
Sudah satu minggu Nirmala dirawat di rumah sakit dan selama satu minggu itu juga lelaki tampan yang menyatakan perasaannya minggu lalu selalu menemaninya di rumah sakit, kondisi Nirmala sudah semakin membaik dan Dokter pun sudah memperbolehkan nya untuk pulang hari ini.
Semua administrasi sudah dilunasi oleh Danu, Papa nya Evan. Dan Herlina semakin merasa tidak enak pada keluarga itu yang sangat baik pada nya dan juga putrinya.
Nirmala tengah bersiap-siap untuk pulang dan dibantu oleh Mama nya, lelaki tampan itupun sudah sejak 1 jam yang lalu berada di ruangan VVIP itu menunggu gadis itu selesai diperiksa dokter dan bersiap-siap untuk pulang.
Sementara Alisa dan Danu saat ini tengah berada di apartemen yang ditempati Nirmala dan Mama nya, sepasang paruh baya itu tengah mempersiapkan untuk menyambut Nirmala yang sebentar lagi akan pulang dari rumah sakit.
"Mas, seandainya dulu aku tidak mengalami keguguran pasti Putri kita sekarang sudah sebesar Nirmala" kata Alisa, matanya berembun kala mengingat peristiwa yang membuatnya keguguran waktu itu.
"Sudahlah sayang, jangan mengingat itu lagi, aku juga sedih bila mengingat itu. Namun mau bagaimana lagi, mungkin Allah lebih menyayangi dia dan mengambilnya kembali dan akan menggantinya nanti sebagai seorang menantu" ucap Danu mengelus bahu Istrinya, menenangkan dan mengusap mata yang berembun itu.
"Iya Mas" Alisa meraih tangan yang mengelus bahu nya sembari tersenyum.
"Ya sudah jangan sedih lagi, kita berdoa saja semoga Evan nanti benar-benar menemukan jodohnya dan kita akan mendapatkan sosok pengganti putri kita yang pergi" kata Danu lagi, ia membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Alisa tersenyum menanggapi ucapan suaminya, dalam hati ia berharap semoga Nirmala segera memberikan jawaban yang diharapkan oleh putranya.
"Sayang, masih ingat gak dikamar ini kita pernah ngapain aja?" kalimat tanya itu membuat Alisa yang berada dipelukan suaminya bergidik ngeri.
"Ngomong apa sih, Mas"
"Gimana ya reaksi Evan kalau dia tau, kamar yang ditempati Nirmala ini adalah tempat kita membuatnya dulu" ucap Danu, lelaki itu terkekeh kala mengingat dulu saat pernikahan keduanya dengan Istrinya itu, ia mengurungnya didalam kamar itu sampai sebulan dan tidak membiarkan istrinya melakukan apapun kecuali melayaninya di atas ranjang yang sekarang tengah mereka duduki.
"Kamu jahat banget tau gak waktu itu, Mas. Aku rasanya seperti mayat hidup karena selama sebulan hanya melayani kamu dan tidak pernah terkena sinar matahari" Alisa tiba-tiba mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami.
"Eh kok meluk nya kenceng banget, hem jangan bilang kamu ingin mengajak aku mengulang itu lagi ya disini sekarang" kata Evan, tangannya mulai menggerayangi bagian belakang tubuh istrinya.
Alisa merasa geli dengan tindakan tangan nakal suaminya yang meraba-raba tubuh bagian belakangnya, iapun mengurai pelukannya lalu memberi cubitan di pinggang suaminya, yah kepiting betina mulai beraksi lagi.
"Sembarang aja kalo ngomong, kamu tuh ya Mas udah tua juga pikirannya masih aja mesum"
"Ya habisnya tadi kamu meluk aku kenceng banget, ya jadi aku kira kamu mau.....
"Jangan aneh-aneh ya Mas, sebentar lagi Nirmala pulang dan gak lucu kalau kamarnya kita berantakin kayak habis kena angin tornado"
"Yah kan nanti kita bereskan lagi" ucap Danu tersenyum jail.
"Enggak, nanti aja dirumah" Alisa membalikkan badannya lalu mengambil sapu dan menyapu lantai kamar itu.
