
Angin berhembus dengan lembut ke kulit seorang pria yang sedang duduk di bawah pohon rindang. Dia tertidur dengan wajah tenang layaknya seorang yang sangat lelah.
Sebuah tangan membelai pipinya dengan lembut. Terlihat dia sedikit terganggu dengan perlakuan seseorang yang kini sedang berada di hadapan nya.
"Alex..." Terdengar suara yang sangat dia kenal namun sudah lama tidak dia dengar.
Alex membuka matanya dengan wajah yang sangat terkejut ketika melihat sosok yang sangat dia rindukan.
"I-ibu" ucap nya terbata sesaat dia membuka matanya.
Dia menyentuh tangan ibunya dengan erat seperti seorang anak kecil yang takut ditinggalkan oleh ibu.
"Kenapa kau tertidur di sini sayang?" kata sang ibu mengelus rambut Alex yang kini sudah berkaca-kaca.
"Aku merindukan mu ibu, kenapa kau meninggalkanku dulu?"
Sang ibu pun tersenyum mendengar pertanyaan dari sang putra.
"Itu sudah takdir Alex. Dan takdir mu juga seharusnya tidak disini. Pulang lah sayang, banyak yang menunggu mu saat ini"
"Tidak bu. Aku ingin ikut dengan mu, aku kesepian tanpa mu. Aku selalu berkali-kali ditinggalkan, biarkan aku ikut dengan mu bu" ucap Alex dengan menangis seraya masih memegang tangan ibunya dengan erat.
"Jadilah orang yang baik Alex. Maka kelak kita bisa bertemu lagi. Sekarang belum saatnya kau pergi dengan ibu, karena kau harus menemukan perempuan yang kau cintai. Jangan sia-sia apa yang sudah kau miliki nak, karena jika sesuatu itu pergi maka penyesalan tidak ada artinya. Kembali lah Alex, ibu menyayangi mu sayang"
Ujar sang ibu kemudahan mencium tangan Alex lembut, namun detik berikutnya bayangan tersebut hilang begitu saja.
"Ibu......"
*******
Author POV.
Hari ini Elica sedang berada di sebuah bus menuju ke tempat kerja nya. Dia memang bekerja sembari melaksanakan kuliah nya. Karena jam kuliah nya dilakukan pada sore hari, jadi dia bekerja pada pagi hari.
Sudah hampir satu tahun Elica bekerja di sebuah kedai makanan yang berdekatan dengan kampus nya. Kebetulan pemilik kedai makanan tersebut merupakan teman Ren, hingga dia langsung menawarkan pekerjaan tersebut pada Elica.
Dan Elica hari ini merasa bersemangat karena bertepatan dia akan menerima gaji bulanannya di kedai tersebut. Meskipun jumlah nya tidak banyak, tetapi cukup untuk nya mengirim uang tersebut pada Alex agar membayar hutang nya dulu.
Sebenarnya Elica ingin sekali mencari pekerjaan sampingan lagi. Sehingga dalam satu pekan dia mempunyai dua atau tiga pekerjaan sekaligus. Dengan demikian dia bisa cepat mengganti uang Alex yang dulu dia pakai. Namum Ren sangat menentang hal itu. Pria itu bagi Elica seperti Bryan versi Jepang. Karena Bryan selalu ada untuk Elica saat di New York, sedangkan Ren selalu ada saat Elica berada di Jepang. Keduanya sudah Elica anggap seperti kakak nya sendiri.
Kini dia sudah sampai di tempat kerja nya, dan tidak disangka pengunjung hari ini sangat ramai berdatangan. Hingga Elica di buat kelimpungan untuk mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
Rasa lelah Elica tidak dia hiraukan sama sekali. Bagi dia semakin banyak pekerjaan yang dia kerjakan maka akan semakin banyak pula yang dia dapatkan. Tidak jarang pula dia akan mendapatkan tips tambahan dari pengunjung yang datang.
