
Jika kau menyakiti ku satu kali, maka aku akan mencari alasan seribu kali untuk memaafkan mu lagi. Namun jika kau nyaman dengan masa lalu kelam mu, maka aku akan memilih pergi dengan harapan kecil pada masa depan. Tapi satu hal yang harus kau ingat, saat aku pergi mungkin aku tidak akan pernah kembali untuk jatuh lagi pada kesalahan yang pernah ku perbuat.
Kesalahan karena aku di pertemuan dengan mu, kesalahan karena aku memberikan semua dunia ku padamu, dan kesalahan karena aku mencintaimu.
*****
Terlihat mobil BMW berwarna hitam milik Alex memasuki pelataran rumah besar. Tidak lama pria itu keluar dari mobil tersebut dan membanting pintu mobil saat menutup nya kembali.
Alex dengan ekspresi wajah dingin nya langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.
Dia terlihat berantakan karena masih menggunakan pakaian yang kemarin dia kenakan. Hanya saja yang kurang jaket yang di pakai nya tadi malam tidak lagi terpasang di tubuhnya.
Irene yang mendengar suara mobil Alex pun langgsung menghampiri keponakan nya tersebut.
"Alex kau dari mana saja? Kenapa baru pulang?" Tanya Irene yang berhasil menghentikan langkah Alex saat akan menaiki tangga.
Tidak lama Bianca pun juga masuk kedalam rumah dengan penampilan yang tidak kalah kacau nya dan dia berjalan sambil menangis. Wanita itu mengenakan mini dress yang di pakai nya semalam dan ditutupi oleh jaket milik Alex yang terlihat kebesaran menutupi tubuh nya.
Irene yang melihat kedatangan Bianca pun juga terkejut. "Kau kenapa menangis?" Tanya Irene lagi
Namun Bianca tidak menjawab nya justru malah berjalan menuju ke kamar nya dengan air matanya yang terus mengalir seraya sesenggukan.
"Berhenti Bianca, aku sedang berbicara dengan mu" hardik Irene merasa kesal karena Sedari tadi dia tidak mendapatkan jawaban. Akhir nya Bianca pun menghentikan langkahnya juga.
"Jika Tante ingin mengetahui semuanya, tanya kan saja pada Alex" ujar Bianca sambil tersedu-sedu.
Irene yang mendengar penuturan Bianca, langsung menatap kearah Alex. Namun saat mendapat tatapan tersebut Alex justru memilih pergi dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
Karena belum puas mendapatkan jawaban apapun akhir nya Irene memilih menyusul Alex ke kamarnya.
Irene pun membuka kamar Alex yang tidak di kunci begitu saja.
Terlihat pria itu sedang mengganti pakaian nya, dan menghiraukan kedatangan Irene.
"Jelaskan pada Tante apa telah terjadi antara kau dan Bianca"
Cecar Irene meminta penjelasan.
Alex masih diam dan malah berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar nya.
"Alex!!" Pekik Irene yang berhasil membuat Alex menatap nya.
Irene berjalan menghampiri Alex dengan langkah pelan nya. Terlihat ada kilatan amarah di mata wanita itu.
"Kau....tidur bersama dengan wanita itu semalam?" Tanya Irene tepat sasaran.
"Jawab Alex" kesal Irene lagi karena Alex masih membisu dengan tatapan datar nya.
"Hm" jawab Alex dengan singkat, Irene yang tidak mempercayai itu langsung menutup mulutnya.
"Kenapa Alex? Kenapa kau bisa melakukan hal itu"
"Aku tidak tahu. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Tante bisa keluar dari kamar ku. Karena aku butuh istirahat"
Ujar Alex sangat acuh. Kemudian dia langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan Irene yang masih terkejut di tempat nya.
"Astaga" ujar Irene pelan saat pintu kamar mandi itu tertutup.
***
Hari ini Elica sedang membuat sesuatu di dapur. Dia ingat jika ayah nya sangat menyukai Tiramisu dulu, apalagi saat mendiang ibunya setiap Minggu membuat hidangan manis tersebut. Dan entah lah, mungkin saat ini Elica juga terbawa suasana karena merindukan ibu nya.
Dan akhir-akhir ini Elica sering sekali melihat sang ayah melamun di halaman rumah dengan waktu yang lama. Mungkin ayah nya memang benar-benar sangat mencintai Mendiang ibu nya Elica. Jadi karena hal itu juga yang membuat Elica ingin memberikan Ayahnya sesuatu yang bisa mengobati rasa kerinduan nya.
Setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam di dapur, akhirnya Elica pun berhasil membuat kue tersebut dengan sempurna dan terlihat sangat lezat. Dia pun menghampiri ayahnya dengan senyuman yang menghiasi wajah cantik nya.
