Playing With Fire

Playing With Fire
HUKUMAN




Ruang kepala sekolah


"Kalian berdua, apa kalian tau apa yang kalian lakukan!" Teriak kepala sekolah kepada dua murid spesial yang duduk di depannya.


Diruangan sebesar itu, suara kepala sekolah masih menggema hingga keluar ruangan. Membuat semua murid berkerumun mengintip dari balik jendela melihat kedua murid dengan elemen spesial membuat masalah yang serius. Sean dan Dara hanya bisa diam menunduk di hadapan kepala sekolah.


"Masih baik tidak ada korban jiwa atas kejadian ini. Walaupun begitu karena telah membuat kerusuhan yang sangat serius, kalian akan dihukum." Ucap kepsek menegur keras Dara dan Sean.


"Kami akan menerima hukumannya pak." Ucap Sean dengan begitu mudahnya, dia seperti tidak merasa keberatan.


"Hukuman? Kenapa aku juga ikut? Pak biar kujelaskan, mungkin anda sedikit salah paham. Aku tidak ikut ikutan dalam perkelahian itu, aku hanya mencoba menurunkan hujan untuk melerai para pengguna elemen api. Apa aku salah?" Ucap Dara menentang.


"Terkadang diam adalah cara yang bagus untuk menyelesaikan masalah." Ucap kepsek.


"Jadi aku harus diam saja melihat api dimana mana?! Sedangkan aku berpikir bahwa aku bisa menyelesaikan masalah itu?! Setidaknya aku berusaha membantu dengan menurunkan hujan biasa." Tegas Dara menatap kepsek dengan alis bengkoknya.


"Hujan biasa? Kau menurunkan hujan badai! Kupikir langit akan runtuh tadi." Ucap kepsek kesal.


"Hujan badai?" Ucap Dara ternganga.


'Hujan badai? Baru kali ini aku mendengar ada seseorang yang bisa menurunkan hujan. Tapi aku sudah menduganya kalau Dara punya elemen spesial sama sepertiku, pertemuan pertama kami pun terasa sangat aneh.' Batin Sean.


"Kalian berdua ini elemen spesial dan belum bisa menguasainya. Kenapa kalian ceroboh sekali?! Kalian pikir kekuatan yang kalian miliki digunakan untuk hal seperti ini?"


"Maafkan kami pak, hal ini tidak akan terjadi lagi." Jawab Sean.


'Benar, akan lebih baik jika aku menerima keputusan kepsek dengan lapang dada. Jika diperpanjang masalah ini akan rumit.' batin Sean.


"Dara, diamlah. Kau harus menerima hukumannya" Ucap Sean pada Dara disampingnya


"Tapi.."


'Kenapa dia ini sangat menurut, dia bisa saja membela diri karena kepintarannya, apa lagi menurutku Sean tidak salah karena senior itu yang memulai duluan. Apa dia sedang mencoba bertindak sok dewasa? Seperti "aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan" begitu?' Batin Dara.


"Apapun alasannya tindakan kalian tetap tidak bisa dibenarkan, kau telah melanggar aturan sekolah ini karena mengeluarkan kekuatan elemenmu tanpa ijin." Ucap Kepsek.


"Tidak bisa dipercaya. Lalu bagaimana dengan ketujuh senior itu? Mereka yang memulai duluan, kenapa mereka tidak dihukum?" Tanya Dara lagi.


"Mereka langsung dikeluarkan dari sekolah ini saat kalian tidak sadarkan diri." Jawab Kepsek.


"Dikeluarkan? Hari ini juga? Bukan main." Ucap Dara terkejut.


"Hukuman kalian adalah membereskan kerusakan yang kalian sebabkan di halaman belakang. Bereskan sepulang sekolah nanti."


"Hanya itu saja pak?" Tanya Dara yang merasa hukumannya sangat ringan dari para senior yang dikeluarkan dari sekolah.


"Ah.. Kupikir membersihkannya butuh waktu yang lama. Berkerjasamalah kalian berdua." Ucap Kepsek dan meninggalkan Dara dan Sean di ruangan sidang.


Setelah pergi dari ruang kepala sekolah mereka disuruh untuk pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Tapi Sean malah berjalan ke arah halaman belakang sekolah dan Dara membuntuti di belakangnya.


'Kenapa dia berjalan ke sini?' Batin Dara.


