NIRMALA

NIRMALA
JADIKAN AKU KEKASIH HALALMU



"Aku.... Iya Ma, Pa" Evan menatap Mama dan Papa nya bergantian.


Alisa mendengus, lagi-lagi putranya menjawab dengan tidak jelas.


"Iya apa sih Evan? kamu tuh, jawab yang benar dong" Alisa mulai meninggikan suaranya.


"Hufsss jangan berisik, ini dirumah sakit loh bukan dirumah kita" tegur Danu pada istrinya.


"Evan, ayo jawab yang benar!" ucapnya pada putranya, tak menghiraukan teguran suaminya.


"Iya Mama, aku suka sama dia" Evan menghembuskan nafasnya, lega setelah menjawab pertanyaan Mama nya.


Alisa tersenyum, iapun bernafas lega mendengar jawaban putranya yang ternyata memang menyukai gadis yang sedang dirawat di dalam ruangan VVIP itu.


"Mau Mama kasih saran gak?"


"Saran apa Ma"


"Yah seperti yang Mama bilang waktu itu, jadikan Nirmala menantu Mama"


"Tapi Ma, gimana kalau ternyata dia gak suka sama aku"


"Yah dicoba dulu dong, Evan. Pokoknya setelah dia bangun nanti kamu harus bicarakan ini sama Nirmala, dan jangan ditunda-tunda lagi. Kalau kita punya niat baik harus diutarakan, diterima atau tidaknya yang penting kita sudah berusaha" ucap Alisa menasihati putranya.


"Benar kata Mama kamu van, kalau menyukai seseorang itu jangan menunda-nunda untuk mengutarakannya, nanti dia orang itu keburu pergi baru deh nyesel" ucap Danu menyahuti tapi ia menatap Istrinya.


"Tuh kan, Mas mulai lagi deh"


"Apa sih, aku kan cuma mengulang kalimat kamu tadi dan menambah nya sedikit" ucap Danu terkekeh.


"Nambahin kalimat tapi nyindir" Alisa menatap jengah suaminya, yang selalu menyangkut-pautkan pembahasan tentang putranya pada masa lalunya.


"Ya udah Van pokoknya nanti setelah Nirmala bangun kamu harus bicara sama dia, Mama sama Papa pulang dulu bersih-bersih, dan Mama gak mau tau pokoknya nanti kalau Mama sudah balik kesini lagi, kamu sudah bicarakan ini sama Nirmala" ucap Alisa, menekankan pada putranya.


Evan hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak menjawab karena ia masih tidak yakin bisa mengatakan itu pada gadis itu.


Alisa, Danu dan Herlina pun pulang dan sebelumnya Herlina menitipkan Nirmala pada Evan meminta untuk menjaga putrinya untuk sementara ia pulang dulu untuk bersih-bersih dan mengambil baju ganti untuknya dan juga Nirmala, karena gadis itu masih harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.


Flashback off


Evan masih diam disofa yang ia duduki, matanya terus menatap gadis yang sedang menikmati martabak pemberiannya itu, namun pikirannya masih menimang-nimang kata-kata Mama nya untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis yang duduk di atas ranjangnya itu tengah menikmati martabak pemberiannya.


Evan bingung harus memulai kata-katanya dari mana, takut saat ia mengutarakan perasaannya nanti namun gadis itu tidak menanggapinya dengan serius.


Ah, belum mencobanya saja ia mulai khawatir.


Evan berdiri dari tempat duduknya, perlahan ia melangkah menuju ranjang gadis itu. Ia menarik kursi lalu duduk. Yah, apa salahnya mencoba terlebih dahulu, diterima atau tidaknya yang penting ia sudah mengungkapkan perasaannya yang mengganjal itu.


Mendapat tuduhan seperti itu Evan malah terkekeh, sungguh gadis yang disukainya luar biasa dalam berkata-kata. Kadang-kadang membuat terkesima, kadang-kadang juga seperti menjatuhkan.


