Playing With Fire

Playing With Fire
Part 23



Info tentang Update bisa kalian Follow Instagram : @akiokokoru_69


terimakasih.....


Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca......


********************


"Daddy, apa yang Daddy lakukan" teriak Elica berdiri dari duduknya dan berusaha menjauhkan ayah nya dari hadapan ibu nya.


Mata ayah Elica mendelik ke arah Hilda, mantan istrinya tersebut. Dan wanita itu menangis memegangi pipi nya yang terasa perih karena tamparan yang di berikan mantan suaminya itu.


Tidak jauh berbeda dengan ibu nya, Elica pun juga ikut menangis melihat apa yang dilakukan ayah nya tadi. Dia bingung harus membela siapa.


"KAU. DIMANA OTAK MU HILDA, BISA-BISA NYA KAU MEMBIARKAN ANAK MU DISENTUH OLEH LELAKI KEPARAT ITU"


Ucap Ayah Elica dengan menunjuk-nunjuk didepan wajah Hilda.


"Maaf.." ujar Ibu Elica.


"Maaf kau bilang? Apa kau pikir dengan minta maaf, putri ku akan kembali seperti dulu, hah..."


"Daddy sudah, cukup"


Ayah Elica seakan tidak menghiraukan apa yang diucapkan Elica saat ini.


Dia masih saja menatap kearah Hilda dengan mata yang berapi-api.


"Kau meminta anak ku untuk tinggal dengan mu Hilda, aku izin kan. Kau pasti nya masih ingat, saat kau memberi nya janji akan mengabulkan impian Elica setelah tinggal dengan pria itu. Dan kau membawa pergi Elica untuk menetap di sana, karena aku tau jika dia bersama ku, aku tidak bisa membahagiakan nya. Maka dari itu aku melepaskan Elica putri ku dengan mu. Tapi... kau benar-benar membuat ku marah Hilda. Kau menghancurkan hidup putri kecil ku, dan merampas semua kebahagiaan nya"


Ucap Ayah Elica yang begitu marah mengetahui hal tersebut.


Dia menyesal karena membiarkan Elica bersama Hilda. Jika tau semuanya akan berakhir seperti ini, mungkin dia akan melarang Elica untuk hidup dengan ibunya meskipun tanpa kemewahan seperti yang diberikan lelaki itu.


Hilda yang merasa sangat bersalah akhirnya menjatuhkan dirinya berlutut di bawah kaki mantan suaminya itu. Dan kedua tanya terus memohon berharap agar anak dan mantan suaminya itu bisa memaafkan nya.


"Aku tau. Tolong maafkan aku, kau boleh marah padaku. Dan Elica kau juga boleh memukul Mommy. Pukul Mommy sepuas hati mu sayang, tapi tolong kalian berdua maafkan aku. Aku sangat menyesal" wanita itu terus menangis sambil memejamkan matanya.


Namun ayah Elica memalingkan wajahnya melihat Hilda yang terus berlutut di bawah kaki nya. Sedih, marah, dan kecewa menjadi satu kini yang ada di dalam hati nya. Seolah tidak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan sang ayah kini. Putri semata wayang nya, yang selalu dia sayangi, dia rawat sejak kecil, berharap nantinya akan mendapatkan kebahagiaan seperti gadis pada umumnya, ternyata dia hancur karena ulah ibu nya sendiri.


Albert, ayah kandung Elica yang kini juga meneteskan air mata nya. Hari ini dunia nya hancur. Karena dia gagal menjaga anak gadis nya yang sekarang tengah menangis juga melihat keadaan kedua orang tuanya. Padahal dulu saat istri nya memilih lelaki itu dan meninggalkan nya, dia tidak menangis sedikit pun layaknya seorang pria. Tapi kini melihat masa depan putri nya hancur, membuat semua keputusasaan datang menyelimuti hati nya.


"Mom jangan begini, berdiri lah" Elica mencoba menghampiri ibu nya dan menyuruh nya agar berdiri.


"Tidak Elica, Mom tidak akan berdiri sampai kau dan Daddy mu memaafkan Mommy sayang"


Ujar Hilda yang masih menangis menundukkan kepalanya di bawah kaki Albert.


"Jangan sentuh dia Elica. Dia bukan ibu mu lagi. Dan kau, pergilah Hilda. Mulai saat ini jangan temui anak ku lagi, karena sekarang Elica akan tinggal denganku" Sahut ayah Elica tegas. Dan membuat Hilda langsung mendongak kearah Albert karena terkejut mendengar hal itu.


