
Banyak orang yang bilang, usia 20 tahun adalah masa indah seorang perempuan. Dimana seseorang memiliki suatu kebebasan yang dia mau. Berkencan dengan kekasih yang dicinta, bersenang-senang dengan teman-teman seusia, dan pekerjaan yang diinginkan tercapai.
Sungguh hal itu terasa jauh bagi Elica. Dimana saat ini dia malah memiliki berbagai masalah dalam hidup nya, dan tepat saat dia berusia 20 tahun. Orang tua yang bercerai, ibu nya yang menikah lagi, tentang dia dan ayah tiri nya, dan kehamilan nya yang tak terduga. Gadis yang dulu sangat bersemangat dan ceria kini berubah menjadi gadis dingin dan lemah. Kehidupan indah yang dia miliki, hancur dalam sekejap mata.
***
"Permisi tuan, ada James" ucap sekretaris Alex yang masuk ke ruangan nya.
"Suruh dia masuk"
"Baik tuan"
Tidak lama datanglah seorang pria bertubuh tinggi kekar, dengan wajah tajam nya.
"Ada kabar apa?" Tanya Alex tanpa basa-basi. Pria yang kini ada di hadapan Alex terlihat menghela nafas pelan.
"Maaf tuan, saya kehilangan jejak nona Elica. Dia berhasil pergi"
Benar, pria itu adalah orang yang selama ini Alex perintah kan untuk mengawasi Elica dimana pun wanita itu berada.
Mendengar hal itu, Alex hanya diam menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini alasan mu tidak memberitahu ku lewat telepon?" Ucap Alex pada James.
"Anda bisa memukul saya, jika itu bisa membuat anda memberikan saya kesempatan untuk menemukan nona, tuan" ucap James dengan wajah yang menundukkan.
"Cari sampai ketemu. Hari ini juga harus dapat, dan bawa dia didepan ku. Jika dia tidak mau, aku mengizinkan mu menyeretnya dengan paksa" desis Alex terdengar tajam.
"Baik tuan"
Alex sudah sangat bersabar menghadapi sikap Elica akhir-akhir ini. Tapi nyata nya wanita itu terus saja menyulut amarahnya. Jadi kali ini mungkin Alex akan menggunakan cara kasar jika dia sampai menemukan Elica kembali
***
Ditempat lain, Elica sudah berada didalam sebuah kereta. Dia akan menuju kesuatu tempat yang tak lain adalah tempat tinggal nya sementara sebelum dia ke Seattle.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya Elica pun sampai di kota Tacoma. Dia melanjutkan perjalanan menggunakan taksi untuk menuju ke rumah keluarga Bryan yang tinggal disini.
Keluarga Bryan sudah sangat baik karena mau membantu nya jika tanpa mereka, Elica tidak tau lagi akan meminta bantuan pada siapa.
Di Tacoma, kemungkinan Elica akan tinggal untuk beberapa hari. Karena Bryan bilang, hal tersebut membuat Alex tidak bisa melacak nya. Bahkan Elica sudah mengganti nomor telepon nya sebelum pergi. Karena semuanya dia atur sangat matang.
Tingg....
Elica terlihat memencet bel rumah seseorang yang tertutup rapat. Tidak lama, pintu pun terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik .
"Halo selamat sore. Saya Elica teman Bryan, apa benar ini kediaman Isabella?"
Ucap Elica dengan sopan.
"Aku sendiri orangnya. Silahkan masuk" jawab wanita itu tersenyum dan mempersilahkan Elica masuk.
"Terimakasih.."
Mereka berdua pun masuk ke rumah itu. Saat masuk Elica dapat melihat dekorasi feminim dari wanita yang sedang berbicara di telepon itu. Bryan bilang Isabella adalah anak dari paman nya yang tinggal sendiri disini. Jadi Bryan juga yang menyarankan agar Elica untuk tinggal sementara waktu.
"Elica kamar mu sudah aku siapkan. Kau bisa langsung istirahat setelah ini"
"Terimakasih Isabella.." balas Elica
"No no no, Just Bella. Kau teman Bryan jadi kau juga teman ku saat ini."
"Yeah, tentu"
"Ada sedikit yang ingin ku beritahu pada mu. Aku bekerja di bar, jadi kadang aku pulang larut pagi, tapi aku punya kunci cadangan. Jadi kita bisa membawa nya satu-satu. Dan aku tidak bisa memasak, jadi kau bisa makan di luar Elica.."
"Oke tidak masalah.."
"Dan aku sering membawa pacar ku pulang. Jadi.. jangan terkejut jika pagi hari kau melihat seorang pria disini" ucap Bella dibarengi senyuman kaku nya.
Sejenak Elica terlihat terkejut mendengar itu, namun dengan cepat dia langsung menormalkan ekspresi wajahnya.
Membawa pria pulang? Tentu saja bukan masalah besar. Jika pun Elica keberatan dengan hal itu, tapi ini kan rumah Bella.
"Yah, tentu saja aku akan mengingat nya. Hal normal yang semua orang lakukan" jawab Elica.
