Playing With Fire

Playing With Fire
Part 11



Budayakan vote dulu sebelum membaca ya beb...


Dan tinggalkan komentar setelah membaca....


Plaakkk....


Elica terlihat sangat marah atas apa yang Alex ucapkan di menampar Alex hingga wajah Alex menoleh ke samping sangking keras nya tamparan tersebut. Tanpa Alex sadari ucapan nya itu sangat merendahkan diri Elica secara langsung.


"Bajingan kau Alex. Kau tidak pantas mengatakan hal itu padaku. Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau perbuat kepada ku? Kau sudah merusak ku dan juga hidup ku, BRENGSEK" teriak Elica di depan wajah Alex, tak hanya Elica. Alex pun juga terpancing emosi dengan teriakan Elica.


Dengan cepat Alex langsung mendorong Elica sambil mencekik leher nya.


"Kau pikir kau siapa bisa berteriak di depan ku, hah. Kau harus nya sadar Elica, kau itu hanya ****** di mata ku. Padahal aku sudah menawarkan banyak hal menguntungkan pada mu. Tapi begini kah cara terimakasih mu? Hah" ujar Alex di telinga Elica.


"Bunuh saja aku, sialan. Dengan kau membunuh ku, maka ibu ku akan tau. Monster seperti apa dirimu. Kau tidak layak mendapatkan rasa cinta dari ibu ku. Ogghh..." Ucap Elica dengan terbata-bata karena Alex makin mempererat cekikan nya. Sejenak Alex memperhatikan ekspresi wajah Elica yang tampak kesakitan dan merintih untuk dilepaskan.


"Kau.. dengarkan ini Elica. Aku akan memberikan mu satu kesempatan lagi. Jaga ucapan mu dan bersikap manis lah, tidak ada guna nya kau menentang ku. Jika kau masih mencoba memberontak seperti ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan mu. Dan jauhi laki-laki menjijikan itu karena kau itu milik ku atau kau akan melihat seberapa bajingan nya diri ku ini. Aku akan anggap semua ini tak pernah terjadi, kau mengerti kan sayang?" Ucap Alex sambil melonggarkan cekikan nya. Kemudian dengan cepat Alex mencium bibir Elica.


"Uhukk.. uhukk.. uhuukk" Elica pun terbatuk saat cengkraman tangan Alex di lehernya terlepas. Dia tidak bisa membalas lagi ucapan Alex tadi, karena entah mengapa dirinya seperti tidak punya tenaga karena lemas dan syok akibat ulah menyeramkan Alex tadi


Sebelum keluar dari kamar tidur Elica, Alex mengelus pipi Elica dengan lembut tak lupa dia menampilkan senyum nya yang terlihat menakutkan. Dia akhirnya pergi. Sedangkan Elica yang terlihat masih trauma dengan sikap Alex pada nya hanya bisa menangis dan terduduk lemas. Alex benar, walau bagaimanapun dia mencoba melawan Alex, dialah yang akan kalah. Terlepas dari dia itu perempuan dan Alex laki-laki, Alex juga memiliki kekuasaan dan kekayaan yang bisa berbuat apa saja.


Kini yang Hanya bisa Elica lakukan adalah menangis karena ketidakberdayaan nya melawan Alex.


Akhirnya Elica pun memilih untuk berjalan menuju ranjang nya dan memilih untuk tidur dan beristirahat.


**********************


Seminggu kemudian..


Elica terlihat sudah lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Dia tidak memberontak seperti yang di katakan Alex. Beberapa hari yang lalu juga Elica memilih menginap di rumah ayah nya, sehari setelah kejadian diri nya dan Alex bertengkar hebat. Waktu itu rasa nya Elica sangat muak sekali untuk melihat Alex. Jadi dia izin kepada ibunya untuk menginap di rumah ayah nya selama Lima hari. Ibunya bahkan tidak mengetahui tindakan kekerasan yang telah Alex lakukan pada nya. Karena ibu nya juga terlalu sibuk mengurus persiapan pernikahan nya dengan pria bajingan itu.


Dan tepat hari ini ibu nya dan Alex akan menikah. Acara pernikahan mereka juga terbilang akan sangat mewah, mengingat ini adalah pernikahan pertama Alex dan juga banyak rekan bisnis nya yang akan datang.


