
Belakang gedung sekolah, pukul 07.00
"Kau sudah siap untuk babak belur lagi?" Tanya 7 senior yang akan berkelahi dengan Sean. Mereka sepertinya serius sampai menggulung lengan seragamnya ke atas bahkan ada yang sampai buka seragam.
"Babak belur bukan masalah, pada akhirnya aku yang selalu menang saat melawan kalian." ucap Sean dengan satu sudut bibirnya yang diangkat ke atas.
"Bocah kurang ajar!"
Semua murid berkumpul mengelilingi Sean dan para senior yang ingin bertarung. Darapun juga ingin menontonnya, tetapi Dara memilih berada di atas balkon gedung agar bisa melihat pertarungan dengan jelas dari atas. Dara di temani Lily ketua kelas, dia yang mengajak Dara untuk menonton dari atas gedung.
"Apa Sean bisa menang? Mustahil melawan 7 orang senior."
"Sean tidak pernah kalah sekalipun, soal bela diri Sean pemenangnya."
"Bela diri? Ku kira mereka akan beradu kekuatan elemen."
"Jika kau menggunakan elemen mu saat bertarung, kau mungkin akan di skors. Kita tidak diperbolehkan menggunakannya kecuali untuk latihan."
"Benarkah? Lalu kenapa senior itu memakai kekuatan apinya?"
Salah satu dari 7 senior itu mengeluarkan elemen apinya, hal ini adalah yang pertama kalinya terjadi. Biasanya mereka hanya bertarung dengan tangan kosong.
"Sean, kau sudah menguasai elemen apimu? Kau di berikan elemen api istimewa tapi tidak bisa menggunakannya itu payah sekali. Hari ini pengguna elemen api biasa ini yang akan mengajarimu cara menggunakannya."
WUSH🔥
Senior itu melemparkan bola bola api yang datang dari tangannya ke arah Sean.
'Sial, sepertinya dia sudah bosan bersekolah di sini.' Batin Sean.
Sean hanya bisa menghindari serangan api jarak jauh itu. Sedikit saja terkena api badannya mungkin akan terbakar.
"Sepertinya kau ingin sekali dikeluarkan senior." Ucap Sean yang terus mencoba mendekat ke arah senior, untuk bisa mengakhiri serangan senior itu.
"Kalau begitu keluarkan kekuatan api spesialmu itu, aku akan sangat merasa terhormat jika bisa melihat kekuatanmu dan tidak akan keberatan jika harus keluar dari sekolah ini."
'Jangan terpancing emosi Sean, begitu aku emosi kekuatanku jadi tidak terkontrol. Ingat bahwa kau pernah membakar gedung sekolah ini karena emosi.' Batin Sean, dia mencoba mengontrol emosinya lewat pikiran.
"Kau akan kelelahan jika terus mendekat bodoh, keluarkan saja api $ialan mu itu."
'Api $ialan katanya?'
"Apa keluarga mu tidak malu melihatmu belum berkembang sampai sekarang? Lihatlah semuanya, anak elemen api murni Sean Arlert dikalahkan olehku pengguna api biasa. Karena sudah begini bagaimana kalau kau mati saja breng$ek!"
"Beraninya kau pengguna api biasa berkata seperti itu didepanku. Kaulah yang harus mati baji9an gila!"
DEG!
Sean menghentikan gerakannya, dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat sampai mengeluarkan darah. Sepertinya emosinya sudah berada di atas ubun ubun. Tepat setelah darah dari mulutnya menetes membasahi dagunya, sekujur tubuhnya mengeluarkan api murni.
'Bakar semuanya!' Batin Sean
"AGHHHHHHHHH!" Teriak Sean.
Sean merubah penampilannya dari sebelumnya, bola mata hitam pekatnya berganti warna menjadi merah menyala. Auranya sangat panas dan setiap gerakan yang dia lakukan membakar apapun yang ada di sekelilingnya.
Sean memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan membunuh sehingga para murid yang menonton pertarungan tadi semua kabur tak tersisa. Aura membunuhnya sangat pekat, dia seperti akan membakar apapun yang dia lihat, terutama ke tujuh senior yang masih ternganga melihat Sean mengamuk.
"Sial, dia benar benar kehilangan kendali" Ucap Senior.
"Kubakar kau hingga jadi abu." Ucap Sean sambil menatap ketujuh senior di depannya.
Keadaan berbalik, Sean yang tadinya hanya menghindar menjadi penyerang jarak jauh. Senior senior itu lari berhamburan seperti serangga menghindari api yang dilancarkan Sean. Terkena api sedikit saja mereka tidak akan bisa memadamkannya, mereka akan terbakar sampai jadi debu.
Sedangkan di atas gedung
"Lily apa yang terjadi, kenapa Sean berubah seperti itu? Dia seperti kerasukan."
"Sean tidak bisa mengendalikan apinya. Mungkin hari ini akan ada kebakaran besar"
"Apa?"
