
Kau datang tanpa di duga, kemudian kau pergi dengan semua kenangan yang sengaja kau tinggalkan.
Salahku karena memperlakukan mu dengan logika, hingga aku lupa jika kau pun memiliki rasa.
Sesuatu yang sering kau ucap dan sesuatu yang sering ku dengar, yaitu "pria bajingan". Yah.. itulah aku sayang. Aku rindu dengan suara mu. Aku rindu dengan tangisan dan senyum mu. Bahkan aku rindu cacian mu.
Kembalilah dengan perasaan yang dulu pernah kau ungkapkan. Buah hati kita menunggu mu dengan lengkingan tangis nya setiap malam. Dia merindukan pelukan mu, dan menunggu mu pulang. Biarkan aku menata kembali hati mu yang sudah hancur, karena kau lah wanita ku.
Kembali lah, Elica. Aku mencintai mu.
***
"Kau belum tidur?" Tanya seorang wanita yang tidak lain ialah Irene.
Dia melihat Alex yang sedang menenggak wine ditangan nya saat kedua berada di ruang makan. Pria itu pun menoleh mendapati sang Tante menghampiri nya.
Wanita itu rupanya ikut juga menuangkan wine ke gelas yang diambil nya tadi, kemudian meminum nya.
"Belum ada kabar apapun tentang dia?" Kata Irene membuka pembicaraan. Dan dia balas gelelengan kepala oleh Alex.
"Lalu bagaimana dengan Bianca? Kau sudah menemukan keberadaan nya?"
"Tante akan mendengar berita kematian nya beberapa hari lagi" ujar Alex dingin
Irene terlihat menghela nafas nya gusar setelah Alex mengatakan hal itu. Menurut Irene, Bianca memang bersalah. Namun hukuman yang akan Alex berikan sangat lah tidak berperikemanusiaan, setidaknya wanita itu juga berhak hidup.
"Jangan melakukan nya Alex. Bagaimana pun juga, melenyapkan nyawa seseorang adalah kejahatan."
"Dia juga hampir membunuh Elica dan anak ku" ucap Alex terdengar dingin.
"Tapi kenyataannya mereka berdua selamat, dan Tante rasa itu sebuah ketidaksengajaan. Jangan lakukan hal itu, oke"
"Aku tidak ingin membahas wanita itu lagi" jawab Alex kemudian beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Irene.
Dapat Irene rasakan perubahan Alex yang sangat drastis. Setelah kepergian Elica, Alex terkadang terlihat merenung dan melamun. Bukan karena apa, tetapi biasanya Alex bisa menemukan keberadaan seseorang hanya dalam hitungan jam. Namun saat ini sudah terhitung satu Minggu belum ada petunjuk apapun mengenai keberadaan Elica. Wanita itu seperti ditelan bumi, pergi dengan sangat rapi dan terencana. Entah siapa orang yang berhasil membantu Elica kabur saat di rumah sakit. Irene hanya berharap Elica bisa kembali dan membuka hatinya lagi untuk keponakannya itu.
Di lain tempat, rupanya Alex menghampiri anak nya yang sedang tertidur. Wajah nya begitu tenang dan cantik seperti Elica. Alex pun memposisikan tubuhnya tertidur di samping bayi mungil itu. Entahlah, sudah satu Minggu tetapi Alex belum mengetahui keberadaan Elica saat ini.
Padahal segala cara dia lakukan, tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan Irene pun juga ikut menugaskan bawahan nya untuk mencari Elica. Tapi apa boleh buat, seperti nya takdir belum mau mempertemukan keduanya.
***
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Alex.
"Masuk" sahut Alex mengizinkan seseorang masuk.
Dan tidak lama terlihat lah pria misterius dengan pakaian hitam yang selalu mengenakan topi.
Pria itu berjalan kearah Alex kemudian berdiri di hadapannya membawa sebuah amplop coklat yang di pegang tangan nya.
"Ada informasi apa?" Ucap Alex tanpa basa-basi.
Pria itu pun menyodorkan amplop tersebut pada Alex untuk di lihat isi didalamnya.
Alex membaca nya dengan teliti, guratan bingung dan amarahnya terpancar kala mengetahui hal yang tertulis di surat tersebut.
