NIRMALA

NIRMALA
GAGAL NOSTALGIA



...🍂🍂🍂...


Jika tadi pagi Evan begitu terlihat bersemangat saat menjemput dan mengantar Nirmala ke butik, namun sore ini raut wajahnya berubah sendu saat menjemput gadis itu di butik sang Mama.


Sore ini mungkin yang terakhir ia mengantar jemput Nirmala untuk beberapa hari kedepan karena ia akan berangkat ke luar kota esok pagi.


Saat tiba di butik, Evan meminta izin kepada Mama nya untuk mengajak Nirmala makan malam diluar. Setelah mendapat izin, Evan dan Nirmala pun berangkat.


Diperjalanan, Nirmala hanya diam saja. Ia semakin bingung dengan perilaku Evan terhadap nya yang semakin hari jauh berbeda saat dengan pertama kali pertemuan yang tidak di sengaja itu.


Evan melirik gadis yang duduk dikursi penumpang disampingnya, gadis itu menatap ke arah luar kaca mobil, ia menatap apa saja yang mobil itu lewati.


"Gak apa-apa kan kalau malam ini tidak belajar dulu?" Ucap Evan, ia memelankan laju mobilnya agar dapat leluasa melihat Nirmala.


Nirmala mengalihkan pandangannya yang menatap ke arah luar pada lelaki tampan yang sudah beberapa hari ini membuat ia kebingungan dengan perilakunya.


"Kenapa?" Tanyanya, melihat lelaki itu sebentar lalu menatap jalanan didepannya.


"Aku ingin mengajak kamu makan di cafe tempat kita pertama kali ketemu, pertemuan yang tidak disengaja" ucap Evan terkekeh, mengingat kejadian itu.


"Wah ceritanya mau ajakin aku nostalgia nih" Nirmala memiringkan tubuhnya menghadap Evan. Kali ini Nirmala berniat menginterogasi lelaki tampan di sampingnya itu.


"Nostalgia?" Evan menatap Nirmala sekilas. " Apa itu bisa dibilang dengan nostalgia?" Tanya Evan tersenyum namun tatapannya tertuju pada jalanan di depannya.


"Em... Mungkin" jawab Nirmala, ia yang sedari tadi memiringkan tubuhnya menghadap Evan kini membenahi posisi duduknya lalu mengikuti arah pandang Evan.


"Oh ya Van, kira-kira berapa hari kau di luar kota?" Tanya Nirmala lalu menatap Evan lagi.


"Em... Kurang lebih mungkin sekitar satu minggu" jawab Evan dan melihat Nirmala sekilas.


"Wah lama juga ya" Nirmala memanggut-manggutkan kepalanya.


"Iya, syukur-syukur kalau cepat selesai bisa pulang dua atau tiga hari, tapi kalau ada kendala yah bisa lebih seminggu mungkin"


"Jangan lama-lama loh nanti aku rindu" ucap Nirmala mengerutkan keningnya dan memanyunkan bibirnya.


Evan menyunggingkan senyum dibibir nya mendengar gadis mengatakan rindu, yah bukan hanya Nirmala yang akan rindu terlebih Evan, ia yang akan sangat merindukan gadis itu. Belum pergi saja ia sudah gelisah, bagaimana nanti kalau ia sudah pergi esok?


"Kau akan rindu padaku?" Tanya Evan, hatinya menggebu, gadis itu mengatakan 'nanti aku rindu'


"Iya, karena untuk beberapa hari kedepannya aku tidak akan bisa belajar kalau tidak ada kamu"


"Oh, jadi nanti kau hanya akan merindukan untuk belajar dengan ku, begitu?" Evan menautkan kedua alisnya.


"Ya iyalah, memangnya rindu apa lagi?" Nirmala melirik ke arah Evan, wajahnya lelaki itu terlihat sendu.


"Eh kenapa dia, tadi kelihatannya senang, terus sekarang kenapa wajahnya terlihat sedih begitu ya. Ucap Nirmala dalam hati.


"Em, bukan apa-apa" Evan seperti tergelincir, ternyata ia salah mengartikan kata rindu yang diucapkan oleh gadis itu.


Evan mengembangkan senyum di bibirnya dengan sedikit terpaksa, ia tidak ingin gadis itu tau kalau ia sedang sedih saat ini. Sedih karena hanya ia yang akan merindu nantinya, sementara gadis itu hanya akan merindukan belajar dengannya.


