
Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca..
Sudah hampir dua minggu Elica tinggal dengan Ayahnya. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari, entah itu memasak, membantu ayahnya membuat kerajinan dari kayu, dan berbelanja bersama. Seakan ayah nya sedikit demi sedikit menutupi luka yang ada di dalam hati Elica perlahan. Dan pelan-pelan Elica juga mulai belajar untuk menerima kenyataan, mencoba untuk melupakan sejenak masalah nya.
Sampai detik ini pun, Alex tidak mengusik nya sama sekali. Seakan pria itu membiarkan Elica untuk memberikan nya waktu. Namun hati manusia tidak bisa di bohongi, meskipun dirinya selalu tertawa saat dengan ayah nya, hatinya merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang, apalagi saat sunyi datang ditengah malam. Hatinya merasa nyeri karena merindukan sosok seorang yang sangat dia benci. Ya, orang itu adalah Alex. Konyol memang jika dikatakan.
Tapi Elica tidak bisa memungkirinya, jika dia rindu dengan kehadiran Alex. Mungkin lebih tepatnya anak yang ada di kandungan nya, menginginkan kehadiran sang ayah. Dan dalam dua Minggu ini dia selalu uring-uringan karena kerinduan nya itu. Sesekali dia menangis dalam diam, menguatkan agar rasa tidak lagi muncul. Mengingat ayah dari anak nya adalah seorang bajingan yang sangat dia benci, namun hati kecil nya seolah memberontak jika dia juga merindukan Alex. Mungkinkah perkataan Alex terwujud? Jika saat ini Elica sudah mencintai pria itu.
*************************
Pagi itu terlihat mendung, suasana sarapan di meja makan sangat hening. Hanya ada dentingan piring dan sendok yang berbunyi. Elica memakan sarapannya dengan wajah yang tidak bernafsu, mata nya pun terlihat sembab. Saat ayah nya bertanya apa yang selalu di tangisi Elica setiap hari, Elica selalu beralasan jika tengah malam kandungan nya selalu membuat nya mual. Dan membuat nya menangis.
Padahal yang setiap malam Elica tangisi adalah kerinduan nya pada Alex. Tapi tidak mungkin jika dia akan mengatakan hal itu pada sang ayah.
"Daddy sudah mengurus paspor dan tiket pesawat untuk kita Elica" ujar sang ayah tiba-tiba
"Tiket pesawat?"
"Iya. Daddy akan membawa mu pergi dari tempat ini, kita mulai lebaran hidup baru di tempat baru"
Suara Elica seolah tertahan di tenggorokan nya, dia begitu kaget dengan ucapan sang ayah. Pasport?tiket pesawat?..
Mungkinkah ini arti nya dia akan pergi meninggalkan negara ini.
"Ku kira kita hanya keluar kota, Daddy?"
"Tidak nak. Kita pergi sejauh mungkin, bukankah kita sudah membicarakan hal ini waktu itu? Kau lupa?"
"Ya mungkin aku lupa"
"Pergi adalah pilihan yang terbaik untuk kita berdua sayang" ucap sang ayah kemudian dia menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.
Elica masih tertegun dengan hal tersebut. Ini artinya dia akan meninggalkan semua kenangan nya disini, termasuk meninggalkan sang ibu.
"Kapan kita pergi Dad?"
"Tiga hari lagi sayang, hari ini kau harus mulai memilih apa saja yang akan kau bawa nanti. Tapi Daddy harap kau tidak perlu memberitahukan hal ini pada ibu mu atau pun orang lain. Dan jangan menemui mereka lagi"
"Ya"
Elica tidak bisa membendung air matanya lagi. Namun dengan cepat dia langsung menyeka nya, agar ayah nya tidak tau jika sekarang dia menangis.
Dan dia pun berencana hari ini akan menemui Leo untuk menjenguk nya sekaligus berpamitan dengan pria itu.
Leo memang sudah sadar dari Minggu lalu, namun dia masih menjalani perawatan di rumah sakit untuk pemulihan.
