NIRMALA

NIRMALA
SEBUAH ALASAN



Selama perjalanan menuju rumahnya, Evan terdiam entah kenapa ia merasa kecewa dengan Nirmala, padahal ia bukan siapa-siapanya dan juga belum lama mengenalnya.


Begitu juga dengan Nirmala, ia hanya duduk diam dikursi penumpang dibelakang Evan, ia tidak berani berbicara walaupun hanya sekedar bertanya, ia merasa malu dengan sosok Evan.


Tak jauh dari rumah Evan melihat ternyata ada pasar malam, ah ia tidak memperhatikannya tadi saat pergi karena terus memikirkan Nirmala yang sedang berada di kantor polisi. Evan menghentika mobilnya di pasar malam itu, kemudian ia turun dan memasuki area pasar malam meninggalkan Nirmala sendirian didalam mobil tanpa berbicara padanya.


"Ini kan pasar malam, mau ngapain dia kesini" Nirmala hanya menatap Evan yang sudah melangkah memasuki pasar malam dari dalam mobil.


Tak lama Evan kembali ke mobilnya, ia mengetuk pintu dimana Nirmala duduk. Nirmala pun menurunkan kaca mobil tanpa melihat Evan, dan Evan memberikan kantong kresek yang dibawa nya pada Nirmala.


Nirmala menerima satu kantong kresek itu dengan bingung.


"Ganti pakaian mu sebelum kita pulang, aku tidak mau Mama ku melihat mu dengan pakaian seperti itu, aku akan tunggu diluar, beri tau kalau sudah selesai dan kita langsung pulang"


Nirmala pun menaikan kembali kaca mobilnya, lalu membuka kantong kresek itu, ternyata isinya sebuah gamis. Tanpa basa-basi Nirmala langsung saja mengganti pakaiannya dengan gamis yang dibelikan oleh Evan dari pasar malam itu.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Nirmala menurunkan lagi kaca mobilnya untuk memberitahukannya bahwa ia sudah selesai. Evan pun masuk kedalam mobilnya.


"Aku tidak ingin Mama ku berpikiran yang tidak-tidak terhadap mu, Mama ku tahu kau ditahan dikantor polisi tapi dia tidak tau karena apa kau bisa sampai berada di kantor polisi. Jadi sebelum kita sampai rumah, aku harap kau memikirkan Kalimat jawaban dari pertanyaan Mama ku nanti. Dan asal kau tau, Mama ku sudah menunggumu sejak tadi sore tapi kau tidak pulang juga, dan renyah kau..... huh." Evan menghentika Kalimatnya lalu menghela nafasnya.


"Maaf"


"Minta maaf lah pada Mama ku"


"Iya, gue bakal minta maaf sama Tante Alisa, dan gue bakalan jujur, gue gak tega bohong sama orang sebaik dia"


"Kamu yakin akan jujur dengan Mama ku? bagaimana kalau dia......


Nirmala memotong kalimat Evan.


"Gak masalah, itu memang sudah resiko gue. Kalaupun Mama Lo gak ngizinin lagi gue tinggal dirumah Lo ya gak apa-apa"


"Terus kamu akan kembali kerumah kamu dan bertemu dengan saudara tiri kamu itu" Evan menatap Nirmala dari kaca spionnya.


"Ya gue bakal balik kesana cuma mau ambil barang-barang gue terus cari tempat tinggal sementara sampai Mama ku pulang"


"Kamu yakin akan tinggal sendirian?"


"Yah mau bagaimana lagi"


"Ok baiklah, terserah kamu. Itu memang sudah resiko kamu"


Evan melihat wajah Nirmala yang berubah sendu dari kaca spionnya, ia jadi tak tega melihat wajah sedih Nirmala.


Evan pun melajukan mobilnya menuju rumahnya.


••••••


Setelah mobil Evan terparkir didepan rumahnya, Nirmala langsung saja membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu tanpa menunggu sang pemilik mobil.


