
Malam ini adalah malam pesta hari jadi perusahaan. Acara dilaksanakan di aula gedung Adhikarisma Group. Semua karyawan diundang tanpa kecuali. Walaupun ini hanya pesta sederhana, semua nampak antusias karena mereka bisa berkumpul dalam suasana santai diluar pekerjaan. Prasetya sudah nampak gagah dengan setelan jas mewahnya. Dia bersiap untuk memberi sambutan. Bu Saras juga terlihat hadir mendampingi anaknya. Dia terlihat sangat cantik dengan pakaian sederhana tetapi tetap nampak elegan.
Setelah selesai memberikan sambutan, semua karyawan dipersilahkan untuk menikmati jamuan dan hiburan yang disediakan. Prasetya bergabung bersama Ibunya dan Dani. Sambil berbincang matanya terus mencari sosok wanita yang sudah mengisi pikirannya akhir-akhir ini tetapi dia tetap tidak menemukannya. Apakah Nirmala tidak hadir? Prasetya nampak gelisah.
Hal yang sama terlihat pada Dani, dia juga gelisah menunggu kedatangan Nirmala. Dia sudah berencana akan mendekati Nirmala mulai sekarang.
"Ada yang sedang kamu tunggu nak?" Ibu Saras bertanya ketika melihat putranya tampak gelisah dan melihat setiap sudut ruangan.
"Oh tidak Bu, aku hanya kaget ternyata mereka semua nampak antusias dan itu membuatku bersemangat." Prasetya menutupi perasaanya.
"Tentu saja, hanya setahun sekali mereka bisa berkumpul seperti ini" Ibu Saras berkata sambil tersenyum.
"Saya permisi dulu Tante, ada yang harus saya temui" Dani meminta ijin untuk pergi dari meja mereka setelah melihat Sintya.
Sintya terlihat mengobrol dengan teman satu teamnya. Dia sangat cantik dengan dress kuning kunyit.
"Sintya, Bisa bicara Sebentar?"
Sintya menoleh dan mendapati Dani sudah berdiri dibelakangnya. Sintya menjadi gugup, Dani terlihat sangat tampan malam ini. Berbeda dari biasanya. Setiap hari Dani memang tampan, tapi malam ini dia lebih tampan.
"Iya pak, ada apa?"
"Jangan terllau formal, ini acara santai."
Dani menjawab sambil menatap Sintya yang nampak anggun.
"Oh oke...Ada apa?" Sintya mengulangi pertanyaan dengan nada yang lebih santai.
"Aku tidak melihat Nirmala, apakah dia benar-benar tidak datang?"
Seketika pertanyaan Dani membuat Sintya kecewa. Tapi dia tetap berusaha tersenyum menutupi kekecewaannya.
"Dia bilang dia akan datang, tapi sepertinya sedikit terlambat. Dia harus menenangkan Rendra. Anaknya sedang tidak mau ditinggal." Sintya berkata sambil tetap tersenyum walaupun hatinya merasa sangat sakit.
"Baiklah, Terima kasih Sintya, maaf mengganggumu. Saya akan kembali menemani Prasetya."
"Oke Pak, tidak masalah."
Setelah itu Dani kembali bergabung bersama Bu Saras dan Prasetya. Tidak lama setelahnya, Bu Saras berpamitan, dia tidak bisa pulang terlalu larut karena harus istirahat.
"Kembalilah kedalam, Ibu akan pulang"
Prasetya dan Dani mengantar Bu Saras ke lobby.
"Tante ini masih sore, belum ada jam 9 kenapa Tante terburu-buru?" Dani mencoba membujuk Bu Saras untuk tidak pulang secepat ini
"Ini memang masih sore bagi kalian yang masih muda, tapi bagi Tante ini sudah larut..."
"Baiklah...Ibu harus banyak istirahat, hati-hati dijalan dan Terima kasih Ibu sudah datang" Prasetya berkata sambil membukakan pintu mobil untuk Ibunya.
