Playing With Fire

Playing With Fire
Part 44



Alex menghentikan laju mobil di depan sebuah gedung yang cukup tinggi. Pria itu membawa koper yang biasa dibawa untuk bekerja, dan kemungkinan didalam nya terdapat dokumen yang sangat penting.


Berjalan menghampiri meja resepsionis yang menyambutnya dengan sapaan sopan. Setelah Alex mengatakan jika dirinya telah memiliki janji dengan sang pimpinan, si resepsionis tersebut pun mengantar Alex menuju ke ruangan yang bertuliskan "Direktur".


Mengetuk pintu ruangan tersebut satu kali dan tidak lama terdengar suara dari dalam yang mengizinkan nya untuk masuk.


"Tuan Andrew" sapa Alex sesaat setelah membuka pintu dan masuk keruangan itu.


"Oh Alex, kau datang. Silahkan duduk" ujar Tuan Andrew yang tidak lain adalah ayah dari Bianca.


Kedua orang tersebut memang sudah memiliki janji untuk melakukan kerja sama antar perusahaan. Tuan Andrew seorang pemilik Hotel berkelas di kota New York, yang meminta agar Alex bisa bekerja sama dengan perusahaan miliknya.


Karena pria paruh baya itu sangat menginginkan jika putri nya yakni Bianca, bisa menikah dengan Alex yang notabenenya seorang pengusaha muda yang sukses di semua bidang.


Namun yang menjadi target utama Tuan Andrew adalah bisnis Alex di bidang pariwisata.


"Bagaimana kabar Bianca di rumah mu Alex. Apakah dia merepotkan mu?" Tanya Tuan Andrew berbasa-basi


"Anda ingin aku menjawab jujur atau berpura-pura?" Jawab Alex yang dibalas tawaan renyah Tuan Andrew.


"Kau ini ada-ada saja Alex. Baiklah kita jangan bahas masalah itu nanti dulu, mari berbicara bisnis sekarang. Aku dengar kau sedang membuat Resort baru di Spanyol? Apa itu benar?" Tanya Tuan Andrew mulai serius.


"Benar."


"Dimana itu?"


"Pulau Saint Lucia"


"Ah disana. Begini Alex, kau pasti tau kan membuka sebuah Resort baru itu harus memperhitungkan banyak hal. Dan kau tidak bisa percaya dengan siapapun yang menginginkan bekerja sama dengan perusahaan mu. Dunia bisnis tidak ada yang kekal. Teman mu bisa jadi musuh mu dan musuh mu bisa menjadi teman mu. Kita sudah saling mengenal lama, bahkan saat ayah mu hidup aku sudah mengenal mu. Jadi bisakah kau mengizinkan ku menanam saham di sana? Resort tentu saja membutuhkan hotel untuk menginap. Bukankah begitu?"


Kata Tuan Andrew panjang lebar mencoba merayu Alex.


"Apa keuntungan untuk ku Tuan Andrew? Bukankah kau sudah memiliki banyak hotel yang tersebar di penjuru dunia. Mengapa kau begitu menginginkan sekali tempat itu?"


Alex bukanlah orang bodoh. Sudah terlihat jelas ada niatan berbeda yang akan di lakukan Andrew kepada nya. Dan hal yang paling Alex curigai adalah jika tidak ada orang lain yang tau jika dia barusaja membeli sebuah pulau. Namun Andrew rupa nya melakukan kesalahan-kesalahan besar dengan mengatakan hal itu terang-terangan.


"Bukan begitu. Hanya saja aku ingin menggunakan aset ku dengan maksimal, mungkin aku bisa menyimpan nya dengan mu. Aku yakin kau pasti bisa mengelola nya dengan baik"


Damn. Jawaban tersebut tepat seperti apa yang Alex perkirakan. Jika Andrew sedang melakukan sesuatu yang ilegal.


Dua orang itu membahas perjanjian yang cukup rahasia. Namun Alex masih belum mau membubuhkan tanda tangan nya begitu saja pada orang yang kini ada di hadapannya. Karena Alex tiba-tiba terlintas ide dalam benak nya untuk membuat suatu rencana.


