
"Ini bunga nya buat kamu saja" Evan menyodorkan bunga mawar putih itu pada Nirmala, dan Nirmala hanya menatap nya saja.
"Sama seperti Ibu penjual bunga tadi, aku juga akan memberikan dua pilihan pada mu" kata Evan, dan membuat Nirmala menjadi bingung.
"Maksudnya? aku tidak mengerti" Nirmala menautkan kedua alisnya.
"Terima bunga ini sebagai jawaban untuk pertanyaan ku minggu lalu, atau terima bunga ini hanya sebagai teman"
Tangan Nirmala yang hampir menyentuh bunga itu, ia tarik kembali. Sungguh dua pilihan yang begitu membuatnya dilema.
Jika ia menerima bunga itu sebagai jawaban untuk untuk menerima lelaki itu sebagai pendampingnya kelak, Nirmala belum sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa menjalin sebuah hubungan. Trauma yang dibuat oleh kedua orangtuanya sangat dalam tertanam di hatinya, ia takut jika hubungan yang ia jalani akan berakhir seperti kedua orangtuanya, bercerai.
Namun jika ia menerima bunga itu hanya sebagai teman, tentu kedepan hanya sebagai teman. Padahal Nirmala sendiri juga menyukai lelaki itu.
"Masih belum bisa menjawabnya? ya udah gak apa-apa, gak bingung seperti itu, aku jadi merasa bersalah loh sudah buat kamu berpikir keras. Terima saja bunga ini, anggap saja ini sebagai sambutan dari ku karena kamu sudah pulang dari rumah sakit" Evan tersenyum, namun ia mengelus dadanya dalam bayangan. Sungguh ia masih harus sabar menunggu sebuah jawaban.
Nirmala pun akhirnya menyambut bunga itu dengan tersenyum getir, sungguh ia merasa tidak enak karena lagi-lagi menggantung harapan lelaki itu.
Keduanya pun kembali hening, hingga terdengar suara ponsel Evan berdering. Evan pun mengeluarkan ponselnya dari balik saku jasnya, terlihat dilayar ponsel Ardi lah yang menelpon.
"Waalaikumsalam Ardi, ada apa? bagaimana proyek disana?" tanyanya.
Terlihat Evan memanggut-manggutkan kepalanya sambil berbicara dengan Ardi di telpon, dan kemudian Evan melirik Nirmala.
"Em, kalau untuk itu, belum Ardi" jawab Evan.
"Kenapa kau yang terdengar kecewa seperti itu, kan aku yang berada dalam situasi itu, Ardi"
"Kau segeralah pulang, supaya kau juga bisa membantu aku nanti" Evan melirik Nirmala lagi.
Nirmala jadi penasaran dengan apa yang dibicarakan Evan Ardi, karena Evan terus meliriknya.
"Alhamdulillah kalau proyek kita berjalan lancar, ini semua berkat kau, Ardi. Baiklah hati-hati dijalan, dan maaf aku tidak bisa menjemputmu"
"Iya, wah kau pandai menebak juga rupanya" Evan melirik Nirmala lagi. "Ya sudah aku tutup telepon nya dulu, assalamualaikum"
Setelah sambungan telepon nya terputus, Evan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Ardi sudah mau pulang?" tanya Nirmala.
"Iya, besok" jawab Evan, ia berdehem dan membenarkan posisi duduknya lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini sudah hampir sore, sebaiknya aku antar kamu pulang ke apartemen"
"Tapi aku masih mau disini, sebentar lagi ya" Nirmala menatap Evan dengan memohon.
"Ok baiklah, 30 menit lagi ya"
Nirmala mengangguk, ia lalu menatap bunga-bunga itu lagi. Entah sadar atau tidak ia mendekatkan mawar putih yang diberikan oleh Evan ke wajahnya, lalu menghirup aromanya dalam-dalam sembari memejamkan matanya.
Lelaki tampan yang duduk di sampingnya itupun ikut memejamkan matanya, entah apa yang dibayangkan nya, othor juga gak tau.
Nirmala beranjak dari duduknya, ia melangkah memutari kursi panjang itu.