#Halaman belakang setelah kerusuhan


"WAH! TEMPAT APA INI? APA DISINI HABIS DILANDA BENCANA?" Teriak Dara melihat bekas fenomena alam yang sangat kacau di depannya.


"Kupikir butuh waktu seminggu untuk membereskan kekacauan ini" Ucap Sean menunjukkan reaksinya yang biasa.


"Seminggu?! Itu terlalu lama." Rengek Dara.


Sean menatap Dara. Sepertinya banyak pertanyaan di pikiran Sean yang ingin dia sampaikan, tapi sangking banyaknya Sean hanya diam dan hanya menatap Dara. Tapi dengan tatapan Sean itu Dara langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang ingin Sean katakan.


"Kau sangat pandai menahan diri. Kenapa kau tidak bisa meluapkan saja isi pikiranmu." Ucap Dara menatap Sean yang dari tadi meliriknya.


"Apa?"


"Tatapanmu padaku berisik sekali, kau pasti punya banyak sekali pertanyaan." Ucap Dara.


'Gadis ini peka sekali. Lebih baik tidak kukatakan apa yang ingin kutanyakan. Aku takut akan emosi jika bicara dengannya.' Batin Sean.


"Tidak ada yang ingin aku katakan."


"Kau menahan diri lagi, apa kau mencoba mengontrol emosimu? Karena jika kau bertindak sesukamu hal seperti tadi akan terjadi lagi?"


"Apa kau peramal?"


"Kau sangat mudah ditebak walau tidak mengatakan apapun. Pertama saat di ruang kepsek kau tidak membela diri padahal kau tidak salah, kedua kau memilih untuk tidak berbicara untuk hal yang bisa memicu emosi, ketiga saat senior senior itu menyeranhmu dengan kekuatan apinya, kau hanya diam dan menghindar walaupun pada akhirnya kau menjadi tidak terkendali. Apa aku benar?" Ujar Dara mengatakannya dengan yakin.


"Menakjubkan sekali, kau tau hanya dengan melihat. Karena sudah tau hal itu, jangan bicara padaku lagi. Setiap melihatmu aku ingin sekali mengamuk. Aku pergi."


"Sial, dia suka sekali terlihat jahat. Sean tunggu!"


Ruang kelas


Pelajaran sudah dimulai dari tadi tapi Sean dan Dara baru saja masuk karena masalah yang mereka lakukan tadi. Mereka langsung duduk di kursi masing masing.


"Kau belum pindah dari sini rupanya." Ucap Sean melihat Dara yang masih duduk di bangku sebelahnya.


"Aku akan pindah jika kau menang di pertarungan tadi. Tapi lihat sekarang, tidak ada yang menang dan kita malah terkena masalah. Jadi aku akan duduk disini."


"HYA!" Teriak Sean. Tidak sadar semua murid dan guru langsung menatap mereka berdua yang ada di belakang, Dara meringis kecil melihat Sean dilihati banyak orang.


"Kenapa bangku belakang berisik sekali?" Tanya guru yang mengajar.


"Maaf bu, bisakah aku merekomendasikan kalau Dara harus pindah ke bangku lain? Kurasa kita tidak cocok"


"Kalian tidak cocok? Kenapa begitu?" Tanya guru.


'Aish, tidak mungkin aku bilang kalau gadis ini menyebalkan dan aku tidak menyukainya. Aku harus memikirkan sesuatu.' Batin Sean.


"AH!" Sean mengingat sesuatu dan segera menggengam tangan Dara. Dia memikirkan kejadian yang tidak normal saat pertama bertemu.


"Hya, kenapa kau memegang tanganku?" Dara kaget saat tangannya digenggam secara tiba tiba oleh Sean.


"Saat kami bersentuhan, akan keluar asap dari sentuhan itu bu. Mungkin karena kita berdua punya elemen spesial yang berlawanan. Kupikir berbahaya kalau kita duduk bersama." Ucap Sean sambil menunjukan tangan mereka yang berasap saat bersentuhan.


"Hahahaha... itu adalah hal normal yang terjadi saat elemen spesial bertemu. Saat sudah terbiasa bersentuhan tangan kalian tidak akan berasap lagi. Jadi duduk baik baik di sana sambil terus bergandengan. Jika terus berisik ku hukum kalian keliling sekolah sambil bergandengan mengerti?" Ucap Guru itu dengan senyum pychonya.


"Sudah puas? Kau senang kita disuruh bergandengan?" Ucap Dara mengeluarkan tatapan membunuhnya.