"Daddy.." panggil Elica yang membuat Albert menoleh ke sumber suara.
"Iya sayang"
"Aku baru saja membuat sesuatu, apa Daddy ingin mencoba nya?" Kata Elica dengan mata berbinar
"Oh ya, Tentu Daddy ingin mencoba nya. Kau membuat apa sayang?"
Elica pun menunjukkan sebuah piring yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Tiramisu" seru Elica "ku harap rasa nya tidak terlalu buruk, karena hanya Mommy yang paling mahir membuat nya" sambung Elica lagi.
Albert pun tersenyum melihat wajah Elica yang sangat menggemaskan. Dia pun menyendok tiramisu tersebut masuk kedalam mulutnya.
"Rasa nya..." Potong Albert membuat Elica yang ada di hadapannya menunggu.
"Apa Daddy, katakan"
"Sangat lezat"
"Benarkah? Apa seenak buatan Mommy?"
Albert lagi-lagi dibuat tersenyum dengan tingkah Elica, dia pun menjawabnya dengan anggukan. Lalu memberikan Elica suapan kue tersebut.
"Iya Dad ternyata enak"
"Tentu sayang. Dengar Elica, jangan lagi membandingkan dirimu dengan orang lain. Semua orang punya ciri khas dan kelebihan nya masing-masing. Apa yang ada pada dirimu, ya itu lah milik mu. Dan apa yang ingin kau lakukan, dengarkan lah kata hati mu. Karena disana lah kau akan mendapatkan jawaban. Kau mengerti maksud Daddy?" Ucap Albert menasehati putri nya tersebut.
"Ya Dad. Aku mengerti dan akan selalu mengingat nya"
Albert mengelus rambut Elica dengan penuh kasih sayang. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, jika putri kecilnya dulu sudah dewasa. Dan bahkan kini dia sedang mengandung.
"Kau akan kembali besok kesana?" Tanya Albert yang di maksudkan ke Rumah besar.
"Iya"
"Jaga dirimu baik-baik sayang, dan cepat lah kembali pada Daddy"
"Daddy menantikan waktu itu Elica" ujar Albert membalas pelukan Elica
***
Di Rumah besar..
Saat ini Irene telah duduk bersama Alex dan Bianca untuk meminta penjelasan. Karena keduanya memilih membungkam mulut nya tidak memberikan jawaban apapun pada Irene.
Apalagi Alex yang terlihat sangat dingin saat melihat Bianca yang terus saja menangis.
"Tante tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua. Berulang kali Tante meminta penjelasan pada kau Alex tapi sepertinya kau tidak punya mulut untuk mengatakan apapun. Dan kau lagi Bianca, sedari kau pulang kenapa kau menangis sampai saat ini. Jika ada yang ingin kau katakan, sekarang waktunya menjelaskan. Karena Tante tidak butuh air mata mu"
Kesal Irene dengan meninggikan suaranya.
"Baiklah aku akan memberitahu kebenarannya. Karena yang terjadi sebenarnya adalah..." Ucap Bianca menggantung kan kalimat nya.
"Katakan!" Cecar Irene.
"Alex memperkosa ku tadi malam" ucap Bianca diiringi lagi dengan tangisan nya yang pecah.
Irene dibuat terkejut saat mengetahui, jika dugaan nya benar.
Dia menatap Alex dengan tatapan tidak dipercaya. Irene pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Alex
"Benar apa yang di katakan wanita ini Alex?" Tanya Irene.
Sedangkan Alex malah membuang wajah nya melihat kearah lain. Namun dengan sekali hentakan, Irene menarik kerah baju Alex yang membuat pria itu melihat kearah nya. "Jawab Alex" ujar Irene.
"Benar. Aku mabuk semalam, dan dia sendiri yang menjebak ku." Jawab Alex.
"Bohong. Aku tidak melakukan hal itu Alex, kenapa kau memfitnah ku. Justru kau yang menarik ku ke dalam hotel" sahut Bianca yang tidak terima dengan perkataan Alex.
"Benarkah? Kau pikir aku bodoh, jika semalam kau memberikan ku obat pada minuman ku. Aku tau itu, Bianca"
"Baiklah jika kau menuduh ku begitu. Aku menerima nya. Tapi satu hal Alex, aku meminta pertanggungjawaban dari mu. Bagaimana jika aku hamil? Kau lupa, jika kau orang yang telah merebut kesucian ku Alex" ucapan Bianca justru dibalas tawaan keras oleh Alex. Seakan apa yang Bianca bicarakan adalah sesuatu yang lucu.