Setelah sarapan selesai, Elica pun meminta izin pada ayahnya untuk ke rumah sakit. Dan tentu nya langsung diberikan izin begitu saja.
Beberapa menit Elica menempuh perjalanan, dia pun sampai di rumah sakit. Dia membawa sebuket bunga mawar dan sebuah Tote bag ditangan nya. Dia memasuki ruangan Leo dengan tersenyum, dan melihat kedatangan Elica Leo pun terlihat sangat senang. Mereka berdua saling berpelukan lama, meskipun di ruangan tersebut ada seorang perempuan cantik yang sedang menemani Leo.
"Kenapa kau baru kemari Elica?" Ujar Leo saat pelukan mereka terlepas.
Dapat Elica lihat luka yang ada di wajah Leo sudah mengering dan kondisi nya pun sudah lebih baik.
"Maafkan aku Leo, saat kau sadar aku tidak ada disamping mu. Aku sedang menenangkan diriku Leo" kata Elica dengan wajah sendu nya.
"Kenapa kau dan ibu mu pergi dari rumah ku Elica. Kalian tinggal dimana sekarang?"
"Aku tinggal dengan ayah ku Leo, tapi aku tidak tau ibu ku dimana sekarang. Karena ayah ku sudah mengetahui semuanya dan melarang ku menemui nya"
"Maaf aku tidak bisa menjaga kalian berdua, Elica"
"Tidak Leo. Kau sudah baik pada ku dan ibu ku, dan aku sangat berterima kasih untuk semuanya"
Leo pun terlihat tersenyum mendengar ucapan Elica. Sesaat dia pun menatap kearah perempuan yang ada di sana juga.
"Elica, perkenalkan itu adik ku. Namanya Leah."
Elica pun menatap kearah perempuan bernama Leah itu, dan mereka pun saling bersalaman untuk memperkenalkan diri. Leah adalah adik perempuan Leo satu-satunya, dia cantik dan juga ramah pada Elica. Setelah perkenalan itu, mereka pun terlihat saling berbincang bersama di ruangan itu.
Tanpa sadar Elica sudah menghabiskan waktu berjam-jam disana, karena terlalu asyik mengobrol bersama Leo dan adiknya. Elica pun berdiri kemudian berjalan kearah ranjang Leo, dia ingin pamit pulang.
"Leo, aku membawakan mu sesuatu" ucap Elica memberikan Tote bag yang tadi dia bawa.
"Apa ini Elica"
"Buka lah" Leo pun membuka Tote bag tersebut, dan ternyata ada sweeter rajut berwarna hitam untuk nya.
"Bagus sekali Elica, apa kau yang membuat nya?" Tanya Leo.
"Iya Leo. Itu hadiah untuk mu karena rasa terima kasih ku, sekaligus tanda perpisahan dari ku" jawab Elica yang langsung membuat senyum di wajah Leo memudar.
"Apa maksudnya Elica?"
Elica pun terlihat menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Sebenarnya ada rasa tidak tega untuk memberitahu Leo yang sebenarnya. Tapi dia juga tidak mungkin untuk pergi tanpa bilang pada pria yang ada dihadapannya kini.
"Aku kan pergi dari tempat ini Leo, bersama ayah ku"
"Kemana?" Tanya Leo cepat.
"Aku tidak bisa memberitahukannya pada mu Leo. Aku minta maaf"
Leo terdiam menatap mata Elica dalam, seolah waktu berhenti begitu saja. Sungguh apa yang baru saja dia dengar sangat tidak terduga.
"Tapi.. tapi aku akan menikahi mu Elica"
"Terimakasih atas semua pengorbanan mu Leo. Tapi kau tidak perlu menikahi ku untuk mempertanggungjawabkan hal yang bukan kesalahan mu" kata Elica dengan senyuman yang di paksakan.
Jika saja Leo tau, yang membuat nya menjadi seperti ini adalah Alex, mungkin saja Leo akan langsung menjauhi Elica. Dan itulah memang yang diharapkan oleh Elica sendiri, agar Leo tidak akan menjadi lebih sakit nantinya.