"Nona Elica seperti nya sudah mempersiapkan semuanya sebelum pergi Tuan. Besar kemungkinan jika Nona telah mengubah nama dan identitasnya setelah surat kematian itu keluar" ucap pria itu menjelaskan.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Maaf Tuan, saya belum berhasil menemukan nona. Karena kendala hal tersebut, bisa jadi nona sudah mengganti nama nya dan pergi ke luar negeri"
Mendengar hal itu Alex pun mengeratkan rahangnya marah, kemudian meremas kertas yang ada di tangan dengan sekali genggaman. Tanpa di sangka, dia langsung melemparkan nya ke wajah si pria misterius itu.
"Jika belum tau keberadaan nya, kenapa kau kemari Sialan. Sudah berapa kali aku katakan, jika belum mendapatkan hasil jangan berani-berani menemui ku. Aku tidak butuh informasi tidak berguna seperti ini. Aku tidak mau tau, kau harus cepat menemukan nya." Teriak Alex dengan menggerakkan meja.
"Baik Tuan.
"Keluar"
Pria itu pun keluar dari ruangan Alex dengan cepat, Karena mengetahui emosi bos nya sedang tidak stabil.
Prang...
Rupanya Alex membanting sebuah vas bunga ke tembok karena tidak bisa mengontrol amarah nya.
"Arrggg" Teriak nya frustasi.
***
Satu tahun kemudian.
"Ayo Tiup lilin nya Nancy" ucap Irene dengan gembira.
"Kita buat harapan dulu ya sayang" ujar seorang pria yang tengah menggendong balita di tangannya. Sedangkan Balita cantik itu terlihat tidak mengerti dengan tingkah orang-orang yang ada di samping nya.
Yah, pria tersebut adalah Alex. Sedangkan balita yang ada di gendongan nya ialah anak nya yang sedang merayakan ulang tahun pertama nya. Dia bernama Nancy, gadis kecil yang sudah tumbuh dengan cantik dan lucu.
Ulang tahun tersebut terbilang sederhana, hanya di hadiri beberapa teman bermain Nancy saja. Karena sampai saat ini Alex masih belum mau mengumumkan bahwa Nancy adalah anak kandung nya di khalayak umum, sebelum dia menemukan Elica.
"Semoga kita bisa bertemu dengan Mami secepatnya ya sayang" ucap Alex kemudian mencium pipi anak nya.
"Ma.." sahut Nancy mendengar ucapan Alex barusan, dan mencoba mengucapkan nya namun terdengar lucu seraya memperlihatkan wajah bingung nya.
Alex pun meniupkan lilin dan di ikuti oleh anak nya. Tamu yang datang pun bertepuk tangan, Nancy yang melihat nya juga ikut bertepuk tangan dengan tertawa.
Acara pun selesai, kini Alex sedang menidurkan Nancy yang terlihat kelelahan. Anak nya selalu meminta tidur di lengan Alex hingga pulas.
Melihat wajah Nancy selalu mengingatkan Alex pada Elica. Sudah satu tahun berlalu namun tidak ada hasil apapun. Tidak dipungkiri jika dia pun merasakan kerinduan nya pada Elica.
"Kau dimana Elica. Tidakkah kau rindu dengan anak kita, dia tumbuh dengan baik. Menjadi anak yang cantik dan sangat aktif. Hari ini adalah hari kelahiran nya, kau bahkan tidak mengucapkan apapun untuk nya." Ucap Alex pelan lebih tepatnya seperti berbisik, seraya mengelus pipi chubby anak nya yang sudah tertidur.
***
Sedangkan ditempat lain, seorang wanita sedang menerawang jauh pada pikiran nya.
"Selamat ulang tahun anak ku. Mami harap kamu sehat dan selalu bahagia bersama ayah mu." Perempuan tersebut adalah Elica.
Dia tidak bisa membendung air matanya untuk keluar saat ini. Karena dia teringat jika hari ini adalah hari dimana satu tahun lalu dia dan anak nya berjuang agar tetap hidup di dunia.
Dan yang terasa sangat sedih di hati nya ialah ketika dia tidak bisa mendampingi putrinya berulang tahun untuk pertama kalinya.
Elica memang berhasil bersembunyi dari Alex. Tapi dia juga berusaha menyembunyikan kerinduan nya pada sang anak. Kini Elica hanya ingin menata hidupnya agar lebih baik.
"Ohayou" ucap seorang pria yang berhasil menyadarkan lamunan Elica.
Dia pun menoleh dan mendapati seseorang yang sudah dikenal nya.
"Ren, kenapa bisa ada disini?" Kata Elica mendapati pria yang bernama Ren itu kini sudah ada dihadapannya.
"Masih terlalu pagi untuk merenung nona Yua" jawab pria itu, kemudian dia pun duduk di hadapan Elica.