Elica yakin sekali jika setelah pernikahan ini selesai, akan banyak berita miring tentang ibu nya dan Alex. Namun untuk saat ini Elica benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan pernikahan tersebut. Mungkin dia akan memikirkan cara lain nanti. Meskipun hati nya sangat tidak sudi menerima Alex menjadi ayah tiri nya.


Elica datang ke gedung pernikahan ibu nya dengan Bryan. Namun ayah nya memilih tidak hadir karena dia sangat terpukul atas pernikahan mantan istri nya itu. Dan Elica tidak menuruti kemauan ibu nya, yang menyuruhnya nya memakai gaun yang telah ibu nya siapkan. Elica lebih memilih gaun yang sederhana untuk dipakai nya hari ini.


Elica dan Bryan pun duduk untuk melihat upacara pernikahan yang akan segera di lakukan. Tak disangka jika Leo pun datang dan menghampiri Elica.


"Hai Elica, kau disini juga" sapa Leo


"Eh Leo, kau di undang juga rupanya"


"Iya Elica, Alex mengundang ku di pernikahan nya. Kau sendiri pasti teman mempelai wanita?" Tanya Leo


"Mempelai nya itu ibu ku"


"Wait, aku belum mengerti maksud mu Elica. Kau bercanda kan?"


"Jika tida mengerti maka tidak usah banyak tanya. Kau sangat menganggu, mengerti" ujar Bryan yang sudah tidak suka dengan perilaku Leo.


"Kau siapa? Aku juga tidak bertanya dengan mu?" Tanya Leo yang juga tidak menyukai ucapan Bryan.


"Aku Bryan. Sahabat Elica. Jika kau hanya ingin menanyai Elica seperti wartawan, maka pergilah"


"Kau___"


"Sudah cukup. Bisakah kalian berdua diam. Acara akan di mulai. Leo jika kau ingin duduk, duduklah. Dan kau Bryan, sudah jangan berkata apapun lagi"


Akhirnya kedua lelaki itu pun diam dan kembali duduk mengapit Elica ditengah.


Acara pun di mulai, ibu Elica terlihat berjalan menuju Altar dengan gaun pengantin yang sangat indah. Dan Alex melempar senyuman nya kepada Hilda.


Mereka berdua akhirnya mengucapkan janji suci pernikahan. Entah Mengapa air mata Elica mengalir begitu saja. Dia teringat pada ayah nya dan keluarga nya dulu yang sangat bahagia. Tidak disangka ibu nya akan memilih menikah dengan lelaki jahat seperti Alex.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Bryan yang menyadari jika Elica menangis. Sontak Leo pun juga menoleh ke arah Elica. Gadis yang baru dia kenal dan membuat nya tersenyum, kini menangis. Leo tau sekarang, jika waktu itu Elica menatap Alex dengan tatapan membenci waktu di restoran. Ternyata ini lah sebab nya. Dengan segera, Leo langsung memberikan Elica sapu tangannya untuk mengelap air matanya.


"Pakai ini" ucap Leo


"Terima kasih, aku baik-baik saja" ujar Elica kemudian mengelap air mata nya dengan sapu tangan milik Leo.


"Jika kau tidak sanggup, kita pulang saja"


"Tidak Bryan, aku akan disini dulu. Tapi aku harus ke toilet"


"Perlu ku antar?"


"Tidak perlu, kau tunggu lah disini. Aku ke toilet sebentar"


Elica pun bergegas pergi ke toilet untuk memperbaiki make up nya yang sudah berantakan akibat tangisan nya.


Sesampainya dia di kamar mandi, Elica pun langsung menangis dan meluapkan semua rasa sesak nya. Dan memukul-mukul dadanya yang begitu sesak.


Beberapa menit Elica masih terdiam mencoba menormalkan emosi dan rasa sedih nya. Dia pun berniat untuk keluar namun terdengar suara beberapa wanita yang masuk juga ke dalam toilet dengan menggunjing kan pernikahan Alex dan ibu nya, yang menurut mereka sangat tidak pantas. Elica pun mengurungkan niatnya untuk keluar dan mencoba mendengar pembicaraan beberapa wanita di luar.


"Aku tidak menyangka Alex akan menikah dengan seorang janda. Bahkan mereka lebih pantas menjadi ibu dan anak" ujar wanita di luar.


