
Setelah selesai shalat subuh, Evan menunggu Nirmala di ruang keluarga untuk mengajari Nirmala mengaji, Evan sudah siap dengan Alquran yang biasa ia pakai mengaji dan juga satu buah iqro untuk belajar dasar Nirmala terlebih dahulu. Sementara Nirmala sedang diajari oleh Alisa untuk berwudhu, dan Alisa yang mengajari Nirmala berwudhu serasa sedang mengajari putri kecilnya, dan Danu kembali ke kamarnya usai shalat subuh.
Setelah selesai berwudhu, Alisa mengantar Nirmala ke tempat dimana Evan sudah menunggu Nirmala untuk belajar mengaji.
Nirmala menatap takjub pria yang duduk disajadah dengan Alquran dihadapannya, Nirmala mengakui bahwa Evan termasuk kriteria pria idaman.
"Kamu belajar ngaji sama Evan ya, Tante tinggal kedapur dulu mau buat sarapan"
Nirmala mengangguk. "Iya Tante"
Alisa tersenyum lalu mengelus kepala Nirmala yang terbalut dengan mukenah, kemudian Alisa pun pergi menuju dapur untuk membuat sarapan.
Jika sebelumnya Nirmala selalu berani saat dihadapan Evan, entah kenapa sekarang ia menjadi begitu canggung berhadapan dengannya.
"Kita mulai sekarang ya belajar ngajinya, entar keburu pagi"
Nirmala mengangguk, lalu ia mendekat kehadapan Evan dan Al-Qur'an dan iqro menjadi penghalang keduanya.
Sudah umum jika baru pertama kali belajar pasti akan kesulitan untuk memahami yang kita pelajari, namun jika kita terus mengasah dan berusaha lama-kelamaan pasti akan bisa.
Yah Nirmala serasa ingin menangis karena kesulitan memahami dan menghafal huruf-huruf Hijaiyah yang sudah berulang kali Evan sebutkan, ia ingin berhenti namun Evan terus memaksakan untuk lebih giat lagi agar ia bisa.
"Ah sudahlah Evan berhenti saja belajar mengaji nya, gue benar-benar gak tau apapun" Nirmala mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya yang terbalut mukenah.
"Jangan cepat menyerah, kamu pikir kamu saja yang kesulitan diawal, semua orang pasti seperti itu, begitu juga dengan aku dulu"
"Tapi gue gak akan pernah bisa Evan"
"Apa kamu sudah yakin, kalau kamu tidak akan pernah bisa?" Evan mengerutkan keningnya.
"Yah liat aja dari tadi Lo udah berapa kali sebutin tuh huruf-huruf tapi gue sama sekali gak tau"
"Kita coba sekali lagi ya, em begini aja deh biar lebih mudah, gimana kalau kamu pelajari per sepuluh huruf dulu, kalau sudah bisa baru lanjut ke huruf-huruf selanjutnya"
"Ck, terserah deh, tapi kalau gue masih gak bisa juga mendingan berhenti ajalah"
"Pesimis banget, coba aja dulu, yuk ikutin aku"
Evan pun mengajarkan Nirmala sepuluh huruf Hijaiyah terlebih dahulu, jika Nirmala sudah memahaminya barulah akan lanjut ke huruf-huruf Hijaiyah selanjutnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Nirmala bisa memahami sepuluh huruf Hijaiyah yang diajarkan oleh Evan, dan begitu seterusnya Evan mengajarkan Nirmala huruf-huruf Hijaiyah nya sedikit demi sedikit agar Nirmala mudah memahami nya.
Sekitar satu jam, Nirmala sudah bisa memahami semua huruf Hijaiyah satu persatu dan bahkan sudah menghafal dan tahu yang mana mana saja masing-masing huruf-huruf tersebut.
Nirmala tersenyum puas, seketika bangga pada dirinya sendiri yang sudah memahami semua huruf Hijaiyah.
"Yes akhirnya gue bisa juga" Nirmala bersorak seperti anak kecil yang baru saja memenangkan pertandingan.
"Alhamdulillah, bisa juga kan, gimana rasanya?"
"Ya senang lah, sekarang gue udah bisa ngaji" Nirmala menarik sudut bibirnya, menyombongkan diri.