Yah, kini Elica berada di Jepang. Dia memiliki nama baru yaitu Yua Anami.
Dan saat ini Elica juga sedang melanjutkan kuliah nya di jurusan psikologi. Sedangkan Ren adalah seorang pria yang berprofesi sebagai fotografer. Dia sebenernya orang Jepang asli, tetapi Ren juga pernah tinggal di Amerika cukup lama. Hingga dia bisa berkomunikasi dengan Baik pada Elica.
Mereka sudah berteman sejak Elica pindah ke negara ini. Kebetulan apartemen mereka bersebelahan hingga keduanya pun cukup akrab.
Jika dilihat sekilas Ren adalah pria yang tampan dan hampir seperti tidak memiliki kekurangan. Bahkan pria itu juga tergolong orang dari keluarga kaya. Namun satu kekurangan Ren yang sangat disayangkan oleh Elica. Pria itu seorang Gay.
"Ada masalah?" Tanya Ren penasaran. Elica pun membalasnya dengan gelengan kepala nya pelan.
Pria itu hanya menghela nafas nya setelah mendapat jawaban tidak memuaskan dari Elica.
"Kau tidak ke kampus? Kenapa malah duduk disini?"
"Kelas ku sore nanti. Aku bosan di apartemen, Dady ku sedang pergi dengan Yuko"
"Kemana?"
"Memancing"
Melihat ekspresi wajah Elica yang terlihat sedih, Ren pun berniat untuk menghibur nya.
"Anami, bagaimana jika kau menemaniku ke toko pakaian" ucap Ren pada Elica.
"Kau ingin membeli pakaian? Tidak biasanya"
"Minggu depan kekasih ku mengadakan pameran galeri. Dan dia memintaku untuk datang, jadi aku harus tampil spesial"
"Kekasih pria mu?" Tanya Elica dengan ragu.
"Tentu saja"
Elica pun mengambil ponsel yang berada di atas meja, kemudian beranjak dari duduknya. Ren yang melihat Elica pun terlihat bingung, karena Elica justru pergi meninggalkan nya di kafetaria tersebut.
"Hei Anami kau mau kemana?" Tanya Ren
"Aku ingin pergi, berdekatan dengan mu rasa nya ingin muntah"
"Memangnya aku melakukan apa. Hei bukankah tadi kau akan menemaniku membeli baju" mendengar ucapan Ren, Elica pun bergidik geli membayangkan kekasih Ren yang sesama Gay itu.
"Beli saja dengan kekasih pria mu yang kekar itu"
Akhirnya dia pun meninggalkan Ren begitu saja. " Dasar wanita aneh"
***
Selang beberapa hari Alex mendapatkan undangan kerja sama dari kolega nya yang berada di Italia. Dan itu menandakan jika dia harus meninggalkan putri kecilnya ke luar negeri untuk beberapa hari kedepan.
Memang hal itu sudah sering dia lakukan. Tapi sebenarnya Alex sangat tidak tega meninggalkan Nancy bersama Irene. Jika saja Elica ada disampingnya, mungkin anak nya tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang tua nya.
Dan pagi ini Alex sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Namun Nancy terus menangis ingin ikut dengan Alex. Padahal Irene pun sudah berusaha membujuk Nancy untuk di gendong olehnya namun gadis kecil itu terus meronta ingin di gendong oleh ayah nya.
"Nancy, Daddy mu akan berangkat bekerja. Nancy dengan Grandma saja ya" bujuk Irene pada Nancy namun masih tidak mau, malah tangisan nya semakin keras.
Alex pun juga bingung, jika saja hari ini tidak ada rapat penting mungkin dirinya akan berangkat ke kantor sedikit lebih siang demi sang anak.
"Apa aku bawa saja Nancy ke kantor?" Tanya Alex pada Irene karena tidak tega meninggalkan putri kecilnya yang terus menangis.
"Kau gila? Lalu membiarkan bawahan mu bergosip hal buruk tentang Nancy? Tidak. Tante tidak mengizinkan nya." Tolak Irene mentah-mentah
"Lalu bagaimana ini, dia tidak mau lepas dari ku Tante"
"Sini biar Nancy dengan Grandma ya sayang. Daddy mu sudah terlambat, dan kau cepat lah pergi Alex" akhirnya Irene pun merebut paksa Nancy dari Alex.
"Sudah sana cepat berangkat, biar Tante yang mengurus nya."
"Baiklah aku berangkat. Sampai ketemu nanti sore sayang. Daddy berangkat ya" ucap Alex lalu mencium pipi anak nya dan langsung pergi saat suara tangisannya menjadi lebih keras.
