
"apa kau benar-benar mencintai nya, Elica?"
"Daddy aku tidak tau .... dengan perasaan ku saat ini. Aku sangat membenci nya tapi disisi lain aku..." tangis Elica pecah saat mengungkapkan perasaannya tersebut. Hingga diapun tidak mampu melanjutkan ucapannya. Elica sangat takut dengan perasaan nya itu, Seolah dia telah melakukan kesalahan yang sangat buruk.
Yah, mencintai mantan ayah tiri nya sendiri, sesuatu yang sangat menjijikkan jika orang lain tau. Apalagi jika ditambah dirinya sedang hamil anak pria itu, seluruh dunia pasti akan menatap Elica dengan tatapan tercela. Tapi sebuah Cinta yang tumbuh di hati manusia bukanlah sebuah kejahatan bukan, karena Elica selalu menepis pemikiran tersebut.
Ayah Elica melihat putri nya dengan tatapan nanar. Dia sangat kasihan pada Elica saat ini, ditambah jika tuan Albert sudah mengetahui perasaan Elica yang sebenarnya pada pria itu. Dia pun bingung harus membawa Elica pergi atau membiarkan Elica tetap ditempat ini. "Kita batalkan saja rencana pergi ke luar negeri" ucap Ayah Elica tiba-tiba yang membuat Elica langsung menatap sang ayah cepat.
"Apa maksud Daddy?"
"Kau sudah mencintai pria itu Elica, Daddy tidak mau membuat kau lebih sakit lagi"
Elica pun menggelengkan kepalanya cepat. Meskipun benar apa yang diucapkan sang ayah, namun terus bertahan ditempat ini sama saja Elica membiarkan luka di hatinya terus menganga dan tidak bisa sembuh. Elica pun heran mengapa tiba-tiba ayah nya membatalkan hal ini begitu saja, karena setahu Elica ayah nya justru yang kemarin ingin mereka segera pergi dari tempat ini.
Banyak sekali pertanyaan yang berada di kepala Elica saat ini. Karena sekarang ayah nya langsung pergi ke kamar nya setelah mengatakan hal tadi. Meninggalkan Elica dengan berbagai macam pertanyaan yang belum terjawab. Mungkinkah ayah nya terlalu kecewa pada nya saat ini. Elica pun tidak tau.
Semua nya kacau, entah berapa hati lagi yang menjadi korban karena hubungan rumit ini. Bahkan sampai saat ini Elica belum mengetahui keberadaan sang ibu. Ingin rasanya Elica mencari ibunya, namun dia tidak tau harus memulai nya dari mana.
***
"Astaga Aunty" pekik Mia saat melihat Hilda tiba-tiba pingsan di kamar nya.
Mia pun langsung memanggil suami nya untuk menolong Hilda dan mengangkat nya menuju ranjang. Mereka berdua sangat khawatir dengan keadaan Hilda saat ini, tubuh nya kurus dan tidak mau makan.
"Kita bawa ke rumah sakit saja, Mia" ujar Zico, suami Mia.
"Tapi Aunty tidak mau jika di bawa kesana, aku takut dia marah"
"Keadaan nya semakin buruk jika tidak diobati. Lagu pula jika ada sesuatu yang serius pada penyakitnya bagaimana?" Tanya Zico.
"Sebenarnya aku takut jika Aunty... Hamil" ucap Mia berhasil membuat sang suami terkejut.
"Apa? Sudahlah kau terlalu berpikir jauh, masalah Aunty hamil atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kita bawa saja dia ke rumah sakit" Mia pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Zico.
Namun tak lama Hilda mengerjakan matanya saat akan diangkat oleh Zico menuju mobil. Mia dan Zico pun langsung menanyakan kondisi Hilda.
"Aunty kau sudah sadar. Kita ke rumah sakit yah" ujar Zico terlihat raut wajah sangat khawatir pada Hilda.
