
Sore hari ketika karyawan lain sudah keluar dari kantor, Nirmala lestari yang lebih sering dipanggil Mala justru masuk ke ruangan Prasetya Hermawan sang pemilik perusahaan.
Tok..tok...
Suara Nirmala mengetuk pintu ruangnya bosnya.
"Masuk..." Terdengar suara Prasetya mempersilahkan Nirmala untuk masuk.
"Permisi pak,maaf mengganggu, apakah bapak ada waktu?" ucap Nirmala setelah masuk ruangan Prasetya.
"Ya, ada apa?" Jawab Prasetya sambil sekilas memandang kearah Nirmala namun justru ia terpaku melihat kecantikan Nirmala.
Prasetya orang yang cuek, tidak pernah memperhatikan penampilan karyawannya. Bahkan ketika pemilik perusahaan lain memiliki sekertaris yang muda dan enak dipandang, Dia memilih Bu Hasna, wanita berusia 45 tahun yang masih cekatan dan tentu saja teliti.
"Mm...Begini Pak, apakah saya bisa mengajukan pinjaman 250 Juta ke Perusahaan?" ucap Nirmala ragu-ragu.
"Saya tau saya baru bekerja disini selama 3 Bulan, Tapi saya janji akan bekerja dengan baik dan mencicil pembayarannya sampai lunas" sambungnya.
Prasetya yang mendengar itu kaget dan menatap tajam Nirmala.
"Kamu pikir 250 Juta uang yang sedikit?" ucap Prasetya.
"Dengan posisi kamu sebagai karyawan baru kamu sudah berani mengajukan pinjaman dengan nominal yang diluar nalar, bagaimana nanti jika sudah senior? Bisa-bisa kamu seenaknya memakai uang perusahaan "
"Ma Maaf pak, maaf atas ke lancangan saya, kalau begitu saya permisi, anggap saya tidak pernah membicarakan hal ini dengan Bapak. Permisi "
Sambil menahan rasa malu dan ketakutannya, Nirmala kemudian berbalik dan hendak keluar dari ruangan bosnya itu.
"Tunggu!"
Ucap Prasetya yang melihat Nirmala memegang gagang pintu hendak keluar.
Prasetya kemudian berjalan kearah Nirmala berdiri.
"Maaf, sekali lagi saya mohon maaf atas ke lancangan saya" jawab Nirmala yang benar-benar merasa malu.
"Saya akan memberikan uang itu" Prasetya berkata sambil melihat mata indah Nirmala.
"Benarkah?" Nirmala reflek menjawab, mendengar semua itu membuat ia sangat kaget dan tidak percaya.
"Dengan satu syarat..." Prasetya menghentikan kata-katanya.
"Apa? Jika saya bisa pasti akan saya penuhi" jawab Nirmala antusias.
"Tidur denganku satu malam"
Entah setan dari mana Prasetya mengucapkan kata-kata itu.
Plak....!!
Nirmala menampar pipi Prasetya, Ia sangat marah, Prasetya benar-benar merendahkan harga dirinya.
"Saya memang tidak memiliki uang sebanyak yang Bapak miliki, saya hanya karyawan biasa, tapi bukan berarti Bapak bisa menghina saya seperti itu" Jawab Nirmala sambil menahan marah kemudian keluar ruangan Prasetya dengan hati yang hancur.
Kantor sudah terlihat sepi, tidak ada karyawan yang berlalu lalang, Keluar dari ruangan Prasetya Nirmala langsung masuk lift menuju lantai bawah. Hatinya benar-benar sakit. Dia tidak habis pikir bosnya bisa berkata seperti itu padanya.
Keluar dari lift, Nirmala menuju toilet dan dia masih menangis, menunduk didepan wastafel sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Setalah lama menangis, Nirmala tersadar ia harus tetap mendapatkan uang itu. Tidak ada cara lain. Apapun konsekuensinya dia harus mendapatkan uang itu. Ia langsung mencuci muka dan merapikan dandanan yang sedikit berantakan.
Sementara di ruangan Prasetya, setalah kepergian Nirmala , Prasetya hanya berdiri menatap keluar jendela ruangannya. Dengan kedua tangan yang ada di saku celananya dia terus berfikir, kenapa dia bisa berkata seperti itu pada Nirmala. Padahal jika memang dia mau, banyak wanita yang dengan sukarela menemani malamnya. Semenjak berpisah dengan istrinya 5 tahun lalu, dia tidak pernah tertarik dengan wanita. Tapi hari ini,entah apa yang di pikirkan, apa tujuannya dan bagaimana jiak Nirmala setuju dengan syaratnya. Prasetya frustasi memikirkan itu semua.
🌷🌷Bersambung....🌷🌷