Tak terasa kini mobil Evan sudah ikut berjejer rapi di parkiran cafe yang mereka kunjungi, cafe yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka. Yah walau hanya pertemuan yang tidak di sengaja.


Setelah Nirmala keluar dari mobil, kedua nya pun berjalan beriringan masuk ke dalam cafe. Kebetulan saat itu cafe sedang ramai, dan Evan pun mengedarkan pandangannya mencari meja yang tak berpenghuni namun ia tidak menemukannya, semua meja sudah terisi.


"Em Evan, sepertinya kita tidak jadi bernostalgia di cafe ini, lihatlah semua meja sudah terisi" ucap Nirmala yang juga ikut mengendarakan pandangannya mencari meja yang tak berpenghuni.


"Iya, kalau begitu ayo kita ke cafe lain saja" ajaknya, lalu Evan membalikkan badannya hendak keluar dari cafe itu.


Namun, saat Evan dan Nirmala hendak keluar, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil meneriaki nama Evan.


"Pak Evan" teriak seorang pria paruh baya dengan mengangkat sebelah tangannya, pria paruh baya itu sedang bersama istri dan putrinya.


Evan pun menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata yang berteriak memanggilnya itu adalah Pak Edward rekan kerjanya. Evan pun juga melambaikan tangannya pada rekan kerja nya itu.


"Mari Pak Evan, disini saja bareng kami, sudah tidak ada meja kosong" ucap Pak Edward sedikit berteriak karena jaraknya dengan Evan berjauhan.


Evan pun mengajak Nirmala menuju dimana rekan kerjanya itu berada.


Evan tahu kalau Nirmala merasa enggan karena disitu juga ada Lestari, namun Evan tetap menghampiri Pak Edward karena merasa tidak enak apabila menolak ajakan dari rekan kerjanya itu.


Pak Edward berdiri menyambung Evan dan Nirmala, dan mempersilakan nya duduk.


"Wah Pak Evan, apa ini calon istrinya Pak Evan?" Tanya Pak Edward yang melihat Nirmala.


Evan tidak menjawab iya dan juga tidak menjawab tidak, ia hanya tersenyum dan mengaminkan dalam hati apa yang diucapkan oleh Pak Edward yang mengira Nirmala adalah calon istrinya.


"Dasar aneh, di tanya bukannya menjawab malah senyum-senyum" gerutu Nirmala dalam hati.


Nirmala mengalihkan tatapan kesal dari Evan pada Lestari yang sedari diam seolah tidak mengenali nya, Nirmala pun tidak mau ambil pusing akan hal itu, jika Lestari memutuskan tidak ingin berteman dengannya lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa, yang terpenting ia sudah mengingatkan suatu kebajikan pada temannya itu.


Pak Edward memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk Evan dan Nirmala, setelah makanannya datang, semuanya makan dengan khidmat, terkecuali dengan Lestari yang menatap kebencian pada Nirmala yang tengah menikmati makanan nya.


Makan malam pun telah usai, Evan dan Nirmala berpamitan untuk Pulang pada Pak Edward.


"Yah gagal deh nostalgia nya" ucap Nirmala setelah berada di dalam mobil, ia tersenyum pada lelaki yang terlihat tenang disampingnya itu.


"Eh jangan pegang-pegang" Evan tersentak kaget saat Nirmala menarik pergelangan tangannya.


"Ah baru jam 8, kita pergi ke tempat lain yuk untuk bernostalgia" ucap Nirmala lagi dengan tersenyum jail.


"Enggak, aku antar kamu pulang saja, lagian tadi kita juga sudah makan"


"Kan tadi kita cuma numpang makan di meja orang"


"Sama aja, aku akan antar kamu pulang, lagian gak baik kita berlama-lama berduaan, takutnya menimbulkan fitnah"


"Huh..."Nirmala melenguh ia menghembuskan nafasnya panjang, sungguh ia lupa kalau ia saat ini sedang bersama lelaki sok alim nya. "Ya udah deh, mau aku nangis juga kamu gak bakalan mau" Nirmala pun mengalihkan tatapannya menata bangunan yang dilewatinya.


"Jangan marah gitu dong, iya nanti aku bakalan ajakin kamu nostalgia bareng orang tua kita" ucap Evan terkekeh.


"Ah kalo rame-rame mah namanya bukan nostalgia, tapi reuni"