Ayah Elica sudah memutuskan agar kini Elica kembali tinggal dengan nya. Pria itu terlihat mengusap sisa air mata nya yang keluar tadi, kemudian dia menarik Elica kesamping nya.


"K-kau tidak bisa melakukan itu Albert, Elica anak ku" ucap Hilda.


"Setelah apa yang telah kau lakukan pada nya, kau masih bisa berkata dia anak mu. Kau sama saja menjual putri mu pada lelaki bajingan itu. Bukankah kehidupan seperti itu yang kau mau. Kembali lah dengan lelaki itu, kau bisa menikmati harta nya tanpa perlu membawa Elica. Karena bagaimanapun juga Elica masih tanggung jawab ku. Dan aku mampu untuk memberikan kehidupan yang lebih baik daripada hidup dengan mu. Pergilah Hilda, rumah ini sudah tidak menerima mu lagi"


Ayah Elica pun mengusir Hilda dengan kata yang sangat menyakitkan. Terlepas dari apa yang dia lakukan dulu, dia sadar semua ini berawal dari kesalahannya. Andai saja dulu dia mau bersabar dan bisa menahan semua janji manis Alex agar dia mau meninggalkan suaminya. Pasti semua ini tidak akan terjadi, dan Elica juga tidak akan melakukan hal bodoh itu. Pada kenyataannya Elica melakukan semua itu, berharap agar ayah dan ibu nya kembali bersama. Meskipun dia rela melepaskan kehormatan nya.


Jika pun di tanyakan siapa yang paling bersalah, maka jawabannya ke-tiga orang itu yang berasal. Alex, Hida dan Elica. Dan penyesalan itu tidak bisa di perbaiki sama sekali.


"Aku rela mati Albert, asal kalian mau memaafkan ku" ucap ibu Elica dengan suara yang pelan.


"Elica, masuk ke kamar mu sayang. Dan kau pergilah. Jangan sampai aku menggunakan kekerasan untuk mengusir mu Hilda"


"Jika itu membuat mu lebih baik, aku siap menerima nya Albert."


Tanpa di sangka, ayah Elica menarik Hilda hingga berdiri dan menuntun wanita itu dengan kasar menuju ke luar rumah. Dia mengusir wanita yang dulu menjadi istrinya dengan paksa. Setelah Hilda keluar dari rumah itu, Albert langsung menutup pintu nya dengan keras dan mengunci nya hingga Hilda tidak bisa masuk lagi.


Elica melihat adegan tersebut dengan hati yang hancur. Apalagi saat sang ibu diperlakukan seperti itu, membuat nya ingin menolong Hilda. Namun sang ayah pasti akan langsung melarang nya.


Dia bisa melihat ayah nya menatap dirinya dengan mata yang penuh kesedihan.


"Daddy..." Ucap Elica lirih saat keduanya sama-sama berhadapan. Dengan cepat ayah nya pun langsung memeluk Elica.


"Maafkan Daddy sayang, Daddy gagal menjadi orang tua yang baik"


Elica mendengar nya pun menangis di dalam pelukan hangat sang ayah.


Albert mengelus rambut putri nya dengan penuh kelembutan, membiarkan anak nya itu menangis untuk meluapkan semua yang ada di dalam hatinya.


Dia tau, jika Elica sedang memendam semua kesulitan nya sendiri. Entah apa saja yang terjadi sebenarnya saat putri nya itu tinggal dengan ibu nya dan Alex di sana. Yang jelas kini hanya penyesalan yang ada dibenak keduanya.


*******************


Malam terasa sangat dingin untuk Hilda yang sedang menyusuri pinggiran jalan. Air mata nya terus mengalir mengingat kejadian sore tadi saat mantan suaminya memperlakukan dia, dan mengambil Elica. Luka di sudut bibirnya pun terlihat membiru, menandakan kerasnya tamparan yang dia dapat.


Namun Hilda tidak merasakan sakit akibat luka tersebut, karena yang kini dia rasakan adalah sakit yang ada di dalam hatinya. Bahkan dia tidak sadar sudah berapa jam dia berjalan tanpa tujuan. Dia pun bingung kini harus pulang kemana, karena tidak mungkin jika dia pulang ke rumah Leo. Rasa malu nya tidak bisa disembunyikan lagi jika mengingat Elica juga tidak lagi tinggal disana. Meskipun Alex memberikan rumah dan beserta harta nya yang lain untuk tunjangan Hilda, ketika mereka bercerai. Namun Hilda sudah tidak sudi lagi menggunakan harta lelaki itu.


