NIRMALA

NIRMALA
APAPUN ITU, AKU DAN KAMU AKAN TETAP SEPERTI INI



Menyatakan perasaan pada seseorang bukanlah hal yang mudah. Selain memilih waktu yang tepat, juga harus harus dengan kata-kata yang tepat. Namun apa jadinya jika seseorang itu malah menganggap lelucon pernyataan cintamu.


Hahahaha. Tawa renyah terus saja terdengar dari gadis yang baru saja mendapatkan pernyataan cinta dari lelaki yang sudah beberapa bulan ini mengajarinya banyak hal yang tidak ia ketahui.


"Aduh Evan, kamu kaku banget sih jadi laki-laki" kata Nirmala disela-sela tawa nya.


"Tapi aku suka karena aku tau itu adalah ungkapan hati kamu yang paling dalam, kamu terlalu jujur Evan" ucapnya lagi dengan berusaha menghentikan tawa nya.


Evan diam, matanya mulai berkaca-kaca menanti jawaban dari gadis yang terus saja tertawa karena ungkapannya. Evan berharap Nirmala akan memberikan jawaban yang ia harapkan, Namun jika tidak, kembali lagi pada posisinya, yang terpenting ia sudah mengungkapkannya.


Kini Nirmala hening, bahkan menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, Evan menatap gadis yang menunduk itu dengan perasaan penuh harap.


"Baiklah kalau kamu belum bisa menjawab sekarang, Nirmala. Yang terpenting aku sudah mengatakan perasaan ku padamu, dan aku benar-benar serius dengan ucapan ku itu. Seandainya pun kamu tidak menerima ku sebagai pendamping mu, setidaknya kita masih bisa berteman kan" kata Evan, ia menyunggingkan senyum walaupun hatinya sekarang tengah berkecamuk dengan perasaannya.


Cinta tidak mengharapkan imbalan apapun. Cinta adalah sesuatu yang harus bisa kita berikan dengan bebas. Ini tidaklah mudah, tetapi itulah yang membuat cinta itu benar dan murni.


Hanya saja, jangan biarkan cinta bertepuk sebelah tangan mempengaruhi harga dirimu dan membuatmu tidak bahagia dengan diri sendiri. Sebaliknya, jadikanlah orang itu inspirasi untuk selalu menjadi lebih baik lagi dan bahagia dalam hidup.


Satu hal tentang cinta adalah, jika kamu tidak mencintai diri sendiri terlebih dahulu, maka kamu tidak akan pernah tahu bagaimana mencintai orang lain dengan benar.


Nirmala bukannya tidak mau menerima Evan. Ia sangat ingin, bahkan ia juga mempunyai perasaan yang sama pada lelaki itu. Hanya saja, mengingat bahtera rumah tangga kedua orang tuanya yang berakhir di ketukan palu hakim membuatnya takut untuk menjalin hubungan seperti itu. Orang tuanya saja yang awalnya saling mencintai bisa berpisah, bagaimana dengannya nanti? memikirkan itu semua membuat kepalanya sakit. Lebih sakit lagi hatinya yang memiliki rasa namun harus ia pendam karena suatu hubungan nyata yang menjadi traumanya. Takut jika ia menjalin suatu hubungan, dan akan berkahir seperti kedua orangtuanya.


"Aku sendiri bingung untuk menjawabnya, Evan. Kau tau sendiri bagaimana hubungan kedua orangtuaku, padahal dulu mereka saling mencintai tapi sekarang......." Nirmala menghentikan kalimatnya, ia rasa lelaki itu sudah mengerti sampai disitu.


Dan Evan pun tersenyum, ia mengerti sekarang kenapa gadis itu terus mengulur waktu untuk menjawab pertanyaannya.


"Jadi apa kau berpikir hubungan kita nanti akan seperti orang tuamu?" tanyanya, Evan harap Nirmala menjawab iya dan ia akan meyakinkan gadis itu bahwa setiap hubungan tak memiliki ujung yang sama. Tergantung bagaimana seseorang menjalankan suatu hubungan itu.


