NIRMALA

NIRMALA
MERASA TERHIBUR



Sudah satu bulan semenjak kejadian penggrebekan di club'waktu itu, sudah satu bulan pula semenjak dinyatakan positifnya Lestari dari barang terlarang tersebut. Lestari pun sudah bebas dari penjara atas jaminan yang diberikan oleh Papa nya, yah tentu Lestari harus membayar mahal kemurkaan Papa nya tersebut.


Juga dengan Nirmala yang diminta oleh Lestari datang untuk menemuinya di penjara, namun hingga Lestari bebas Nirmala tidak pernah datang menemuinya.


Lestari kecewa Nirmala tidak pernah lagi datang menemuinya, ia merasa Nirmala sudah menjauhinya dan tidak ingin lagi berteman dengannya. Lestari akhirnya mendatangi kantor Evan untuk menanyakan keberadaan Nirmala, ia ingin menanyakan kenapa Nirmala tidak pernah datang menemuinya?


Namun ternyata Nirmala sudah tidak tinggal dirumah Evan lagi, Nirmala sekarang tinggal dengan Mama nya di sebuah apartemen yang diberikan oleh keluarga Sanjaya.


Yah dari pada uangnya dipakai untuk menyewa tempat tinggal lebih baik ditabung, toh ada apartemen kosong yang tak berpenghuni sayang kan tidak ada yang menempati, lebih kalau Nirmala dan Mama nya yang menempati apartemen itu. Kata Danu.


Setelah mendapatkan alamat dari Evan, Lestari mendatangi apartemen yang ditempati oleh Nirmala dan Mama nya. Namun saat tiba disana ternyata apartemen itu sedang kosong, dan Lestari pun memutuskan untuk menunggu saja, mungkin Nirmala dan Mama nya sedang keluar sebentar pikirnya.


•••••


Dikantor.


Evan merasa ia tidak berhak memberitahu pada Lestari dimana Nirmala tinggal sekarang, itu bukanlah haknya mengingat selama 1 bulan ini Nirmala tidak pernah mau datang menemui Lestari. Walau ia sudah memintanya dan Ardi yang terus membujuk Nirmala untuk menemui Lestari tetapi Nirmala sama sekali tidak mau.


Evan beranjak dari kursi kebesarannya, ia mengambil jas nya yang ia letakkan di atas meja kerjanya lalu memakainya kembali. Evan keluar dari ruangannya menuju dimana mobilnya terparkir, ia ingin menemui Nirmala yang sedang bekerja di butik sang Mama, ia ingin memberitahu dan meminta maaf langsung karena sudah memberitahu Lestari dimana ia tinggal padahal Nirmala sudah sering mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu Lestari lagi.


Evan melajukan mobilnya keluar dari area kantornya dan ikut berbaur dengan kendaraan lain dijalanan.


Bukan hanya ingin memberitahu dan meminta maaf, tapi entah kenapa Evan juga merasa merindukan sosok gadis yang sudah sejak 1 bulan ini merubah penampilannya berkat wejangan dari sang Mama yang memintanya untuk belajar mengenakan pakaian syar'i lengkap.


Awalnya hanya sekedar mengagumi perubahan cara berpakaiannya Nirmala, namun lama-kelamaan rasa kagum itu beranjak naik menjadi sesuatu yang Evan juga tidak tahu apa itu.Yang Evan rasakan, ia merasa kehilangan bila tidak melihat sosok gadis itu dalam satu hari saja.


Apakah ia jatuh cinta?


Apakah rasa kagum itu berubah menjadi cinta?


Entahlah, Evan sendiri tidak tahu bagaimana jatuh cinta itu.


Tak lama mobil yang dikendarainya sudah ikut berjajar rapi dengan mobil-mobil lainnya yang datang berkunjung ke butik wanita cinta pertamanya itu, Evan keluar dari mobilnya, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam butik dengan perasaan yang membuncah. Entah kenapa setiap kali mengingat Nirmala dan ditambah senyuman yang menghiasi wajah gadis itu setiap kali bertemu dan menyapanya perasaannya semakin tidak karuan, Evan tidak mengerti kenapa dirinya bisa seperti itu.