Ternyata beginilah rasanya, ditinggalkan oleh orang yang tersayang. Mungkin hukum karma tengah datang pada Hilda hari ini, setelah dia menghianati suami dan anak nya dulu. Kini dialah yang akhirnya dibuang oleh semua orang.


Tanpa sadar ada mobil yang hampir menabrak nya, namun untung saja mobil itu bisa menghentikan laju nya tepat waktu.


Cittt...


Cahaya mobil menyorot kearah Hilda, dan wanita itu sangking kagetnya langsung berjongkok didepan mobil.


Tidak lama orang yang ada di dalam mobil pun keluar untuk melihat kondisi orang yang hampir di tabrak nya.


"Aunty.." ujar seorang perempuan saat melihat wajah Hilda. Hilda pun menatap kearah suara tersebut. Ternyata adalah Mia, anak dari adik nya.


"Mia.."


"Aunty, kau tidak apa-apa? Astaga, aku hampir menabrak mu. Sedang apa Aunty disini?" Ujar Mia mencoba menuntun Hilda agar berdiri.


"Baiklah, Aunty masuk saja ya ke mobil ku. Biar aku antar bibi pulang"


Hilda pun mengangguk mengiyakan ucapan Mia. Mereka berdua pun telah masuk ke mobil, namun Mia belum tau harus mengantar bibi nya itu kemana.


Mia adalah anak dari adik Hilda, mereka tinggal di luar negeri. Tapi karena suami Mia bekerja di sini, maka Mia juga ikut dengan suami nya disini.


"Aunty... Dimana rumah Aunty, sekarang?"


"Aunty tidak punya rumah Mia"


"Apa? Apa maksudnya Aunty, bukankah Aunty sudah menikah dengan pria lain?"


"Kami sudah bercerai" ujar Hilda dengan menatap kosong kearah depan.


Mia sangat tidak percaya dengan apa yang didengarnya, apalagi Hilda akhirnya menceritakan semua kejadian yang telah terjadi saat ini. Mengenai dirinya dan juga mengenai kehamilan Elica, membuat Mia pun syok saat tau Elica mengandung janin ayah tirinya.


Mia pun mengajak Hilda untuk menginap di rumah nya, mengingat suaminya juga sedang di luar kota selama dua hari. Dan Hilda pun mengiyakan ajakan keponakan nya itu.


******************


Alex sedang duduk di ruang kerjanya yang ada di rumah. Malam ini dia hanya ditemani oleh segelas wine dan juga rokok yang ada ditangannya. Dia menatap kearah luar jendela yang terlihat akan hujan.


Sepeninggalan Elica tadi pagi, dia menyuruh bawahan nya untuk mencari keberadaan Elica. Ternyata wanita itu pergi ke rumah sakit dengan ibunya menjenguk Leo, dan pergi lagi menuju ke rumah nya dulu.


Namun orang suruhannya, hanya melihat Hilda yang pergi keluar dari rumah tersebut, itu artinya ayah Elica sudah mengetahui semuanya dan menahan Elica untuk tinggal disana. Dan sekarang Alex pun tidak bisa berbuat apapun, hanya bisa membiarkan Elica tinggal dengan ayah kandung nya untuk sementara waktu.


Dan untuk Hilda sendiri, Alex sudah tidak memperdulikan nya lagi. Bayangan wanita itu saja sudah tidak ada lagi dibenak nya. Bahkan rasa cinta nya dulu pada wanita itu hilang begitu saja. Mungkin Elica benar, jika dia menganggap Hilda hanya sebagai sosok ibu pengganti yang tidak pernah hadir dalam hidup nya. Dan Alex telah salah dengan memberikan status istri pada wanita itu, dan kini Alex membuang Hilda begitu saja.


Dia memang pria brengsek, telah menyakiti ibu dan anak dalam waktu bersamaan. Tapi itu sudah terjadi, sangat tidak mungkin jika dia harus mengelak dengan takdir. Karena saat ini yang ada di benak Alex adalah tentang Elica dan buah hati mereka berdua.


Nyatanya Elica tidak memberikan dia kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika saja Elica mau melakukan nya, memberikan Alex memperbaiki semua maka semua nya akan selesai. Namun itu hanya ada di pikiran Alex dan tidak bisa dengan mudah untuk dilakukan.