Evan pun perlahan membuka matanya, dan terkejut mendapati gadis itu tidak lagi berada dihadapannya. Evan beranjak dari duduknya, matanya mencari dimana gadis itu, namun tidak ia temui. Hingga ia berbalik badan dan seketika terkejut mendapati gadis itu ternyata berdiri di belakangnya.
"Nyariin aku ya" normal dengan senyumnya, mengangetkan lelaki tampan itu.
"Bikin khawatir aja sih, aku kira kamu di culik tadi" Evan mengelus dadanya, lega karena ternyata gadis itu berada di belakangnya.
"Ishh, mana ada orang yang berani nyulik aku, baru dekat aja pasti udah babak belur sama aku" ucap Nirmala dengan angkuhnya.
"Sombong ya, di culik beneran baru tau rasa" Evan ke duduk di tempatnya semula, begitu juga dengan Nirmala.
"Em, Evan kapan aku bisa belajar sama kamu lagi? tanya Nirmala, lebih baik ia membicarakan soal pembelajaran nya, dari pada serasa canggung karena tidak bisa menjawab pertanyaan sementara yang bertanya terus menantikan jawabannya.
"Tunggu kamu benar-benar sembuh dulu, baru kita mulai lagi belajar nya" kata Evan..
"Aku udah sembuh loh, jadi sudah bisa belajar dong" Nirmala tersenyum pada lelaki itu.
"Enggak Nirmala, kamu baru aja pulang dari rumah sakit. Kepala kamu aja masih di perban, pokoknya pulihkan dulu tubuh kamu baru kita akan belajar lagi"
"Tapi aku beneran udah sembuh loh"
"Ayo aku antar kamu pulang" Evan beranjak dari duduknya, namun gadis itu masih seperti enggan pergi dari taman itu.
"Nirmala, ayo pulang ini sudah hampir sore"
"Evan, aku bilang sebentar lagi, aku masih mau disini"
"Tapi ini sudah hampir sore, besok lagi kalau mau kesini"
Nirmala terdiam sejenak, ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Namun, tak lama kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang sudah berdiri itu.
"Oke, aku tunggu kamu besok disini jam 1 siang. Kalau kamu gak datang, kamu gak akan pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan kamu" ucap Nirmala, gadis kembali menurunkan tatapan nya lalu beralih menatap bunga-bunga yang banyak dihinggapi kupu-kupu dan kumbang.
Evan tersenyum, ia mengikuti arah pandang gadis itu. Besok adalah penentuan tentang nasib perasaannya, namun juga ia harus menerima apapun keputusan gadis itu nanti. Bukankah ia sudah mengatakan, apapun itu aku dan kamu akan tetap seperti ini, jika tidak bisa menjadi pendamping hidup, namun masih bisa menjadi seorang teman bukan?
"Ya sudah, ayo pulang" Nirmala pun berdiri dari tempat duduknya. Ia melangkah terlebih dahulu lalu diikuti oleh lelaki tampan itu di belakangnya.
Kemudian, keduanya berjalan beriringan menuju apartemen. Yah mereka memang hanya jalan kaki karena jarak apartemen dan taman tidak begitu jauh. Sebelumnya Evan hendak menggunakan mobil karena Nirmala baru saja pulang dari rumah sakit, Evan takut gadis itu akan kelelahan dan kondisinya yang baru pulih akan menurun lagi. Namun Nirmala sendiri malah ingin berjalan kaki dengan Al ia sudah sembuh, dan akan membuktikannya dengan ia berjalan kaki menuju taman. Karena tak ingin berdebat, akhirnya Evan pun menyetujui keinginan gadis itu untuk berjalan kaki pergi ke taman.
Evan pun berpamitan untuk pulang setelah mengantar Nirmala hingga sampai didepan pintu apartemennya.
"Jangan lupa besok jam 1" kata Nirmala, memperingati.
"Aku tidak akan lupa, karena itulah adalah penentuan nasib perasaan ku ini" kata Evan, iapun tersenyum.
Nirmala terkekeh dengan kata-kata lelaki itu, iapun segera masuk ke apartemennya, dan Evan pun pergi dari sana setelah Nirmala masuk masuk.