Playing With Fire

Playing With Fire
HANGAT




"Sudah puas? Kau senang kita disuruh bergandengan?" Ucap Dara mengeluarkan tatapan membunuhnya.


"Tahan sebentar, toh aku juga tidak akan menggenggam tanganmu selamanya." Ucap Sean sambil menggenggam hangat tangan Dara.


Lama kelamaan asap yang mengelilingi tangan mereka kala bersentuhan menghilang, sepertinya tubuh mereka sudah mulai beradaptasi satu sama lain akan tetapi, genggaman tangan itu terlalu nyaman sehingga mereka lupa jika mereka sedang bergandengan.


Deng Dong Deng Dong!


Bel pulang berbunyi, Pelajaran terakhir selesai.


"Hangat sekali." Ucap Dara pelan, mengatakan kehangatan yang ia rasakan di tangannya. Dia kemudian tersadar kalau tangan mereka masih bergandengan hal itu membuatnya kaget dan langsung menghempaskan tangan Sean keudara.


"AGH! KENAPA KAU TIDAK BILANG KITA MASIH BERGANDENGAN?" Teriak Dara, menyadari kalau mereka sudah sangat lama bergandengan dari masuk kelas hingga bel pulang terdengar.


"Mana kutau, aku juga lupa kalau kita masih bergandengan. Lagian kau juga terlihat menikmatinya." Jawab Sean dengan ringan.


"Aku menikmatinya? Kapan? Kau gila."


"'Hangat sekali.' Aku dengar kau mengatakan itu tadi."


'Sial bagaimana dia bisa mendengarnya, padahal aku yakin mengatakannya dengan pelan. Bahkan telingaku sendiri tidak mendengarnya dengan jelas.' Batin Dara.


"Pendengaranku sangat baik. Tidak perlu kaget. Bahkan aku bisa mendengar suara semut." Ucap Sean bercanda.


'Luar biasa! Dia bisa mendengar suara semut? Kenapa hal yang ada di dalam dirinya sangat keren!' Batin Dara.


"Suara semut? Bagaimana bunyinya?" Tanya Dara yang terlihat mempercayai perkataan Sean.


"Kenapa serius sekali? Jangan bilang kau mempercayainya. padahal aku hanya bercanda."


"Sial!" 'Aish, beraninya dia menipuku.' batin Dara.


"Dara, aku tidak mengira ternyata kau benar benar sangat bodoh. Frekuensi suara semut berbeda dengan frekuensi manusia, jadi mustahil mendengarnya tanpa alat khusus. Kau tidak tau itu? Untung saja kau diberikan elemen air spesial untuk menutupi kekuranganmu." Ucap Sean menggoda Dara.


"Selain diberikan elemen air spesial, aku juga memiliki wajah yang spesial, tidak kah kau melihatnya?" Ucap Dara sambil memamerkan kecantikannya dengan mengedipkan satu mata genitnya.


"Wajah spesial? Kenapa aku tidak melihatnya." Ucap Sean pura pura mengabaikan wajah cantik Dara. Padahal waktu pertama kali bertemu dia juga terpesona dengan Dara.


"Are you blind?" ucap Dara.


"Im not blind. You blind. Sepertinya kau butuh kaca." Jawab Sean.


"Aish! Lupakan saja, aku mau pulang!" Ucap Dara yang ingin meninggalkan Sean di kelas kosong itu karena semua murid sudah keluar dikala mereka berbincang.


"Hya, kau mau pulang?"


"Hmm, kenapa?" Jawab Dara sambil menghentikan langkahnya dan kembali menatap Sean.


"Apa kau sudah lupa kalau kita disuruh membersihkan halaman belakang setelah pulang sekolah? Jangan bilang kau sudah lupa dengan hal yang baru saja terjadi tadi."


😳'OH IYA! Bagaimana otakku ini bisa cepat melupakan sesuatu.' Batin Dara.


"Bagaimana bisa aku melupakan itu! Aku baru saja mau ke halaman belakang sekarang." Ucap Dara, dia berbohong karena takut Sean menggodanya lagi. Kemudian dia melajutkan jalannya dan segera berlari ke halaman belakang.


"Ternyata dia juga payah kalau berbohong. Hufff.. apa yang harus aku lakukan padanya." Ucap Sean menggelengkan kepalanya.


HALAMAN BELAKANG, PULANG SEKOLAH PUKUL 17.00 SORE


"Dari mana kita harus memulai membereskan tempat mengerikan ini?" Ucap Dara menatap hamparan kekacauan di depannya.


"Pertama tama ambillah beberapa sapu di gudang, aku akan menunggu disini."


