NIRMALA

NIRMALA
12 Tamu Tak Diundang



Saat ini Prasetya berada di apartemennya. Banyak hal yang dia pikirkan tentang Nirmala. Walaupun dia berhasil mengendalikan sikapnya didepan Nirmala tetapi pada kenyataannya tidak dengan pikirannya. Dia tidak bisa mengembalikan malam itu dan juga tidak bisa memutar waktu. Seandainya saat itu dia bisa membaca pikiran Nirmala, hal itu pasti tidak akan terjadi. Apa yang harus dia lakukan? Sungguh wanita itu telah menguasai dirinya. Belum lagi Dani yang terus mendekati Nirmala, hal itu membuat Prasetya semakin resah.


Prasetya mencoba menghubungi satu nomor di ponselnya tetapi nomornya tidak terhubung. Dia benar-benar tidak bisa menghentikan keinginananya untuk sekedar menyapa sang pemilik nomor. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Karena nomornya tidak dapat digubungi, Prasetya segera mengambil kunci mobilnya dan menuju tempat parkir di apartemennya. Prasetya melajukan mobilnya dengan kencang.


Setelah 30 menit berkendara kini mobilnya telah sampai didepan rumah kecil yang terlihat asri dengan beberapa tanaman hias yang terlihat terawat. Dia langsung turun dari mobilny menuju teras rumah itu.


"Tok..tok..."


Setelah dia menegetuk pintu, dia baru teringat, alasan mengapa dia datang kasana, apa yang harus dia katakan kepada penghuni rumah itu.


"Astaga...mengapa aku tidak memikirkannya, apa yang harus aku katakan..." Prasetya berpikir, berdiri sambil memunggungi pintu.


"Ceklek..."


Terdengar seseorang membuka pintu.


Prasetya menoleh dan melihat Nirmala berada di hadapannya. Dia sangat gugup dan masih memikirkan apa yang harus dia katakan, alasan apa yang paling masuk akal mengapa dia datang.


Nirmala menatap Prasetya dengan perasaan tidak suka. Kenapa Bosnya harus datang kerumah, orang yang paling tidak ingin dia temui diluar pekerjaan.


Melihat tatapan Nirmala, Prasetya semakin gugup.


"Selamat malam....Maaf menggangu waktu istirahatmu."


"Ada perlu apa Bapak datang kemari?" Tanpa basa basi dan dengan ekspresi tidak suka Nirmala bertanya.


"Ada file desain proyek Hotel X yang saya perlukan, jika kamu tidak keberatan saya minta copy filenya di CD." Akhirnya Prasetya menemukan alasan yang menurutnya paling masuk akal.


"Untuk apa bapak repot kemari, saya bisa emailkan besok."


"Saya sering menghabiskan waktu malam saya untuk bekerja, jadi saya butuh sekarang. Saya mencoba menghubungi ponsel kamu tapi tidak aktif." Prasetya beralasan.


"Apakah itu Tante Sintya?" Terlihat rendra berlari dari dalam rumah kearah Nirmala.


Nirmala menoleh ke arah Rendra. Rendra terlihat kecewa karena yang datang bukanlah orang yang diinginkannya.


"Hai Rendra, Masih ingat aku? Kuta bertemuu di bioskop beberapa waktu lalu." Prasetya tersenyum dan berjongkok menyamakan tingginya dengan Rendra yang saat ini berdiri di depan Nirmala.


"Masuklah, akan saya copy filenya terlebih dahulu." Nirmala mempersilahkan Prasetya untuk masuk sambil berjalan masuk ke dalam rumah seolah tidak ikhlas jika Prasetya memasuki rumahnya.


Prasetya tau bahwa Nirmala tidak suka dengan kedatangannya, tapi dia tidak tersinggung dan sangat mengerti. Wajar jika Nirmalam menghindarinya mengingat apa yang sudah mereka berdua lakukan. Rendra hanya diam, bingung dengan situasi ini. Akhirnya Prasetya mengajak Rendra masuk dan mereka duduk di kursi tamu.


Melihat tamu dirumahnya, Rendra dengan sopan menawarkan minuman.


"Apakah Om mau minum? Om mau minum apa? nanti Rendra ambilkan"


Prasetya tersenyum senang. Benar kata ibunya, Rendra anak yang menggemaskan.


Rendra akhirnya duduk di sebelah Prasetya.


Bu Hana terlihat menghampiri Rendra datang dari kamar.


"Ada tamu, maaf kalau Rendra mengganggu." Bu Hana menyapa Prasetya.


"Saya Hana pengasuh Rendra." Bu Hana mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


Prasetya berdiri dan menyambut tangan Bu Hana.


"Saya Prasetya, teman kerja Nirmala. Senang bertemu Bu Hana."


"Bu Hana, ini adalah Pak Prasetya, pemilik Adhikarisma Group." Nirmala tiba-tiba datang dari belakang Bu Hana. Dia sengaja menekankan itu seolah menekankan bahwa status Prasetya jauh diatasnya.


"Senang bertemu dengan anda." Bu Hana tersenyum.


"Rendra, sudah malam waktunya kita todur nak..."


"Sebentar Bu Hana...aku masih ingin bermain." Rendra berkata sambil memgang mainan kesukaannya.


"Rendra! masuk dan segera tidur." Nirmala berkata dengan sedikit membentak sehingga membuat Rendra ketakutan, ia langsung menghampiri Bu Hana. Ibunya tidak pernah segalak ini kepadanya.


Bu Hana mengajak Rendra ke kamarnya. Sedangkan Hana masih sangat kesal. Entah apa yang membuat dia marah sehingga meluapkannya kepada Rendra. Prasetya hanya diam. Dia tau kemarahan Nirmalam seharusnya ditujukan kepadanya.


"Ini file yang anda minta." Nirmala menyerahkan CD sambil menatap marah kepada Prasetya.


"Baiklah, Terimakasih dan maaf mengganggu waktu istirahatmu."


Nirmala hanya terdiam mengikuti Prasetya yang berjalan menuju pintu keluar.


"Saya permisi....selamt malam." Praetya bwrpamita.


"Oh ya Nirmala, Marahlan pada orang yang tepat."


Setelah mengatakan itu, Prasetya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah Nirmala.


Nirmala menutu pintu dan bersandar dibelakangnya. Dia marah, entah apa yang mebuatnya marah. Dia sangat menyesal telah membentak Rendra.


"Maafkan Ibu nak...."


Litih Nirmala dalam hati.


Dipsepanjang perjalanan pulang Prasetya terus berfikir, Semarah itukah Nirmala kepadanya? tetapi memang pantas Nirmala bersikap seperti itu dan Prasetya pantas menerima perlakuan Nirmala.


🌷🌷Bersambung...🌷🌷