"Aku tau kau perempuan yang menyenangkan Elica. Kita akan akrab dengan cepat kedepannya. Ayo ku antar kau ke kamar mu" ujar Bella dengan senang. Dan Elica pun hanya mengangguk mengiyakan saja.
Bella adalah perempuan yang apa adanya, bisa dikatakan apa yang dia lihat itulah yang akan dia ucapkan. Berbeda sekali dengan Bryan yang pembawaan nya tenang dan menyenangkan. Pikir Elica.
***
Malam hari.
"Kau tidak bekerja, Bella?" Tanya Elica yang melihat Bella sedang duduk memainkan ponsel di sofa.
"Oh kau sudah bangun Elica. Hari ini aku jadwal ku libur"
"Ah begitu. Kau sudah makan?" Tanya Elica.
"Belum. Tapi kau tenang saja, kekasih ku akan kesini membawa makanan untuk kita"
"Oke." Elica pun pergi kearah dapur untuk mengambil minuman, terdengar jika ada seseorang yang datang. Dan pastinya itu adalah kekasih Bella, pikir Elica.
Elica pun berjalan kearah depan untuk melihat kekasih Bella itu.
"Elica..." Ujar pria itu setelah melihat kedatangan Elica.
"Devan?"
Sahut Elica dengan terkejut. Benarkah seseorang yang dia lihat adalah Devan, pria yang dulu menyatakan cinta pada Elica.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Bella yang bingung.
"Iya, dia teman ku dulu saat kuliah" jawab Elica seadanya.
Mereka bertiga pun akhirnya memilih untuk duduk dan memakan makanan yang tadi dibawakan oleh Devan.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin Elica tanyakan pada pria itu, karena sedari tadi Elica melihat gelagat Devan seperti orang yang salah tingkah. Namun Elica mengurungkan niat nya karena dia tidak enak hati pada Bella. Dia khawatir Bella justru berpikir buruk tentang nya, jika mengetahui hubungan Devan dulu dengan nya.
"Kenapa Elica ada disini?" Tanya Devan pada Bella yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Oh, dia sementara tinggal disini." Jawab Bella.
"Yah aku akan menumpang untuk beberapa hari minggu disini" tambah Elica yang juga ada disana.
"Kenapa kau tidak melanjutkan kuliah mu Elica?"
"Ada masalah pribadi yang harus aku urus Devan"
"Oh begitu"
Elica pun menghentikan aktivitas makan nya sejenak lalu menatap kedua pasangan yang sedang duduk dihadapan itu. "Ngomong-ngomong, berapa lama kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" Tanya Elica tiba-tiba.
"Kurang lebih satu tahun. Aku mengenal Devan saat dia datang ke Bar, dan dari sana kita saling berhubungan" Jawab Bella tanpa ragu.
Mengetahui hal itu Elica pun berdecih dalam hati nya. Semua pria memang sama saja. Mengingat dulu saat Devan selalu mengejarnya, hanya bertaut beberapa bulan saja. Dan yang jelas Devan sudah berhubungan dengan Bella saat dia juga mengejar Elica di kampus.
Devan yang sudah tidak nyaman dengan pembicaraan itu akhirnya izin untuk pergi ke kamar mandi.
"Sepertinya kalian punya hubungan Elica? Apa benar?" Tanya Bella
"Tidak ada" ujar Elica tenang, karena bagi nya Devan bukanlah sesuatu yang penting.
***
Di Mansion Alex terlihat sangat kacau. Pria itu membanting semua barang-barang berharga dengan amarah nya. Hari sudah malam namun dia mendapatkan laporan dari bawahan nya, jika mereka belum berhasil menemukan keberadaan Elica.
Bahkan saat Alex mencoba melacak ponsel milik Elica pun tidak berhasil.
"Sialan. Awas kau Elica, arggggg" teriak Alex dengan lantang dan pria itu pun mengambil sebuah guci antik lalu di banting begitu saja.
Alex pun mengambil ponsel nya yang ada di atas meja kerja nya. Dia menatap layar ponsel itu dengan mata nya yang menyalang.
Dia pun menghubungi seseorang yang telah lama menjadi kepercayaan nya. Orang itu bahkan tidak diketahui oleh bawahan Alex yang lain, karena biasanya Alex menggunakan jasa pria tersebut saat keadaan sangatlah mendesak. Dan menurut Alex, saat ini keadaan nya tengah terdesak dan harus mendapatkan Elica secepatnya.
"Aku punya tugas untuk mu. Cari tahu informasi tentang keberadaan wanita bernama Elica. Aku akan mengirim data nya kepada mu, dan secepatnya bawa dia kehadapan ku"
Setelah mengatakan hal itu, Alex langsung memutuskan panggilan tersebut. Pikiran nya sangat kacau saat ini. Bahkan dia merasa belum merasakan kemarahan seperti ini sebelumnya, bukan karena tentang Elica saja yang berhasil membuat amarah nya naik. Namun ini juga menyangkut tentang kandungan Elica yang tak lain adalah anak Alex sendiri.
Dan Alex tidak akan membiarkan Elica membawa kabur anak nya begitu saja.
TBC.
Vote Like dan tinggalkan komentar...