NIRMALA

NIRMALA
LAMARAN



Lelaki tampan yang tempo hari meminta kepada kedua orangtuanya untuk segera dilamarkan gadis nya kini semakin terlihat tampan dengan balutan kemeja batik berlengan panjang yang melekat di tubuhnya, ia menatap pantulan dirinya dari cermin dan senyuman terlihat diwajahnya semakin menambah aura ketampanannya.


"Nak, sudah belum sih? kamu kok jadi kayak perempuan lama banget" kalimat tanya wanita paruh baya dari balik pintu, membuyarkan lamunan Evan yang terus menatap pantulan dirinya di cermin.


"Iya Ma, aku udah selesai kok" jawab Evan, iapun segera keluar dari kamarnya.


"Huh, ngapain aja sih lama banget?" gerutu Alisa saat putranya sudah keluar dari kamarnya.


Dan Evan menanggapinya dengan senyuman, iapun meraih lengan Mama nya dan merangkulnya menuju ruangan dimana Papa nya dan juga Ardi sedang menunggu.


"Lama banget, Van" tegur Ardi, iapun sama seperti Danu dan Alisa yang merasa anyep menunggu Evan.


"Udah ah, ayo berangkat" ajak Evan iapun kembali merangkul lengan Mama nya, membuat lelaki paruh baya itu cemberutnya karena diabaikan oleh putranya.


"Papa gak digandeng juga nih sekalian" sindir Danu.


"Enggak ah, Papa sama Ardi aja. Ardi gandeng Papa ku ya" perintahnya pada Ardi, dan Ardi hanya melongo mendengarnya. Sementara Danu, ia berpikir segitu bahagianya kah putranya itu sampai-sampai bertingkah seperti anak kecil.


Jika dikediaman keluarga Sanjaya terlihat jelas rona kebahagiaan, lain halnya dengan di apartemen Nirmala. Disana sudah ada Pak Dion beserta istrinya, sementara Herlina merasa tidak nyaman dengan situasi itu belum lagi si istri dari mantan suaminya itu terus memamerkan kemesraannya bersama sang mantan suami dihadapannya.


Nirmala yang ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Mama nya, menggenggam tangan sang Mama untuk membuatkannya. Dan Herlina pun mencoba rileks karena hari ini adalah hari bahagia putrinya karena sebentar lagi seorang pangeran akan datang melamar putrinya, jika saja tidak ia pasti sudah memberi perhitungan pada Wanita itu dan juga mantan suaminya.


Tak lama keluarga Evan pun sudah tiba, mereka masuk ke dalam apartemen dan memecah ketegangan disana.


Dan Nirmala langsung memalingkan wajahnya dari lelaki tampan yang terus menatapnya, sejak awal kedatangannya.


Alisa pun merasa gemas, melihat ekspresi malu-malu dari calon menantunya.


"Van, Nirmala cantik banget" bisik Ardi di telinga Evan.


"Jangan memuji calon istri orang ya" serunya juga berbisik di telinga Ardi, dan Ardi pun terkekeh mendengar kalimat peringatan itu.


Acara lamaran pun dimulai. Danu mengutarakan niat kedatangannya melamar Nirmala untuk putranya.


Tak henti-hentinya Evan mengucap beribu syukur dalam hatinya, saat acara lamaran berjalan dengan lancar sesuai keinginan dan tanpa hambatan apapun. Begitupun dengan semua yang ada diruangan itu.


Dan Nirmala, ia juga melafalkan hamdalah dalam hatinya dan menyadarkan dirinya kalau ini adalah nyata dan bukannya mimpi. Kini ia sudah resmi menjadi calon istri dari seorang Evan Sanjaya.


"Untuk tanggal pernikahannya, sudah saya tentukan akan dilaksanakan bulan depan" kata Danu. Ia menatap Dion, Papa nya Nirmala meminta pendapatnya.


"Pa..." Evan ingin protes, namun Mama nya mencegah nya dengan menyenggol lengannya. Menurut Evan, waktu sebulan itu sangat lama baginya. Saat Papa nya meminta waktu 2 hari saja untuk lamaran iapun merasa keberatan, apalagi ini harus menunggu 1 bulan.


