Playing With Fire

Playing With Fire
Part 20



Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca...


Sudah sejak tadi malam Elica dan Hilda masih menunggu Leo di luar ruangan. Dapat mereka lihat keadaan Leo saat ini dari kaca kecil di pintu tersebut dia masih kritis, dan banyak alat yang dipasangkan di tubuhnya agar dia tetap bertahan. Dan dokter berkata jika siang nanti Leo akan menjalani operasi besar, karena ada beberapa tulang rusuk nya yang patah dan beberapa cidera di kepala.


Hal itu membuat Elica dan ibu nya tidak bisa tidur dari semalam, meskipun tubuh nya merasa sangat lelah. Apalagi saat ini Elica juga sedang berbadan dua.


Pagi itu ada seorang laki-laki yang datang menghampiri Elica dan ibu nya yang sedang duduk. Orang yang sama sekali Elica tidak pernah temui itu tersenyum kepada mereka berdua.


"Hai selamat pagi. Apa benar ini ruangan Leo dirawat?" Tanya Lelaki itu.


"Iya benar, Anda siapa yah?"


"Perkenalkan aku Vincent teman Leo"


"Oh begitu" jawab Elica.


"Iya, kalian sendiri?" Tanya Vincent lagi.


"Aku Elica, dan ini ibu ku. Kami teman Leo juga"


"Oh aku mengerti. Bagaimana keadaan nya saat ini. Apa ada perkembangan?"


"Belum. Dokter bilang dia masih kritis, dan nanti siang akan menjalani operasi besar di bagian tulang rusuk nya" ucap Elica.


"Begitu yah, apa kalian disini dari semalam?"


"Iya"


"Kalau begitu biar aku saja yang menggantikan menjaga nya. Pasti kalian lelah, pulang lah dulu" pinta Vincent.


"Tapi___"


"Benar Elica. Lebih baik kita pulang dulu, nanti siang kita kesini lagi. Mom lelah, dan Mommy pun tau kau juga merasakan hal yang sama. Kita pulang dulu yah" ujar Hilda memotong ucapan Elica.


Sebenarnya Elica tidak tega meninggalkan Leo begitu saja. Tapi karena Lelaki ini datang Akhirnya Elica pun menyetujui ucapan lelaki itu.


Dia dan ibu nya pun pergi meninggalkan rumah sakit.  Keduanya memang butuh istirahat dan juga harus mengisi perutnya


Mereka pulang menggunakan taksi, keduanya masih saling diam terhanyut oleh pikiran masing-masing. Dan entah kenapa hati Elica tiba-tiba tertuju pada satu orang, mengenai kejadian yang di alami Leo malam tadi.


Alex. Sepanjang perjalanan Elica memikirkan nama itu. Mungkinkah Alex yang melakukan ini semua? Dia pun teringat lagi ucapan Alex tempo hari. Yang membuat nya menjadi gusar hari itu, dan belum genap satu pekan kejadian yang dia cemaskan pun terjadi. Dan malang nya justru Leo lah yang terkena imbas nya. Pria baik hati yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit.


Namun Elica tidak akan menuduh Alex begitu saja tanpa ada bukti. Bisa saja kecelakaan itu murni karena nasib buruk yang sedang menimpa Leo malam tadi.


Tapi jika pun Alex lah dalang di belakang ini semua, Elica tidak akan diam saja. Dia tidak segan menjebloskan pria itu ke penjara.


"Mom"


"Iya, ada apa sayang?"


"Mom sudah menemui Daddy?" Tanya Elica.


"Belum. Mom belum siap bertemu dengan Daddy mu"


"Temui lah Daddy secepatnya nya Mom. Dan kembali lah pada Daddy. Melihat kondisi Leo sekarang, aku tidak enak hati jika kita terus tinggal di rumahnya"


"Baiklah. Mommy akan menemui nya besok, tapi untuk kembali pada Daddy mu seperti nya tidak sayang" jawab Hilda


"Kenapa?"


"Sudah Mommy bilang Elica, Mommy akan memilih hidup sendiri. Bekerja dan menghasilkan uang, untuk menghidupi diri Mommy sendiri. Jika pun kau akan melanjutkan menikah dengan Leo di Jerman, Mom rela melepas mu sayang"


Mendengar hal itu membuat Elica terdiam. Jadi inilah akhir dari kehidupan keluarga nya? Memilih Hidup sendiri-sendiri untuk menembus kesalahan di masa lalu. Jika sudah begini tidak ada yang bisa disalahkan, dan pada akhirnya semua orang menjadi korban, sangat miris.


