NIRMALA

NIRMALA
IKUT KE KANTOR



Nirmala baru melepaskan tangan Evan setelah berada di luar kantor polisi, Nirmala menyenderkan tubuhnya dimobil Evan, ia benar-benar kecewa dengan temannya itu. Ia tidak habis pikir kalau Lestari mengkonsumsi barang haram itu, yang Nirmala sesali karena melewatkan sesuatu dari Lestari, ia tidak mengetahui tentang itu.


Lalu Evan juga ikut menyenderkan tubuhnya dimobil tepat disamping Nirmala, ia menatap gadis disampingnya dengan wajah kesalnya.


Evan ingin menghibur gadis yang sedang kecewa itu, namun ia tidak tahu bagaimana caranya, ia tidak mempunyai pengalaman apapun tentang wanita. Ah seandainya ia bisa membuat nasi goreng seperti Papa nya, mungkin saja nasi goreng buatannya bisa mengobati sedikit kekecewaan dihati gadis itu, sama seperti Danu yang meluluhkan hati Alisa dengan nasi goreng buatannya.


"Ah nyesel gue temenan sama dia." Nirmala mengubah posisinya dengan berjongkok disamping mobil dan Evan yang berdiri disampingnya menyenderkan tubuhnya di mobil.


"Ternyata dia kayak gitu orangnya, gue kira....


"Marah sama siapa sih?" Evan langsung memotong ucapan Nirmala.


"Dan kenapa juga harus menyesal, semuanya sudah terjadi. Seharusnya kamu bersyukur, dia tidak mempengaruhi kamu untuk seperti dia." sambungnya lalu juga ikut berjongkok disamping Nirmala.


"Jangan pernah menyesal mengenal siapapun dalam hidupmu. Jika orang baik akan memberimu kebahagiaan, maka sebaliknya orang yang tidak baik dalam hidup akan memberimu pengalaman. Bahkan seburuk-buruk manusia disisimu bisa memberimu sebuah pelajaran." ucap Evan lagi.


"Iya juga sih." Nirmala melirik Evan disampingnya. "Gue mau pulang aja ah mood gue lagi gak bagus, males gue ke kampus"


"Loh kok gitu sih, lupa dengan nasehat polisi tadi?"


"Ya ingat, tapi beneran deh gue lagi gak pengen ke kampus hari ini"


"Terus kalau kamu gak ke kampus, terus kamu mau kemana?" tanya Evan melirik Nirmala sekilas.


"Ya pulang lah" jawab Nirmala juga melirik Evan sekilas.


"Pulang kemana?"tanya Evan.


"Yah kerumah kamu lah"


"Kalau Papa dan Mama ku tanya kenapa kamu gak ke kampus, gimana? masa kamu mau bilang males" bisa dijewer kamu sama Mama ku"


"Ya terus gimana dong, gue beneran msles ke kampus hari ini" Nirmala berdiri dan sedikit menghentakkan kakinya di tanah.


Evan pun ikut berdiri.


"Em..... Gimana kalau kamu ikut ke kantor aja" ucap Evan menawari Nirmala untuk ikut ke kantor nya.


"Ah ngapain gue ke kantor Lo, mau Lo jadiin pajangan gue disana" Nirmala mendengus kesal.


"Emangnya kamu mau dijadikan pajangan?"


"Ogah! dijadikan pacar gue mau" Nirmala menyunggingkan senyumnya dan menatap Evan sebentar.


"Pacar? mau jadi pacarnya siapa?" Evan mengerutkan keningnya.


"Ya jadi pacar Lo lah, apa perlu gue tembak nih atau gue kasih Lo bunga"


"Emang ada ya yang begitu, cewek nembak cowok" Evan melangkah lalu duduk di kursi yang tersedia disitu.


"Ya banyak, kalau cowoknya gak ngeh sama perasaan ceweknya." Nirmala juga ikut duduk disamping Evan.


"Eh jauhan dikit, jangan mepet-mepet" Evan menggeser sedikit posisi duduknya menjauhi Nirmala.


"Kenapa sih masih menghindar, gue kan udah pake gamis"


"Tapi banyak tuh diluar sana cewek sama cowok bukan hanya sekedar berdekatan aja, malah.....


"Yah nggak usah diterusin" Evan memotong ucapan Nirmala. "Terus kamu mau begitu juga?" Evan menatap Nirmala.


