NIRMALA

NIRMALA
CINTA DALAM DIAM



...🍂🍂🍂...


Ketika jatuh cinta, tidak semua orang berani mengungkapkan nya secara gamblang kepada seseorang yang sudah membuat nya jatuh hati. Karena tidak memiliki keberanian mengungkapkan perasaan nya, tak jarang seseorang memilih untuk menyembunyikan perasaan nya dan hanya mencintai dalam diam.


"Sampai detik ini, setidaknya aku tau bagaimana rasanya mencintai dalam diam, dan memendam perasaan rindu sendirian. Tapi terkadang, memendam adalah pilihan satu-satunya agar semuanya terlihat baik-baik saja. Jika memang memendam rasa kepada mu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini?


Aku bukan pengecut, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan diri di hadapan mu" Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Evan terus berkata-kata dalam hatinya.


Cinta adalah sebuah kenyataan untuk mereka yang berani, bukan milik mereka yang hanya bisa memuji dalam hati dan mengagumi dalam mimpi. Ada yang cukup di simpan, ada juga yang harus di ungkapkan.


Perasaan cinta identik dengan hal-hal yang romantis, tapi kadang ekspresi itu tidak bisa tersampaikan. Dalam Islam sendiri perasaan cinta yang tertinggi kepada seseorang diwujudkan dalam sebuah tali pernikahan, karena itu sebagian dari mereka lebih memilih menyampaikan lewat doa dan berharap sang maha pemilik hati memberi jalan.


Evan menepikan mobilnya didepan sebuah taman yang tampak ramai dengan anak-anak yang sedang menyaksikan pertunjukan sulap badut, ia menatap sebentar kerumunan anak-anak itu lalu kembali kepada hati nya yang saat ini tengah membuncah.


"Ya Allah, perasaan ini tidak pernah mau pergi dari hati ini. Aku tidak tau kenapa? Yang aku tau, aku merasa bahagia ketika aku mengingatnya. Ya Allah, apakah dia adalah bidadari yang ENGKAU kirimkan untukku?"


Jika Evan tengah memikirkan tentang perasaan nya, berbeda dengan Nirmala yang saat ini tengah memikirkan perilaku Evan yang akhir-akhir berbeda dari biasanya. Lelaki itu menunjukkan sesuatu yang berbeda pada nya, sikap lelaki itu yang dulu terkesan acuh padanya, namun akhir-akhir ini lelaki itu malah menunjukkan sebuah isyarat yang Nirmala tidak tahu apa itu.


Lelah berperang melawan ketidaktahuan nya, Nirmala pun memutuskan untuk melaksanakan shalat Dhuha, melihat di jam segini juga belum ramai pengunjung, ia pun pergi untuk bersuci dari hadas kecil.


Selesai berwudhu, Nirmala pun mengambil sajadah dan mukenah nya lalu melangkah menuju tempat yang tersedia khusus untuk shalat di butik itu.


Sementara Evan, ia kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.


Sesampainya di kantor, ia sudah disambut dengan tumpukan berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya di atas meja kerjanya.


Evan melepaskan jas nya dan menggantungkan nya pada sandaran kursi kebesarannya, lalu ia melonggarkan dasinya kemudian duduk di kursi kebesarannya. Entah kenapa pagi ini terasa gerah, segerah cinta dalam diamnya.


Evan pun membuka satu persatu, dan memeriksa lembaran demi lembaran tumpukan berkas-berkas itu lalu membubuhkan tanda tangannya di sana.


Setelah semuanya selesai, dan merasa bosan karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan, Evan pun beranjak dari kursi kebesarannya lalu menuju kamarnya mandi ingin untuk berwudhu dan melaksanakan shalat Dhuha, setelahnya ia mengaji untuk memenangkan hati dan pikirannya yang saat ini tengah kalut memikirkan sesuatu yang entah bagaimana untuk mengungkapkan nya.


Sementara di butik, Nirmala baru saja selesai melaksanakan shalat Dhuha nya, ia pun merapikan kembali sajadah dan juga mukenah nya lalu meletakkannya kembali ke tempatnya semula.


Melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu, sepasang paruh baya yang ketampanan dan kecantikannya tidak termakan usia begitu terharu melihat begitu banyaknya perubahan yang terjadi pada sosok gadis yang satu bulan lalu dibawa pulang oleh putranya dalam keadaan yang kacau.


