Playing With Fire

Playing With Fire
Part 34



Setelah pertengkaran itu akhirnya Alex berhasil membawa Elica kembali dengannya. Keduanya kini berada di dalam mobil dan tidak ada satu pun yang membuka suara.


Elica memilih diam karena marah dengan Alex yang membawa nya paksa, sedangkan Alex diam karena tidak ingin memulai lagi pertengkaran dengan Elica.


Dua orang yang memiliki ego sama besar, membuat hubungan Alex dan Elica bagai tiada ujungnya. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang bersedia mengalah dengan prinsip yang mereka pegang.


Mobil yang ditumpangi Alex dan Elica pun sampai di sebuah rumah besar. Bagian depan nya terlihat luas namun suasana asri masih melekat di halaman rumah tersebut. Keduanya pun turun dari mobil dan berjalan kedalam rumah.


Sesampainya didalam, seorang wanita tua berusia sekitar 50 tahunan menyapa Alex dan Elica dengan sopan.


"Selamat datang tuan muda, saya tidak menduga anda akan pulang ke rumah besar" ujar wanita tua itu.


"Ya. Kedepannya aku akan sering kemari. Dan ini Elica, dia akan tinggal disini sampai beberapa bulan kedepan sampai dia melahirkan anak ku. Dan untuk mu Elica, kenalkan dia bibi Christin. Dia pelayan yang sudah lama disini." kata Alex dan dibalas anggukan oleh Elica.


"Halo nona Elica senang bertemu dengan anda. Jika butuh sesuatu nona bisa memanggil saya" ujar Bibi Christin dengan lembut. Elica pun tersenyum mendengar nya.


"Tidak perlu. Posisi Elica sama dengan mu bibi Christin. Tidak perlu membantunya, karena dia juga yang akan membersihkan rumah ini" ucap Alex dingin.


Seketika senyuman Elica sirna saat Alex mengatakan hal tersebut. Yang artinya jika Elica akan menjadi pelayan rumah ini. Namun Elica tak keberatan sama sekali dengan hal demikian, karena bagi nya Alex melakukan ini sengaja pada nya.


Sedangkan Bibi Christin terkejut mengetahui hal tersebut. Tetapi wanita paruh baya itu tidak berani menanyakan hal tersebut.


"Panggil saja saya Elica bi. Dan Alex benar bi, saya hanya menumpang tinggal disini sampai melahirkan. Jadi saya butuh bantuan bibi juga untuk membantu saya mengurus rumah ini" ujar Elica lembut. Bibi Christin pun mengangguk mengiyakan.


Dan Alex hanya memasang wajah datarnya saat mendengar ucapan Elica.


"Antar dia ke kamar tamu" ucap Alex pada bibi Christin.


"Baik tuan. Mari Elica ikuti bibi"


"Baik bi"


Elica dan bibi Christin pun meninggalkan Alex ruang tamu menuju ke kamar tamu.


Tanpa Elica sadari, Alex tak luput memperhatikan setiap gerak gerik nya. Terlihat juga senyuman tipis dari bibir Alex karena berhasil membawa Elica dengan nya.


Di kamar tamu bibi Christin mempersilahkan Elica untuk beristirahat. Mengingat jika Elica tengah hamil muda, menjadi kan bibi Christin begitu baik memperlakukan Elica.


"Kamar nya sudah ku bersihkan kemarin Elica. Jadi kau bisa langsung istirahat terlebih dahulu."


"Baik bi terima kasih" balas Elica


Bibi Christin pun keluar dari kamar tersebut meninggalkan Elica seorang.


Setelah nya Elica hanya bisa menghela nafas nya pelan sambil duduk di pinggiran ranjang. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan kamar tersebut.


Karena bagi nya untuk ukuran kamar tamu, ruangan ini sangat besar. Bisa di bayangkan jika mendiang orang tua Alex dulu orang yang sangat kaya raya.


