
"Selamat Pagi...." Prasetya membuka pintu ruang rapat.
"Pagi..." semua yang ada diruang rapat kompak menjawab salam dari bos mereka.
Sekilas mata Prasetya bertemu dengan pandangan Nirmala membuat canggung keduanya namun mereka harus tetap profesional. Prasetya adalah tipe orang yang sangat pandai bersikap. Dia tidak banyak bicara dan cenderung terlihat dingin.
"Baiklah, saya mengadakan pertemuan ini untuk membahas proyek kita yang di Bali."
Rapat berjalan selama hampir satu jam. Dalam rapat ini, Prasetya memberitahukan bahwa ada permintaan perubahan desain dari klien untuk pembangunan hotel di Bali. Adhikarisma Grup memenangkan proyek pembangunan hotel mewah di Bali. Semua anggota team sangat antusias karena ini adalah proyek besar yang akan membuat nama Adhikarisma Group semakin merajai perusahaan kontruksi jika proyek ini sukses. Mereka harus benar-benar fokus pada proyek ini.
Hasil rapat memutuskan bahwa siang ini juga Prasetya harus pergi ke Bali beserta team desain untuk bertemu dengan klien karena klien mereka hanya ada waktu hari ini. Karena team desain adalah team yang berada dibawah kepemimpinan Manajer produksi, Pak Ari sebagai manajer produksi seharusnya berangkat mewakili team desain, tapi Pak Ari malah menunjuk Nirmala dengan alasan Nirmala yang membuat desain dan dia akan lebih tau apa yang diinginkan oleh klien. Alasan yang diungkapkan Pak Ari sangat masuk akal sehingga disetujui oleh semua anggota team. Dengan berat hati Nirmala juga menyetujui keputusan rapat. Sementara Prasetya, ada perasaan senang dalam hatinya. Entah apa yang membuat dia merasa bersemangat, tapi dari luar dia tetap terlihat dingin, ekspresi muka yang datar membuat karyawannya merasa segan.
"Hi Pras...." Sapa Dani ketika memasuki ruangan Prasetya. Dani adalah sahabat Prasetya yang menjabat sebagai Manajer Pemasaran dikantornya. Karakter Dani yang ramah dan supel membuat dia sangat cocok menduduki posisinya sekarang. Walaupun sebenarnya Dani bisa menduduki jabatan yang lebih karena dia juga mempunyai beberapa persen saham di Adhikarisma Group tetapi dia sangat nyaman dengan posisinya saat ini.
"Hi...tumben kamu datang siang?" tanya Prasetya sambil menyiapkan dokumen yang akan dia bawa ke Bali.
"Iya, tadi ke rumah Mama dulu ada perlu. Kamu mau kemana?" Tanya Dani ketika melihat Prasetya terlihat berkemas.
"Ke Bali, Pembangunan di sana ada sedikit perubahan, Aku harus ke sana bersama team desain." Prasetyo menjelaskan.
"Sama siapa?"
"Nirmala" Jawab Prasetya singkat.
Mendengar nama Nirmala membuat hati Dani berbunga dan tanpa sadar membayangkan wajah cantik Nirmala.
"Kenapa? ada yang salah?" Pertanyaan Prasetya menyadarkan Dani dari lamunannya.
"Oke, kau begitu aku keruangan dulu, Semoga semua berjalan lancar Pras" Dani pamit berjalan ke luar ruangan Prasetya.
Prasetya dan Nirmala akan terbang ke Bali pukul 11 siang ini. Oleh karena itu pukul 10 mereka sudah harus berangkat menuju bandara. Mereka diantar oleh pan Karim, supir Prasetya. Selama perjalanan tidak ada sepatah katapun keluar dari Prasetya maupun Nirmala, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, Begitupun selama di pesawat. Walaupun mereka duduk berdampingan, mereka sama sekali tidak saling menyapa. Sampai akhirnya pukul 3 sore mereka sampai di tempat mereka bertemu dengan klien.
Pukul 6 sore pertemuan dengan klien sudah selesai dan berjalan lancar. Rencananya malam ini juga mereka akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul 9 malam.
"Apakah kamu ingin istirahat dulu? penerbangan kita pukul 9 nanti, masih ada waktu untuk istirahat." Untuk pertama kalinya Prasetya membuka percakapan setelah selesai meeting.
"Saya ingin langsung ke bandara saja, Bapak bisa istirahat dulu. Saya tunggu di sana" Nirmala menjawab sambil membereskan file yang mereka gunakan untuk meeting tanpa melihat ke arah Prasetya.
Prasetya merasa Nirmala menghindarinya, namun dia juga tidak punya hak untuk bertanya karena perjanjian yang sudah mereka buat untuk tidak membahas apapun dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka dan mereka harus bersikap selayaknya bos dan bawahan.
"Baiklah, kita langsung ke bandara" Prasetya mengikuti keinginan Nirmala.
Mereka ke bandara diantar oleh anak buah Prasetya yang memang berada di Bali. Selama perjalanan ke Jakarta pun mereka tidak saling bicara sama sekali. Sampai akhirnya mereka tiba di Jakarta pukul 11 malam. Prasetya sengaja meminta disiapkan mobil untuknya tanpa supir. Dia berencana akan mengantar Nirmala ke rumahnya.
"Masuklah! Saya akan antar kamu." Prasetya berbicara sambil membuka pintu mobil untuk Nirmala.
"Tidak perlu pak, saya naik taksi saja. Bapak pasti lelah." Jawab Nirmala berusaha menghindar.
"Tidak, ini sudah malam. Kamu saya antar dan ini perintah."
Tanpa membantah lagi karena Nirmala merasa lelah dan tidak ingin banyak berbicara dengan Bosnya, ia segera masuk kedalam mobil. Seperti sebelumnya tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya sesekali Nirmala menunjukan arah jalan pulang ke rumah kontrakannya. Dan setelah sampai didepan rumah, Nirmala hanya mengucapkan terima kasih yang hanya dijawab anggukan oleh Prasetya. Prasetya kembali melajukan mobilnya setelah memastikan Nirmala masuk dan mengunci pintu rumahnya.
🌷🌷Bersambung...🌷🌷