Hilda menjawab nya dengan gelelengan kepalanya pelan tanda dia menolak untuk di bawa ketempat itu. Mia pun menyuruh suami nya untuk mengambil air hangat, dan Zico pun keluar dari kamar Hilda menuju dapur.
"Aunty kondisi mu makin buruk. Kita harus memeriksa nya" ucap Mia duduk di samping ranjang Hilda yang sedang berbaring.
"Tidak perlu Mia."
"Tapi kau makin kurus Aunty, mau makan sesuatu?"
"Tidak"
Mia menatap Hilda dengan tatapan kosong. Dia sudah menganggap Hilda seperti ibu nya sendiri, tapi Mia merasa Hilda selalu bersikap sungkan pada nya.
"Aku takut jika Aunty.. hamil" ucap Mia begitu saja dan dia pun merasa tidak enak sendiri setelah sadar mengatakan hal tersebut.
Tidak disangka, Hilda membalas nya dengan tertawa kecil seolah ada yang lucu pada perkataan Mia barusan. Mia pun mengernyitkan dahi nya juga karena bingung dengan tingkah Hilda.
"Itu tidak mungkin Mia." Jawaban Hilda justru membuat Mia penasaran. Sebenarnya hal apa yang telah terjadi.
"Maksud Aunty?"
"Dia selalu memakai pengaman saat melakukan itu dengan ku. Bahkan setelah kami menikah pun dia menggunakan nya. Jadi aku tidak mungkin hamil, Mia"
"Maafkan aku Aunty jika aku menyinggung mu" Mia merasa bersalah karena merasa dia terlalu ingin tau tentang kehidupan Hilda yang sebenarnya.
"Tidak apa-apa Mia, aku tidak marah. Dan aku pun tidak pernah marah saat Alex melakukan hal itu pada ku. Tapi yang membuat aku sakit hati, kenapa dia melakukan hal itu pada Elica tanpa menggunakan pengaman. Sepertinya dia memang sengaja melakukan itu pada putri ku, aku menyesal sudah menilai nya sebagai pria baik dulu, didepan anak ku sendiri"
Ucap Hilda dengan air mata yang mulai jatuh ke pipi nya.
Mia pun menghela nafas nya pelan setelah mendengar kenyataan itu. Dia teringat pada Elica, walau bagaimanapun Elica justru menjadi orang paling sakit hati dilihat dari sudut pandang Mia. Namun dulu saat mereka bertemu, gadis itu bersikap tegar dan seolah tidak memperdulikan apapun. Dan nyata Elica malah memendam semua sendiri melihat tingkah laku ibu nya dan ayah tiri nya. Pasti sangat menyakitkan berada di posisi Elica saat itu.
***
Malam ini Elica sedang makan malam bersama dengan ayah nya. Suasana sangat hening karena tidak ada pembicaraan sedikit pun diantara keduanya, hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.
Elica merasa ayah nya mendiamkan nya setelah kejadian kemarin saat Alex datang. Bahkan Elica sedikit takut untuk menanyakan keberangkatan mereka besok, apakah ayah nya benar-benar membatalkan nya atau tidak. Dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada sang ayah.
"Daddy... Mengenai besok apakah kita__"
Belum sempat Elica menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ayah nya memotong pembicaraan.
"Besok Daddy akan pergi ke luar kota, ada beberapa peralatan untuk pekerjaan Daddy yang habis. Jadi Daddy harus membeli nya. Tidak apa-apa kan jika kau, Daddy tinggal seharian"
Elica pun tercengang mendengar nya, itu tandanya ayah nya memang membatalkan keberangkatan mereka ke luar negeri. Dan Elica merasa jika sang ayah mencoba mengalihkan topik pembicaraan nya.