Nirmala semakin menundukkan kepalanya, yah ia tahu jika suatu hubungan itu tidak selalu berakhir buruk seperti hubungan kedua orangtuanya. Hanya saja trauma itu lebih menguasai hatinya, dan membuatnya takut untuk menjalin suatu hubungan juga.


Evan tersenyum, dan yah tebakan nya mungkin saja benar, itulah yang sedang dipikirkan oleh gadis itu sekarang, trauma akan hubungan kedua orangtuanya yang membuatnya juga takut jika menjalin hubungan nanti juga akan berakhir seperti itu.


"Mama dan Papa ku dulu juga pernah bercerai, Nirmala" dan ucapan Evan itu membuat Nirmala seketika mengangkat pandangannya pada lelaki itu, ia menatapnya lekat meminta penjelasan.


"Apa maksudmu, Evan? Tante Alisa dan Om Danu pernah bercerai, tapi mereka.......


"Karena mereka mau memperbaikinya" kata Evan menyela ucapan Nirmala.


"Dulu mereka tidak memiliki kecocokan karena pernikahan mereka hanya karena perjodohan, Mama tidak menyukai Papa waktu itu, tapi Papa selalu berusaha agar Mama mau membuka hatinya untuk Papa. Dan terjadilah perceraian itu, di tiga tahun berikutnya mereka dipertemukan lagi, ternyata selama tiga tahun itu mereka tidak pernah memiliki pasangan lain, lalu akhirnya Papa berusaha meyakinkan Mama lagi agar mau membangun hubungan mereka yang sudah lama berakhir...


"Lalu?"


"Lalu pada akhirnya Mama mau menerima Papa lagi, karena ternyata selama tiga tahun itu Mama sedikit menyesali ego nya karena sudah menyia-nyiakan Papa yang begitu perhatian padanya" Evan meniti kan air matanya menceritakan kisah kedua orangtuanya.


"Seandainya mereka tidak kembali waktu itu, pasti tidak akan ada aku" ucapnya lagi dan membuat Nirmala terkekeh mendengarnya.


"Aku tidak akan memaksa agar kau menjawabnya sekarang, aku tau menjalani sebuah hubungan itu tidak semudah yang kita bayangkan. Jadi tidak salah kalau kau ingin mempertimbangkan ini lagi, dan apa pun keputusan mu nanti insya Allah aku akan terima dengan senang hati. Tapi apapun itu nanti, aku dan kamu akan tetap seperti ini" Evan tersenyum pada gadis itu, namun di detik berikutnya ia mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu menghela nafasnya yang terasa mencekal.


"Tapi Evan, bukan hanya tentang orangtuaku. Kau sendiri tau bagaimana aku dulu sebelum mengenal kamu, aku ini hanya gadis club'malam....


"Shttt..."Evan meletakkan jari telunjuk nya di bibirnya sendiri. "Jangan bahas itu lagi, Nirmala. Bukankah aku sudah katakan, bahwa kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Aku mencintaimu dengan sederhana apa adanya, masalah kekurangan kita bisa perbaiki bersama. Dan ketika dua orang yang sedang menjalin hubungan saling perduli satu sama lain, mereka akan menemukan cara untuk membuat hubungan berjalan dengan baik.


"Aku termasuk wanita yang beruntung karena dicintai lelaki sebaik kamu, Evan.Tapi aku merasa tidak pantas untuk kamu"


"Bukan itu yang ingin aku dengar, Nirmala. Jangan dijawab sekarang, Nirmala, tapi aku akan tetap menunggu jawaban kamu'' Evan tersenyum. Nirmala pun merasa tidak enak hati karena sudah menggantung harapan lelaki itu.


Keduanya pun hening, baik Nirmala maupun Evan tidak ada lagi yang berbicara. Keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga ketiga paruh baya itu kembali, dan masuk kedalam ruangan yang begitu hening, padahal didalam ada dua orang yang duduk saling berhadapan.


Ketiga paruh baya itu masuk dan menghampiri putra putri mereka.


Alisa berdiri disamping putranya, ia melihat ada aura kesedihan diwajah tampan yang begitu mirip dengannya itu.


"Ya Allah, apa putraku di tolak"