Namun memikirkan hal itu justru memberikan Elica teringat lagi pada kenyataan, jika harta Alex lah yang dulu membuat Ibu nya lebih memilih meninggalkan ayah dan dirinya.


***


Malam hari..


Elica terbangun karena mendengar suara ketukan pintu dari luar. Dia pun beranjak dari ranjang nya untuk membukakan pintu, dan bibi Christin lah orang yang melakukan. Dengan mata yang masih mengantuk Elica mencoba mengumpulkan semua nyawanya setelah tertidur sejak sore hari.


"Ada apa bi?" Tanya Elica dengan suara serak nya.


"Maaf mengganggu tidur mu Elica. Tapi tuan muda Alex sudah menunggu mu di meja makan untuk makan malam"


"Baiklah. Aku akan mencuci wajah ku dulu setelah itu aku akan turun"


Bibi Christin pun mengangguk mengerti ucapan Elica kemudian dia pergi.


Setelah 10 menit kemudian Elica menghampiri meja makan yang sudah terdapat Alex yang sedang duduk di sana.


"Aku terlambat makan malam karena menunggu mu" ujar Alex


"Kau bisa makan terlebih dahulu, aku juga tidak memintamu menunggu ku" jawab Elica ketus.


"Duduk lah kita makan bersama."


"Kau bersedia makan dengan ku? Bukankah aku seorang pelayan juga disini"


"Itu besok. Tapi pengecualian untuk hari ini" ujar Alex dengan menyuapkan makanan ke mulutnya nya.


"Konyol sekali"


Keduanya nya pun mulai makan makan dengan hening. Hanya terdengar dentingan piring dan sendok saja. Elica memakan makanan nya dengan pelan karena sebenarnya dia tidak terlalu lapar. Sedangkan Alex sedari tadi menatap Elica dengan diam, meskipun Elica tau hal itu namun dia mulai sedikit risih. Karena Alex tak lepas menatap nya.


"Jadi ada yang ingin kau katakan Tuan muda Alex. Ku lihat sedari tadi kau terus menatap ku?" Kata Elica yang mulai kesal. Namun Alex membalas nya dengan senyuman seringai.


"Kau terlalu percaya diri Elica. Apakah menatap seseorang itu suatu kejahatan?" Tanya Alex balik pada Elica.


"Tidak.Tapi kau membuat ku tidak nyaman" ucapan Elica tersebut justru membuat Alex tertawa pelan.


"Apa jika aku membawa mu ke ranjang, itu bisa membuat mu nyaman?" Goda Alex


"Otak mu lucu sekali, tuan muda Alex. Aku jadi ingin mengeluarkan nya lalu mencuci nya. Hingga pikiran mesum mu itu bisa hilang"


Kini Alex malah tertawa lebih keras. Karena bagi nya perkataan Elica hiburan bagi nya. Apalagi melihat wanita itu terlihat kesal, bagi Alex wajah nya semakin cantik. Meskipun sekarang pipi Elica sedikit chubby karena kehamilan nya. Namun Alex justru menyukai nya.


"Jangan munafik Elica, bahkan kau selalu mendesah memanggil nama ku saat kita sedang bercinta. Kau ingat?


Dan jangan lupa, kau juga sedang mengandung benih ku di rahim mu" ledek Alex.


"Brengsek. Bisakah kau diam"


Alex membalas nya dengan mengedikkan bahunya.


Kedua nya pun kembali diam. Dan wajah Elica terlihat memerah karena mulai Kesal. Baginya setiap kali berdebat dengan Alex adalah hal yang paling menguras emosinya.


"Kau lanjutkan makan mu, aku akan pergi dulu mengangkat telepon nya" ujar Alex namun Elica tak menjawab nya.


Pria itu pun benar-benar pergi menuju ke kamar nya yang berada di lantai atas. Sedangkan Elica tak menghiraukan perubahan yang terlihat pada wajah Alex dan memilih melanjutkan makannya.


