
Merdunya suara adzan subuh mulai menggema menyerukan panggilan wajib kepada setiap umatnya, subuh yang dingin itu tak mampu menggoda lelaki tampan yang sudah meregangkan kedua tangannya bersiap-siap bangun dan mengerjakan suatu kewajiban bagi setiap muslim muslimah.
Evan mulai bangkit dari pembaringannya, tak lupa ia mengucapkan syukur dan hamdalah di setiap bangun tidurnya.
Sering kali kita lupa bersyukur atas nikmat Allah SWT yang melimpah ruah di muka bumi ini. Kadang-kadang kita hanya dekat dan ingat dengan Allah SWT saat dilanda saja dan meminta bantuan-NYA.
Salah satu nikmat dari Allah yang tak ternilai harganya, yakni kita masih diberikan oksigen secara gratis setiap harinya. Dan sudah selayaknya saat kita bangun tidur mengucapkan Alhamdulillah. Alhamdulillah, karena masih diberikan kesempatan untuk menghirup oksigen.
Evan pun turun dari ranjangnya, ia melangkah menuju kamar mandi untuk bersuci dan setelahnya ia membuka lemari dan mengambil setelan kokoh lalu mengganti piyamanya dengan kokoh tersebut.
Setelah siap, Evan keluar dari kamarnya menuju ruangan dimana ia dan kedua orangtuanya biasa melakukan shalat berjamaah.
Diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda, gadis yang mampu menggetarkan hati putra Danu dan Alisa itu juga kini tengah bersiap-siap untuk melakukan kegiatan wajib itu. Bedanya, Nirmala hanya shalat sendirian karena wanita yang sudah melahirkan nya itu sekarang sedang kedatangan tamu bulanannya.
Diwaktu yang sama dan di tempat yang berbeda, kedua insan yang saling merasakan rasa yang baru pertama kalinya mereka rasakan, mengerjakan kewajibannya itu secara bersamaan.
Setelah selesai shalat, Nirmala bergegas mandi dan bersiap-siap karena pagi hari ini ia akan berangkat sendiri ke butik, lelaki tampan yang katanya sok alim itu tidak akan datang menjemputnya karena ia juga akan berangkat ke luar kota pagi ini.
Sementara Evan yang baru selesai melaksanakan shalat subuh bersama kedua orangtuanya, masih menyempatkan diri untuk mengaji sebelum ia juga bersiap-siap akan berangkat ke luar kota.
Fajar mulai menyingsing, matahari mulai terbit menyinari bumi.
Matahari memang terbit dari satu arah, tapi sinarnya melingkupi segala arah. Dalam hidup ini jadilah seperti matahari. Kamu mungkin terbenam, namun besok kamu akan terbit kembali. Bangkit dan bersinar.
Tidak ada janji yang pasti selain matahari yang terbit setiap hari, dan selama matahari terbit, kehidupan seseorang masih bisa berubah jauh lebih baik.
Pukul 7:10 Ardi sudah tiba dikediaman Sanjaya, ia dengan mobil milik bos yang juga sahabatnya itu. Ardi memasukkan koper mini milik Evan kedalam bagasi, sementara Evan, ia masih didalam rumah berpamitan pada kedua orangtuanya yakni Danu dan Alisa.
Alisa dan Danu pun mengantarkan putran mereka hingga ke mobil, pelukan hangat dan peringatan agar berhati-hati di jalan mengiringi kepergian dua lelaki yang sudah bersahabat sejak kecil itu.
Sampai mobil mewah itu sudah tak terlihat lagi, baru lah Alisa dan Danu masuk kembali ke dalam rumah mereka.Rumah yang menjadi saksi, dimulainya kebahagiaan dalam pernikahan kedua mereka.
••••••
Ojek online pesanan Nirmala sudah tiba di pelataran apartemen, gadis yang mampu membuat hati seorang Evan Sanjaya bergetar, segera bergegas menuju dimana ojek online itu berada.
"Mba Nirmala ya?" tanya si ojek online pada wanita yang terlihat anggun dengan gamis yang senada dengan jilbabnya.
