
Nirmala tahu dirinya tidak bersalah, tapi entah kenapa ia merasa takut untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam kantor polisi tempatnya ditahan saat ia dibawa dari club.
Evan melihat kekhawatiran diwajah Nirmala, seandainya bisa ia ingin sekali membawa tangan yang terlihat gemetar itu kedalam genggamannya dan menenangkannya, tapi itu tidak bisa. Bukan karena hanya tidak boleh menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya, tapi juga karena Evan bukanlah siapa-siapa bagi Nirmala, ia hanya sekedar menjadi penolongnya saja dan tidak lebih dari itu.
"Ayo kita masuk" ajak Evan.
Nirmala menatap Evan, ingin sekali ia mengatakan kalau saat ini ia sedang takut. Tapi apakah pria itu perduli jika ia mengatakannya, ah bisa saja ia malah ditertawakan.
"Jangan takut, kalau kamu merasa tidak bersalah kenapa harus takut"
Nirmala tersenyum, ah ternyata lelaki sok alim itu tahu kalau ia sedang takut saat ini. Seandainya Evan sama seperti pria-pria yang selalu mendekati Nirmala, mungkin saat ini ia sudah menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan lelaki itu.
"Kenapa senyum-senyum? jangan bilang kamu sudah tidak waras" Evan bergidik ngeri.
Ya ampun, baru saja Nirmala merasa senang karena lelaki itu tahu apa yang sedang dirasakannya, dan sekarang ingin sekali ia menjitak kepalanya.
"Apa, Lo bilang gue gak waras? awas ya, gue peluk nih" Nirmala merentangkan tangannya ingin memeluk Evan.
"Eh jangan..." Evan memundurkan langkahnya. "Bukan seperti itu maksudku, kamu sih tadi muka nya kayak ketakutan, sekarang malah senyum-senyum jadi aku pikir.....
"Jelas banget ya tadi gue dengar Lo bilang gue gak waras" Nirmala menunjuk Evan.
"Ok, aku minta maaf. Sekarang ayo kita masuk kedalam, dan melihat hasil pemeriksaan kamu"
Wajah Nirmala kembali murung, ia benar-benar takut untuk masuk kedalam kantor polisi itu, ia masih ingat betul bagaimana ia diseret masuk kedalam sana karena terus memberontak, ia ingat bagaimana temannya terus menangis didalam sel meminta untuk dikeluarkan. Ah Nirmala jadi takut bagaimana kalau dia kembali lagi kedalam sana, tapi itu tidak mungkin karena ia memang tidak salah, ia tidak memakai barang haram itu.
"Mau masuk apa enggak sih? atau aku minta polisi untuk gendong kamu masuk kedalam" Evan mengernyitkan dahinya.
"Eh sembarang, gue bisa jalan sendiri! Lo aja sana yang minta gendong, banyak noh polisi wanita minta gendong sana" Nirmala kesal iapun berjalan melewati Evan dan masuk kedalam kantor polisi.
Evan terkekeh. "Dasar, emang mau dibuat kesal dulu baru masuk" Evan pun melangkah masuk menyusul Nirmala.
...•••••••...
Evan dan Nirmala duduk berdampingan dihadapan polisi yang akan membacakan hasil pemeriksaan Nirmala, polisi pun membuka lembaran yang berlogo rumah sakit terbesar di kota itu.
Evan melirik Nirmala disebelahnya, gadis itu terlihat tegang dengan hasil pemeriksaannya yang akan dibacakan oleh polisi, ia tegang padahal ia tahu dirinya tidak bersalah. Tapi entah kenapa saat berhadapan dengan situasi seperti ini, yang tidak bersalah pun akan terlihat bersalah karena ketegangan saat berhadapan dengan sang penegak hukum tersebut.
"Baik, ini hasil pemeriksaannya sudah keluar. Sekarang saya akan bacakan hasil pemeriksaan saudari Nirmala terkait positif atau negatif nya saudari Nirmala dari N*rk*tik* jenis S@b√ yang kami amankan dari club yang bertepatan dengan saudari Nirmala juga berada di club'tersebut saat penggrebekan itu." ucap polisi.
"Iya Pak, silahkan dibacakan hasilnya" ucap Evan
"Baik Pak Evan, oh ya dimana teman anda, saudari Lestari." polisi bertanya pada Nirmala.
Nirmala tidak tahu harus menjawab apa, ia menatap Evan disampingnya.
"Em.. Lestari, mungkin sedang dalam perjalanan dengan sekertaris saya Pak, saya sudah meminta sekertaris saya menjemputnya"
"Oh begitu, baiklah sekarang terlebih dahulu saya akan membacakan hasil pemeriksaan saudari Nirmala sambil menunggu saudari Lestari datang."
"Iya Pak, silahkan dibacakan hasilnya" Evan mempersilahkan pada polisi untuk membacakan hasil pemeriksaan Nirmala.
Polisi membuka lembaran y yang berlogo rumah sakit itu.
Kepada saudari Nirmala.