****


Keesokan harinya Elica sudah terlihat lebih segar setelah mandi pagi. Dia berniat ingin membantu bibi Christin untuk membuat sarapan. Dia pun berjalan menuju ke arah dapur. Dan benar saja, orang yang Elica cari tengah sibuk memotong sayuran.


"Selamat pagi bibi" sapa Elica


"Oh ya selamat pagi juga Elica, tunggu sebentar ya sarapan nya belum siap" balas bibi Christin


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku kesini ingin membantu mu memasak. Boleh kan?" Tanya Elica.


"Tentu saja. Tapi sarapan mu hari ini akan sendiri saja Elica. Karena tuan muda sudah berangkat ke New York  pagi-pagi sekali"


"Ah begitu. Sudahlah bi, lebih baik jika dia tidak ada. Ngomong-ngomong, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Elica sambil mengaduk sup yang berada diatas kompor.


"Tentu Boleh Elica. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa bibi sudah lama bekerja di rumah ini?"


Kemudian bibi Christin pun terlihat berpikir mengingat berapa tahun dia sudah disini.


"Kalai tidak salah semenjak tuan muda berusia 2 tahun, aku dan suami ku bekerja disini"


"Jadi suami bibi juga ada disini?"


"Iya Elica. Suami ku bernama Johan, tapi kau bisa memanggil nya paman Jo. Dia bekerja sebagai supir dari mendiang ayah tuan muda masih hidup"


"Ternyata lama sekali. Apakah bibi ingat, dulu Alex memang memiliki sifat tempramental?" Tanya Elica berhati-hati pada bibi Christin. Karena tujuannya adalah mencari tahu masa lalu Alex.


Tanpa disangka justru bibi Christin tersenyum dengan lembut dan mata nya sedikit berkaca-kaca. Membuat Elica sedikit bingung karena hal itu.


"Dulu.. saat kecil Alex adalah anak yang ramah dan ceria. Tapi saat dia mulai masuk sekolah dasar, ayah nya selalu mendidik Alex dengan keras. Hingga menimbulkan pertengkaran antara ayah dan ibu nya yang ingin melindungi Alex. Namun seiring berjalannya waktu, mendiang ayah Alex mulai membawa wanita yang berbeda-beda ke rumah ini setiap hari. Hingga nyonya pun memilih bunuh diri dan membuat Alex sangat terpukul. Alex tumbuh dengan kebencian dan kurang kasih sayang, hingga ayah nya meninggal pun dia memilih tidak datang ke pemakaman terakhirnya karena kebencian itu." Tanpa terasa air mata bibi Christin mengalir begitu saja.


"Lalu apa yang terjadi setelah nya?" Seru Elica pelan karena mulai terbawa suasana.


"Semua peninggalan milik orang tua nya jatuh ke tangan Alex. Membuat setiap wanita berlomba-lomba mendapatkan perhatian nya. Namun mereka hanya mengincar harta Alex saja bukan mencintai dengan tulus. Hingga beberapa tahun yang lalu Alex berhubungan dengan seorang wanita. Perlahan sikap nya mulai lembut namun tanpa di duga wanita itu lebih memilih menikah dengan pria lain. Malah membuat sifat Alex bertambah parah. Dan terakhir kali aku mendengar jika dia sudah menikah dengan seorang wanita yang umurnya terpaut jauh dengan nya. Demi tuhan, jika ada seorang wanita yang bisa merubah Alex seperti dulu siapapun dia aku akan sangat mendukung nya, aku berharap Alex bisa mendapatkan kebahagiaan nya kembali. Karena dia sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri."


Elica terharu mendengar penuturan bibi Christin tentang masa lalu Alex itu. Dari sini Elica bisa simpulkan jika Alex adalah seorang pria yang memiliki banyak rahasia. Dibalik masa lalu nya yang sangat rumit, pantas saja pria itu melampiaskan perasaan nya kepada ibu Elica. Bahkan Alex tidak memikirkan masalah kedepannya, Karena pada dasarnya pria itu kurang kasih sayang dari sang ibu yang telah tiada dari dia kecil.