Didalam butik Evan mengedarkan pandangannya mencari, namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Hanya wanita paruh baya yang sudah membawanya ke dunia ini yang ia lihat diujung sana sedang menyusun deretan pakaian yang menjadi berantakan akibat ulah pengunjung yang datang untuk memilih-milih pakaian.


Namun beberapa saat terus menatap sang Mama yang sedang membenahi susunan pakaian, Evan dikejutkan oleh tepukan pelan di bahunya dari belakang.


"Tumben datang kesini di waktu masih jam kerja seperti ini?" Nirmala bertanya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Evan terkejut namun seketika ia juga ikut tersenyum melihat siapa orang yang sudah berani mengagetkannya.


Melihat Nirmala hendak melangkah menuju dimana Mama nya berada, Evan refleks menarik lengan Nirmala, Nirmala langsung mengadu sakit saat tangan kokoh itu mencengkeram lengannya dan menariknya.


"Aduh auww...Eh apa sih, udah berani kurang ajar juga ya!" Nirmala menatap tajam Evan. "Udah berani pegang-pegang ya, biasanya juga paling takut kalau aku deketin"


"Eh bukan gitu maksudnya, ok aku minta maaf, aku cuma reflek tadi. Bisa ikut aku keluar sebentar, ada yang mau aku bicarakan"


"Ya ngomong aja disini" celetuk Nirmala, ia menjadi kesal dengan lelaki itu.


"Gak enak kalau kita bicara sambil berdiri seperti ini, kita duduk di luar ya" ajak Evan memohon.


"Ya udah ayo, aku tiba-tiba jadi gak tega liat muka kamu kalau lagi memohon gitu" Nirmala membalikkan badannya. "Sumpah jelek banget" Ucapnya lalu melangkah ke luar butik.


Evan pun melangkah mengikuti Nirmala, ia menyunggingkan senyum di bibirnya melihat tingkah Nirmala yang tiba-tiba menjadi ketus pada nya.


Diluar butik, Evan dan Nirmala duduk di kursi yang tersedia disana, kedua nya duduk di masing-masing sudut satu kursi panjang. Evan menghela nafasnya sebelum ia memberitahu Nirmala maksud tujuan datang.


"Aku minta maaf" Ucapnya menatap Nirmala sebentar, lalu mengalihkan pandangannya pada kendaraan yang berjejer rapi didepan butik itu.


"Maaf? maaf kenapa" Nirmala merasa bingung dengan permintaan maaf lelaki itu yang tiba-tiba, ia merasa lelaki itu tidak pernah berbuat salah pada nya.


"Tadi Lestari datang ke kantor.." ucap Evan menjeda ucapannya.


Dan Nirmala hanya diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh lelaki itu.


"Dia menanyakan kamu, dia ingin bertemu kamu, dan aku memberitahunya dimana kamu tinggal. Aku minta maaf, seharusnya aku tidak memberitahukan nya" Evan menunjukan raut wajah bersalah nya.


Alih-alih marah karena Evan sudah lancang memberitahu Lestari dimana ia tinggal, Nirmala malah tertawa melihat raut wajah Evan yang seperti anak kecil habis ketahuan maling mangga di pohon tetangga.


"Hahahaha" aduh ya ampun, ternyata wajah tampan juga bisa menjadi jelek kalau sedang merasa bersalah, hahahahha" Nirmala malah merasa lucu dengan ekspresi wajah Evan.


"Kamu kok malah ketawa, kamu gak marah sama aku?'' Tanya Evan heran melihat Nirmala yang malah tertawa dan bukannya marah karena ia sudah memberitahu Lestari dimana ia tinggal, padahal Nirmala tidak ingin bertemu dengan Lestari lagi.


"Untuk apa marah, malah aku merasa terhibur dengan muka jelek kamu itu, hahahaha"


Melihat gadis itu tertawa lepas, entah kenapa Evan merasa senang, ia bahagia melihat tawa itu.


"Ya Allah apa hati ku mulai goyah" Evan mengelus dadanya.