Dan menjelang sore hari, Elica sudah menyelesaikan pekerjaan. Dia baru saja mencuci piring kotor, dan bersiap untuk berangkat lagi ke kampus.
Seorang wanita menghampiri nya dengan membawa sesuatu di tangan nya.
"Anami.." ucap wanita itu membuat Elica pun menoleh. Dengan bersamaan Elica melihat sebuah amplop putih di sodorkan pada nya.
"Gaji bulanan mu. Terimakasih sudah bekerja keras hari ini"
"Terimakasih bos" ucap Elica menerima amplop tersebut kemudian membungkuk hormat pada wanita itu.
"Di belakang ada beberapa gulung Sushi, nanti kau bawa pulang saja untuk ayah mu"
"Baiklah Terimakasih"
Malam Hari..
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Elica baru saja turun dari bus dengan langkah nya yang gontai karena kelelahan. Dia pulang terlambat karena ada beberapa tugas kuliah yang harus di selesaikan hari ini juga.
Mata Elica sudah berat karena terlalu mengantuk, di tambah dia membawa sebuah kantong plastik di tangan nya yang berisi makanan yang diberikan oleh bos nya sore tadi.
Elica masuk ke apartemen dan mendapati lampu sudah di matikan di semua ruangan. Menandakan jika sang ayah sudah tertidur. Elica pun meletakkan plastik bawaan nya di atas meja makan begitu saja.
"Kau sudah pulang" ucap sang ayah yang tiba-tiba datang dan menyalakan lagi lampu untuk menerangi ruangan.
"Daddy kenapa belum tidur?"
"Daddy menunggu mu pulang. Kau sudah makan? Daddy membuat udon untuk mu. Hanya perlu di panaskan"
"Tapi aku sangat mengantuk Dad" Sesekali Elica menguap menandakan dia memang ingin segera tidur.
"Makan dulu sayang, setelah itu kau bisa langsung istirahat" namun Elica justru menggelengkan kepalanya.
"Daddy lihat kau selalu kelelahan saat pulang. Sebenarnya kau bekerja untuk apa sayang? Kau terlalu keras pada dirimu, tapi Daddy lihat uang mu tidak pernah merasa cukup"
Ujar Albert merasa kesal pada putri nya yang setiap hari selalu dalam keadaan yang sama.
Namun tanpa sepengetahuan Albert, Elica sedang berusaha mengembalikan uang yang di pakai nya untuk operasi sang ayah dulu. Mungkin bisa saja Elica tidak mengembalikan uang itu, tetapi Elica merasa menjadi ibu yang jahat karena telah menukar uang tersebut dengan putri nya.
Dan Elica tidak perduli entah seberapa lama dia harus mencicil nya pada Alex. Setidaknya rasa bersalah nya pada sang anak sedikit berkurang.
"Aku membawa Sushi. Kita makan bersama saja Daddy" kata Elica mengalihkan pembicaraan.
Albert yang sadar akan hal itu hanya bisa menghela nafas nya pasrah dengan alasan Elica.
"Baiklah. Daddy akan mengambil beberapa piring dulu" ujar sang ayah dan di balas Anggukan oleh Elica.
Namun Elica justru meletakkan kepalanya di atas meja makan dengan di topang kedua tangan nya. Tanpa terasa dia langsung tertidur dengan cepat sangking lelah nya.
Ayah Elica pun datang setelah mengambil piring dan mendapati putri nya sudah tertidur pulas.
****
Beberapa hari kemudian...
Saat ini Irene sedang menjaga Alex di rumah sakit. Karena Alex belum juga menampakkan tanda-tanda untuk sadar dari koma nya.
Meskipun beberapa hari yang lalu Alex sempat down dan hampir tidak tertolong karena kesulitan bernapas.
Sedangkan putra Irene yang bernama Damian telah pulang dua hari yang lalu. Dan bersyukur nya karena Nancy selalu mau berdekatan dengan Damian. Hingga Irene pun menyuruh Damian untuk menjaga Nancy.