Nirmala melangkah memasuki rumah yang kemarin malam ia masuki dalam keadaan acak-acakan, ia ingin segera menemui wanita paruh baya itu dan menceritakan semua kisah hidupnya, diterima atau tidak yang penting ia sudah mengeluarkan semua apa yang ada dalam hatinya selama ini.


Nirmala duduk disamping Alisa yang menggenggam tangannya, serta Evan dan Danu yang duduk di sofa diseberang keduanya juga ingin mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Nirmala.


Nirmala menceritakan kenapa ia bisa sampai berada dikantor polisi, ia juga menceritakan kisah hidupnya nya selama ini yang membuatnya hidup terlunta-lunta karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya dan club'malam lah tempatnya selama ini mencurahkan segala kegundahan hatinya. Nirmala bahkan tidak malu memberitahu Alisa bahwa ia tidak bisa shalat dan mengaji, bahkan tidak satupun huruf yang ia ketahui didalam Al-Qur'an karena sedari kecil ia memang tidak pernah belajar dan tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya.


Nirmala menundukkan kepalanya setelah menceritakan semua kisah hidupnya pada wanita paruh baya dihadapannya itu.


"Aku sudah menceritakan semuanya pada Tante tentang siapa aku sebenarnya dan itulah alasan ku kenapa aku bisa seperti itu, sekarang terserah Tante mau bagaimana menilai ku, aku terima karena itulah kenyataannya. Kalau Tante juga meminta ku untuk meninggalkan rumah ini setelah tau kepribadianku, aku akan pergi Tante mungkin akan menyewa tempat tinggal sementara sampai Mama ku pulang"


"Astaghfirullah, mendengar ceritamu Tante prihatin atas apa yang kamu alami selama ini, namun yang Tante sayangkan caramu salah untuk menenangkan hati. Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terjadi. Tapi Tante berharap untuk kedepannya kamu tidak pernah mendatangi tempat itu lagi. Setiap manusia mempunyai kesempatan untuk berubah, dan belajar. Tante juga berharap kamu mau mengubah semua yang sudah terjadi, menjadi lebih baik lagi." Alisa mengelus punggung tangan Nirmala dan tersenyum padanya.


"Dan bagaimana pendapat saya setelah mengetahui kepribadian mu, itu tidak mengubah apapun. Bahkan kau bisa tinggal disini kapanpun kamu mau, Tante sama sekali tidak keberatan." sambungannya.


"Mama nya Evan benar, setiap manusia pasti memiliki masa lalu, entah itu baik atau tidak. Setiap manusia juga memiliki kesempatan berubah, merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Dan itu juga berlaku untukmu, Nirmala" ucap Danu menimpali.


"Hem, ternyata itu sebuah alasan. Tapi tidak masalah kalau kamu mau merubah semua kebiasaan kamu ya tidak baik itu, dan kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu mengaji dan shalat" ucap Evan juga menimpali, dan itu membuat Alisa dan Danu langsung menatap putranya.


Danu tersenyum melihat putranya, lalu tatapannya beralih pada Istrinya.


"Aku harap, kisah masa lalu tidak terulang lagi"


"Apa sih Mas, awas ya kalau mulai lagi" Alisa menatap tajam suaminya.


Danu terkekeh mendapatkan tatapan tajam dari Istrinya, dan Evan yang sudah mengetahui semua kisah kedua orangtuanya tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Meski merasa bingung karena tidak tahu apa yang dibahas oleh penghuni rumah itu, tapi Nirmala merasa tersentuh dengan kenyamanan yang ia dapatkan dari sang penghuni rumah. Ia berasa mendapatkan kehangatan kasih sayang yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari kedua orangtuanya.


Merasa jengah dengan tatapan suaminya yang seperti sedang mengingatkan pada masa lalu, Alisa pun mengajak Nirmala untuk makan malam, karena mungkin saja gadis itu belum makan karena ditahan di kantor polisi, pikirnya.