"Ya...Tentu, Ibu sangat senang bisa datang ke pesta perusahaan yang didirikan Ayahmu. Kembalilah, lanjutkan pestamu."
Prasetya mencium pipi Bu Saras, menutup pintu dan masih menatap mobil Bu Saras yang pergi meninggalkan perusahaan.
"Nirmala...." Prasetya menoleh ketika mendengar Dani memanggil Nirmala.
"Akhirnya kamu datang. Aku menunggumu. Sintya bilang kamu akan terlambat." Dani sangat antusias menyambut Nirmala ketika melihat Nirmala keluar dari taksi.
"Iya, tadi ada sedikit masalah dirumah." Jawab Nirmala.
"Baiklah ayo cepat masuk!" Dani mengajaknya masuk.
"Selamat malam Pak Prasetya." Nirmala menyapa Prasetya yang hanya diam berdiri menatapnya. Kemudian tangan Nirmala ditarik oleh Dani.
Sebenarnya Nirmala merasa sangat risih dengan Dani yang tangannya. Dia merasa tidak enak jika dilihat karyawan lain. Untungnya dari lobby sampai ke dalam lift tidak ada siapapun selain mereka bertiga. Prasetya hanya diam melihat mereka. Ada rasa marah, namun dia sadar dia tidak punya hak untuk melarang Dani.
Setelah sampai didepan aula, Nirmala segera melepaskan tangan Dani dan segera mencari Sintya.
"Permisi pak, saya akan mencari Sintya."
Dengan berat hati Dani melepaskan tangan Nirmala sambil mengangguk.
"Baiklah, silahkan menikmati pestanya Nona..."
Nirmala hanya tersenyum kemuadian masuk kedalam kerumunan pesta. dan sudah tidak terlihat. Prasetya kembali ke mejanya diikuti Dani dibelakangnya. Kemudian mereka asik mengobrol bergabung dengan para manajer di sana. Sebanarnya Dani ingin sekali bersama Nirmala sepanjang pesta ini. Namun dia tidak ingin terlihat terlalu agresif. Setelah lama mengobrol dan menikmati jamuan, Prasetya ingin ke toilet.
"Maaf saya ke toilet sebentar." Prasetya berkata berdiri.
"Saya juga ada perlu sebentar." Dani pun ikut keluar dari pembicaraan setelah melihat Nirmala dan Sintya keluar dari aula. Dani segera berjalan kearah mereka.
Prasetya mengikuti pandangan Dani dan berjalan di belakangnya.
"Kalian sudah mau pulang?"
"Ini sudah malam, kami akan pulang." Sintya menjawab.
"Saya akan antar kalian." Dani menawarkan.
"Tidak perlu pak, Sintya membawa mobil saya bisa ikut Sintya." Nirmala berusaha menolak.
"Tidak masalah, mobil Sintya bisa ditinggal disini besok akan saya suruh orang untuk mengantarnya." Dani tetap berusaha.
"Tidak perlu pak lagi pula anda harus tetap disini menemani Pak Prasetya" Nirmala menjawab sambil melihat Prasetya yang berjalan ke arah mereka.
"Selamat malam Pak...Kami permisi." Sintya berpamitan.
Mereka menundukkan kepala memberi hormat kepada kedua bosnya. Pandangan Nirmala bertemu dengan Prasetya dan merasa sedikit canggung.
Setelah kepergian Sintya dan Nirmala Dani langsung protes dengan kedatangan Prasetya.
"Kenapa kamu harus muncul, seharusnya aku bisa mengantar Nirmala."
Prasetya hanya tersenyum mendapat protes dari Dani.
"Sudahlah, kita masuk."
Dalam hati Prasetya merasa senang karena Dani gagal mengantarkan Nirmala.
Tatapan Prasetya yang sulit diartikan.😀
🌷🌷Bersambung....🌷🌷