"Begitu kekuatan apinya keluar, dia kehilangan kendali. Terakhir kali itu terjadi gedung sekolah habis dilahap oleh apinya."
"Kalau begitu kita bisa mengundang banyak elemen air untuk memadamkannya."
"Apinya Sean tidak bisa dimatikan dengan elemen air biasa itu karena api yang dimiliki Sean sangatlah istimewa. Sejauh ini hanya guru yang bisa memadamkannya karena guru itu punya elemen air istimewa. Tapi sekarang guru elemen air itu sedang tidak di sekolah, aku dengar dia mengambil cuti"
"Lalu bagaimana ini? Siapa yang bisa memadamkannya?"
"Tidak ada. Jadi mungkin Sean akan dikeluarkan dari sekolah kali ini."
"Sampai dikeluarkan?! Kira kira. Apa aku bisa memadamkannya?"
"Kau bisa?"
"AH! Aku baru ingat, tapi apa kau sudah bisa mengendalikannya?"
"Itu... mungkin ada efek sampingnya. Tapi bisakah kau mengangkat beban 45 kg."
"Apa?"
Dara menatap langit sambil tangannya menari nari seakan akan dia memanggil sesuatu dari langit. Dara berencana menurunkan hujan. Karena di bawah sana api Sean sudah menyulut, jika dipadamkan sedikit demi sedikit mungkin api itu akan cepat merambat dan semakin besar.
Demi memadamkan api yang sudah hampir menguasai kawasan belakang sekolah. Dara terus menerus menggerakan tangannya untuk memanggil hujan. Setiap gerakannya menguras energi dalam dirinya.
'Apakah ini berhasil? Apakah hujan akan turun? Kepalaku pusing sekali, keringat dinginku terus menetes.' Batin Dara.
"Dara apa yang kau lakukan? Jangan memaksakan diri!" Ucap Lily yang melihat Dara semakin lemas karena gerakannya.
'Aku pasti bisa! Hujan Datanglah!'
Bresssssssss
Hujan deras turun tepat di atas api api yang menyulut itu. Dan benar saja api api yang tadinya tidak bisa padam itu langsung mati ketika terkena tetesan air hujan.
"Aku berhasil, Lily aku..."
BRUK!
Dara pingsan setelah memanggil hujan. Mulutnya membiru dan badannya menjadi dingin.
"Dara! Dara!"
Sedangkan di bawah
Api yang mengelilingi tubuh Sean juga perlahan menghilang, dia juga perlahan lahan mendapatkan kembali kesadarannya.
"Apa yang sudah ku lakukan?" Ucap Sean, dia melihat sekililingnya yang sudah hangus berantakan dan berasap akibat tetesan hujan.
"Aku merasa pusing"
BRUK! Sean terkapar ditanah.
.
.
.
UKS
Setelah pertarungan antar elemen itu selesai, semua yang terlibat dikumpulkan. Kecuali Sean dan Dara yang masih terbaring di UKS karena kejadian yang menguras tenaga tadi.
"Agh kepalaku pusing sekali." Dara membuka matanya dan bangun.
"Dilihat dari tempatnya kupikir ini UKS. Apa Lily benar benar menyeretku sampai sini?" Ucap Dara melihat sekelilingnya yang penuh dengan tirai yang tertutup, menutupi area ranjang yang ditempati Dara.
Sreet... tirai terbuka
"Sudah bangun?"
"KAGET AKU! Sean?" Teriak dara. 'Dilihat dari penampilannya sepertinya dia baik baik saja, padahal dia baru saja mengeluarkan kekuatan sebesar itu.' Batin Dara.
Sean membuka tirai dan memampangkan wajah tampannya. Badannya yang tadi basah terguyur hujan sepertinya kering sendiri akibat kekuatan apinya. bola matanya berubah menjadi hitam pekat lagi.
"Kau bisa berjalan? Kita dipanggil oleh kepala sekolah karena insiden tadi" Ucap Sean.
"Kita? Kenapa."
"Soal kejadian tadi, siapa pun yang terlibat disuruh menuju kesana. Termasuk kau, kudengar kau yang menurunkan hujan"
"Ah, itu memang aku. Tapi setelah itu aku kehilangan kesadaran, apa yang terjadi setelah itu?"
"Aku juga tidak tau, yang pasti kita akan dihukum."
"Kita? Maksudmu aku juga dihukum?"
Sean hanya menjawab Dara dengan senyuman di ujung bibirnya.
"Boleh kutanya arti senyummu itu?"
"Kau bermain air mancur dengan kekuatanmu saja tidak boleh, apa lagi sampai mendatangkan hujan. Kau mengerti maksudku bukan?"
"Aish! Aku sudah membuat masalah padahal baru masuk kemarin, AHH! Apa yang sebenarnya kupikirkan?"
"Kau berisik sekali, sepertinya kau sudah baikan. Kalau begitu ayo kita pergi."