"Melihat gadis itu, aku jadi teringat dengan kamu dulu." Danu mengalihkan tatapannya dari Nirmala pada Istrinya yang berdiri di sampingnya.


Mengingat betapa beratnya perjuangan nya dulu meluluhkan hati wanita sekeras batu itu hingga jatuh ke dalam pelukannya. Beruntung putranya itu tidak semenderita dirinya dulu, putranya kini hanya memendam cinta dalam diamnya dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan nya. Tidak seperti dirinya yang berjuang, bukan hanya perasaan namun juga harga dirinya juga ikut ia korbankan demi cinta nya pada wanita yang telah menjadi ibu dari putranya.


"Aku kenapa emangnya?" Alisa menatap suaminya dengan tatapan seolah mengajak berperang.


"Ah enggak apa-apa kok, intinya aku sayang dan cinta kamu selamanya"


"Apa sih Mas? Gak jelas banget" Alisa pun membalikkan badannya meninggalkan lelaki yang selalu usil pada nya, namun lelaki itu yang kini memenuhi seluruh hati dan hidupnya.


Memang bukan cinta pertama nya, namun lelaki itu senang karena ia bukanlah yang pertama, menurutnya setelah kata pertama akan ada kata kedua ketiga dan seterusnya, namun jika menjadi yang terakhir, bukankah tidak ada lagi di belakang sebuah akhir itu, hanya terakhir itu sendiri.


Disela-sela Evan mengaji, Ardi datang dengan membawa sebuah map di tangannya. Ia duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu menunggu sampai si pemilik ruangan selesai dengan urusannya, baru lah ia juga mengatakan urusan nya.


Tak lama Evan pun selesai mengaji, ia menutup Wahyu Nabi Muhammad itu lalu menciumi nya dengan takzim. Setelah meletakkan Al-Qur'an nya di tempatnya semula, Evan pun melangkah menuju dimana Ardi sedang duduk, lalu juga ia duduk di sana.


Ardi pun memberikan map yang dibawanya pada Evan, dan mengingatkan kembali sesuatu pada Evan.


"Besok pagi-pagi kita akan berangkat ke luar kota untuk memeriksa proyek di sana,ini dokumen nya, periksa lah lagi sebelum kita berangkat besok" ucap Ardi menjelaskan perihal kedatangannya.


Evan terdiam, ia menatap Ardi sebentar lalu menundukkan kepalanya. Mendengar dari sekertaris dan juga sahabatnya itu bahwa besok pagi-pagi ia harus berangkat ke luar kota membuat hati dilema saat itu, di satu sisi jika ia pergi, sudah pasti untuk beberapa hari ia tidak akan bertemu gadis yang selalu membuat hatinya bergetar, namun disisi lain ia juga harus pergi karena proyek itu sangat penting bagi perusahaannya.


Evan kembali menatap Ardi dan tersenyum.


"Baiklah Ardi, kau persiapan saja semuanya untuk keberangkatan kita besok."


Yah, ia harus pergi. Bukankah luar kota tidak begitu jauh, dan lagipula ia hanya pergi untuk beberapa hari saja. Namun tetap saja Evan merasa dilema saat ini.


Sama halnya dengan Nirmala, Ardi juga merasakan sikap yang tidak biasa pada sahabatnya itu, bila di lihat dari raut wajahnya, Sahabat dan juga bos nya itu seperti sedang menyimpan beban dalam hatinya yang Ardi tidak ketahui apa itu.


Setelah urusan nya dengan Evan selesai, Ardi pun keluar dari ruangan itu. Sebelum melangkah keluar dari pintu, Ardi menoleh pada sahabatnya yang wajahnya tiba-tiba terlihat sendu. Rasa penasaran pun menyeruak di hati Ardi, ah biarlah untuk saat ini, nanti Ardi pasti akan menanyakan nya.


.


.


.


.


.


Hai semuanya, sebelumnya terima kasih buat yang sudah menyumbangkan cap jempol nya di NOVEL kedua ku ini. Mohon beri dukungan nya juga pada novel ku yg sedang mengikuti event dalam tema MENGUBAH TAKDIR yang berjudul 'Istri Tak Dianggap'