Dia tidak tau kenapa tiba-tiba ayah nya merubah pikiran dengan cepat. Elica pun akhirnya enggan untuk menanyakan nya lagi, dia hanya membalas nya dengan Anggukan kepala pelan dan melanjutkan makan nya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ayah Elica sudah berangkat ke luar kota. Elica mengantarkan ayah nya sampai di stasiun kereta, karena ayahnya memilih menggunakan transportasi umum.
Setelah melihat ayahnya sudah pergi, Elica pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Karena masih pagi, Elica memilih berjalan kaki di pinggir jalan menuju halte. Tiba-tiba perut nya merasa lapar, dan dia baru ingat jika dia belum makan apapun hanya meminum susu ibu hamil saja tadi.
Elica pun menyusuri jalan berharap menemukan sebuah kedai makan untuk mengganjal rasa laparnya itu. Dia sangat terkejut saat ada mobil yang menepi secara mendadak dan menghalangi jalan nya.
Tidak lama orang yang ada didalam mobil pun turun, tanpa di duga ternyata Alex lah orangnya.
Dengan cepat Elica beranjak pergi meninggalkan pria itu saat Alex menghampiri nya. Tak disangka Alex justru menarik lengan nya dan menyuruh nya masuk menuju mobil. Dengan pasrah Elica pun masuk, karena tidak memungkinkan jika pria itu akan membiarkan Elica pergi begitu saja.
Kedua nya sudah berada dalam mobil, Alex pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Mereka sama-sama masih diam tanpa ada salah satu yang membuka pembicaraan.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kantor Alex. Ternyata pria itu membawa Elica kemari, padahal perut Elica sudah mulai kelaparan. Mereka berdua menaiki lift menuju, Elica pun tersadar jika sedari tadi Alex terus menggandeng tangan nya seolah tidak membiarkan Elica lari.
"Makanlah" ujar Alex pada Elica yang sedang duduk.
"Kenapa kau membawa ku kesini?"
"Ayah mu sedang pergi, bukan. Nanti malam kau menginap di rumah ku saja. Dan makan dulu, aku tau kau belum sarapan" ucap Alex.
"Jangan bertingkah seperti ini Alex, sangat menjijikkan. Sudahlah aku ingin pulang" Elica pun beranjak dari duduknya menuju ke pintu.
Tidak disangka ternyata pintu nya terkunci dari luar.
Elica pun kesal dan menghampiri Alex yang tengah berdiri melihat tingkah laku nya.
"Buka pintu nya, sialan" ucap Elica.
Alex pun justru tertawa kecil mendengar ucapan Elica.
"Aku suka saat kau sudah kembali bertingkah seperti ini sayang. Makan lah dulu, setelah itu kita bicarakan semuanya"
Elica pun memutar matanya nya karena jengah dengan kelakuan Alex yang selalu membuat nya menjadi kesal sendiri.
Kruyukk....
Dan sial nya lagi perut Elica tidak mau berkompromi sebentar saja. Malah mengeluarkan bunyi kelaparan yang sangat memalukan, dan pasti nya Alex pun mendengar nya juga. Karena itu tertawa kembali pada Elica.
"Duduklah dulu, sayang. Aku tau kau lapar, kau tidak kasihan pada anak kita yang juga ingin makan. Hm?"
"Diam" kata Elica dan dibalas Alex dengan senyuman.
Alex pun menuntun Elica kembali duduk di kursi. Dan mulai menyuapkan makanan pada Elica. Awal nya Elica menolak namun Alex terus memaksa agar Elica mau menerima suapan Alex, dan jika Elica tidak mau, Alex mengancam akan mencium Elica sangat lama. Akhirnya Elica pun menuruti Alex kepada dirinya.
Setelah selesai menyuapi Elica, Alex pun membersihkan sudut bibir Elica yang terkena sisa makanan tadi dengan tangan nya. Dan entah kenapa Perlakuan Alex membuat jantung Elica berdetak kencang. Seperti Alex yang saat ini dia lihat, bukan seperti Alex yang Elica kenal.
