NIRMALA

NIRMALA
TULANG RUSUK



"Apalah artinya sempurna, bila ada yang sederhana namun mampu membuat bahagia" kata Evan, setelah berhasil masuk kedalam mobilnya. Yah Nirmala akhirnya membukakan pintu mobil, karena tiba-tiba saja hujan turun.


"Maksudnya?" tanya Nirmala, ia memiringkan kepalanya menatap lelaki yang duduk dikursi kemudi disampingnya.


"Intinya, aku bahagia saat ini Nirmala" jawab Evan, dengan senyum manis yang menambah ketampanannya.


"Bahagia karena hujan turun, iya?" tanya Nirmala lagi dengan terkekeh.


"Hujan yang turun ke bumi disebut sebagai rahmat. Allah SWT menegaskan ini dalam Al-Qur'an surat Asy-Syuara ayat 28. 'Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji" kata Evan, ia melirik Nirmala sebentar lalu beralih menatap hujan dari kaca depan mobilnya. "Dan apa kamu tau? bersamaan dengan turunnya hujan ini, aku menemukan tulang rusukku" Sambungnya.


"Wah, aku terharu loh" Nirmala bertepuk tangan. "Apa kamu yakin? kalau aku adalah tulang rusukmu" tanyanya.


"Kalau untuk itu hanya Allah yang tau. Tapi yang aku tau, aku merasa nyaman bila didekat mu dan merasa kehilangan bila berjauhan dengan mu. Dan perlu kamu ketahui, ini adalah pertama kalinya aku menyukai wanita yaitu kamu, Nirmala" Evan memutar posisi duduknya menghadap Nirmala, dan Nirmala juga menatapnya mencari kebohongan dimata lelaki itu namun ia tidak menemukannya.


"Sudah, tidak usah dijelaskan lagi, matamu sudah menjawabnya" kata Nirmala. "Sekarang jalankan mobilnya" perintahnya. "Aku tidak mau sampai khilaf berlama-lama berduaan dengan mu, matamu itu begitu menggoda" ucapnya lalu tertawa pelan.


"Tidak akan lama lagi mata yang katamu menggoda ini akan menjadi milikmu" ucap Evan juga ikut tertawa.


"Mau aku apakan matamu? mau aku buat rendang, hah?" Nirmala menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cepat jalankan mobilnya, atau aku cium nih" ancamnya lalu memajukan sedikit kepalanya.


Tanpa aba-aba, Evan pun segera melajukan mobilnya. Ia tidak bisa membayangkan jika gadis yang baru beberapa saat lalu mau menerimanya menjadi pendamping hidup, mencium nya didalam mobil.


Dan Nirmala pun tertawa kencang saat Evan melajukan mobilnya, ia tau lelaki itu tidak akan mau dicium oleh. Tidak, bukan tidak mau, tapi belum saatnya."Hahahaha, cemen banget jadi laki-laki" ejeknya. "Aku jadi ragu menjadikan kamu suamiku, aku jadi berpikir kamu lelaki yang tidak normal" sambungnya.


"Terserah kamu mau mengatai ku apa, terserah mau bilang aku ini apa. Tapi lihat saja nanti, aku akan benar-benar membutmu tidak bisa berkata-kata lagi" kata Evan, kini ia fokus melajukan mobilnya. Dan tujuan sekarang adalah ke apartemen gadis itu terlebih dahulu untuk meminta izin dan restu pada Herlina, Mama nya Nirmala. Lalu setelah itu, baru ia akan pulang untuk memberitahukan kedua orangtuanya tentang kabar bahagia itu.


****


Setelah dari apartemen Nirmal, Evan kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya, ia benar sudah tidak sabar untuk memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Mama dan Papa nya pasti akan sangat senang mendengarnya.


'Tante terserah pada Nirmala saja. Kalau putri Tante bahagia, maka Tante juga akan ikut bahagia. Tante percaya, bahwa Nak Evan pasti bisa membahagiakan putri Tante'


Disepanjang perjalanan menuju rumahnya, Evan tersenyum-senyum sendiri mengingat perbincangannya dengan Herlina, Mama nya Nirmala.


"Aku berjanji Tante, aku akan membahagiakan Nirmala" ucapnya.


"Alhamdulillah" ucap Alisa dan Danu serentak. Mereka berdua sangat senang mendengar kabar bahagia yang dibawa oleh putranya.


"Jadi kapan? Mama dan Papa akan pergi melamar Nirmala" tanya lelaki tampan yang begitu mirip dengan Mama nya.


Danu dan Alisa saling pandang lalu tertawa mendengar kalimat tanya putranya yang seperti sudah tidak sabaran.


"Lihat tuh Mas, dulu kita selalu ingin mengenalkan dia dengan anak teman ku dia tidak mau. Dan sekarang dia sudah menemukan pilihannya sendiri, kelihatannya sudah kebelet nikah" kata Alisa, ia berbicara pada suaminya namun sesekali melirik putranya.


"Kan Mama sendiri yang bilang, kalau niat baik itu jangan ditunda-tunda" kata Evan, mengingatkan Mama nya akan ucapannya.


"Iya Evan, tapi melamar itu tidak semudah membuat nasi goreng" jawab Alisa, ia melirik suaminya sambil terkekeh.


"Iya Evan, beri kami waktu ya. Karena ini sudah sore, besok kita akan mempersiapkan semua persiapan lamarannya dan lusa baru Papa dan Mama akan pergi melamar Nirmala" kata Danu.


"Lusa Pa? kenapa tidak besok saja atau malam ini, bilang saja apa yang perlu dipersiapkan akan aku siapkan sekarang juga" dan ucapan Evan itu lagi-lagi membuat kedua orangtuanya tertawa.


"Aduh Evan, bisa sabar sedikit gak sih. Ini aja baru mau lamaran kamu sudah ingin buru-buru, belum lagi nanti menunggu waktu pernikahan, bisa-bisa kebakaran jenggot kamu" ucap Nirmala, lalu berpindah duduk disamping putranya.


"Sabar dong, Nak" ucapnya lagi sambil mengelus lengan putranya.


.


.


.


.


Hai semua, sebelumnya terima kasih sudah mampir dinovel aku ini. Dan mohon dukungannya juga ya untuk novel ku yang sedang mengikuti lomba.


#Mengubah_Takdir