
...🍂🍂🍂🍂...
Lelah menunggu namun si penghuni apartemen tak juga kunjung pulang, Lestari pun memutuskan untuk pulang dan akan kembali datang esok hari.
Tak lama setelah Lestari pergi, Nirmala pun pulang bersama Evan yang mengantarkannya. Evan menatap punggung Nirmala yang hilang dibalik pintu apartemen dengan perasaan yang merasa tak rela berpisah dari gadis itu, Evan menunggu di luar apartemen meski Nirmala memintanya untuk masuk, ia mengantar Nirmala ke apartemen untuk mengganti pakaiannya dan setelahnya akan ikut bersama Evan kerumahnya untuk belajar mengaji, lebih tepatnya memperlancar bacaan Nirmala saja.
Bukan hanya belajar mengaji, Evan juga mengajari Nirmala apa yang ia ketahui dan ia pahami tentang agama, dan Evan senang Nirmala merespon dengan baik apa yang ia ajarkan pada nya.
Evan duduk menundukkan kepalanya menumpuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, pikirannya menerawang pada saat pertama kali ia bertemu sosok Nirmala yang tidak sengaja menabraknya waktu itu, Evan tidak menyangka akan sampai pada titik ini, titik dimana ia menjadi dekat dengan gadis yang selalu berusaha ia hindari. Bukan hanya dekat, namun Evan juga merasa nyaman bila berada di dekatnya, bahkan ia merasakan perasaan yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata bila berjauhan dengan sosok gadis itu.
Apakah dia sedang jatuh cinta?
Ah, dia harus menanyakan kepada Papa dan Mama nya bagaimana ciri-ciri jatuh cinta 😂
"Ya Allah. Jika nanti aku jatuh pada cinta yang baik, maka jatuhkan lah aku sejatuh-jatuhnya ."
Setelah beberapa saat berperang melawan perasaannya sendiri yang ia juga belum memahaminya, Evan dikagetkan oleh Nirmala yang sudah berdiri dihadapannya yang mengenakan terusan panjang lengkap dengan jilbab yang senada.
"Ngelamunin apa sih?" Tanya Nirmala dengan senyum terbaiknya.
Evan mengangkat wajahnya dan membalas senyuman gadis yang yang berdiri di hadapannya.
"Ah enggak" jawab Evan lalu beranjak dari tempat duduknya dan mensejajarkan diri dengan Nirmala.
"Bosan ya kelamaan nungguin aku?" Tanya Nirmala lagi.
"Enggak kok, udah selesai kan. Kita berangkat sekarang" ajak Evan lalu mempersilahkan Nirmala melangkah terlebih dahulu.
"Gak mau gandeng tangan aku?" Tanya Nirmala dengan tersenyum jail.
"Nanti aja kalau sudah halal" upsss Evan langsung membungkam mulutnya.
"Apa? Kamu bilang apa tadi" Nirmala mengerutkan keningnya, ia menanyakan apa yang diucapkan Evan barusan.
"Ah enggak apa-apa kok, ya udah yuk kita jalan, nanti keburu magrib" ucap Evan menghindari pertanyaan Nirmala.
"Oh ya udah, ayuk" lalu kemudian Nirmala melangkah melewati Evan.
Mobil yang dikendarai oleh Evan dan Nirmala pun meninggalkan area apartemen yang ditempati oleh Nirmala dan Mama nya, apartemen yang diberikan oleh Danu kepada Nirmala.
Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan ia juga tidak mempermasalahkan lagi jika Nirmala duduk dikursi penumpang di sampingnya. Padahal sebelumnya ia selalu menyuruh Nirmala untuk duduk di kursi penumpang di belakangnya dan selalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai karena tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Nirmala.
"Evan...?" Panggil Nirmala.
"Iya" jawab Evan melirik Nirmala. Bahkan saat gadis itu menyebut namanya saja, mampu membuatnya bergetar.
"Aku mau tanya sesuatu?"
"Iya, mau tanya apa? Tanyakan saja"
"Em... Aku jadi penasaran, kamu udah punya mantan berapa sih?"
Evan terkekeh mendengar pertanyaan Nirmala, gadis itu bertanya berapa mantan nya padahal dulu ia pernah mengatakan bahwa ia tidak mengenal dengan yang namanya pacaran.
