
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa, kini tinggal 1 Minggu lagi menjelang hari pernikahan Evan dan Nirmala. Persiapan pernikahan pun sudah mencapai 90% dan itu semua tentunya Danu dan Alisa yang menyiapkan semuanya, mereka tidak membiarkan pihak dari calon menantunya ikut turun tangan.
Kini tinggal Fitting baju pengantin, dan itu akan dilakukan siang ini. Dan itu akan dilakukan dibutik teman Alisa, karena dibutik Alisa sendiri hanya tersedia pakaian syar'i saja.
"Dooorrrrr" Ardi yang sedari tadi mengetuk pintu namun tidak ada sahutan langsung masuk keruangan Evan, lalu mengejutkannya karena melihat bos nya itu sedang melamun.
"Astaghfirullah Ardi, kamu bikin kaget saja" Evan mengelus dadanya yang seakan jantungnya ingin lompat dari tempatnya karena terkejut.
"Abisnya aku dari tadi ketuk pintu gak kamu dengar, eh ternyata lagi melamun" ucap Ardi, lalu duduk dikursi yang tersedia yang berhadapan dengan Evan. "Kamu kenapa sih melamun?" tanyanya. " Seharusnya calon pengantin itu memancarkan aura kebahagiaan diwajahnya, dan bukannya malah melamun seperti itu, entar kesambet loh" ucapnya.
"Melihat kamu seperti ini, aku jadi takut jatuh cinta" sambungnya, sembari bergidik ngeri membayangkan sesuatu.
"Takut kenapa?'' tanya Evan, ia lalu menyeruput kopi yang dibuat oleh office boy sejak 1 jam lalu, ia baru meminumnya karena keasyikan melamun.
"Takut gila seperti kamu" jawab Ardi, lalu terkekeh melihat wajah Evan yang menatap awas padanya.
"Apa maksudmu? kau mengatai ku gila?" Evan tidak terima dengan ucapan sahabatnya yang juga sekertaris nya itu.
"Kadang melamun, kadang senyum-senyum sendiri. Apalagi coba namanya, kalau bukan gila" ucap Ardi lagi, terbahak.
"Gila karena cinta" Sambungnya dengan cepat, saat mendapat tatapan tajam dari bos nya itu.
Evan ingin berbicara, namun ia urungkan saat ponselnya berdering. Dilihatnya dilayar ponselnya ternyata Mama nya yang menelpon.
"Assalamualaikum, Ma" ucapnya saat menjawab panggilan dari Mama nya.
"Waalaikumsalam, Nak. Kamu dimana?" tanya Alisa dari ujung telepon.
"Dikantor, Ma. Kenapa Ma?"jawab Evan, lalu bertanya balik pada Mama nya.
"Masih dikantor? loh Mama kira kamu sudah pergi jemput Nirmala"
"Jemput Nirmala, Ma?" Evan melirik Ardi. "Untuk apa Ma?"
"Loh kok untuk apa sih, kamu lupa ya hari ini kamu sama Nirmala harus Fitting baju pengantin dibutik teman Mama, ini aja temen Mama tadi udah telpon nanyain kamu sama Nirmala kenapa belum datang" kata Alisa, ia terlihat geram sekarang, seandainya putranya itu ada dihadapannya pasti sudah ia daratkan cabitan nya ditelinga putranya itu.
"Astaghfirullah haladzim, Ma. Maaf Evan lupa, Ma. Ya udah Ma kalau gitu Evan jemput Nirmala sekarang, Assalamualaikum Ma" Evan pun langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Mama nya setelah mengucapkan salam. Evan sangat bersemangat untuk menjemput calon istrinya, ia senang bukan hanya karena hari ini ia Fitting baju pengantin, tapi juga melepaskan rindu yang sudah beberapa Minggu ini ia pendam karena tidak bertemu.
"Woy main pergi aja" teriak Ardi saat Evan meninggalkannya begitu saja. "Tanda tangani dulu dokumen ini" ucapnya sambil mengangkat memperlihatkan dokumen yang ia bawa untuk dimintai tanda tangan dari CEO perusahaan itu. Namun, dengan tega bos nya itu meninggalkan begitu saja tanpa menanda tangani terlebih dahulu dokumen yang ia bawa.
"Nanti aja" jawab Evan juga dengan berteriak saat sudah diluar ruangannya. Karyawan yang lewat disana pun saling tatap melihat tingkah bos mereka hari ini, mereka tidak pernah mendengar Evan berbicara banyak apalagi sampai berteriak seperti itu. Dan para karyawan itupun lebih tercengang lagi saat Evan berlari dengan tergesa-gesa nya.
"Iya, Pak Evan kenapa ya?"
Beberapa karyawan itu saling bertanya, namun tidak ada yang menjawab karena mereka semua baru melihat tingkah yang tidak biasa mereka lihat dari CEO mereka itu hari ini.
"Tuh kan lihat aja, beneran udah gila kan dia" gerutu Ardi yang masih berada didalam ruangan Evan. Sebab, sahabatnya itu tidak pernah meninggalkan pekerjaan sekecil apapun, dan lihatlah sekarang saatnya Mama nya menelpon dan mengatakan untuk Fitting baju pengantin, bos nya itu terlihat begitu semangatnya untuk pergi menjemput calon istrinya sehingga meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Ardi melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ya ampun, sebentar lagi akan ada rapat" Ardi menekan pangkal hidungnya, karena mau tidak mau ialah yang harus menggantikan bos nya itu untuk memimpin rapat.
Dengan pasrah Ardi pun melangkah keluar dari ruangan Evan, dan saat sudah berada diluar Ardi menatap satu persatu pada karyawan yang berada diluar ruangan Evan.
"Ngapain kalian ngumpul disini?" tanya Ardi yang keheranan melihat para karyawan itu yang tengah berbincang-bincang entah sedang membicarakan apa.
Para karyawan itupun tersentak kaget melihat sekertaris CEO mereka sudah berada dihadapan mereka.
"Eh I-tu Pak Ardi, Pak Evan kenapa ya? kok lari-lari gitu?" tanya salah satu karyawan dengan sedikit terbata dengan menunjuk kearah Evan berlari.
"Oh itu, itu Karena CEO kita sudah gila" jawab Ardi dengan santainya lalu meninggalkan para karyawan yang semakin kebingungan dibuatnya.
Para karyawan itupun tercengang dan saling pandang mendengar jawaban sekertaris CEO itu dengan santainya mengatai CEO mereka sudah gila.
.
.
.
.
.
Hai hai semuanya....😁
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih 🙏 karena sudah memberikan dukungannya pada karya aku ini.😘😍
Dan aku juga mau mengajak kalian untuk mendukung karya ku yang sedang mengikuti lomba 🙏😁😊