
"Dok, Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Herlina langsung menyerbu Dokter yang baru saja keluar dari UGD.
"Ibu yang tenang dulu ya, tidak ada yang serius pada anak anda, hanya saja dia membutuhkan donor darah saat ini. Golongan darah pasien itu B+ dan kebetulan kami sedang kehabisan stok darah bergolongan B+ , apa golongan darah ibu sama dengan pasien?" tanya dokter itu pada Herlina, Mama nya Nirmala.
Herlina semakin terisak, karena disaat kondisi putrinya yang membutuhkan pertolongan tapi ia sama sekali tidak bisa menolong putrinya sendiri karena golongan darah Nirmala sama dengan golongan darah Dion, Papa nya.
Herlina menggeleng. "Golongan darah anak saya sama dengan Papa nya, Dok"
"Kalau begitu dimana Papa nya? kita harus segera melakukan transfusi darah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan"
"Baik Dok, saya akan segera menghubungi Papa nya"
"Iya Bu, diusahakan jangan lama" ucap Dokter. Iapun pergi ke ruangannya sembari menunggu Papa dari pasiennya untuk melakukan transfusi darah.
Herlina bingung, ia tidak bisa menghubungi mantan suaminya itu, namun disisi lain putrinya membutuhkan donor darah dari Papa nya.
Alisa menghampiri Herlina yang masih berdiam diri mematung di depan UGD, ia kembali mendekap tubuhnya kedalam pelukannya. Alisa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Herlina saat ini.
Danu yang juga mengerti dengan situasinya, berinisiatif datang ke perusahaan untuk memanggil langsung Dion disana.
"Mbak Herlina tenang saja, biar saya sendiri yang langsung memanggil Papa nya Nirmala di kantor" ucapnya.
"Tapi......." Herlina merasa tidak enak kalau Danu yang harus memanggil mantan suaminya itu. "Saya bisa meneleponnya''
"Tidak apa-apa Mbak, lagian ada yang harus saya bicara juga dengan Papa nya Nirmala" Danu pun membalikkan badannya, pergi dari tempatnya itu.
"Tapi.........." Herlina hendak mencegah Danu lagi, namun Danu sudah pergi.
"Udah gak apa-apa Mbak, kita tunggu saja disini. Papa nya Evan pasti akan membawa Papa nya Nirmala ke sini, dan sekarang kita berdoa saja untuk kesembuhan Nirmala" Alisa mengusap bahu yang gemetar itu, dan membawanya duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Terima kasih banyak Mbak Alisa, saya dan Nirmala sudah banyak merepotkan kalian"
Alisa menggelengkan kepalanya. "Enggak kok Mbak, itu sudah menjadi salah satu kewajiban kita sesama manusia, saling membantu sesama"
Herlina berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya kini teriris perih membayangkan putrinya terbaring tak berdaya di dalam UGD, ia memeluk erat tubuh Alisa dan mulutnya tak henti mengucapkan terima kasih.
••••••
Danu sudah sampai di perusahaannya yang kini dipimpin oleh putranya, semua karyawan langsung menunduk hormat saat ia memasuki area kantor. Senyumnya menyapa setiap karyawan yang dijumpainya masih sama seperti waktu ia yang memimpin dulu. Danu langsung menuju resepsionis untuk memanggilkan Pak Dion.
Dan Pak Dion sendiri yang masih di ruangannya sedang mengerjakan pekerjaannya sedikit kaget saat bagian resepsionis mengatakan ia dipanggil oleh pimpinan pertama perusahaan. Ia tidak merasa melakukan kesalahan sehingga dipanggil oleh pimpinan pertama perusahaan tempatnya bekerja, Pak Dion pun pergi menemui sosok itu dengan perasaan yang bergemuruh.
Pak Dion menunduk hormat pada sosok yang memanggilnya.
"Maaf Pak, ada apa ya Pak Danu memanggil saya?" tanyanya sedikit ragu-ragu. "Apa ada masalah Pak?" tanyanya lagi.
Danu pun berdiri, ia menatap wajah Pak Dion sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mengingat cerita putranya tentang Nirmala yang hampir dilecehkan oleh saudara tirinya, membuat Danu kesal melihat sosok didepannya itu. Ia mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali ia mendaratkan bogem mentah nya diwajah Ayah gadis yang kini tengah berbaring tak berdaya di dalam UGD, andai saja gadis itu tidak sedang membutuhkannya darahnya, pasti Danu sudah mengajar nya sekarang karena sudah menyia-nyiakan putrinya sendiri.