Siang dan malam Irene setia menunggu Alex seraya berdoa agar cepat di sadarkan.
Tiba-tiba saat Irene sedang mengganti bunga yang selalu dia bawa di ruangan Alex, terdengar suara geraman pelan dari pria itu.
"Hmmm.."
Dengan cepat Irene langsung menghampiri Alex di ranjangnya.
Buru-buru wanita itu menekan tombol yang ada disamping ranjang Alex untuk memanggil Dokter.
"Elica.."
"Elica... Elica..."
Ujar Alex berulang-ulang menyebutkan nama "Elica" dengan pelan.
Tidak lama Dokter pun masuk untuk memeriksa kondisi Alex.
"Tuan Alex, apa anda bisa mendengar saya?" Tanya sang Dokter pada Alex yang berusaha membuka mata nya.
Di mengerjapkan mata nya karena dia sedikit tidak terbiasa dengan cahaya ruangan yang sedikit menganggu indra penglihatan nya. Tidak heran karena sudah satu Minggu Alex terbaring dalam keadaan koma. Dia melihat ke sekeliling ruangan layaknya mencari sesuatu. Tetapi yang Alex dapati hanya seorang Dokter dan Irene saja yang berada disana.
"Elica.. dimana?" Ucap Alex saat tersadar sepenuhnya.
"Alex sayang, Tante disini Nak. Kamu dengar suara Tante kan?" Tanya Irene mengelus rambut Alex dengan air mata nya yang keluar.
Alex pun menjawab nya dengan anggukan kepala.
"Lalu dimana anak ku tante?"
"Kau tenang saja Alex, Saat ini Nancy bersama Damian. Dia pulang dua hari yang lalu"
Sekarang Alex mencoba mengingat apa kejadian yang dia alami malam itu. Dan bahkan dia sampai bermimpi bertemu dengan sang ibu yang telah lama meninggal dunia.
"Suruh Elica kesini Tante"
Kata Alex tiba-tiba yang membuat Irene terkejut dan sedikit bingung.
"Elica tidak ada Alex. Jika kau perlu apapun kau bisa bilang ke tante, oke. Apa kau harus sayang?" Irene masih mencoba mengalihkan pembicaraan Alex tentang Elica.
Suasana pun hening sesaat, Alex terlihat mencoba menggerakkan badan nya yang terasa kelu. Dia menatap kearah Dokter dan Irene saat merasakan sesuatu yang terjadi.
"Tante... Kaki ku kenapa tidak bisa di gerakan?"
Deg. Itulah pertanyaan yang tidak ingin Irene dengar dari Alex. Dia tidak tahu harus memberitahukan nya dengan cara apa.
"Tidak apa-apa sayang. Kau kan baru saja sadar dari koma, wajar bukan jika otot mu terasa kaku" sahut Irene menepuk-nepuk pundak Alex
"Aku kenapa Tante? Aku tidak merasakan apapun. Lihat lah, bahkan aku mencubit kaki ku sendiri tidak terasa sakit "
Kali ini Irene pun sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Alex lagi. Wanita itu hanya bisa menangis.
Namun Alex tahu jika ada sesuatu yang tidak benar pada dirinya. Dan dia pun tahu jika saat ini Irene sedang membohongi nya.
"Dokter, apa yang terjadi dengan ku? Katakan" tanya Alex pada sang Dokter mencoba mencari jawaban yang tidak dia dapatkan dari Irene.
"Tuan Alex, maafkan saya harus memberitahukan hal ini. Karena kedua kaki anda mengalami kelumpuhan karena kecelakaan itu." ucap Dokter
Seketika tenggorokan Alex seperti tercekak. Dia tidak percaya hal itu akan terjadi pada nya.
