
Setelah kejadian di atas ranjang itu, Alisa terlihat canggung, ia yang biasanya lebih banyak bicara kini membungkam mulutnya rapat-rapat. Sementara lelaki paruh baya yang sudah membuatnya malu terlihat biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apapun.
"Oh ya Nirmala, seminggu lalu waktu di rumah sakit polisi menelpon Om. Katanya, menurut saksi mata ditempat kejadian mobil yang menabrak ojek online itu seperti sengaja melakukannya. Tapi Om mau tanya sama kamu, bagaimana kejadian itu sebenarnya?" Danu pun membuka pembicaraan karena melihat istrinya merasa tak nyaman karena kejadian yang membuat Istrinya malu yang disebabkan oleh ulahnya itu.
"Sebenarnya aku juga gak begitu tau, Om. Kejadian itu terjadi begitu saja, tiba-tiba saja mobil itu menabrak ojek online yang saya tumpangi dan setelah itu aku gak ingat lagi, Om" kata Nirmala, ia mencoba mengingat peristiwa kecelakaan yang menimpanya itu, namun hasilnya nihil karena ia langsung tak sadarkan diri saat penabrakan itu terjadi.
"Kalau penabrakan itu memang di sengaja, Om menyimpulkan dua kemungkinan. "Mungkin pengemudi ojek online itu mempunyai musuh, atau mungkin kamu sendiri yang ada musuh, Nirmala?"
"Aku gak punya musuh, Om. Aku juga gak pernah merasa berurusan sama siapapun, kecuali......" Nirmala mengerakkan bola matanya pada lelaki tampan yang hanya diam saja menjadi pendengar.
Dan Evan merasa Nirmala sedang meliriknya, iapun ikut berbicara.
"Siapa? Lestari kah maksudnya?" tanya Evan, entah kenapa bukan menuduh, tapi tiba-tiba saja ia terpikirkan Lestari yang memang sekarang hubungannya renggang dengan Nirmala.
"Kok kamu jadi menuduh Lestari" Nirmala merasa tidak terima, lelaki tampan itu menyebut nama temannya. Secara tidak langsung, itu menuduh bukan.
"Bukan begitu maksudku, tapi....
"Maksudku itu adalah kamu, Evan. Kau kan dulu pernah menabrakku di cafe, dan aku malah memaki-maki mu lalu meminta pertanggungjawaban yang menurut kamu itu tidak masuk akal, nah siapa tau aja kamu dendam sama aku" ucap Nirmala, ia menatap Evan sekilas lalu memalingkan wajahnya.
"Astaghfirullah haladzim, aku tidak pernah dendam sama kamu" kata Evan, ia terkejut gadis itu mengira ia dendam padanya, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.
"Pertanggungjawaban yang tidak masuk akal? pertanggungjawaban apa itu, Nirmala" tanya Danu. "Jadi sebelum Evan menolong kamu waktu itu, kamu sudah pernah bertemu Evan sebelumnya?" tanyanya lagi.
Nirmala melirik Danu sebentar yang menanyainya, ia merasa menyesal telah mengatakan itu. Masa iya ia harus bilang dulu ia pernah meminta pertanggungjawaban kepada Evan hanya karena lelaki itu tidak sengaja menabraknya, dan pertanggungjawaban itu adalah Pacaran atau Nikahi.
"Duh ini mulut, ember banget sih" Nirmala mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
"Itu Pa, Evan pernah tidak sengaja menabrak Nirmala di cafe. Dan Nirmala meminta pertanggungjawaban dengan aku harus pacaran atau menikahi nya" kata Evan yang menjawab pertanyaan Papa nya pada Nirmala, ia tersenyum mengejek pada gadis itu yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Entah karena apa? mungkin ia malu.
"Tunggu dulu, Nak Evan pernah menolong Nirmala? kapan, dan menolong apa?" Herlina menatap satu-persatu orang-orang itu yang tiba-tiba terdiam karena pernyataan. Ah ya Herlina belum tau apa penyebab Nirmala pergi dari rumah mantan suaminya.