Dan Elica juga tidak akan membiarkan seseorang menjadi ayah dari anak nya, seperti yang dikatakan oleh Alex. Karena pada dasarnya anak ini adalah anak kandung Alex. Biarlah disini Elica yang terlihat Egois, agar semua orang membiarkan dia pergi dengan tenang nanti nya. Karena semua kekacauan ini memang bersumber dari nya.
"Bukan itu alasan ku ingin menikahi mu Elica" jawab Leo kekeh
"Aku tau. Tapi aku tidak bisa Leo, aku tidak bisa membiarkan pria baik seperti mu mendapatkan seorang wanita seperti ku. Ku mohon mengerti lah, aku juga perlu mengobati hati ku yang telah hancur. Dan untuk membangun sebuah pernikahan dengan kondisi ku yang seperti ini, rasa nya sangat sulit"
Ternyata selama ini Leo telah salah menilai Elica. Dia pikir dia sudah mengetahui semua yang ada pada perempuan di depan nya ini, tapi nyata nya Elica memiliki hati yang sulit sekali ditebak. Dan tanpa Elica sadari, jika dirinya juga sudah membuat seorang Leo jatuh hati pada nya. Namun Leo juga tidak bisa memaksa kehendak Elica. Yang mungkin saja membuat Elica akan menjadi tidak nyaman nyatanya, mungkin memang harus beginilah jalan nya.
"Baiklah jika itu keputusan mu, aku akan menerima nya." Ujar Leo
"Ya"
"Berbahagialah di tempat lain dengan anak mu juga"
Elica pun memeluk pria itu dengan lembut, yang tentunya dibalas oleh Leo.
Mereka terhanyut oleh suasana sedih dan haru. Biarlah hari ini menjadi akhir cerita bagi Elica dan Leo, nyatanya takdir tidak memperbolehkan mereka untuk bersatu.
****
Sore itu Elica pulang menggunakan taksi, dan hujan pun kembali turun. Entah mengapa beberapa hari ini hujan selalu datang, membuat suasana mendukung untuk sekedar bermalas-malasan di rumah.
Dia melihat air hujan yang membasahi jendela taksi yang ditumpangi nya, Elica pun mengangkat jari nya untuk menuliskan sesuatu di kaca yang berembun itu. Tanpa sadar dia menulis nama "Alex" disana.
Saat Elica membaca nya lagi dia pun terkejut, mengapa dia bisa menulis nama tersebut. Dengan segera dia langsung menghapus nya. Pikirannya pun kembali menerawang. Memikirkan sedang apa pria itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia tidak merindukan Elica?...
Elica pun kembali mengelus perutnya. Dan bergumam mengatakan sesuatu.
"Kau merindukan ayah mu sayang? Kenapa ibu selalu memikirkan nya akhir-akhir ini?" Ucap Elica lirih.
Tanpa terasa air mata nya kembali keluar. Rindu, itulah rasa yang mendominasi hati Elica saat ini. Entah semua itu karena bawaan dari kandungan nya atau Elica sendiri yang memang merindukan Alex. Elica tidak tau sebenarnya apa yang terjadi pada nya.
Tanpa berpikir panjang, Elica pun mengatakan pada supir taksi untuk membawa nya ke kantor Alex. Entah apa yang akan Alex lakukan pada nya, dia sudah tidak perduli. Yang jelas Elica kini rindu dengan pria itu dan ia ingin melihat wajah nya. Sesampainya Elica di kantor Alex, dia pun langsung menghampiri Resepsionis untuk menanyakan apakah Alex ada di ruangan nya atau tidak.
Namun semua harapan nya bertemu pria itu pupus, saat resepsionis berkata jika Alex tidak berangkat ke kantor selama dua hari karena sakit. Membuat Elica terdiam sesaat, haruskah dia menemui nya di rumah pria itu. Apakah dia harus kesana juga.