"Hufff.. Ikuti aku."


Mereka berjalan ke arah gudang yang tidak jauh dari halaman belakang sekolah. Jaraknya mungkin sekitar 10 meter. Mereka segera masuk ke gudang dan menyalakan lampunya.


"WAH.. mereka menyebut tempat seperti ini gudang? Lalu apa yang mereka katakan jika melihat kamarku." Ucap Dara melihat kondisi gudang itu. Gudang itu terlihat sangat rapi semua barang barang bekas memang tersimpan di sana tetapi barang barang itu tertata dengan rapi.


"Sepertinya sapunya ada di atas lemari itu, bisa kau mengambilnya?"


"Kenapa tidak kau saja? Lemari itu sangat tinggi."


"Aku ingin mencari gergaji untuk memotong ranting yang sudah tumbang. Mau bertukar pekerjaan?" Tanya Sean tersenyum.


"Baiklah, akan ku ambil sapunya."


Dara berusaha mengambil sapu yang berada di atas lemari dengan menggunakan bangku yang tergeletak disana. Sedangkan Sean sedang sibuk mencari gergaji di bongkahan alat alat pertukangan.


'tab tab tab' suara langkah kaki beberapa orang terdengar di telinga Sean. "Dimana bocah $ialan itu!" Suara itu makin jelas Sean paham dengan suara berat yang didengarnya itu. Itu adalah suara dari senior yang baru saja dikeluarkan.


"Sial! Kenapa mereka ke sini?!" Sean segera mendatangi Dara yang tengah sibuk menggapai sapu di atas lemari. Sean segera menarik tangan Dara dan mengajaknya bersembunyi di dalam almari kayu itu. Mereka masuk ke lemari dalam posisi jongkok dan saling berhadapan.


"Sean apa yang kau.."


"Sttt..." Belum selesai Dara bicara, Sean sudah mengkode Dara untuk diam.


"KATAMU MEREKA KESINI SETELAH SEPULANG SEKOLAH! DIMANA MEREKA SEKARANG" Teriakan senior itu mulai terdengar di telinga Dara. Hal itu membuat Dara kaget dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


'Jadi pendengarannya benar benar bagus. Dia menyadari kalau ada yang datang sebelum aku mengetahuinya. Tapi haruskah kita bersembunyi bersama dalam almari sempit ini?" Batin Dara.


Lemari yang mereka tempati untuk bersembunyi, ukurannya sangatlah sempurna. Badan mereka masih bisa bergerak walaupun dalam posisi jongkok. Selain itu banyak sekali lubang lubang kecil di sisi lemari yang membuat cahaya dapat masuk kedalam sehingga cahaya itu terpantul dan membuat mereka dapat melihat satu sama lain.


"Sean, kenapa kita bersembunyi?" Bisik Dara, dia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Sean.


"Mereka sudah dikeluarkan, kupikir mereka akan balas dendam dengan kita. Bertahanlah sebentar sampai mereka pergi." Jawab Sean, dia juga melakukan hal yang sama dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Dara.


"Kita lebih kuat dari para pengecut itu, lebih baik kita memberi mereka pelajaran yang sesungguhnya. Bagaimana menurutmu?" Bisik Dara.


'Kalau kupikir pikir gadis ini lebih senang bertarung ketimbang aku. Dia tidak takut apapun dan suka sekali cari masalah.' Batin Sean.


"Dara, sudah berapa hari kau masuk sekolah?"


"Tiga hari, Kenapa?"


"Dalam waktu 3 hari, kau sudah membuat masalah yang besar. Apa kau ingin mengulangi kesalahan yang sama dan dikeluarkan dari sekolah ini?"


"Kita tidak bisa di keluarkan, karena kekuatan kita sangat berharga untuk sekolah ini." Jawab Dara.


BRAK!


Suara pintu gudang terbuka karena ditendang paksa. "Lampu disini menyala, apakah mereka disini?" Ucap senior, dia menerobos masuk dan mencoba menelusuri gudang itu.


"Bagaimana ini, sepertinya kita akan ketahuan." Bisik Dara, dia menunjukan ekpresi gelisah di wajahnya.


"Dara, kau ketakutan? Kupikir kau tidak takut apapun."


"Aku ketakutan? Aku hanya gelisah karena kakiku kesemutan. Aku tidak kuat kalau terus jongkok seperti ini. Tolong aku." Ucap Dara dengan mimik muka seperti kucing yang meminta tolong.


'Aku pasti gila karena berpikir kalau dia imut.' Batin Sean menatap wajah Dara.


"Kalau begitu pindah dari sana. Aku akan meluruskan kakiku dan kau duduk di pangkuanku."