Elica terlihat melamun memikirkan apa yang telah di ungkapkan oleh bibi Christin.


"Elica, duduklah saja di ruang makan. Biar bibi saja yang menyelesaikan masakannya" ucap bibi Christin menyadarkan Elica.


"Oh maaf bibi. Aku malah tidak fokus membantu mu."


"Tak apa. Lagi pula sebentar lagi ini selesai. Kau tunggu saja di meja makan yah"


"Baiklah bibi. Terimakasih dan maaf merepotkan mu" cengir Elica memperlihatkan gigi putih nya. Kemudian dia pun pergi meninggalkan dapur.


***


Di lain tempat, Alex sudah sampai di New York pada Siang hari tadi. Sebenarnya hari ini adalah hari libur nya, namun tuan Andrew terus menerus menelpon nya agar Alex datang ke acara ulang tahun Bianca, putri dari tuan Andrew. Dan malam ini Alex benar-benar datang ke sebuah pesta yang diadakan oleh Bianca itu.


Terlihat banyak tamu yang menyapa Alex dengan ramah, mengingat Alex termasuk pengusaha muda yang sangat di segani banyak kalangan.


Akhirnya Alex pun bertemu dengan sang pemilik pesta.


"Selamat malam" sapa Alex menghampiri tuan Andrew yang sedang berbincang dengan para tamu.


"Alex, kau datang. Terimakasih sudah bersedia kemari." Balas tuan Andrew dengan senang.


"Tidak masalah" jawab Alex singkat.


"Ayo ikut dengan ku. Acara nya akan di mulai, sebentar lagi Bianca akan meniup lilin" ajak tuan Andrew.


Dan benar saja, tak lama acara pun di mulai. Setelah nya para tamu di persilahkan untuk makan malam di meja yang telah di sediakan.


Tuan Andrew mengajak Alex makan malam bersama nya satu meja dengan Bianca juga. Ketiga orang itu pun terlihat berbincang di temani dengan steak daging dan wine.


"Alex, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan" ujar tuan Andrew


"Silahkan" jawab Alex singkat.


"Bianca bilang, dia ingin belajar tentang bisnis di sini. Namun lusa aku sudah harus berangkat ke Amsterdam. Jadi apakah bisa aku menitipkan Bianca disini selama aku tidak ada?" Tanya tuan Andrew


"Ayah..." Sahut Bianca malu-malu.


"Kenapa saya tuan Andrew? Bukankah anda juga memiliki perusahaan disini?"


"Benar Alex. Namun aku belum siap turun tangan sendiri memimpin perusahaan ayah" kini Bianca pun membuka suara. Namun Alex tidak langsung menjawab nya hanya membalas dengan senyuman tipis.


Alex mengambil gelas wine yang berada diatas meja kemudian menyesap nya pelan. Setelah nya dia pun meletakkan kembali gelas tersebut ke tempat semula.


Sebenarnya Alex tau maksud dari rencana tuan Andrew dan anak nya. Karena sejak dulu Bianca memang sudah terlihat tertarik dengan nya. Dan mendengar hal itu Alex justru senang, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan mainan baru nya.


"Bagaimana Alex? Bolehkah Bianca ikut dengan mu? Di sini dia tidak memiliki siapa pun. Kau tau sendiri kan jika dia lama hidup di Amsterdam. Aku hanya mempercayai mu untuk menitipkan Bianca, Alex" ucap tuan Andrew meyakinkan Alex.


"Baiklah. Dia boleh ikut dengan ku." Jawab Alex


Tuan Andrew dan Bianca pun tersenyum senang mendengar nya.


"Terimakasih Alex" kata Bianca dan dibalas anggukan kepala oleh Alex, kemudian dia pun melanjutkan meminum wine nya kembali dengan seringainya.


TBC.


Maaf ya terlambat update. Rencana nya untuk menyambut tahun baru akan Double update deh buat temenin kalian. Ditunggu yah...