Alisa, Danu, Evan dan juga Nirmala saling tatap. Mereka bingung bagaimana menjelaskan pada Herlina tentang Nirmala yang pergi dari rumah Papa nya karena pelecehan yang dilakukan oleh saudara tirinya, yakni anak dari wanita yang di nikahi Pak Dion, Papa nya Nirmala.
"Kok pada diam?" Herlina menatap satu-persatu orang-orang itu, ia bingung mereka pada diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Nirmala, ada apa Nak? apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama" Herlina menatap intens putrinya, jika kedua paruh baya beserta lelaki tampan itu enggan menjawab, pasti Putri akan menjawab pertanyaannya.
"Ada apa, Nirmala? kenapa kamu terlihat bingung seperti itu" Herlina menyenggol lengan putrinya, dan Nirmala pun tersentak kaget dari lamunannya yang mengingat peristiwa dirinya hampir dilecehkan.
"I-iya Ma"
"Ada apa sih, apa itu rahasia yang tidak boleh Mama ketahui" Herlina sedikit kecewa karena putrinya juga terlihat enggan untuk menjawab pertanyaannya.
"Ma, sebenarnya aku pergi dari rumah Papa itu karena aku...." Nirmala menghentikan sejenak kalimatnya, ia menari nafasnya sebelum sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.
"Anak sambung Papa mencoba melecehkan aku Ma" ucap Nirmala, ia lalu menundukkan kepalanya setelah mengatakan alasannya pergi ia pergi dari rumah Papa nya.
Deg...... tiba-tiba dada Herlina terasa nyeri mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya.
Herlina memegang dadanya yang terasa nyeri sembari menyebut nama mantan suaminya dengan kebencian. "Dion......"
Alisa yang melihat itu langsung beranjak dari duduknya menghampiri Herlina lalu duduk di sampingnya seraya mengusap bahu Herlina untuk menenangkan nya.
"Mbak yang tenang, Mbak. Gak usah terlalu dipikirkan karena Nirmala sekarang sudah baik-baik saja bersama kita"
Herlina berbalik pada Alisa yang mengusap bahu nya, Herlina pun langsung memeluk Alisa.
"Terima kasih Mbak Alisa, Mbak Alisa sudah memberi tempat tinggal pada Nirmala selama saya di luar kota waktu itu. Kalau saja Nirmala tidak bertemu kalian, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Nirmala" Herlina pun terisak, ia membayangkan bagaimana nasib putrinya waktu itu jika sampai benar-benar dilecehkan oleh anak sambung mantan suaminya.
"Jangan seperti ini Mbak, itu sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong sesama. Asalkan Mbak Herlina tau, sebelum Evan membawa Nirmala ke rumah karena peristiwa pelecahan itu, sebelumnya Nirmala juga pernah menolong saya dari pencopet" kata Alisa.
Herlina mengusap sudut matanya, ia menjadi terharu karena ternyata dulu putrinya juga masih memiliki hati untuk menolong sesama, padahal ia tahu dulu putrinya sangat berandal dan selalu membuat ulah terutama di kampusnya.
"Dan anggap saja semua ini adalah balas budi saya pada Nirmala yang waktu itu sudah menolong saya dari pencopet" kata Alisa.
"Tapi kalau dipikir-pikir balas budi saya sudah lebih dari yang seharusnya, dan kalau boleh saya mau meminta kelebihan nya" kata Alisa lagi, dan membuat semua yang ada di ruangan itu langsung menatap Alisa serentak.
Begitupun Herlina, ia tidak menyangka jika Alisa akan meminta balasan dari bantuannya.
Melihat tatapan semua orang yang berada di ruangan itu menatapnya dengan tatapan yang seolah mengintimidasi, Alisa pun tertawa dan membuat orang-orang itu menjadi kebingungan di buat nya.
Alisa pun membisikkan sesuatu pada Herlina, dan membuat Herlina tersenyum lalu menatap putrinya bergantian menatap Evan.