"Kalau boleh ya mau, tapi sama Lo ya" Nirmala pun terkekeh.


"Astaghfirullah haladzim" Evan mengelus dadanya.


"Kayaknya kamu emang perlu diajarkan tentang yang mana yang boleh dan tidak, kamu harus merubah gaya hidup kamu. Kamu wanita dan harus menjaga etika sebagai wanita terhormat, jangan menjadi wanita gampangan yang seenaknya bisa didekati oleh lelaki manapun" Evan menjadi sedikit ku kesal.


"Kamu marah?"


"Aku nggak marah, aku cuma memperingati kamu. Emangnya aku siapa mau marah sama kamu" Evan memalingkan wajahnya.


"Aduh Tante Alisa, anak Tante marah ni. Aku harus apa biar anak Tante gak marah lagi" Nirmala mengangkat dua jari kelingkingnya dan ibu jarinya membentuk telepon ditelinga nya.


"Apa? dipeluk Tan, hah dicium juga. Oke Tan siap, dah Tante" Nirmala berbicara seolah-olah ia sedang berbicara dengan Alisa melalui telepon.


"Dan sekarang kamu pun jadi wanita yang gak waras" Evan beranjak dari duduknya lalu sedikit berlari masuk kedalam mobilnya.


"Eh apa Lo bilang? dasar cowok sok alim! awas Lo ya beneran gue cium gue peluk nanti baru tau rasa" Nirmala mengejar Evan dan juga masuk kedalam mobil.


"Eh apaan, kenapa duduk disini, kamu dibelakang aja." Evan menyuruh Nirmala duduk dikursi penumpang dibelakangnya.


"Enggak! gue duduk sini aja, biar Ardi yang dibelakang"


"Ardi bawa mobil sendiri, sana pindah ke belakang"


"Nah Ardi kan bawa mobil sendiri, jadi biar aja gue duduk disini." Nirmala langsung memasang seatbel nya dan tak memperdulikan Evan yang menatapnya tajam.


"Ya udah kamu aja yang bawa mobil dan aku yang duduk dibelakang" Evan melepas seatbel nya hendak pindah ke kursi penumpang dibelakangnya.


"Aduh... gue tuh gak bisa bawa mobil, apa masalahnya sih kalau gue duduk disini? pakaian gue udah sopan kok" Nirmala memperlihatkan gamis yang dipakainya.


"Ya Allah" Evan menghela nafasnya. "Ya udah, kamu duduk disitu tapi diam ya dan jangan bikin ulah!" ucapnya lalu menyalakan mesin mobilnya.


"Ulah apa sih? perasaan gue gak pernah bikin ulah sama Lo"


"Udah diam aja pokoknya" perintah Evan lalu melakukan mobilnya keluar dari area kantor polisi dan ikut berbaur dengan kendaraan lain dijalan menuju kantornya.


Sementara Ardi masih didalam kantor polisi tengah menenangkan Lestari yang terus berteriak histeris karena memanggil-manggil Nirmala dan meminta untuk dimaafkan, namun Nirmala tak memperdulikannya dan keluar dari sana tanpa mau mendengarkan ucapannya lagi.


Setelah Lestari bisa ditenangkan barulah Ardi pergi dari tempat itu, namun sebelumnya Lestari memintanya berjanji akan membawa Nirmala untuk bertemu dengannya. Ardi pun terpaksa mengiyakannya agar Lestari bisa tenang dan ia bisa pergi dari tempat itu.


Melihat mobil Evan sudah tidak ada ditempat parkir, Ardi pun segera melajukan mobilnya menuju kantor.


Ardi prihatin mengingat lestari tadi yang berteriak histeris, ia bergidik ngeri ternyata sebegitu nya efek dari pemakaian barang haram itu.


Sementara Evan dan Nirmala yang masih didalam mobil yang sedang melaju menuju perusahaan Sanjaya, keduanya sama-sama tidak ada yang bersuara, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Nirmala yang tengah memikirkan Lestari, ia masih benar-benar tidak habis pikir dengan temannya itu. Sementara Evan, ia tengah gelisah memikirkan kata-kata Nirmala yang tadi katanya akan memeluk dan menciumnya.


Bagaimana kalau gadis itu benar-benar nekat?