"Pasti wanita itu menggoda Alex duluan. Dan aku yakin dia hanya ingin merebut harta Alex saja. Sangat disayangkan pria setampan dan sekaya Alex mendapatkan ****** tua seperti itu"


Perkataan wanita tersebut sangat menyakiti hati Elica. Mereka tidak tau jika kenyataan nya Alex lah yang menggoda ibu nya dengan iming-iming harta dan kekuasaan. Namun Elica masih diam dan melanjutkan mendengar pembicaraan wanita tersebut.


"Bukankah dulu kekasih Alex sangat cantik. Siapa namanya aku lupa, yang jelas perempuan itu seorang model."


"Ah aku ingin, namanya Evelyn. Setahu ku dia meninggalkan Alex dan memilih pria lain" sahut wanita satu nya.


"Jadi setelah patah hati, level tipe Alex sangat menurun. Aku yakin suatu saat mereka akan bercerai"


"Sudahlah ayo kita kembali. Aku sudah selesai memperbaiki makeup ku"


"Oke"


Terdengar kedua wanita itu pun pergi. Elica yang mendengar pembicaraan tersebut sekarang menjadi penasaran dengan sosok Evelyn itu. Dia pun berniat mencari informasi tentang wanita itu setelah ini. Elica langsung keluar dan kembali menuju ke Aula gedung pernikahan tersebut. Sesampainya di Aula, Elica langsung meminta Bryan untuk mengantarkan nya pulang. Dia tidak tahan jika harus di acara ini hingga selesai.


Bryan pun langsung mengiyakan apa yang diinginkan Elica. Dia langsung mengantarkan Elica pulang dengan mobil nya.


Setelah sampai di depan Mansion Alex, Elica pun belum mau untuk keluar dari mobilnya. Bryan pun juga ikut diam tanpa mengatakan apapun.


"Bryan"


"Kenapa Elica?"


"Menurut mu setelah ini, apa yang harus aku lakukan?"


"Itu semua tergantung pada mu Elica. Tapi aku berharap jika kau tidak usah lagi mengusik hubungan ibu mu dengan ayah tiri mu. Kau sudah terlalu jauh Elica"


"Kau tau Bryan, apa yang membuat ku Sangat menyesal?"


"Ada apa Elica, katakan semua nya pada ku?"


Bryan sangat terkejut mendengar apa yang baru saja Elica katakan.


"A-apa?Kau bercanda kan Elica?"


Elica menjawab nya hanya dengan gelelengan kepala nya, tak terasa jika air matanya sudah keluar.


"Aku melakukan nya karena dia berjanji akan membatalkan pernikahan itu." Lanjut Elica


Bryan menatap Elica dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa kau berpikir sependek itu Elica. Kau seperti bukan Elica yang aku kenal. Harusnya kau tidak berbuat nekad begitu hanya karena rayuan Alex"


"Aku tau Bryan, aku salah. Aku ingin pergi, tapi tadi aku mendengar beberapa wanita mengolok-olok tentang ibu ku, rasanya aku juga tidak bisa meninggalkan nya begitu saja. Aku harus bagaimana Bryan" Elica pun menangis dan seketika Bryan langsung memeluk nya.


"Tenang Elica. Semua nya akan baik-baik saja. Aku janji akan selalu disamping mu. Lebih baik kau masuk saja dulu, kau perlu istirahat, wajah mu terlihat pucat. Apa kau sakit?"


Elica pun kembali menggelengkan kepalanya.


"Bryan bagaimana jika aku hamil?" Gumam Elica.


"Tidak Elica, kau tidak akan hamil"


"Aku ingat jika Alex melakukan nya tanpa pengaman. Dan aku juga lupa meminum pil kontrasepsi" ujar Elica yang terlihat panik.


"Itu tidak akan terjadi Elica. Jangan berpikir buruk tentang apapun. Mengerti?"


"Tapi Bryan___"


"Sudah Elica Jangan bicara lagi, aku akan janji akan selalu ada untukmu"


Elica terdiam mendengar ucapan Bryan, dia menatap dalam mata Bryan. Dia kira setelah dia mengatakan yang sebenarnya, Bryan akan marah dan menjauhinya seperti apa yang dikatakan Alex. Tapi semua itu salah, Bryan justru menguatkan nya disaat seperti ini. Elica sangat lega akan hal itu. Dia pun tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah Bryan. Terima kasih sudah menenangkan ku. Aku akan masuk dulu"


"Iya Elica. Jangan berbuat hal konyol lain nya."