Elica pun kembali menatap ke luar lewat kaca mobil taksi yang mereka tumpangi. Dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Dalam hati nya, dia tidak bisa meneruskan hubungan nya dengan Leo. Karena Elica tidak ingin Leo tersakiti lagi atas masalah yang seharusnya tidak ikut didalam nya. Kini Elica pun merasa bersalah, entah pada Leo dan juga pada ibunya.


Jika saja dia dulu tidak memiliki keniatan menghancurkan pernikahan ibu nya, maka semua ini tidak pernah terjadi. Dan jika saja Elica tidak berhubungan dengan Alex, maka Leo tidak akan menderita seperti sekarang.


Salahnya, ya memang Elica akui Semua ini salah nya. Dan jika dia punya pilihan, makan dia memilih agar dia saja yang menanggung semua nya.


***********************


Pagi ini Alex sedang sarapan di meja makan. Hanya sendiri, meskipun dulu Hilda lah yang selalu mengurus semua keperluan nya namun rasa sepi itu masih ada. Apalagi jika mengingat saat Elica juga ikut makan bersama nya satu meja, dan Alex pun teringat saat dia diam-diam selalu memperhatikan wajah manis itu. Dan sial nya pagi ini Alex merindukan wanita itu, tentu saja Elica.


Seorang pria berbadan besar menghampiri Alex di meja makan, kemudian dia menundukkan kepalanya di hadapan Alex.


Namun Alex hanya acuh dan melanjutkan sarapan nya.


"Tuan, tugas yang anda berikan sudah di lakukan. Apakah ada sesuatu yang anda perintahkan lagi?" Tanya pengawal itu dengan hormat pada majikannya.


"Bagaimana kondisinya?"


Ujar Alex pada pengawal itu dan menanyakan kondisi Leo.


"Dia masih kritis tuan, perlukah saya melakukan sesuatu?"


"Ku kira dia sudah lenyap. Mengurus hal seperti saja kau masih meleset. Bodoh"


Ucap Alex sambil kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Maafkan saya tuan, kalau begitu hari ini juga saya akan melenyapkan nya"


"Tidak perlu. Aku bos nya disini, jangan membuat keputusan sendiri. Biarkan dia seperti itu, menderita dan mati perlahan.  Sudah ku peringatkan tapi dia menganggap nya lelucon."


"Baik tuan"


"Apa Elica masih disana?"


"Nona sudah pulang pagi tadi bersama ibunya."


"Baiklah kau boleh pergi"


"Baik tuan, saya permisi"


Setelah selesai sarapan Alex pun langsung bergegas pergi menuju ke kantor nya. Hari ini dia memilih membawa mobil sendiri. Karena dia berniat ingin bertemu dengan wanita nya yakni Elica.


Namun ponselnya berdering, dan dengan segera Alex mengangkat nya. Tidak disangka panggilan tersebut dari Evelyn. Sambil fokus menyetir Alex pun menjawab telepon tersebut.


Dan ternyata Evelyn mengajak nya bertemu nanti malam, Alex pun langsung menyetujuinya begitu saja.


Sesampainya di kantor, Alex langsung menuju keruangan nya untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


Kembali tenggelam dalam pekerjaan itulah hal yang paling menyenangkan menurut Alex, bisa dikatakan dia termasuk orang yang gila kerja.


Di lain tempat, Vincent masih setia menemani Leo di rumah Sakit. Karena satu jam lagi Leo akan menjalani operasi nya. Dan dia pun baru saja mendapatkan kabar dari pihak polisi, jika hasil olah kejadian perkara di tempat Leo kecelakaan ada sesuatu yang ganjil. Dia diberitahukan jika mobil Leo telah di sabotase bagian rem nya. Dan kasus ini dinyatakan rencana pembunuhan oleh pihak polisi. Dan hal itu berhasil membuat amarah Vincent naik, jadi benar laki-laki yang dia lihat beberapa hari lalu di Club memang lah mengincar Leo. Tapi siapa sebenarnya musuh Leo yang tidak di ketahui oleh Vincent.


