NIRMALA

NIRMALA
14 Melamar 1



Prasetya keluar dari mobil mewahnya di loby dan memasuki Adhikarisma Group. Semua karyawan menyapa bosnya yang baru tiba.


"Selamat Pagi pak Prasetya..."


Bu Hasna berdiri ketika melihat Prasetya datang.


"Pagi Bu Hasna, Apakah Dani sudah datang?"


"Sudah Pak, Pak Dani ada di ruangannya dengan Mba Nirmala." Bu Hasna menjawab dengan sopan.


Prasetya terdiam.


"Rapat siang ini pukul 1 siang." Lanjutnya Bu Hasna.


"Baiklah...." Prasetya menjawab kemudian masuk keruangannya.


Dia kembali berusaha keras menahan emosinya. Mendengar Nirmala sedang bersama Dani saja sudah membuat emosinya naik apalagi sampai Nirmala menikah dengan orang lain


"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar menginginkan Nirmala, aku tidak rela dia bersama orang lain."


Itulah yang ada dalam pikiran Prasetya saat ini. Ingin sekali dia mengajak Nirmala pergi dadi ruangan Dani, tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Ini masalah pekerjaan, dia harus profesional.


Meeting siang ini berjalan lancar. Jam 3 sore mereka kembali keruangan masing-masing. Nirmala baru saja duduk tiba-tiba interkom di mejanya berbunyi. Dia melihat nama Prasetya di layar telponnya.


"Halo.." Nirmala mengangkat telpon.


"Sore ini pukul 5 ikut saya bertemu klien. Ini klien baru, hanya perkenalan saja dan kita akan tau keinginan mereka". Prasetya berkata dengan tegas.


"Bukankan bertemu dengan klien seharusnya dari team marketing saja?" Nirmala berusaha menolak.


"Mereka ingin bertemu dan berbicara langsung dengan orang desain."


"Baik Pak." Nirmala menutup telpon, ia tidak mau banyak berdebat dengan Prasetya walaupun sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan. Kenapa harus dia yang berangkat, bukan Pak Ari saja. Tetapi dia tau, kalau Prasetya sudah menentukan pasti Pak Ari juga akan setuju. Percuma saja dia menolak.


Sementara di ruangannya Prasetya merasa lega Nirmala telah menyetujui pergi bersama sore ini. Awalanya dia ragu Nirmala akan setuju, Wanita itu pasti akan menghindarinya.


Pukul 5 tepat Prasetya keluar ruangannya. Dia menuju loby dan melihat Nirmala sudah menunggu. Nirmala sudah turun terlebih dahulu karena takut Bosnya itu sudah menunggu.


Mereka memasuki mobil Prasetya.


"Saya bawa sendiri pak." Prasetya berkata kepada pak Karim.


Pak Karim hanya menunduk dan memberikan kunci mobil kepada majikannya itu.


Prasetya masuk kedalam mobil, diikuti Nirmala. Suasana didalam mobil begitu sunyi. Tidak ada yang memulai bicara. Prasetya fokus menyetir sambil merasakan gugup. Sementara Nirmala fokus melihat keluar jendela tidak ada keinginan untuk membuka pembicaraan lebih dulu.


"Apakah pertemuan ini akan lama?"


Prasetya kaget dengan pertanyaan Nirmala.


"E...saya kurang tau" Prasetya menjawab dengan gugup. Baru kali ini dia merasa sangat gugup didepan wanita.


Perjalanan mereka cukup lama. Pukul 7 malam mereka baru sampai. Prasetya memarkir mobilnya didepan restoran mewah. Mereka turun dan memasuki restoran tersebut. Nirmala mengamati sekitar, Ia bingung mengapa restoran ini sangat sepi. Mereka menaiki tangga menuju lantai 2 restoran. Terlihat pelayan di kanan kiri menyambut mereka.


Setelah sampai didepan sebuah pintu, ada pelayan yang kembali menyapa mereka.


"Selamat malam Tuan..."


"Selamat malam." Prasetya menjawab sementara Nirmala hanya tersenyum kearah pelayan tersebut.


Kedua pelayan itu membuka pintu dam mempersilahkan mereka masuk. Nirmala kaget ketika melihat ruangan yang sudah dihias dengan bunga dan lilin-lilin yang membuat suasana sangat romantis.


Nirmala menatap tajam Prasetya.


"Ada apa ini?"


Prasetya hanya diam dan menatap Nirmala.


"Aku akan pergi." Nirmala segera membalikkan badannya hendak keluar.


"Nirmala !" Prasetya meraih pergelangan tangan Nirmala. Nirmala berbalik dan menatap Prasetya.


"Tolong..." Ucap Prasetya memohon.


"Tidak, Anda membohongi saya, Anda bilang ini pertemuan dengan klien."


"Ya, saya berbohong, Jika tidak kamu pasti tidak akan mau datang. Aku mohon duduklah" Prasetya berkata sambil tetap memegang pergelangan tangan Nirmala.


"Tidak, tolong lepaskan aku." Nirmala berusaha melepaskan tangannya, tetapi Prasetya malah semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya sehingga Nirmala tidak bisa pergi.


"Ada sesuatu yang ini aku katakan padamu, tolong...aku mohon..." Prasetya terus berusaha membujuk Nirmala.


Nirmala menatap tajam Prasetya sehingga Prasetya perlahan melepaskan pegangan tangannya.


Nirmala mengalah, dia kembali menghadapkan badannya ke arah Prasetya.


Prasetya menuntun Nirmala menuju meja yang sudah disiapkan.


🌷🌷Bersambung...🌷🌷