NIRMALA

NIRMALA
08 Mengapa tidak bertanya?



Hari berlalu. Prasetya benar-benar tidak tenang. Dia ingin sekali berbicara dengan Nirmala, banyak hal yang ingin dia tanyakan. Tetapi dia tau bahwa Nirmala benar-benar membatasi komunikasi dengannya. Nirmala tidak ingin berbicara dengannya kecuali masalah pekerjaan. Hal itu membuat Prasetya semakin merasa bersalah dan tidak tenang. Tetapi semua itu tertutupi oleh sikap Prasetya yang tenang.


Hari ini kebetulan team design ada pekerjaan yang mengharuskan mereka lembur. Nirmala dan pak Ari masih membahas pekerjaan di ruang rapat. Di tengah pembahasan Prasetya masuk bersama Bu Hasna sekretarisnya. Mereka ikut masuk dan memberikan beberapa masukan mengenai proyek.


Ketika pembicaraan sedang berlangsung tiba-tiba pak Ari mendapatkan pesan bahwa dia harus segera pulang.


"Nirmala maafkan saya, apakah kamu bisa selesaikan sisanya sendiri? Saya harus antar istri saya ke dokter."


"Tidak masalah pak, ini sedikit lagi. Bapak bisa pulang sekarang."


"Terimakasih Nirmala dan maaf untuk ini."


Pak Ari sungguh merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa pak, ini bukan masalah besar." Jawab Nirmala dengan tulus.


"Kalau begitu saya permisi, Pak Prasetya mohon maaf, saya duluan."


Prasetya hanya tersenyum dan mempersilahkan.


"Iya...silahkan...hati-hati"


"Selamat Sore.." Pak Ari berpamitan kemudian berjalan keluar dari ruang meeting.


Sekarang diruang meeting hanya ada Nirmala, Prasetya dan Bu Hasna. Mereka melanjutkan diskusi, tetapi karena Bu Hasna tidak mengerti mengenai desain dia lebih banyak diam dan hanya mendengarkan.


Prasetya tau jika bukan Hana merasa bosan dan tidak begitu mengerti dalam diskusi ini.


"Bu Hasna bisa pulang, setelah menyelesaikan ini dengan Nirmala, saya juga akan segera pulang."


"Oh...Baik pak, lagipula saya juga tidak banyak membatu disini."


"Apakah Bapak atau Bu Nirmala mau kopi? saya bisa buatkan sebelum pulang."


Nirmala tersenyum melihat kearah Bu Hasna dan menolak tawarannya.


"Tidak perlu Bu, kita sebentar lagi selesai."


"Kalau begitu saya permisi Pak Prasetya, Bu Nirmala...." Bu Hasna pamit untuk segera pulang.


"Ya...Hati-hati."


Hanya Prasetya yang menjawab, sementara Nirmala hanya tersenyum. Sebenarnya dalam hati Nirmala ingin sekali ikut pulang dengan Ibu Hasna, dia tidak mau terjebak hanya berdua dengan Prasetya.


Mereka bekerja lebih lama dari waktu yang diperkirakan. Tidak terlalu banyak pembicaraan, hanya sesekali Prasetya memberi saran untuk Nirmala.


"Sebaiknya kita lanjutkan besok. Ini sudah terlalu malam." Prasetya memutuskan pulang karena sudah pukul 8 malam.


"Saya akan selesaikan ini, Bapak bisa pulang lebih dulu" Nirmala menjawab dengan tetap menunduk melihat desain yang ada di depannya.


Prasetya menatap Nirmala.


"Apakah anakmu tidak menunggumu?"


Seketika Nirmala menghentikan pekerjaannya karena mendengar Prasetya menyebut anak. Dia kaget, dia berpikir pasti Bu Saras sudah menceritakan sesuatu kepada Prasetya.


Nirmala menjawab tanpa melihat ke arah Prasetya.


"Siapa nama anakmu?"


Prasetya duduk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil terus menatap tajam kearah Nirmala.


Nirmala mengetahui tatapan tajam Prasetya, oleh karena itu dia tetap menunduk untuk menghindar, menyibukkan diri dengan kertas yang berserakan di atas meja.


"Rendra" Nirmala menjawab singkat.


"Dimana ayah Rendra?"


"Sudah meninggal."


"Mengapa kamu tidak mengatakan alasannya?"


Prasetya bertanya dengan nada yang berbeda. Ada kekecewaan didalamnya.


Seketika Nirmala menoleh menatap Prasetya karena mendengar pertanyaan Prasetya, Dia tidak ingin berbicara lebih banyak dengan Prasetya.


"Maaf pak, sepertinya saya harus pulang."


Nirmala berdiri dari tempat duduknya.


Prasetya langsung menahan Nirmala. Dia menarik pergelangan tangan Nirmala cukup kuat sampai Nirmala terduduk kembali di kursinya.


Nirmala menatap tajam ke arah Prasetya, dia benar-benar tidak ingin membahas hal ini.


"Mengapa kamu tidak mengatakan alasan kamu membutuhkan uang itu?"


Prasetya bertanya sambil tetap memegang erat pergelangan tangan Nirmala, Nada suaranya sudah meninggi.


"Karena Bapak tidak menanyakannya. Bahkan Bapak mencurigai bahwa suatu saat saya akan menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Itu kan yang bapak katakan?"


Nirmala berkata dengan suara datar dan pandangan yang tajam. Dia sudah menjadi wanita yang lebih kuat. Dia sudah berjanji tidak akan menyesali semuanya. Rendra sudah sembuh, tidak ada yang sia-sia, dia akan bahagia dan tidak akan menangis lagi.


Seketika Prasetya bisa terdiam setelah mendengar perkataan Nirmala.


Nirmala menatap tangannya yang masih dipegang kuat oleh Prasetya, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.


"Saya akan pulang"


Prasetya tersadar kemudian perlahan dia melepaskan pegangannya.


"Selamat malam."


Nirmala berjalan meninggalkan ruangan.


Prasetya masih tetap diam ditempatnya.


Nirmala benar, ini adalah kesalahannya, murni kesalahannya. Dia bahkan tidak bertanya untuk apa uang sebanyak itu. Nirmala tidak bersalah, dia hanya sangat menyayangi anaknya dan tidak ingin kehilangan buah hatinya. Sedangkan dirinya? Dia menyakiti hati Nirmala dengan menuduh serta menawarkan hal yang tidak masuk akal kepada Nirmala. Sungguh berapa banyak kesalahan yang ia lakukan terhadap Nirmala. Apa yang harus dia lakukan untuk menebus dan memperbaiki semua itu.


🌷🌷Bersambung...🌷🌷