
Manusia terlahir dengan membawa elemen yang ada di bumi, yaitu elemen api, air, tanah dan udara. Setiap elemen memiliki kemampuan dan kekuatan yang berbeda beda.
Elemen tersebut berada di dalam diri manusia dengan kata lain elemen itu adalah tenaga dalam yang terperangkap. Jika kau mengasah tenaga dalammu kau akan bisa mengendalikannya dan menjadi petarung, akan tetapi jika di biarkan begitu saja, kau akan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan.
Mengasah elemen bukanlah hal yang wajib dilakukan karena untuk menjadi kuat itu adalah hak setiap orang. Tetapi berbeda dengan Sean dia dituntut untuk menjadi seorang yang kuat.
Bernama panjang Sean Arlert, dia adalah pria dengan elemen api murni. Dia adalah pria tampan dan jangkung yang masih berusia belasan tahun. Dia berasal dari Keluarga Arlert yaitu keluarga yang memproduksi keturunan api murni dari generasi ke generasi. Jadi Sean diwajibkan untuk meneruskan garis keturunan itu.
Akan tetapi, keluarga Arlert saat ini sedang ditimpa masalah. Turunan terakhirnya yaitu Sean memiliki nasib yang buruk. Dia di ramalkan tidak bisa menikah dengan gadis berelemen api. Padahal pada umumnya seseorang dengan elemen api harus berpasangan dengan elemen api juga. Jika berpasangan dengan elemen yang berbeda itu tidak akan pernah berhasil. Tidak ada satupun kasus pernikahan berbeda elemen yang berhasil dari dulu sampai sekarang.
Dalam ramalan itu, Sean ditakdirkan untuk berpasangan dengan gadis berelemen air. Tapi gadis ini bukanlah seorang gadis berelemem air biasa, melainkan gadis keturunan dewa.
"Jika kalian ingin meneruskan keturunan, carilah gadis keturunan dewa itu, usianya sama seperti tuan Sean. Mungkin dia juga masih bersekolah." ujar peramal bernama Nostradamus, dia adalah peramal kepercayaan keluarga Arlert, dia sudah melayani keluarga itu selama lebih dari 30 tahun lamanya.
"Gadis keturunan dewa? Kami akan mencari gadis itu, bagaimana pun caranya."
********
Rumah sakit, pukul 21.00 malam
Seorang pria remaja meringis kesakitan saat sekujur tubuhnya yang luka sedang diobati oleh dokter. Tubuhnya penuh dengan luka lebam dan lecet akibat perkelahian.
"AGH! SAKIT! HENTIKAN ITU!" Teriak Sean kesakitan saat dokter yang tidak lain adalah kakaknya sendiri sengaja menekan luka di tubuh Sean.
"Apa kau habis tawuran?! Sudah kubilang jangan membuat masalah disekolah! Kenapa kau selalu berakhir babak belur." Ucap kakak Sean yang bernama Jean itu, sembari menaikkan suaranya karena marah.
"Tentu saja aku babak belur, mereka main royokan dan aku hanya sendiri. Tapi jika kau melihat lawanku kau pasti akan tau seberapa hebatnya aku. Mereka 10 kali lipat lebih parah dari lukaku ini." Ucap Sean memamerkan kekuatannya. Dia adalah yang terbaik dalam cabang bela diri tinju.
"Kau masih bertarung dengan tangan kosong rupanya, kenapa kau tidak mencoba mengeluarkan kekuatan apimu?" Tanya Jean pada adiknya yang babak belur itu.
"Kau sudah lupa? Terakhir kali aku mengeluarkan kekuatan apiku, aku membakar habis gedung sekolah. Aku belum bisa mengendalikannya." Jawab Sean dengan menunjukkan wajahnya yang kesal.
Dia membenci dirinya sendiri yang gagal mengendalikan kekuatan miliknya. Dia kesal karena kekuatan spesial yang dimilikinya hanya sekedar omong belaka, dia bahkan tidak bisa menggunakan kekuatan itu sama sekali.
Sean bersekolah di SMA Magic Sword. SMA Magic Sword adalah sekolah sihir untuk mengeluarkan serta mengendalikan elemen yang ada didalam tubuh manusia. Orang orang yang bersekolah disana merupakan orang yang sudah memutuskan masa depannya dengan tidak menjadi manusia biasa, melaikan menjadi seorang pejuang/petarung.