"Tuan Andrew, sebelum saya menandatangani surat ini. Saya akan memberitahu anda sesuatu yang penting" ujar Alex


"Apa itu?"


"Beberapa hari yang lalu kondisi ku sedang buruk dan aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Hingga akhirnya aku meniduri Bianca tanpa sadar"


Tuan Andrew terkejut mendengar nya, namun bukan reaksi marah yang dia tampilkan melainkan ada seulas senyum di wajahnya.


"Benarkah?"


"Yah aku minta maaf karena hal itu."


Terdengar helaan nafas dari tuan Andrew, pria paruh baya itu pun justru terdiam dan memikirkan suatu hal.


"Kau tau harus melakukan apa kan Alex" ujar Tuan Andrew.


"Tentu. Tapi bertanggung jawab bukan harus menikahi, lagi pula Bianca belum tentu juga hamil. Tapi jika anda menuntut saya, maka saya akan menerima nya" sahut Alex di balas gelelengan kepala oleh tuan Andrew.


"Tidak tidak tidak. Aku tidak akan menuntut mu, tapi bagaimanapun juga kau harus menikah dengan putri ku. Setidaknya kau mempertanggungjawabkan martabat nya sebagai seorang perempuan. Dan aku pun tidak rela jika pria yang mengambil kesucian anak ku pergi begitu saja." Tukas Tuan Andrew yang tidak menyetujui pendapat Alex.


"Bagaimana jika aku menolak untuk menikah dengan nya?"


"Tidak Alex, itu bukanlah sikap dari seorang pria. Begini saja, aku akan memberikan setengah dari saham ku untuk mu. Asalkan kau bertanggung jawab dan menikah dengan Bianca. Aku percaya kalian berdua pasti akan berhasil mengelola nya"


"Jika setengah saham anda diberikan semua pada saya, itu tanda nya anda sudah tidak memiliki apapun. Mengingat setengah nya lagi adalah milik investor, apa anda bersedia melakukan nya?" Tanya Alex


"Apapun akan ku lakukan untuk kebahagiaan putri ku Alex"


Alex menatap tuan Andrew dalam diam. Dia pun langsung mengambil pena yang ada di saku jas nya dan tanpa pikir panjang menandatangani kerjasama tadi.


"Kita sudah resmi Bekerja sama. Dan aku bersedia menikah dengan Bianca, jadi harap Tuan Andrew segera membuat surat perjanjian tentang saham tadi. Dan kirimkan ke pada ku secepatnya." Ucapan Alex membuat Tuan Andrew tersenyum senang di buat nya.


"Tentu saja Alex. Kau tenang saja, dan jaga putri ku dengan baik di rumah mu"


Alex berdiri dari duduknya diikuti oleh tuan Andrew. Keduanya pun berjabat tangan menandakan telah sepakat untuk mengambil keputusan.


****


2 Hari kemudian....


Elica baru saja memutuskan sambungan telepon nya yang berasal dari Bibi Dorothy. Dia mendapatkan kabar jika kondisi ayah nya sudah membaik setelah dua hari yang lalu melakukan operasi cangkok jantung.


Meskipun sampai saat ini ayah nya belum sadarkan diri, namun Elica cukup lega mendengar jika sang ayah dalam kondisi yang stabil.


Entah dia harus senang atau sedih saat ini, namun dia masih bersyukur jika ayahnya diberikan tuhan kesempatan untuk hidup. Meskipun Elica merasa sedikit tidak tenang, karena kemarin dia baru saja menandatangani surat perjanjian dari Alex bahwa dia telah menyetujui jika hak asuh anak nya jatuh pada Alex setelah bayi nya lahir.


Tapi di sisi lain Elica juga merasa harus berterima kasih pada Alex karena membantu nya menyelamatkan sang ayah.