"Iya Mas" jawab Nirmala. "Sedikit ngebut ya, aku sudah hampir terlambat ini'' ucapnya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Semoga Tante Alisa gak marah aku datang terlambat" ucapnya dalam hati. Baru kali ini Nirmala pergi terlambat ke butik, biasanya ia selalu tiba di butik tepat waktu karena putra pemilik butik itu sendiri yang selalu menjemputnya pagi-pagi sekali.
Sementara lelaki tampan yang kini tengah berada di dalam mobil sedang melakukan perjalanan bisnisnya keluar kota, terus berkata-kata dalam hati. Evan terus meyakinkan hatinya sendiri, bahwa sepulang nya nanti ia harus berani mengungkapkan sesuatu yang baru pertama kalinya ia rasakan terhadap seorang wanita.
Dan Ardi yan tengah mengemudi, sesekali melirik sahabatnya yang terus menatap keluar jendela kaca mobil.
"Lagi mikirin apa sih Van?" tanyanya melihat sahabatnya itu sebentar, lalu fokus pada jalanan di depannya.
Evan mengalihkan pandangannya yang melihat apa saja yang dilalui mobilnya pada sahabatnya yang sedang bertanya itu.
"Ah gak ada apa-apa kok Ardi" jawab nya, dengan tersenyum getir.
"Yang bener nih gak ada apa-apa?" tanya Ardi lagi. "Tapi aku perhatikan beberapa hari ini kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu" Sambungnya.
"Ah itu cuma perasaan kamu aja Ardi" kata Evan, mengelak pertanyaan Ardi.
"Kalau dilihat dari ekspresi, kamu seperti sedang dilema" ucap Ardi menebak.
"Dilema? memangnya kenapa aku dilema" ucap Evan terkekeh, ia mempertanyakan kenapa ia dilema padahal ia sendiri yang lebih tau.
"Yah mungkin saja saat ini kamu sedang menyukai seseorang, tapi kamu malu untuk mengungkapkan nya, mengingat kamu itu orang yang anti pacaran" ucap Ardi.
"Ah menebak-nebak saja kamu ini Ardi" Evan terkekeh. yah memang benar apa yang dikatakan Ardi, namun untuk masalah hatinya, ia tak ingin berbagi cerita selain kepada sang pemilik hati. Nanti jika waktunya sudah tepat, bukan hanya kepada gadis itu, tapi juga kepada semua orang ia akan mengatakan bahwa saat ini ia sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta? yah bisa dibilang begitu.
Dan kalaupun itu benar, itu adalah cinta pertamanya.
"Tapi apa sampai sekarang belum ada wanita yang kamu sukai?" Ardi melirik sahabatnya itu. "Seorang CEO seperti kamu ini seharusnya sudah mempunyai pendamping, apalagi usia kamu itu sudah sangat pantas menjadi pemimpin bukan hanya diperusahan namun juga di dalam rumah tangga" kata Ardi lagi, ia terkekeh dengan ucapnya sendiri.
Evan sedikit terpanah dengan ucapan sahabatnya itu. Bukan hanya Ardi, orangtuanya pun entah sudah berapa puluh kali mengatakan hal itu namun ia seperti tidak memperdulikannya, dan baru sekarang ini ia terpikirkan akan kata-kata itu semenjak gadis yang beberapa bulan lalu tak sengaja ia tabrak di cafe dan gadis itu juga yang kini mampu menggetarkan hatinya, dan juga membuatnya merasakan rasa yang belum pernah ia rasakan terhadap lawan jenis.
Evan tidak lagi menimpali ucapan Ardi, memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, usianya sudah pantas untuk menjadi seorang pemimpin di dalam rumah tangga. Namun, untuk saat ini ia harus lebih meyakinkan hatinya lagi sebelum ia mengambil keputusan yang besar itu.
Keduanya kembali hening, Ardi pun juga kembali fokus pada jalanan di depannya, sementara Evan ia membawa kembali pandangannya pada apa saja yang dilalui mobilnya dari kaca jendela mobil.