"Terkadang kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, tapi hati tidak bisa menolak. Nirmala, aku jatuh cinta padamu" entah ia mendapatkan kata-kata dadakan itu dari mana, namun Evan akhirnya bisa bernafas lega karena sudah mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Evan tersenyum, namun seketika ia melenguh karena gadis itu malah tertawa.


"Hahahaha, aduh apa aku gak salah dengar, kamu bilang apa tadi?''


"Kamu tidak salah dengar Nirmala, aku serius" ucap Evan, matanya mulai berkaca-kaca, bagaimana jika gadis itu menolaknya? sungguh ia pasti akan kecewa, namun itu sudah menjadi resikonya. "Nirmala, aku jatuh cinta padamu" ucapnya lagi.


"Aku kira aku salah dengar, dan ternyata kamu benar-benar mengatakannya" kata Nirmala, ia merasa lucu dengan satu kata yang meluncur dari bibir lelaki itu.


"Iya Nirmala, aku mengatakannya, jadi apa jawabanmu?"


Dan Nirmala lagi-lagi kembali tertawa, membuat Evan menjadi bingung.


"Kamu merasa nggak? ada yang berbeda dari kata-kata kamu tadi" tanya Nirmala.


Evan menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gadis itu.


"Kamu tadi menyebut nama aku, dan itu adalah yang pertama kalinya selama kita kenal" Dan Nirmala pun kembali tertawa, setelah menjelaskan pada Evan sebab ia tertawa.


Evan menekan pangkal hidungnya, jadi karena itu gadis itu tertawa. Evan kira, Nirmala menertawakannya karena mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.


"Nirmala jangan bercanda, aku mohon, aku ingin mendengar jawaban kamu" kini sorot mata Evan berubah sendu menatap gadis itu dengan penuh permohonan.


Nirmala menarik sudut bibirnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Evan Evan, kamu tuh ada-ada aja ya, masa bilang cinta sama aku. Kamu lupa ya aku ini siapa? aku ini bukan kriteria wanita yang kamu sukai" ucap Nirmala, ia terkekeh dengan kata-katanya sendiri.


"Tapi kalau boleh jujur, aku juga suka sama kamu. Tapi aku lebih memilih diam karena aku sadar aku ini siapa, aku gak pantas buat kamu, Evan" Sambungnya. "Kalau boleh tau, sejak kapan kamu jatuh cinta sama gadis club'malam ini" tanyanya kemudian dengan sedikit tertawa.


"Jangan berbicara seperti itu, Nirmala. Aku yakin, kamu pasti gadis baik-baik. Dan sejak kapan aku jatuh cinta aku juga tidak tau sejak kapan, yang aku tau aku merasa nyaman bila didekat kamu, dan merasa kehilangan bila berjauhan. Dan kamu sendiri sejak kapan menyukai aku?"


Nirmala terkekeh. "Lucu ya, aku suka sama kamu dan kamu juga jatuh cinta sama aku, tapi kita sama-sama diam"


"Jadi bagaimana sekarang, Nirmala?"


"Kalau bertanya padaku, aku akan menjawab seperti ini. Cinta kita adalah yang terbaik, karena kau imanku bertambah. Kau membantuku di dunia ini, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga kelak. Maka dari itu, aku bukan hanya ingin menjadi pacarmu, namun menjadi kekasih halalmu. Evan, apakah kau mau menjadikan aku kekasih halalmu?''


"Ah kok jadi aku yang nembak kamu sih" Nirmala menggaruk telinganya. "Seharusnya nya kan kamu, kan yang jatuh cinta itu kamu"


Evan terkekeh dengan tingkah konyol gadis itu. "Ok baiklah, ekhem..." Sejenak Evan berpikir untuk merangkai kata-katanya. "Aku merasa lengkap meski kita belum sempurna, aku merasa senang, meski hatimu belum juga ku genggam. Aku tidak mempunyai kesempurnaa layaknya orang lain, tapi aku memilih satu hati yang akan selalu setia padamu"


Nirmala terdiam mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan lelaki yang katanya jatuh cinta padanya itu.


Dan di detik berikutnya, Nirmala tertawa kencang.


Hahahaha hahahaha...