"Apa kau menganggap ini lelucon Alex? Tidaklah kau merasa bersalah karena kau sudah menghancurkan masa depan ku. Dan lagi, apa yang akan aku katakan pada ayah ku dengan hal telah terjadi ini. Tante Irene tolong aku, aku harus bagaimana?" Bianca yang tangisan nya makin menjadi itu sekarang meraih tangan Irene, berharap jika wanita itu mau membela nya di depan Alex.
Sedangkan Irene yang telah mengetahui semuanya hanya bisa diam. Dia marah dan bingung harus berbuat apa. Dan sejujurnya kini yang ada di pikiran Irene adalah Elica.
Dia tidak bisa membayangkan jika Elica tau kejadian ini, maka bisa di pastikan Alex tidak akan termaafkan lagi.
"Ini masalah kalian berdua. Tante tidak akan ikut campur untuk mencari jalan keluar nya. Tapi untuk kau Alex, ingat jika kau akan menjadi ayah dari anak Elica. Sudah berulang kali aku memperingati mu untuk tidak berbuat teledor. Maka dari itu cepat lah selesaikan masalah ini sebelum Elica kembali. Dan kau Bianca, kembali lah ke ayah mu karena disini bukan tempat mu"
"Aku tidak akan pergi. Ini tidak adil, sangat tidak adil. Aku sama seperti Elica, tapi kenapa hanya dia yang boleh tinggal disini. Sedangkan Alex juga meniduri ku" kata Bianca yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Irene.
"Lalu kau mau apa? Elica itu sedang mengandung anak Alex,. Jadi wajar jika dia disini. Apa kau masih belum mengerti juga?" balas Irene.
"Jika Alex tidak mau bertanggung jawab pada ku, maka aku akan melaporkan nya pada polisi atas tindakan keji nya"
"Lakukan apa yang kau mau, Bianca. Aku menunggu nya" ucap Alex kemudian pria itu pun memilih pergi dari rumah menaiki mobil nya.
Pancaran mata Alex tersirat amarah yang begitu besar. Dia tersulut emosi karena Bianca berhasil mengancam nya. Meskipun pada kenyataannya Alex tidak takut apapun dengan hal tersebut.
Setelah cukup jauh, Alex pun menepikan mobilnya di pinggir jalanan. Dia mengambil ponsel yang ada di saku celana nya untuk menelpon seseorang.
"Pesan kan tiket pesawat ke New York sekarang. Dan siapkan dokumen yang kemarin aku minta" ucap Alex pads seseorang yang di telepon.
Setelah mengatakan nya, Alex langsung mematikan panggilan tersebut dengan segera. Dan kembali melajukan mobilnya.
***
Malam ini Elica sedang mengemasi pakaian nya untuk di bawa ke rumah besar. Meskipun sebagian besar adalah pakaian milik calon anak nya yang beberapa hari lalu dia beli bersama sang ayah.
Besok mungkin orang suruhan Alex akan kemari untuk menjemput nya. Jadi Elica mempersiapkan semuanya malam ini.
Terdengar ketukan pintu dari depan kamar nya, ternyata ayah nya lah yang melakukan nya. Dia mengatakan jika ada Alex di depan. Mengetahui hal itu sebenarnya membuat Elica terkejut.
Akhirnya dia pun memutuskan menghampiri pria itu yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kau kemari? Bukankah besok orang mu yang akan menjemput ku?"
Tanya Elica penasaran
"Besok pagi aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnis. Jadi aku ke sini untuk bertemu dengan mu, sekaligus memberitahu jika kau akan pulang dengan ku besok"
Elica pun membalas nya dengan anggukan kepala.
Keduanya terlihat sama-sama terdiam karena tidak tau harus membahas topik apa. Dan alasan Alex kesini sebenarnya yaitu karena dia merindukan Elica, namun dia enggan untuk mengatakan hal itu.
"Ekhmm... Bolehkah jika aku tidur di sini malam ini?" Kata Alex tiba-tiba, dan Elica bingung harus menjawab apa.
"Kenapa? Bukankah apartemen mu sangat nyaman"
"Hanya terlalu sepi"
"Baiklah. Kau bisa tidur di kamar tamu"
"Tidak masalah" karena Alex berencana saat tengah malam nanti dia akan menyelinap untuk tidur dengan Elica.
Banyak hal yang sebenarnya bersarang di pikiran Elica. Apalagi saat dia terkejut karena melihat banyak tanda merah di leher pria itu. Namun Elica terkesan tidak ingin tahu apapun, karena dia mencoba untuk tidak perduli dengan hal yang dilakukan pria itu.
Kenyataan nya setelah anak ini lahir, Elica akan membuka lembaran hidup baru yang lebih baik tanpa Alex.
"Elica..." Ucap Alex
"Hm"
"Bisakah kedepankan kita hidup bersama menjadi satu keluarga?" Kata Alex.
TBC.