"Jangan senang dulu, baru memahami huruf Hijaiyah belum bisa dikatakan bisa mengaji"
"Iya kamu memang sudah tau huruf Hijaiyah, tapi apa kamu sudah bisa ini" Evan membuka Al-Qur'an yang biasa ia pakai mengaji lalu menyodorkan pada Nirmala.
"Eh kok ini berbeda dari yang tadi, yang tadi huruf-huruf nya terpisah-pisah dan yang ini kok seperti huruf bersambung ya"
"Ya jelas beda, kalau yang kamu pelajari tadi itu namanya iqro, dan yang ini adalah Al-Qur'an."
"Oh gitu, terus sekarang bagaimana caranya bisa bisa membaca Alqur'an?, ah pasti lebih susah lagi, belajar iqro saja gue hampir nangis karena gak bisa-bisa"
"Sama seperti kamu belajar iqro tadi, kalau kamu sungguh-sungguh mau belajar, kamu pasti bisa"
"Ya udah ayo belajar sekarang" ucap Nirmala antusias.
Evan melihat jam di pergelangan tangannya. "Untuk sekarang sudah dulu belajarnya ya, ini sudah hampir jam 6, aku harus siap-siap mau kekantor dan kamu juga mau ke kampus kan"
"Eh tapi janji loh ya nanti Lo ajarin gue ngaji, biar gue pinter kayak Lo"
"Iya, yang penting setelah pulang kuliah kamu langsung pulang kerumah ini, dan bukan aku lagi menjemput kamu dikantor polisi" Evan tersenyum mengejek.
"Iya deh maaf, gue beneran nyesel waktu itu gak langsung pulang kesini dan malah pergi ke club" Nirmala menunduk lesu membayangkan saat club yang dikunjunginya di grebek polisi dan ia ikut dibawa kekantor polisi.
"Ya udah kamu juga siap-siap sana, oh ya sebelum kekantor, aku harus kekantor polisi dulu untuk melihat hasil pemeriksaan kamu"
Deg... seketika Nirmala mengangkat pandangannya menatap Evan.
"Lo percaya kan, kalau gue gak pake barang haram itu"
Evan tersenyum. "Yah kita lihat saja nanti hasilnya"
"Tapi gue sumpah, gue beneran gak pake n*rk*tik*" Nirmala mengangkat dua jarinya sebagai tanda bahwa ia tidak berbohong.
"Udah jangan pakai sumpah sumpah, kalau kamu emang gak bersalah pasti akan terbukti kalau kamu memang tidak bersalah" Evan menatap lekat Nirmala, Evan mengakui bahwa Nirmala sebenarnya gadis yang baik, namun karena kurangnya kasih sayang dan perhatian yang ia dapatkan membuatnya salah langkah dan salah menempatkan penyelesaian permasalahannya dengan membawanya kedalam dunia hiburan malam sebagai pelariannya.
"Siap-siap sana, kita harus kekantor polisi terlebih dahulu sebelum kamu ke kampus dan aku ke kantor" Sambungnya membuyarkan lamunan Nirmala.
"Iya" jawab Nirmala dengan lesu.
"Jangan begitu, kalau kamu begini kamu malah terlihat seperti orang yang bersalah, kalau kamu memang tidak bersalah seharusnya kamu menunjukkan dan bukannya malah tidak bersemangat seperti ini."
"Iya iya" Nirmala pun beranjak dari duduknya, lalu menuju kamarnya, begitu juga dengan Evan yang pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Seperti biasa saat sarapan pagi tiba, semua berkumpul di ruang makan untuk mengisi perut sebelum memulai aktivitas masing-masing. Namun kali ini Ardi tidak ada, karena tadi malam Evan menyuruhnya pulang dengan taksi online dan Evan membawa mobilnya pulang.
Waktunya Evan dan Nirmala berangkat, terlebih dahulu mereka akan kekantor polisi untuk melihat hasil pemeriksaan Nirmala dan Lestari, sebelum Evan berangkat ke kantor.
Nirmala menyiumi punggungnya tangan Alisa untuk berpamitan, dan Alisa mengelus puncak kepalanya.
"Tante percaya kalau kamu tidak menggunakan barang haram seperti itu." Alisa membawa Nirmala kedalam pelukannya.
Nirmala tersentuh dengan perlakuan Alisa, ia merasa nyaman berada dalam pelukan Alisa. "Terima kasih Tante sudah percaya sama aku."