Dan heran nya, jika setelah makan Elica sering merasa mual. Namun kini berbeda, dia tidak merasakan mual sedikit pun saat di dekat pria ini, padahal makanan yang diberikan Alex juga sangat banyak.
"Kenapa? Apa merasa mual?" Tanya Alex saat melihat Elica yang terdiam.
"Tidak"
Alex pun mendekat kearah Elica dan memposisikan dirinya duduk disamping Elica. Tanpa di duga Alex mengelus perut rata Elica dengan gerakan lembut dan sontak membuat Elica langsung terperanjat.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Elica menepis tangan Alex dari perutnya.
"Aku ingin tau keadaan nya di dalam sana"
"Menyingkirlah"
"Tidak mau" Alex pun kembali mengelus perut Elica.
"Alex apa kau tuli, aku bilang__"
Dengan cepat Alex langsung membungkam Elica dengan bibir nya.
Dia mencium wanita itu dengan lembut, tanpa sadar Elica pun juga membalas ciuman tersebut. Ada segurat senyum dibibir Alex saat mengetahui hal tersebut. Setelah oksigen mulai menipis, akhirnya kedua nya melepaskan ciuman tersebut. Dan Alex menempelkan kening nya pada kening Elica.
"Aku mencintaimu Elica" ucap Alex
Namun Elica tidak membalas perkataan Alex itu dan memilih diam.
Setelah kejadian tadi, Alex pun berniat melanjutkan pekerjaannya dan menyuruh Elica untuk beristirahat di ruang pribadi nya. Tapi Elica menolak dan masih duduk di kursi karena Alex tidak memperbolehkan nya untuk pergi.
"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan pada mu" ucap Elica tiba-tiba.
"Apa itu sayang?" Sahut Alex
"Apa kau tau dimana ibu ku?"
Alex pun menggeleng "aku tidak tau" jawab Alex seadanya.
"Bisakah kau mencari keberadaan ibu ku?" Konyol memang jika Elica mengatakan hal itu pada pria yang sangat dibenci nya, namun tidak ada pilihan lain. Pikir Elica, Alex mempunyai banyak orang bawahan nya pasti mudah bukan jika mencari ibu Elica.
Alex terlihat menaikan alisnya sebelah, seperti dia memiliki ide menarik kedepannya.
"Apa yang aku dapat, jika aku berhasil menemukan nya?" Tanya Alex bagai Dejavu bagi Elica.
"Apakah kau selalu meminta imbalan saat ada orang yang minta tolong pada mu?"
"Tentu saja, di dunia tidak ada yang gratis sayang"
"Sudahlah kau memang pria kaya yang perhitungan. Apa kau bercerai dengan ibu ku tanpa memberi nya apapun? Sangat keterlaluan" sindir Elica.
Alex pun terlihat berjalan mendekati Elica lagi.
"Aku kaya karena aku memperhitungkan semua nya sayang. Dan mengenai ibu mu, asal kau tau saja. Aku memberikan apapun pada nya. Rumah, mobil, butik, dan tentunya harta yang lain. Tapi sepertinya dia terlalu jual mahal hingga tidak menyentuh pemberian ku. Maka dari itu aku sudah tidak perduli" jawab Alex.
"Sepertinya kau tipe pria yang membuang wanita bagai sampah saat kau sudah bosan"
"Terkecuali diri mu, Elica sayang"
"Apa kau tidak di didik oleh orang tua mu untuk menghormati seorang wanita, Alex?"
Raut wajah Alex langsung berubah saat mendengar Elica menyinggung tentang kedua orang tuanya. Pada kenyataannya Alex juga tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua nya dulu. Hingga saat ini dia sangat membenci yang menyangkut tentang "orang tua"
"Ya. Aku memang tidak pernah di didik dengan hal tersebut" ucap Alex terkesan dingin
TBC.
Vote Like dan komentar ditunggu...