"Ikut saya kerumah sakit, Nirmala sedang membutuhkan donor darah" ucapnya, tapi tatapannya melihat ke arah lain.
"Nirmala?" Pak Dion merasa bingung, kenapa pimpinan pertama perusahaan itu mengajaknya kerumah sakit, dan mengatakan kalau putrinya sedang membutuhkan donor darah. Sebenarnya apa hubungan putrinya dengan sosok pria dihadapannya itu.
"Nirmala mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah, Mama nya bilang hanya darah Papa nya yang sama dengan Nirmala"
Tiba-tiba Pak Dion tersenyum sinis.
"Tidak bisa Pak, suruh saja Mama nya mencari orang lain untuk mendonorkan darahnya pada Nirmala"
Danu menatap lekat wajah yang ingin sekali ia hajar itu.
"Kenapa tidak bisa, anda Papa nya" ucap Danu pelan namun penuh penekanan.
Danu menjadi kesal, ia menarik kerah kemeja pria yang menjengkelkan itu.
"Apa kamu tau kenapa Nirmala pergi dari rumah mu?" mata Danu menyorot tajam pada Pak Dion. "Itu karena kamu sudah membawakan nya neraka kedalam rumah mu itu" ucapnya lagi lalu perlahan ia melepaskan kerah kemeja Pak Dion.
Pak Dion terkejut dengan tindakan tiba-tiba dari pimpinan pertama perusahaan itu, ia semakin penasaran apa sebenarnya hubungan putrinya itu dengan sosok pria itu.
"Apa maksud Pak Danu?'' ia merapikan kerah kemejanya yang berantakan.
"Anda tidak tau kan kalau Nirmala hampir dilecehkan oleh anak wanita yang anda nikahi itu, dan putra saya yang sudah menolongnya. Anda tau kan siapa putra saya? pemimpin perusahaan tempat anda bekerja ini" ucap Danu dengan angkuhnya, ia benar-benar kesal pada pria itu.
Deg... Pak Dion terkejut mendengar pengakuan pimpinan pertamanya.
"Nirmala dilecehkan.....
Tanpa ingin menunggu lagi, Danu segera menarik lengan pria yang diam mematung itu.
hingga dirumah sakit, Pak Dion sudah mendonorkan darahnya pada Nirmala.
•••••
Evan baru saja sampai di luar kota, ia merasa tidak nyaman karena perasaannya semakin tidak enak mengingat gadis itu. Iapun berinisiatif untuk menghubungi Mama nya lewat video call untuk memastikan semuanya baik-baik.
"Assalamualaikum Ma" ucapnya saat wajah cantik Mama nya sudah terpampang di layar ponselnya.
"Waalaikumsalam Nak, ada apa? kamu sudah sampai kan"
"Iya Ma, ini baru saja sampai. Mama lagi dimana, itu kok seperti dirumah sakit"
"Iya Nak, Mama memang lagi dirumah sakit"
"Papa sakit Ma?" Evan menjadi cemas.
Nirmala tersenyum. "Bukan Papa, tapi Nirmala"
"Apa Ma? Nirmala sakit kenapa? perasaan kemarin dia baik-baik saja" wajah Evan semakin terlihat cemas mendengar gadis itu sedang sakit.
"Nirmala mengalami kecelakaan, Nak"
Deg...Seketika Evan berdiri dari tempat duduknya.
"Apa Ma? Nirmala kecelakaan"
Ya Allah pantas saja perasaan ku tidak enak.
"Kamu jangan khawatir disini ada Papa dan Mama ku yang nemenin Nirmala, Papanya Nirmala juga sudah mendonorkan darahnya untuk Nirmala. Pokoknya kamu selesaikan pekerjaan kamu disana, Nirmala disini banyak yang jagain kok"
Evan tidak menjawab, ia menundukkan kepalanya.
"Tenang aja, Mama pasti jagain dia kok buat kamu. Mama akan pastikan dia baik-baik saja sampai kamu pulang" Alisa tau apa yang sedang dipikirkan oleh putranya sekarang.
"Ma.....
"Setelah kamu pulang nanti, pokoknya kamu harus sudah mengatakan isi hati kamu pada Nirmala" Alisa tersenyum, dan putranya disana semakin menatapnya lekat.
Evan juga tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Insyaallah Ma"
Sambungan video call itupun berkahir, Alisa pun kembali masuk kedalam ruangan tempat Nirmala dirawat. Sementara Evan, ia juga kembali duduk ditempatnya semula, ia meraup wajahnya. Ah ternyata karena itu perasaannya jadi tidak enak, ternyata gadis itu sedang tidak baik-baik saja.