi mantan suaminya, Evelyn memberikan kesucian nya pada Alex. Dan pagi nya dia langsung pergi meninggalkan Alex begitu saja tanpa jejak. Banyak berita yang mengatakan jika Alex berubah saat itu juga.
Maka dari itu kini Evelyn akan masuk kedalam hidup Alex lagi, karena dia meyakini jika perasaan Alex belum berubah.
Namun tanpa di duga, Alex justru tertawa sangat keras setelah Evelyn mengatakan hal tadi. Dan membuat wanita itu bingung melihat tingkah Alex sekarang.
"Percaya diri sekali kau, Evelyn. Bahkan nama mu saja sudah tidak ada di otak ku sekarang" ujar Alex.
"Kau tidak bisa menutupi hal itu Alex, karena aku yakin semuanya masih sama seperti dulu"
"Dengar Evelyn, hanya karena aku adalah orang yang mengambil keperawanan mu dulu, bukan berarti kau sangat berharga di mata ku. Tapi kau justru menjadi gadis bodoh malam itu. Kau tau, sebenarnya aku tidak mabuk waktu aku meminta mu menyerahkan mahkota mu untuk kenangan kita yang terakhir. Justru aku ingin menandai mu, jika kau sudah menjadi barang bekas ku yang aku lepaskan pada orang lain."
Ucap Alex santai membuat wanita yang ada di hadapannya tampak marah.
"Apa kau bilang Alex?" Desis Evelyn
"Untuk mendapatkan kesucian seorang gadis, aku bisa membeli nya dengan uang ku. Jadi kau harus ingat Evelyn, kau tidak berarti apa pun di mata ku. Mengerti?"
Plakk..
"Dasar Bajingan kau Alex. Aku memberi mu dengan tulus tapi ini kah balasan mu. Kau pria Brengsek" ucap Evelyn setelah menampar pipi Alex dengan tangan nya.
"Itulah aku Evelyn. Dan ingat, jangan terlalu percaya pada pria. Karena mereka sangatlah licik. Jadi bersikap lah untuk menjadi wanita mahal"
Alex pun berdiri dari duduknya, dia melihat Evelyn yang sudah menangis karena nya. Spontan Alex pun langsung mengambil sapu tangan yang ada di saku celana dan menyerahkan nya pada Evelyn, agar mengelap air mata nya.
Detik berikutnya, Alex pun berjalan meninggalkan wanita itu.
"Kau harus ingat Alex, apa yang tanam itulah yang kelak akan kau tuai. Dan aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan karma atas perbuatan mu" pekik Evelyn dengan lantang sambil menangis dan berhasil membuat Alex menghentikan langkahnya.
Pria itu justru tersenyum menyeringai "aku dengan senang hati akan menunggu karma itu" ujar Alex kemudian langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
Keesokan harinya, Elica sedang dibantu oleh Bryan mengemasi barang yang akan dia bawa untuk pergi. Kedua nya telah menyusun rencana agar kepergian Elica tidak diketahui oleh Alex dan orang suruhan nya, yang memungkinan saat ini sedang mengawasi nya.
Pertama Bryan akan membawa barang-barang Elica terlebih dahulu ke Seattle, dengan menyuruh orang. Baru hari berikutnya, Elica akan pergi diam-diam ke rumah bibi Bryan yang dekat dengan kota itu sementara untuk menghilangkan jejak. Karena jika dia langsung kesana, keberadaan akan cepat diketahui. Biarlah Alex nantinya berfikir jika dia benar-benar keluar negeri.
"Aku titip ayah ku, Bryan." Ujar Elica sambil memasukkan baju nya ke koper besar.
"Ya. Jaga dirimu baik-baik disana Elica"
"Tentu, tapi aku harap kau juga jangan terlalu sering menengokku saat aku disana"
"Kau tenang saja Elica, aku tidak akan melakukan itu. Tapi saat kau akan melahirkan, aku janji akan disana"
"Terimakasih Bryan"
Selesai menyiapkan semuanya, Bryan pun membawa barang-barang Elica ke dalam mobil nya yang ada didalam garasi.
Elica terlihat menggenggam ponsel nya dengan ragu. Sebenarnya dia ingin menelpon ayah nya untuk memberitahukan tentang kepergian nanti. Dia takut jika ayah nya akan khawatir saat pulang melihat dirinya tidak ada.
"Halo Daddy.." ucap Elica saat panggilan itu terhubung.
("Elica. Ada apa nak?")
"Kapan Daddy pulang?"
("Daddy tidak tau. Disini masih tertutup salju")
"Sebenarnya Daddy dimana? Aku tau Daddy sengaja pergi dan menjauhi ku. Benarkan?"
("Kenapa kau bilang begitu sayang. Daddy tidak bermaksud begitu.")
Elica pun mulai terisak, dia sangat sedih ketika ayah nya tidak kunjung pulang. Padahal saat berangkat, ayah nya hanya mengatakan pergi untuk sehari. Tapi ini sudah hari ketiga dan ayah nya pun belum mau pulang. Elica merasa bersalah pada ayah nya, karena dia merasa menjadi beban saat pulang ke rumah nya.
"Dad, aku akan pergi ke suatu tempat hingga anak ku lahir. Jadi saat Daddy pulang aku sudah tidak di rumah lagi. Hanya itu yang ingin aku beritahukan pada mu"
("Ya tuhan, pergi kemana Elica? Jangan berfikir demikian, Daddy sudah janji akan pergi dengan mu"
"Tidak Dad. Ku mohon kali ini biarkan aku pergi. Aku tidak ingin menambah masalah untuk mu. Aku janji akan baik-baik saja Dad. Dan tolong cari lah keberadaan Mommy. Meskipun Kalian tidak bisa bersatu lagi, ku harap Daddy bisa menemukan Mommy"
Sejenak kedua nya pun terdiam, dapat Elica dengar suara helaan nafas dari telepon tersebut. Air mata nya pun sudah mengalir. Dia menangis dalam diam.
("Baiklah jika itu keputusan mu sayang. Saat ini Daddy tidak bisa memaksakan kehendak mu. Pulang lah saat kau sudah membaik, karena Daddy akan selalu menjadi rumah untuk mu nak")
"Terimakasih. Aku menyayangimu Dad" kata Elica pelan.
Sambungan telepon itu pun terputus, seketika Elica langsung merosot kan tubuh nya kebawah. Seakan tubuhnya seperti sehelai benang yang sangat ringan. Dia terduduk dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Ingin sekali Elica menangis keras saat ini, mengingat kehancuran nya yang sangat menyakitkan.
TBC.
Vote Like dan tinggalkan komentar setelah membaca....