Beberapa saat kemudian Elica pun sudah terlihat lebih segar. Dia kembali ke rumah sakit menemani Leo tapi tanpa ibunya. Karena Elica tau jika ibunya masih butuh istirahat mengingat mereka tidak tidur semalaman. Jadi Elica ke rumah sakit hanya sendiri.


Elica menghampiri Vincent yang sedang duduk dan fokus pada ponsel nya. Lalu Elica pun berdehem agar pria itu menyadari kehadiran Elica. Sontak Vincent pun langsung menoleh kearah Elica dan tersenyum.


"Kau sudah datang lagi" ucap Vincent


"Iya" jawab Elica tersenyum


"Sendiri?"


"Sudah, sekitar 30 menit yang lalu"


"Ah begitu. Semoga semua nya berjalan lancar"


"Iya aku harap juga begitu. Duduk lah"


Ujar Vincent.


"Terimakasih"


"Kau sudah lama mengenal Leo?"


"Belum terlalu lama. Memang nya kenapa?"


"Tidak apa-apa hanya ingin tahu. Ku dengar dia akan menikah dengan mu?"


"Begitulah"


"Boleh aku menanyakan sesuatu pada mu?"


Raut wajah Vincent menjadi serius saat ini dan berhasil membuat Elica penasaran.


"Boleh, tanyakan saja"


"Apa kau tau jika Leo sedang memilki masalah dengan seseorang ? atau apakah kau tau jika dia punya musuh?"


"Tidak. Setahu ku dia baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi, katakan padaku"


Kini Elica menuntut penjelasan pada pria yang ada di hadapannya itu.


"Sebenarnya aku tadi di beritahu oleh pihak polisi. Jika kecelakaan yang menimpa Leo adalah ulah seseorang, dan polisi menyatakan jika ini kasus rencana pembunuhan. Jadi itu bukanlah murni kecelakaan"


Deg..


Bagai Dejavu, seolah semua yang Elica pikirkan memang terjadi. Ternyata benar apa yang di takuti nya menjadi kenyataan. Dan Elica yakin betul siapa orang yang ada di belakang ini semua. Dia hanya terdiam setelah mendapat berita itu dari Vincent.


"Polisi bilang ada seseorang yang memotong kabel rem di mobil Leo. Padahal tadi malam aku baru saja memberi tahu nya jika beberapa hari lalu ada seseorang yang mengintai Club milik nya. Jika saja aku tahu siapa orang nya, sudah ku pastikan akan melenyapkan nya juga"


"Tidak. Jangan berbuat gegabah sebelum Leo sadar, jadi ku mohon jangan ikut campur dalam masalah yang di hadapi Leo saat ini. Kau hanya perlu menjaganya dan kita menunggu dia sadar lalu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Elica sedikit panik mendengar Vincent akan melenyapkan orang dibalik ini semua, yang tak lain adalah Alex.


Entah mengapa ada rasa tidak rela jika Vincent akan melakukan hal itu pada Alex. Dan juga Elica tidak ingin ada lagi orang yang menjadi korban Alex selanjutnya jika Vincent benar-benar ingin ikut campur maslah ini. Elica tidak akan membiarkan itu terjadi.


Sebenarnya Vincent sedikit terkejut dengan ucapan Elica tadi, secara tidak langsung gadis itu menyuruh nya agar tidak berbuat apapun.


"Bisa kau menjaga Leo dulu selama operasi ini berjalan? Aku harus pergi ke suatu tempat" ucap Elica


"Tentu saja. Aku akan disini sampai operasi nya selesai"


"Baiklah. Terimakasih Vincent, kalau begitu aku pergi dulu" Vincent pun membalas nya dengan Anggukan kepala.


******************


Elica sampai di sebuah kantor yang sangat besar, kantor yang tidak asing lagi baginya. Siapa lagi jika bukan kantor Alex. Dia pun buru-buru masuk kedalam kantor tersebut. Dan langsung masuk Lift menuju lantai 15.


Dia sampai di depan pintu ruangan Alex, meskipun ada seorang sekretaris seksi yang menghalanginya untuk bertemu dengan Alex dengan alasan jika dia belum membuat janji sebelumnya.


Tanpa menunggu lama Elica pun langsung membuka saja pintu tersebut dan menampilkan Alex yang sedang duduk sambil mengerjakan Dokumen yang ada di meja kerja nya.


Sontak Alex pun langsung menatap ke orang yang baru saja masuk tanpa permisi masuk kedalam ruangan nya.