Kini Alex pun sudah sampai di kantor. Dia sangat sibuk karena harus menyelesaikan dokumen penting yang berisi kerja sama dengan kolega nya.
Ditambah lagi, pagi ini dia belum sempat sarapan karena putrinya terus merengek meminta di gendong oleh nya. Hingga Alex pun mengesampingkan semua yang berkaitan dengan dirinya.
Tidak lama ketukan pintu terdengar, dan seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris nya datang.
"Ada apa?"
"Seperti biasa Tuan, paket yang sama setiap bulan" ucap sekretaris nya itu dengan sopan.
"Siapa kali ini yang mengirimkan?"
"Seorang kurir, Tuan"
"Baiklah." Sekretaris itu pun meletakkan sebuah amplop putih di meja Alex.
Alex memandang amplop tersebut dengan pandangan kosong. Karena sudah satu tahun setelah Elica pergi, dia selalu mendapatkan kiriman amplop yang berisi uang.
Dan dapat Alex pastikan jika uang tersebut berasal dari Elica yang berniat mengembalikan uang yang dulu Alex berikan pada nya. Amplop tersebut selalu dikirimkan tanpa nama dan alamat si pengirim, hingga Alex pun sulit untuk melacak nya. Padahal Alex tidak meminta uang itu untuk dikembalikan, namun ternyata perempuan itu masih menganggap itu sebagai hutang.
Meskipun uang yang di kirim tidak berjumlah banyak, namun Alex sudah tidak mau lagi membuka amplop tersebut setelah mengetahui isinya adalah uang. Karena bagi Alex, dia ikhlas membantu Elica untuk pengobatan ayah nya.
***
Flashback.
Malam itu Elica sedang berada di kediaman Mia dan Zico. Terlihat ayahnya yang berbaring tidak sadarkan diri dengan alat medis di tubuh nya.
Kebetulan Zico seorang Dokter, jadi dia memiliki alat-alat medis canggih di rumah nya. Hingga setelah ayah Elica selesai melakukan operasi bisa di rawat di sana.
"Kondisi mu sudah membaik. Kau bisa melakukan penebangan malam ini" ujar Zico setelah memeriksa kondisi Elica yang baru saja kabur dari rumah sakit.
"Lalu bagaimana Daddy? Dia tidak bisa berangkat dengan ku?" Tanya Elica.
"Sebenarnya bisa. Tapi melihat kondisi nya yang tidak memungkinkan, akan lebih baik jika paman Albert pergi setelah sadarkan diri." Jawab Zico menjelaskan.
"T-tapi"
"Kau tenang saja Elica. Ayahmu pasti akan baik-baik saja disini dengan suami ku. Dan kau akan berangkat ke Jepang dengan ku malam ini. Kemudian setelah ayah mu sadar, dia pasti akan menyusul mu ke sana" tambah Mia menjelaskan.
"Mia benar Elica, tidak perlu cemaskan apapun. Di sana aku memiliki apartemen yang dulu ku tempati. Ku rasa kau akan nyaman di sana, karena tempatnya cukup besar" ujar Zico.
Pada kenyataannya orang tua Zico juga berada di Jepang. Namun Elica menolak saat Zico menawarkan dia untuk tinggal bersama orang tuanya. Dan kebetulan Zico memiliki apartemen yang dulu pernah dia huni saat masih muda.
"Baiklah kak. Terimakasih atas bantuan Kalian, aku tidak tahu harus apa jika tidak ada kak Zico dan Kak Mia" ujar Elica sambil berkaca-kaca.
"Kau adalah Keluarga ku juga Elica. Meskipun Aunty Hilda sudah tidak ada, tapi aku akan tetap menganggap mu sebagai adik ku"
"Terimakasih kak Mia"
"Hidup lah dengan nyaman saat kau sudah disana. Wujudkan apa yang telah kau cita-cita kan, dan buatlah lembaran hidup baru dengan Kebahagiaan Elica"
Ujar Mia seraya memeluk Elica, dan Elica pun mengangguk mengiyakan dengan air mata haru nya.
Flashback off.
TBC.
****
Capek ya nungguin Author Update?
Sama. Author juga Capek lagi nungguin Jodoh....
Okess ... Sebenarnya ini cerita nya udah selesai Author tulis sampai Tamat. Tapi Author sengaja ngga Update, karena... alasan nya ya lagi pengen aja ngga Update. Wkwkw
Jadi tungguin aja ya sayang ku...
Follow IG Author dulu yuk @akiokokoru_69