"kalau saya, saya ikuti yang mana baiknya saja menurut Pak Danu. Saya turun senang dan bahagia karena sudi nya Pak Danu melamar putri saya sebagai menantu bapak" ucap Dion.


Danu memanggut-manggutkan kepalanya, ia beralih menatap Herlina. "Untuk Persia pernikahannya, saya yang akan mengurus semuanya. Kalau untuk baju pengantin dan serangkaian nya, itu saya serahkan kepada istri saya" Danu menatap Istrinya, dan Alisa pun tersenyum. "Jadi Mba Herlina tidak usah memikirkan apapun, kami yang akan mengurus semuanya" ucap Danu kembali menatap Herlina.


Herlina tersenyum, ia merasa tenang sekarang. Putrinya mendapatkan keluarga yang baik, dan untuk kedepannya ia tidak akan mengkhawatirkan nasib putrinya lagi karena putrinya nanti sudah ada suami dan keluarganya yang akan menjaganya.


"Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan pada Nirmala, yang tidak pernah dia dapatkan dari kedua orangtuanya" ucap Herlina, melirik mantan suaminya sebentar. Dan Pak Dion pun merasa tersinggung dengan ucapan mantan istrinya itu.


Nirmala menggeleng. "Apalagi yang harus aku minta Tante, ini semua lebih dari cukup" jawab Nirmala malu-malu, dan membuat Alisa semakin gemas melihatnya.


"Kalau saya sih, pasti minta apartemen mewah serta mobil mewah" ucap istri pak Dion, menimpali.


"Aku tidak perlu meminta apapun lagi Tante. Semua milik suamiku, sudah pasti akan menjadi milikku juga nantinya'' jawab Nirmala, dan membuat semua yang ada di ruangan itu menatapnya bangga dengan ucapannya, terutama dengan lelaki tampan yang tidak pernah mengalihkan pandangannya juga menatapnya takjub pada calon istrinya itu.


"Itu benar sekali, insya Allah saya bisa memenuhi semua kebutuhan istri saya nanti. Sehingga dia tidak akan pernah memiliki niat untuk memiliki milik orang lain" kata Evan menimpali ucapan Nirmala. Dan ucapan Evan itu membuat Pak Dion dan Istrinya merasa tertampar.


"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya pamit pulang dulu" ucap Pak Dion, lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Untuk saat ini cukup sampai disini pembicaraan kita hari ini, selebihnya nanti akan saya sampaikan pada Mbak Herlina" jawab Danu diiringi dengan senyuman.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi pulang" pak Dion pun meraih tangan Istrinya dan segera pergi dari tempat itu.


Sementara Nirmala, menatap sedih pada langkah Papa nya yang pergi. Ingin sekali ia memeluk Papa nya, namun kekesalannya pada istri Papa nya itu membuatnya mengurungkan niatnya.


Evan yang melihat kesedihan di wajah calon istrinya, pun mencoba menghiburnya.


"Em, Nirmala bagaimana kalau hari ini kita pergi nonton bioskop" ucap Evan dengan semangat.


"Van, mama saranin untuk sebulan kedepan sebaiknya kamu jangan terlalu sering bertemu Nirmala dulu ya" ucap Alisa menasihati putranya.


"Hari ini aja kok Ma, kita juga gak pergi berdua kok. Sama Ardi juga, iya kan Ardi" kata Evan menatap Ardi.


"Ngapain ngajak aku, mau jadikan aku obat nyamuk? tega banget sih" ujar Ardi, ia mengerucutkan bibirnya seperti gadis yang sedang merajuk.


Dan semua yang ada di ruangan itu tertawa karena tingkah Ardi.


"Em begini saja, bagaimana kalau kita semua pergi bersama menonton bioskopnya. Karena setelah ini kita pasti akan di sibukkan dengan urusan persiapan pernikahan, jadi mungkin tidak ada kesempatan untuk itu nantinya" usul Danu, dan membuat putranya tersenyum getir karena niatnya hanya ingin pergi berdua dengan Nirmala. Ajakan nya pada Ardi pun sebenarnya hanya akal-akalan nya saja, ia akan menurunkan Ardi di jalan nantinya.


.


.


.


.


.


Hai hai numpang promosi ya😁


Mohon dukungannya juga untuk karya ku yang sedang mengikuti lomba 🙏🙏🙏