Dia langsung menghentikan aktivitas kerja nya begitu melihat wanita yang ingin sekali dia temui itu. Dan tiba-tiba say sekretaris nya masuk juga kemudian berniat menarik Elica keluar.


"Maaf tuan, gadis ini menerobos begitu saja. Jadi saya___" ucap sekretaris nya kemudian perkataannya langsung dipotong oleh Alex.


"Kau lepaskan dia dan keluar lah"


Mendengar hal itu sekretaris nya pun sedikit bingung lalu Elica langsung menepis tangan wanita itu yang menahan lengan nya.


"Baik tuan, saya permisi"


Sekretaris itu pun keluar dan meninggalkan Alex dan Elica berdua di ruangan tersebut.


Alex terlihat berdiri sambil tersenyum menghampiri Elica. Akhirnya dia bisa melihat wajah wanita yang ada di hadapannya, karena sejak tadi pagi Alex sangat merindukan wajah ini.


"Kau merindukanku sayang?"


Itulah kalimat pertama yang Alex ucapkan didepan Elica.


Plakkk....


Tanpa di duga, Elica langsung memberikan tamparan keras di wajah Alex. Hingga meninggalkan bekas meras di pipi pria itu. Sejenak suasana hening, karena kedua nya sama-sama diam. Dan  Alex masih terkejut dengan apa yang dia dapatkan barusan.


Sedangkan Elica juga diam sambil menatap tajam ke arah Alex.


"Kau kan yang melakukan nya? Yang membuat Leo menjadi seperti itu, semua adalah ulah mu kan? Kenapa kau tega melakukan hal itu? Jawab aku Brengsek" ucap Elica dengan amarah nya yang masih tertahan.


Sedangkan Alex juga membalas nya dengan tatapan tajam pula.


"Jika iya, kenapa?"


Jawab Alex tanpa rasa bersalah sedikitpun pun dan berhasil membuat Elica menjadi makin emosi.


Plak...


Tamparan kedua yang Elica berikan lagi pada Alex dan berhasil membuat wajah Alex menghadap ke samping.


"Kau bukan manusia Alex. Kau itu Iblis, yang dengan kejam melakukan kejahatan pada orang yang tidak bersalah. Kau pria licik yang hanya berani melakukan cara kotor seperti ini. Tau kah kau, bagaimana kondisi nya saat ini hah? Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Leo, aku pastikan kau akan mendekam dalam penjara. Karena di mata ku, kau hanyalah sampah"


Ucap Elica yang sudah tersulut emosi dan mengeluarkan kata-kata itu begitu saja.


Sedangkan Alex yang mendengar ucapan Elica pun juga ikut tersulut Emosi. Dengan cepat Alex langsung mencengkeram dagu Elica dengan kuat dan mendorong nya ke dinding.


"Kau sudah mulai berani ya. Kau tidak tau siapa aku rupanya, dengan berani nya kau menampar dan mengancam ku. Kau kira kau bisa melawan ku sayang?" Ujar Alex dengan nada yang sangat tajam di telinga Elica.


"Dengar Elica, jika kau masih saja terus di samping Leo, akan aku pastikan dia tidak akan selamat nanti nya. Jangan mencoba kabur dari ku, dan juga jangan bertingkah seolah kau bisa melawan ku. Ingat ucapan ku tempo hari, yang harus kau tau sayang, kejadian Leo malam tadi itu hanya awal. Jadi pikir kan sebelum memilih keputusan untuk lari dari ku. Atau orang-orang yang ada di samping mu, akan aku buat menjadi seperti Leo selanjutnya. Termasuk kedua orang mu"


"Kau pria bajingan"


"Yah aku memang bajingan sayang, jadi menurut lah padaku selanjutnya. Maka semua nya aku pastikan akan aman seperti sedia kala"


Lagi. Akhirnya Elica kalah lagi, dia tidak bisa berkutik atau pun membalas Alex. Pria ini sangat berbahaya, namun jika Elica memilih pergi dia takut pria ini justru akan melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi.


Melihat bungkam nya Elica justru membuat Alex senang dan tersenyum menyeringai. Dia suka saat Elica berada di bawah kendali nya.


TBC.


Upss sorry yah kepanjangan.


.


Semoga suka sama ceritanya. Ditunggu Vote dan komentar nya......