Satu hal yang ada di benak Elica sekarang, jika dia hari ini harus menemui Alex. Karena ini kesempatan terakhir dia bertemu dengan pria itu. Dan Ayah nya tidak akan mungkin mengizinkan Elica untuk pergi lagi besok, karena lusa dia akan meninggalkan tempat ini.
Elica segera keluar dari kantor itu, dan dia pun langsung mencari taksi untuk pergi ke rumah Alex.
Tidak butuh lama dia sudah dapat taksi yang mengantarkan nya kesana. Setelah 45 menit kemudian, dia pun sampai di depan rumah pria itu. Ada beberapa pengawal berjaga disana, dan langsung mengizinkan Elica untuk masuk. Karena mereka berkata jika tuan nya berada di kamar.
Elica pun menaiki tangga menuju kamar Alex, seolah memori nya kembali berputar saat dia menapaki tangga tersebut. Teringat dulu saat dia tinggal di rumah ini, dan selalu melewati tangga ini menuju ke kamar nya.
Elica sampai di depan kamar Alex, dia menarik nafas nya sebelum mengetuk pintu yang ada di hadapannya itu.
Setelah siap, Elica pun mengetuk pelan pintunya. Sudah beberapa ketukan, namun tidak terdengar suara dari dalam. Dengan inisiatif nya sendiri, Elica pun membuka perlahan pintu kamar Alex.
Setelah dia masuk, ruangan tersebut tampak sedikit gelap karena lampu nya tidak dinyalakan ditambah suasana di luar sedang mendung dan hujan.
Elica menghampiri ranjang tidur disana, dan tentunya ada Alex yang sedang tertidur. Dapat dia lihat wajah pria itu sedikit pucat, dan tubuh nya sedikit kurus. Elica berpikir sebenarnya sakit Alex kini?
Dia berjalan mendekat kearah Alex dengan langkah pelan, berharap sang empu tidak terbangun. Tanpa sadar Elica malah meletakkan tangan nya ke kening pria itu. Terasa sekali jika pria itu tengah demam. Dia jadi ingat saat dua Minggu yang lalu dirinya meninggalkan tempat ini, pria itu juga sedang sakit.
Tanpa di duga, Alex pun terbangun saat merasakan ada seseorang yang datang ke kamar nya. Alex pun langsung melebar kan mata nya saat melihat perempuan didepan nya adalah Elica. Tidak kalah terkejut, Elica pun langsung melepas tangannya di dahi Alex mengetahui pria itu juga terbangun.
Dengan cepat Alex langsung meraih lagi tangan Elica. Dia pun memposisikan tubuhnya untuk terbangun dari ranjang nya. Dan mereka pun berdiri saling berhadapan.
"Hey, kau datang? Kau kemana saja?" Tanya Alex menangkupkan kedua tangan pada pipi Elica.
Elica tidak membalas ucapan Alex, dia hanya menunduk kan kepalanya seperti tidak mampu menatap pria yang ada dihadapannya kini. Dengan cepat Alex menarik Elica ke pelukan nya, dia pun memposisikan kepalanya di celekuk leher Elica. Menghirup aroma tubuh Elica yang sangat dia rindukan dalam-dalam.
"Aku merindukan mu Elica, kau tau."
Setelah menguatkan hatinya, Elica pun melepaskan pelukan Alex dan menatap mata pria itu.
"Kau sakit?" Tanya Elica pelan.
"Ya aku sakit. Aku terlalu merindukan mu hingga tidak memikirkan diri ku" jawab Alex dengan senyum di bibirnya.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu Elica. Tetaplah disamping ku Jangan pergi lagi" ucapan Alex terdengar tulus dan memohon.
Bahkan dapat Elica dengar, jika itu adalah perkataan Alex yang paling tulus selama dia mengenal pria itu. Namun kenyataan kembali menyadarkan Elica dan mengingatkan nya tujuan ke tempat ini. Tentu saja untuk mengatakan perpisahan.