******************


"Daddy belum tidur?" Tanya Elica saat melihat ayah nya tengah duduk di meja makan yang ada di dapur. Dengan sekaleng soda yang ada dihadapannya.


Tadi nya Elica ingin mengambil minuman untuk mengatasi dahaga nya, ternyata di malam yang sedang hujan di luar, ayahnya juga belum tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Belum sayang. Kau sendiri kenapa belum tidur?"


Elica pun mendudukkan dirinya di samping sang ayah dan mengambil gelas untuk menampung air yang dituangkan nya. Kemudian dia langsung meminum air putih tersebut.


"Aku haus Dad, jadi aku kesini."


"Di luar sedang hujan, jangan lupa tidur menggunakan selimut hangat mu Elica"


"Iya. Tapi aku teringat dengan Mommy, Dad. Sedang dimana dia sekarang, tidak mungkin jika dia pulang ke rumah Leo"


"Siapa Leo?"


"Dia pria yang menolongku Dad, dia juga berniat menikahi ku untuk menolong anak ku kelak. Tapi dia sedang di rumah sakit, kemarin dia mengalami kecelakaan"


"Jadi kalian tinggal rumah nya?"


"Iya Dad."


Ayah nya pun menatap Elica dengan tatapan serius. Dia mengelus rambut Elica dengan lembut. Dia sadar jika sekarang Elica sudah tumbuh dewasa, dan menjadi gadis yang sangat cantik. Tidak heran jika Alex langsung jatuh pada Elica, dan kesalahan terbesar nya adalah membiarkan putri nya tinggal dengan lelaki muda bahkan saat Alex dan Hilda belum melaksanakan pernikahan.


"Kau sudah tubuh dewasa Elica, dan sayangnya Daddy tidak bisa memberikan mu kebahagiaan"


"Tidak Daddy. Aku bahagia jika dengan mu Daddy, dan aku akan selalu menjadi putri kecil Daddy. Daddy jangan bilang begitu.


Ayah nya pun tersenyum mengangguk dengan raut wajah yang menyembunyikan kesedihannya. Dia memang selalu tegar meskipun mereka sedang mendapat masalah besar. Lama ayah nya menatap Elica dengan tatapan sendu nya.


"Nanti.. Daddy akan membawa mu pergi jauh dari tempat ini. Kita akan hidup di tempat baru, dengan orang baru, dan suasana yang baru juga. Kau mau sayang?" Ujar sang ayah.


"Benarkah?"


"Iya sayang. Masakan mu kan sangat enak, bagaimana jika kita membuka sebuah restoran kecil atau Elica bisa membuat roti?"


"Ya, aku bisa Dad. Jika pun aku tidak bisa, aku akan belajar membuat nya"


Tanpa sadar mereka berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena terbawa suasana.


"Daddy akan buatkan kau toko roti yang cantik dan kita akan membuat roti bersama setiap hari" ucap sang ayah pada Elica yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Daddy harus janji, akan bersama ku sampai kapanpun " ucap Elica dengan sesenggukan


"Iya nak"


"Daddy juga harus janji untuk menyayangi anak ku juga kelak ya"


"Tentu sayang"


"Daddy janji?" Ujar Elica pada ayah nya dengan menaikkan jari kelingking nya seperti anak kecil yang meminta janji.


"Iya Elica, Daddy janji" mereka pun saling bertautan jari kelingking, dan tanpa bisa membendung kesedihan nya lagi mereka berpelukan sambil menangis.


"Terimakasih Daddy. Aku sangat menyayangi mu"


Dulu Elica dengan bodohnya meninggalkan sang ayah yang sangat baik untuk memilih bersama sang ibu. Namun setelah semua ini terjadi, ternyata ayahnya masih mau mengulurkan tangannya untuk menerima kembali dirinya. Meskipun saat ini semua nya telah berubah. Tapi Elica bersyukur, karena kini dia memiliki tempat untuk kembali.


Karena ayah nya lah, Elica ingin menata hidupnya kembali. Meninggalkan tempat ini, meninggalkan ibunya, Alex dan Leo.


Bagi Elica sekarang kebahagiaan dirinya lah yang lebih penting, apalagi untuk beberapa bulan kedepan dia akan menjadi seorang ibu. Dan dia akan berusaha membesarkan anaknya dengan segala yang dia punya, dan tentu nya dengan sang ayah yang selalu mendukung nya. Elica yakin, di kehidupan selanjutnya dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


TBC


Vote dan komentar ditunggu....