Elica pun memutuskan untuk keluar kamar nya dan pergi menuju ke dapur. Dia memanaskan segelas susu hangat, bukan untuk nya melainkan dia berniat membuat kan nya untuk Alex. Setidaknya dia harus mengucapkan terima kasih pada Alex meskipun dengan cara yang sederhana.


Elica berjalan menuju ke ruang kerja Alex dengan segelas susu hangat di tangan nya. Karena dia yakin jika pria itu pasti berada di sana, dan terlihat dari kejauhan jika pintu ruangan tersebut terbuka sedikit.


***


Di sisi lain, dalam ruang kerja Alex sudah ada Bianca. Wanita itu masuk tiba-tiba duduk di meja menghadap pada Alex yang sedang terfokus pada laptop nya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Alex datar pada Bianca.


"Tidak ada. Hanya ingin menemani calon suami ku bekerja" kata Bianca dengan lembut. Tidak tinggal diam karena Alex masih menghiraukan nya, Bianca pun meraba-raba tangan Alex.


"Hentikan. Kau menganggu ku" gertak Alex mengehentikan aktivitas karena merasa tidak senang. Bukan nya takut, Bianca justru menghampiri Alex dan duduk di pangkuan pria itu.


"Jangan terlalu dingin pada ku Alex. Ingat, sebentar lagi kita akan menikah. Dan hidup bersama, sejujurnya aku ingin berkeluh kesah dengan mu." Kata Bianca yang sama sekali tidak di respon Alex.


Bianca pun mengelus rahang Alex dengan lembut. Dia memang sengaja menggoda Alex malam ini.


"Ini tentang Elica. Aku tidak nyaman jika saat kita menikah dia tetap disini, aku ingin dia pergi. Bahkan aku rela menjadi ibu pengganti dari anak Elica, jika pun anak itu akan bersama mu, aku akan menerima nya. Bagaimana Alex?" Ujar Bianca dengan manja dihadapan Alex, dan mengalungkan tangannya di leher Alex


Pranggg...


Terdengar suara pecahan kaca dari luar ruangan tersebut. Alex dan Bianca pun terkejut karena suara itu, namun Alex menyadari jika pembicaraan nya dengan Bianca sejak tadi terdengar oleh seseorang. Dan dengan cepat pikiran langsung tertuju pada Elica.


"Menyingkir dari ku"


Alex pun langsung berdiri dan sontak membuat Bianca terjatuh dengan keras karena dia sedang berada di pangkuan Alex.


"Alex" pekik Bianca tidak terima karena Alex meninggalkan nya begitu saja.


Sedangkan Elica yang baru saja mendengar semua percakapan antara Alex dan Bianca sangat sakit hati. Apalagi mengetahui jika Bianca ingin menjadi ibu pengganti bagi anak nya.


Elica masuk ke kamar nya lagi dan tidak lupa mengunci pintu tersebut dari dalam.


"Tidak. Anak ku ini milik ku. Selama nya dia milik ku, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut nya" racau Elica seraya menangis.


Di mengambil koper besar nya dan membuka Lemari pakaian. Elica memasukkan semua pakaian nya dan anak nya kedalam koper tersebut.


Keputusan nya sudah bulat, dia akan keluar dari rumah ini malam ini juga. Dia tidak bisa membayangkan apa yang Bianca katakan tadi terjadi begitu saja.


Dan masalah hutang nya pada Alex, dia akan berusaha mengganti nya. Lalu membatalkan perjanjian tersebut.


"Elica buka pintu nya. Elica buka pintu sekarang" terdengar suara teriakan dari Alex di luar kamar. Namun Elica berusaha menghiraukan nya dan kembali memasukkan barang-barang nya ke koper. Dengan air mata yang tak henti nya keluar, membuat Elica tidak bisa berpikir jernih.


"Sialan. Buka pintu nya sekarang Elica" Alex masih mengendor pintu kamar dengan keras. Namun tidak lama Alex sudah berhasil masuk ke kamar tersebut menggunakan kunci cadangan.