Semua pertanyaan Alex mengenai Elica seketika hilang begitu saja. Dunia nya bagaikan terhenti seketika
"A-apa.. tidak. Itu tidak mungkin" pria itu terlihat syok dengan pernyataan dokter.
"Tenang lah Tuan Alex, asal anda memiliki kemauan untuk sembuh semua itu pasti bisa di obati"
"Tidak Arrgggh" teriak Alex yang sangat tidak terima dengan semua ini.
Irene pun juga berusaha menenangkan Alex, dia sangat tidak tega melihat Alex yang kini menangis seraya meraung-raung belum menerima kenyataan.
"Alex tenang lah sayang"
"Tante aku cacat sekarang. Aku cacat. Aku pria cacat" Irene hanya bisa memeluk Alex yang kini masih terkejut.
"Tidak apa-apa sayang. Tante janji akan membantu mu untuk sembuh seperti semula. Kau hanya perlu berusaha agar kau bisa berjalan kembali."
"Lalu bagaimana cara aku mencari Elica jika keadaan ku seperti ini. Bagaimana?" Pekik Alex dengan suara tangisnya yang terdengar menyakitkan
"Jangan seperti ini Alex. Nancy juga membutuhkan mu, kau harus semangat karena kita semua ada disamping mu"
Alex menenggelamkan kepalanya di pelukan Irene. Dia sudah tidak memikirkan image nya lagi sebagai pria yang terkenal dingin dan berwibawa, meskipun ada seorang dokter yang masih ada diruang tersebut.
****
Ditempat lain Damian sedang bersama James untuk mencari informasi tentang keberadaan seseorang yang berhasil mencelakai Alex.
Walau bagaimanapun juga, Damian ingin membantu Alex dengan cara menemukan si pelaku. Dan dia sedikit tercengang saat mengetahui dalang dari semua ini adalah Andrew.
Karena setahu Damian, ayah Alex dulu dan Andrew sangat berteman baik. Dia tidak menyangka jika pria tua itu bisa melakukan hal sekeji ini.
"Siapa itu Bianca?" Tanya Damian pada James yang kini sedang duduk berhadapan di dapan nya.
"Dia anak tunggal dari Andrew. Satu tahun lalu dia di titipkan pada Tuan Alex dengan alasan ingin belajar bisnis. Namun ternyata wanita itu justru menyukai Tuan dan menyingkirkan siapapun yang berdekatan dengan Tuan. Termasuk dengan Ibu dari Nancy"
Damian mencoba mendengar semua penjelasan yang di berikan oleh James, sembari dia melihat dokumen penting yang ada di tangan nya.
"Lalu kenapa tiga persen saham Andrew dialihkan untuk Alex?"
"Waktu itu Tuan Alex bilangan, jika saham tersebut adalah perjanjian. Jika Tuan menikah dengan Bianca maka seluruh saham yang dimiliki Andrew akan di percayakan pada Tuan."
Damian pun mengangguk mengerti setelah mengetahui semuanya. Jadi motif Andrew mencelakai Alex adalah sakit hati. Apalagi dia sudah tahu jika perempuan yang bernama Bianca itu kini berada di rumah sakit jiwa karena ulah Alex.
Namun masalah nya, saat ini Andrew juga dalam pengejaran polisi karena menjadi tersangka atas kasus penggelapan dana. Jika Andrew sampai tertangkap dan polisi mengetahui jika harta Andrew ada yang diberikan pada Alex, maka otomatis Alex juga akan terseret dalam hal itu.
"Buat surat jual beli saham yang telah Andrew berikan pada Alex. Agar seolah terlihat jika saham tersebut Alex lah yang membeli nya. Dan pastikan kau menemukan pria itu sebelum polisi menemukan nya, karena kita membutuhkan tanda tangan nya."
"Baik Tuan"
"Dan jangan berhenti mencari keberadaan Wanita yang bernama Elica."
"Tentu Tuan"
***
TBC.
Follow IG Author @akiokokoru_69