"Masa sih cowok sekeren setampan dan setajir kamu gak pernah punya pacar. Apa gak ada cewek yang mau sama kamu?"
"Bukan gitu, yah karena aku emang gak ada waktu buat hal yang tidak penting seperti itu. Mama dan Papa ku saja sering mau mengenalkan aku dengan anak temannya, tapi aku tidak berminat, toh nanti kalau sudah waktunya pasti akan ketemu juga dengan jodohnya, iya kan?"
"Em iya juga sih, jujur ya dulu aku nakal-nakal gitu gak pernah pacaran juga loh" ucap Nirmala tersenyum menatap Evan disampingnya.
"Oh ya? Bagus dong, aku jadi salut loh sama kamu" Evan membalas senyuman Nirmala.
Pukul 5:30 mobil Evan sudah terparkir rapi didepan rumahnya, rumah masa kecilnya.
Seperti biasa selama satu bulan terakhir ini, Evan keluar lebih dahulu lalu membukakan pintu mobil Nirmala, anda saja gadis itu halal untuknya pasti sudah ia sambut tangan gadis itu, seperti pangeran yang menyambut tangan Cinderella turun dari kereta kencana nya.
"Terima kasih" ucap Nirmala saat Evan membukakan pintu mobil untuknya, lalu ia turun.
Dan seperti biasa, wanita paruh baya itu dengan senyum terbaiknya menyambut kedatangan mereka didepan pintu.
Alisa menyambut Nirmala dan langsung membawanya kedalam pelukan hangatnya dan mengabaikan putranya yang juga merentangkan kedua tangannya meminta di peluk.
"Ah Mama sudah mulai gak adil ya sama aku" Evan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Alisa terkekeh mendengar tuduhan tak berdasar putranya itu, ia lalu menyuruh Nirmala masuk terlebih dahulu untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan magrib.
Setelah Nirmala masuk, Alisa mengembangkan senyumnya sembari melangkah mendekati putranya lalu berbisik di telinganya.
"Van, mau gak kamu jadikan dia menantu Mama" Bisiknya ditelinga putranya.
Evan tekejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang Mama ditelinga nya, ia lalu menanyakan kembali untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar.
"Iya Van, kamu suka gak sama Nirmala? Kalau kamu suka, jadikan dia menantu Mama ya"
Evan melongo mendengar ucapan Mama nya yang kali ini bisa ia dengar dengan jelas, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia senang karena ternyata Mama nya menyukai gadis itu, namun di sisi lain ia bingung, bingung apakah ia sudah siap menjadi pemimpin di dalam rumah tangga.
"Van kok malah melamun sih, jawab Mama dong Van. Kamu suka gak sama Nirmala?" Tanya Alisa mengulang lagi pernyataan nya karena putranya itu hanya diam saja.
"Em Ma nanti aja ya kita bicarakan soal itu, sekarang kita masuk dulu untuk siap-siap sebentar lagi adzan Maghrib." Evan mengelak pertanyaan Mama nya dengan mengajaknya untuk bersiap-siap shalat Maghrib.
"Tapi nanti di jawab loh pertanyaan Mama" Nirmala melangkah masuk bersama putranya dengan menggandeng tangannya.
"Iya Ma" jawab Evan. Ia mengiyakan agar Mama nya tidak bertanya lagi, tapi setelah itu ia benar-benar harus memikirkan jawaban apa nanti yang akan ia berikan pada Mama nya.
Adzan Maghrib pun menggema...
Semua sudah siap pada posisinya masing-masing, kali ini Evan lah yang menjadi imamnya, Danu meminta putranya menggantikannya karena permintaan dari Alisa.
Alisa sengaja meminta suaminya untuk menyuruh putranya menggantikannya menjadi imam shalat, agar putranya itu bisa belajar mengimami makmum nya nanti, hanya berdua saja.
Kegiatan wajib diwaktu Maghrib itu pun telah usai dilaksanakan, Evan membacakan doa-doa setelah shalat, tak lupa ia menyelipkan doa untuk dirinya agar dimudahkan segala urusannya, agar ia di beri petunjuk pada hatinya yang sedang bimbang.
Dan seperti biasa setelah shalat Maghrib usai, Nirmala memulai kegiatan belajarnya bersama Evan.