"Iya Bryan"


**********************


Malam hari Elica pun terbangun, dia baru ingat jika dia sudah tertidur dari sore hari. Dia bertanya-tanya sendiri apakah ibu nya dan alex sudah pulang atau belum. Namun tiba-tiba ponsel nya berbunyi, dan ternyata ibu nya lah yang menelpon.


"Halo mom"


"(Halo Elica, kau dimana?)"


"Aku di rumah, aku sudah pulang dari tadi sore. Apa acara nya belum selesai?"


"(Begitu yah. Acara nya baru selesai sayang. Mommy ingin memberitahu mu, jika malam ini sampai lusa, mommy dan Alex akan menginap di Resort milik Alex. Jadi kami tidak akan pulang)"


"Baiklah aku mengerti"


"(Iya sayang, Jangan lupa untuk makan. Mom janji akan segera menemui mu setelah pulang)"


"Oke"


Elica pun memutuskan panggilan tersebut, entah kenapa sekarang dia menjadi tidak perduli dengan ibu nya. Dia lelah dengan semua ini. Nyatanya dia memberontak pun keadaan nya tetap seperti ini. Pernikahan itu pun tetap terjadi.


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Elica akhir nya memutuskan untuk membersihkan dirinya dan berniat untuk pergi ke Club milik Leo. Dia ingat jika malam ini ada pesta disana, dan dia pun di undang tentunya. Tidak salah kan jika dia memutuskan untuk datang.


Tak lama Elica pun sudah bersiap dan menjalankan mobil nya menuju ke tempat Leo. Mumpung ibu nya dan Alex tidak dan juga dia ingin melepaskan semua beban pikiran nya malam ini. Bersenang-senang sejenak tidak masalah seperti nya. Pikir Elica.


Setelah beberapa menit dia menjalankan mobil, dia pun sampai di Club mewah milik Leo. Dia masuk, dan melihat banyak sekali orang-orang yang datang. Sepertinya dia tidak akan bertemu Leo malam ini. Akhirnya Elica memutuskan untuk duduk di meja bar dan memesan sebuah bir non Alkohol, sambil melihat orang-orang yang sedang menari bersenang-senang.


"Elica" tiba-tiba Leo pun datang


"Hai Leo"


"Ku kira kau tidak akan datang"


Ujar Leo sambil tersenyum.


"Kau mengundang ku, tentu saja aku akan datang"


"Terimakasih kalau begitu, apa acara pernikahan nya sudah selesai?"


Tanya Leo


"Sudah, tapi aku pulang dari sore. Jadi tidak disana sampai selesai"


"Begitukah. Kau ingin minum?"


"Aku sudah memesan bir"


"Tidak ingin minum wine? Aku punya wine yang sangat langka. Kau coba lah"


"Tidak terimakasih. Aku tidak mau mabuk. Aku harus menyetir"


"Baiklah. Ayo ikut, biar ku kenalkan pada teman-teman ku"


"Tapi___"


"Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun"


Elica pun menuruti nya begitu saja. Sebenarnya dia sedikit risih, karena para wanita yang datang disini memakai pakaian mini. Sedangkan dia memakai pakaian yang terbilang tertutup.


Leo pun menggandeng tangan Elica untuk mengikuti nya. Mereka pun sampai di sebuah ruangan yang cukup tenang, namun disana ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang sedang berkumpul.


"Tenang saja Elica. Ini ruangan VIP. Aku tau kau tidak terlalu nyaman di tempat tadi." Ujar Leo, Elica pun hanya tersenyum.


"Hai Brando, kau sudah sampai rupanya"


Ucap Leo pada teman nya.


"Baru saja. Siapa ini Leo? Apa kekasih baru mu? Cantik sekali" ujar Pria yang bernama Brando itu.


"Bukan. Kenalkan ini Elica teman ku. Dan Elica kenal kan juga mereka teman-teman ku. Ini Brando, dan pacar Brando nama nya Misha. Dan ini Alan dengan pacarnya bernama Disa."


"Halo salam kenal" ucap Elica


"Jangan takut dengan kami Elica. Kita bisa berteman dengan akrab sekarang" sahut Disa


Elica pun tersenyum, ternyata teman-teman Leo sangat ramah. Dia tadi menyangka jika mereka semua akan mendiamkan nya, nyata tidak. Mereka terus mengajak ngobrol Elica seperti teman yang sudah lama kenal.


Akhirnya sejenak di bisa melupakan beban pikiran nya untuk saat ini.


TBC