Telah dilakukan pemeriksaan beberapa Nark*b@ berjenis S@B√ pada urine terhadap yang bersangkutan, meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium dengan metode Drugs Urine Screening Test dengan hasil TIDAK TERDAPAT tanda-tanda gejala ketergantungan dari N*rk*tik* berjenis S@b√ tersebut.
"Selamat saudari Nirmala, anda negatif N........" Polisi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nirmala, dan Nirmala dengan antusias menyambut uluran tangan sang penegak hukum itu.
"Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya anda jangan datang ke tempat seperti itu lagi. Anda masih muda seharusnya anda gunakan waktu anda untuk hal-hal yang berguna untuk masa depan anda." ucap polisi itu lagi menasihati Nirmala.
"Baik Pak Polisi, aku janji sama bapak polisi aku gak akan datang ke club lagi."
Polisi dan Evan berbarengan terkekeh.
"Jangan berjanji pada saya, tapi berjanjilah pada diri anda sendiri" polisi itu tersenyum.
"Oh gitu ya Pak" Nirmala terkekeh, ia menggaruk pelipisnya.
Tak lama, Ardi dan Lestari pun datang.
Nirmala dan Evan berdiri dari tempat duduknya, lalu digantikan oleh Lestari yang duduk dihadapan polisi, sementara Ardi ia berdiri disamping Evan.
"Saya sudah membacakan hasil pemeriksaan saudari Nirmala dan hasilnya negatif, sekarang tinggal hasil pemeriksaan anda yang saya bacakan." ucap polisi berbicara pada Lestari.
Lestari mengangguk, ia lalu menatap Nirmala yang berdiri disampingnya memegang bahunya. Lestari sangat tegang dengan hasil pemeriksaannya yang sebentar lagi akan dibacakan oleh polisi yang duduk dihadapannya, apalagi hasil pemeriksaan Nirmala yang dinyatakan negatif membuat Lestari semakin tegang.
Nirmala tersenyum pada temannya itu, kalau ia negatif tentu temannya itu juga negatif, karena mereka berdua selalu pergi bersama, jangan kan barang haram itu, alkohol saja mereka tidak pernah menyentuhnya.
Polisi pun membuka lembaran hasil pemeriksaan Lestari dan melihat hasilnya, polisi menatap Lestari sebentar lalu kembali menatap lembaran hasil pemeriksaan Lestari lagi.
"Saudari Lestari, disini tertuliskan bahwa anda positif menggunakan Nar**** jenis Sa** tersebut.
Deg...
Nirmala terkejut mendengarnya, sementara Lestari menundukkan kepalanya. Yah inilah akhirnya Lestari, ia ketahuan juga telah mengkonsumsi barang haram itu.
"Les, bilang sama gue itu gak bener kan? hasil pemeriksaan itu pasti salah kan" Nirmala mengguncang bahu temannya itu, namun Lestari tak bergeming dari pertanyaan-pertanyaan Nirmala.
"Pak polisi, itu pasti salah. Aku dan temanku ini kemana-mana selalu bersama, ke club pun kita selalu berdua. Jangan kan barang haram itu pak, alkohol saja kita tidak pernah mengkonsumsinya" Nirmala berusaha menjelaskan pada polisi bahwa Lestari sama dengannya tidak menggunakan barang haram itu.
"Maaf, tapi hasil pemeriksaan ini sudah membuktikan bahwa saudari Lestari terbukti menggunakannya, dan hasil pemeriksaan ini akurat" ucap polisi itu.
"Les, kenapa Lo diam aja, jelasin sama Pak polisi itu kalau Lo gak menggunakan barang haram itu, bilang kalau hasil pemeriksaan itu pasti salah" Nirmala mendesak temannya untuk berbicara, namun Lestari tetap pada posisi awalnya tidak bergeming dari tindakan Nirmala.
Lestari berdiri dari tempat duduknya, ia menatap temannya itu lalu memeluknya. "Sorry Nir gue udah gak jujur sama Lo"
Nirmala melerai dekapan Lestari dari tubuhnya, lalu memegangi kedua bahunya. "Apa maksud Lo Les, Lo udah gak jujur apa sama gue?''
"Hasil pemeriksaan itu gak salah kok Nir, gue emang menggunakannya"
Deg... Nirmala tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya barusan, ingin percaya pun rasanya mustahil karena mereka selalu pergi bersama dan Nirmala tidak pernah mendapati temannya itu menggunakan barang haram itu.
"Lo bohong kan Les?''
Lestari menggeleng. "Enggak Nir, gue emang....
Set.... Nirmala mendorong temannya itu, Lestari hampir terjungkal ke lantai, beruntung Ardi segera menangkap tubuhnya.
"Gue kecewa sama Lo Les" Nirmala membalikkan tubuhnya membelakangi Lestari lalu menarik tangan Evan segera keluar dari ruangan itu.
Lestari terus berteriak memanggilnya nama Nirmala dan meminta maaf, namun sang pemilik nama tidak menghiraukannya dan terus melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu dengan terus memegangi tangan lelaki yang selalu disebutnya sok alim.