"Aku tidak bisa Alex. Karena aku akan pergi dengan Daddy"
"Kau akan meninggalkan aku lagi? Bahkan aku membiarkanmu untuk tinggal dengan ayah mu selama dua minggu ini Elica"
Ternyata dugaan Elica benar, meskipun Alex tidak menggangu nya pria itu selalu mengawasi Elica selama ini.
Dapat Elica lihat guratan wajah Alex yang terlihat sendu. Padahal pria itu selalu saja menampakkan wajah dingin dan kejam nya pada siapapun. Dan hari ini Elica melihat sisi Alex yang berbeda.
"Itulah alasan ku datang kemari Alex, aku ingin mengucapkan perpisahan untuk kita berdua"
"Tapi kau sedang mengandung anak ku Elica, kita bisa merawat nya bersama. Aku akan menikah dengan mu, kau harus tau jika aku dan ibu mu sudah resmi bercerai. Kita bisa memulai nya dari awal" tangan Alex menjalar ke pipi Elica dan mengelus nya lembut. Dapat Elica rasakan tangan hangat Alex di pipinya.
"Aku tidak bisa Alex. Aku harus pergi, untuk mengobati semua luka di hati ku. Aku minta maaf. Tapi percayalah, kau bisa menemui anak ini setelah dia lahir nanti dan aku janji akan mempertemukan kalian berdua. "
balas Elica sedang air mata nya yang sudah mengalir begitu saja. Dia tidak kuat lagi jika harus mengatakan perpisahan yang menyakitkan ini
Alex menggelengkan kepalanya pelan tanda dia tidak setuju dengan ucapan Elica.
"Tidak Elica. Demi tuhan aku tidak akan melepaskan mu" desis Alex keluar dari mulut nya, dan Matanya pun sudah berkaca-kaca. Entah kenapa mendengar tentang wanita yang dia cintai dan anak nya akan pergi membuat pria itu menjadi lemah.
"Alex ku mohon..."
"Kenapa aku harus melepaskan mu, aku sangat mencintai mu Elica. Aku mau memperbaiki semua nya. Tidak bisakah kau mengerti? Aku mencintai mu Elica, jangan menghukum ku sayang"
Ujar Alex dengan meninggikan suaranya. Dada nya bergemuruh oleh ledakan emosi yang dia tahan karena tidak ingin menyakiti Elica dan membuat wanita itu pergi.
"Aku tidak ingin sakit hati lagi oleh mu Alex, sudah cukup semua yang kita lakukan. Dan ini lah akhir nya, bukan hanya kau di hukum Alex, aku juga dan ibu ku juga. Kita sama-sama sedang mendapat hukuman saat ini, dan lebih baik jika kita tidak menyakiti orang lain lagi" ujar Elica pada Alex agar Alex tidak menyakiti orang yang tidak bersalah seperti Lei.
"Tapi kau menyakiti ku Elica" gumam Alex lirih dan air matanya pun keluar begitu saja.
"Maafkan aku Alex tapi aku haru pergi"
"Jangan katakan itu Elica. Kumohon"
"Aku mencintai mu Alex"
Ucap Elica dengan cepat, dapat dia lihat Alex pun sedikit tertegun mendengar hal itu.
"Ya aku tau. Dan aku juga sangat mencintai mu sayang"
Alex pun langsung menarik Elica dan menempelkan bibirnya nya pada bibir Elica. Ciuman yang terasa menyedihkan, karena kedua nya sama menangis.
Inikah rasanya mencintai seseorang tapi semesta tidak membiarkan mereka bersatu. Hanya hujan yang menjadi saksi bertapa pedih nya kisah mereka berdua. Cinta mereka tumbuh karena suatu kesalahan, seakan kebahagiaan enggan untuk hinggap pada keduanya.
Pada akhirnya penghianat tetep lah penghianat. Tidak ada kebahagiaan di akhir cinta mereka, karena karma sangat berlaku di dunia ini. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, karena keduanya sama-sama hancur atas perbuatan mereka sendiri.
************