Alex melihat Elica yang mengemasi barang-barang nya dalam koper. Dengan cepat Alex langsung merebut koper tersebut dan menyingkirkan nya di sudut ruangan. Dia menghalangi Elica yang berusaha mengambil koper tersebut.


"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan" kata Alex yang menahan amarahnya.


"Minggir. Kembalikan koper ku" jawab Elica pelan, namun masih tidak bisa meraih nya karena Alex menghalangi nya.


"Jawab aku.  Kau pikir apa yang sedang kau lakukan.. HAH" ucap Alex meninggikan suaranya di wajah Elica.


"Aku ingin keluar dari sini. Jadi biarkan aku pergi. Kembalikan koper ku.. kembali kan"


Alex mengatur nafas nya mencoba untuk tidak meluapkan emosi lagi pada Elica yang kini sedang menangis.


"Elica dengar, aku tau apa yang membuat mu begini. Tapi percayalah pada ku, apa yang barusan kau dengar itu tidak semua nya benar. Kau hanya salah paham"


"Salah paham kau bilang. Kau pikir aku tidak punya telinga Alex? Aku tidak tau apa yang terjadi antara kau dan wanita itu. Jika pun kau ingin menikahi nya aku tidak perduli Alex. Tapi kenapa kau membiarkan nya mengambil anak ku. Kau bilang kau sendiri yang akan membesarkan nya, tapi kenapa kau mengingkari perjanjian itu"


"**** Elica. Siapa yang mau mengambil anak mu. Bianca tidak mengatakan begitu kau salah paham" tukas Alex


"Dengar Alex, aku yang mengandung anak ini. Aku yang merasakan mual saat pertama kehamilan ku, aku yang merasakan sakit saat dia kontraksi. Dan aku tidak rela jika ada wanita lain yang ingin menjadi ibu dari anak ku. Aku mohon tentang perjanjian itu untuk dibatalkan saja. Kau tidak perlu khawatir dengan uang mu. Saat aku melahirkan nanti aku pasti akan membayar hutang ku. Itu pasti. Jadi biarkan aku pergi dengan anak ku" ucap Elica panjang Lebar seraya mengusap perutnya.


Mendengar ucapan Elica, Alex justru justru tertawa sinis.


"Kau pikir kau akan membesarkan anak itu dengan apa Elica. Bahkan pekerjaan saja kau tidak punya. Dia hidup dengan mu, tidak menjamin jika kehidupan mu dan ibu mu yang dulu akan terulang kembali pada anak itu"


"Aku akan berusaha. Meskipun dia tidak hidup dalam kemewahan, tapi setidaknya dia akan mendapatkan kasih sayang dari ibu nya sendiri. Karena aku tidak akan membiarkan anak ku tumbuh besar seperti mu, seorang anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya. Aku akan membayar hutang mu meskipun aku harus menyicil nya seumur hidupku Alex"


"Kau tidak akan bisa" cerca Alex


"Bisa. Aku akan bekerja apapun. Menjadi tukang bersih-bersih, menjadi pelayan, bahkan bila perlu aku akan menjual diri. Layaknya yang aku lakukan pada mu"


Plak


Tidak disangka Alex justru menampar Elica sangat keras karena ucapannya. Hingga darah segar terlihat mengalir dari sudut bibirnya. Alex menatap Elica dengan amarah dan tatapan tajam


"Jaga Bicara mu Elica. Kau tidak pantas mengatakan hal itu, karena kau bukan wanita seperti itu" ucap Alex.


Elica menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan tangan nya, dan tangisan nya yang menjadi saksi sakit hatinya. Dia juga menyesalkan mengatakan hal yang tidak pantas itu, pasti calon anak nya akan sedih jika mendengar nya.


"Aku tidak akan meminta maaf karena menampar mu. Kau pantas mendapatkan nya. Aku harap tidak akan terulang kejadian seperti ini lagi dan kau harus menginstrospeksi tentang ucapan mu barusan. Aku akan mengunci mu dari luar, dan tidak mengizinkan kau pergi dari sini" ujar Alex lalu pria itu pun pergi meninggalkan Elica yang masih menangis.


TBC