Sean masih kelas 1 sekarang, dia baru saja masuk tahun ini. Tujuan Sean bersekolah disana adalah agar bisa mengendalikan kekuatan api murni yang ada di tubuhnya. Tapi dia masih belum bisa mengendalikannya sampai sekarang, karena kekuatan api miliknya sangatlah kuat untuk bisa dia kendalikan.
"Saat aku mencoba mengeluarkan kekuatan apiku, sekujur tubuhku terasa panas. Otakku terus berkata 'bakar semuanya'. Aku seperti bukan diriku sendiri, rasanya seperti kerasukan" Ucap Sean serius, dia menceritakannya sambil berharap kakaknya yang pintar itu bisa memberikannya solusi.
"Begitu ya, sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama saat umurku seusiamu." Ucap Jean.
"Aku mencari seseorang yang bisa membantuku terus berlatih. Dan itu adalah manusia dengan elemen air. Menarik bukan?" Ucap Jean sambil tersenyum, seakan dia mengingat kepingan masa lalu yang indah.
"Bukankah saat itu elemen air dan api bermusuhan?"
Pengguna elemen air secara alami adalah musuh dari pengguna elemen api. Dalam catatan sejarah tercatat bahwa beribu ribu tahun lamanya pengguna elemen air dan api tidak pernah akur. Mereka bagaikan anjing dan kucing yang sudah ditakdirkan sebagai musuh bebuyutan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, rasisme seperti itu di hentikan. Perbedaan elemen antar manusia seperti hal yang sudah biasa.
"Memang sulit pada saat itu, tapi berbeda denganmu. Kau hidup dimana semua elemen bisa menerima satu sama lain. Carilah orang yang bisa membantumu, saran dariku adalah pengguna elemen air."
"Elemen Air? Untuk apa? Kekuatan mereka tidak sebanding dengan api murni dalam tubuhku. Aku tidak yakin apakah dia bisa membantuku." Ucap Sean ragu. Dia belum pernah melihat pengguna elemen air yang memiliki kemampuan yang dapat menandinginya.
"Sean, kau itu spesial maka dari itu kau harus mencari bantuan dengan orang yang sama spesialnya dengan dirimu."
*******
Magic scholl, pukul 07.00 pagi
Lonceng sudah berbunyi, menandakan pelajaran akan dimulai. Akan tetapi Sean belum ingin masuk ke kelas, dia masih sibuk berjalan jalan di sekitar kebun bunga milik sekolahnya. Entah apa tujuannya, tapi yang pasti dia memang suka menikmati udara sejuk di pagi hari. Sayang rasanya jika suasana seperti ini digunakan untuk belajar.
"Seperti biasa, tidak ada yang menarik hari ini. Makin hari aku merasa semakin bosan" Gumam Sean sambil berjalan melewati pohon sakura yang berguguran terkena angin. Aroma sakura ditemani angin yang sejuk sangatlah sempurna.
Namun lama kelamaan sinar matahari mulai terasa terik, mungkin karena hampir siang. Seanpun memilih salah satu dari beberapa pohon besar yang rimbun untuk dijadikannya tempat bersantai.
Sesampainya di pohon yang ia pilih, dia duduk dan menyenderkan punggungnya di batang pohon tidak lupa meluruskan kakinya di rerumputan kecil yang terasa seperti karpet. "Nyaman sekali" Gumam Sean. Dia menutup matanya sebentar dan dengan sekejab membuka mata karena kaget. Dia mendengar ada yang memanggilnya, padahal tidak ada orang disana kecuali dirinya.
"Hey!" Suara lembut itu seperti menyapa Sean, tapi entah dari mana datangnya. Sean terus menengok ke kanan dan kekiri untuk mencari dimana sumber suara itu berasal.
"Dari atas sini!" Suara itu muncul kembali, suara yang lembut seperti aliran sungai itu ternyata berasal dari atas pohon. Sean pun langsung menengok ke atas.
"AGH! KAGET AKU! SIAPA KAU?!" Teriak Sean kaget.
Ternyata suara itu bersumber dari gadis seusia Sean yang tidak bisa turun dari atas pohon. Dia sedang duduk di salah satu batang pohon sembari memeluk kucing yang ketakutan.
'Cantik sekali, apa dia seorang dewi? Tapi kenapa dia memakai seragam sekolahku?' batin Sean.
Sean terpesona dengan kecantikan gadis itu, ia memiliki paras yang cantik, rambutnya terurai panjang, serta memiliki mata yang besar dengan bola mata seperti bulan purnama.
"Bisa kau membantuku dulu, aku sedang kesulitan."