Sementara suaminya hanya duduk dengan santainya di atas ranjang sambil memperhatikan Istrinya yang sedang menyapu itu.
"Sayang, gak mau nostalgia dikamar ini nih" Danu menggoda Istrinya. "Nikmat banget ya waktu itu, sayang"
"Nikmat pala mu peyang, badan aku sakit semua kayak habis dihajar" Alisa melirik suaminya dan mencebikkan bibirnya sembari menyapu.
"Mana ada sebentar, Mas kalo udah gituan kayak lupa waktu" Alisa mendengus kesal.
"Aku janji deh, yang ini sebentar aja" Danu mengedipkan sebelah matanya.
"Udah lah Mas, aku tuh gak percaya sama kamu, bilangnya sebentar tapi kenyataannya enggak"
Sementara si penghuni kamar, sudah memasuki area apartemen bersama putra mereka. Nirmala, Evan dan Herlina merasa bingung saat masuk ke apartemen tidak menjumpai Alisa dan Danu disana yang katanya menyiapkan penyambut Nirmala, dan Herlina beserta Evan pun memutuskan untuk langsung membawa Nirmala ke kamarnya.
Dan didalam kamar itu, lelaki paruh baya itu masih setia duduk di atas ranjang sambil menggoda Istrinya agar bernostalgia di kamar itu sama seperti waktu mereka menjadi pengantin baru untuk yang kedua kalinya.
"Sayang ayolah" Danu terus merengek seperti anak kecil.
"Udah Mas, nanti aku pukul pake sapu ini baru tau rasa. Udah sana minggir jangan duduk di situ nanti berantakan lagi"
"Ih dosa loh nolak suami" Danu memanyunkan bibirnya.
"Gak tau tempat banget sih, Mas. Aku bilang nanti aja kalau dirumah kita" Alisa berkacak pinggang dan menatap tajam Suaminya.
"Aduh kalau udah lihat kamu melotot gitu, aku ngalah deh" Danu merentangkan kedua tangannya ke atas
"Ya udah pindah sana, jangan duduk situ" Alisa menarik tangan suaminya, namun si pemilik tangan malah menarik balik tangan Istrinya hingga Alisa kini berada di atas Suaminya tepatnya di atas ranjang itu.
Dan bertepatan saat pintu kamar itu terbuka dari luar.
Nirmala dan Herlina langsung memalingkan wajahnya ke arah luar saat melihat pemandangan di atas ranjang itu, sementara Evan ia begitu terkejutnya dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya dan refleks berteriak.
"Astaghfirullah haladzim Mama Papa" lelaki tampan yang selalu bertutur kata lembut itu kini terdengar meneriaki kedua orang tuanya.
Alisa dan Danu pun juga sama terkejutnya mendengar suara teriakkan putranya, mereka pun segera bangkit dari atas ranjang itu. Alisa terlihat begitu gugup dan malu melihat ketiga orang yang sebelumnya masih dirumah sakit kini sudah berada di dalam kamar itu.
"Awas ya nanti kamu, Mas. Aku bakal buat perhitungan sama kamu, duh mereka mereka pasti mikir yang macem-macem deh" Alisa menjadi tidak enak dengan kejadian itu, ketiga orang itu pasti mengira ia dan suaminya sedang....... ah Alisa benar-benar marah pada suaminya saat ini.
Sementara lelaki paruh baya yang membuat masalah itu terlihat begitu santainya seolah tidak terjadi apa-apa, Danu pun tersenyum pada ketiga orang itu.
"Eh kalian sudah datang rupanya" ucapnya dengan santai, dan membuat wanita disampingnya semakin kesal melihatnya.
Nirmala dan Herlina tersenyum canggung, sementara Evan ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya di kamar gadis nya itu tepatnya di atas ranjang Nirmala.
"Jangan salah paham dulu, yang kalian lihat tadi gak seperti yang kalian bayangin kok" Danu berusaha menjelaskan.
"Aduh gagal nostalgia, malah jadi malu gini" Danu menggaruk pelipisnya.
"Kita gak bayangin apa-apa kok, Om" Nirmala terkekeh melihat wajah kedua paruh baya itu yang terlihat pias seperti maling yang tertangkap basah.