
"Malam ini di restoran Victoria Hotel pukul 8 malam"
- Prasetya -
Nirmala terdiam membaca pesan dari Prasetya. Ingin sekali rasanya membatalkan apa yang sudah disepakati, namun dia sadar tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Dia harus mendapatkan uang itu, bagaimanapun caranya, apapun konsekuensinya dia harus kuat.
Malam ini Prasetya menuju Victoria Hotel. Dia membawa mobilnya sendiri tanpa diantar oleh Pak Karim supir pribadinya. Dia meletakkan uang yang sudah dia siapkan didalam kamar kemudian dia kembali turun ke restoran dimana dia harus menunggu Nirmala. Dia duduk menyilang kakinya, kepalanya tertunduk ditahan oleh tangan kanannya. Sesekali jarinya memijat pelipis yang terasa kaku, perasaannya tak menentu. Saat ini masih pukul 7.45 namun Prasetya sudah menunggu kedatangan Nirmala, entah dia sangat antusias atau hanya penasaran dia juga tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.
Nirmala membuka lemari pakaiannya, dia memilih pakaian yang yang akan dia pakai malam ini. Malam yang mungkin tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Dia memilih dress lengan pendek berwarna hitam yang panjangnya hingga kebawah lutut. Ia menutupi gaun lengan pendeknya dengan kain rajut warna senada. Nirmala terlihat sangat elegan, hanya saja gaun hitam yang dia pakai seolah menggambarkan suasana yang akan dilaluinya sepanjang malam nanti.
Pukul 8 malam tepat, Nirmala sampai di restoran. Di sana terlihat Prasetya sudah duduk menunggu dengan kepala yang masih tertunduk.
"Selamat malam". Ucap Nirmala ketika sampai persis di depan Prasetya.
Prasetya menengadahkan pandangannya, mendengar suara yang orang yang ia kenal. Jantungnya berdegup kencang, Nirmala sangat cantik, sangat berbeda dengan penampilan keseharian di kantor. Walaupun dengan dandanan dan rambut yang hanya di kuncir entah mengapa malam ini sangat terlihat berbeda.
"Kau sudah datang". Dengan canggung Prasetya menjawab salam dari Nirmala.
"Ingin pesan makanan atau kita bisa langsung ke kamar? " lanjut Prasetya.
"Saya tidak lapar." ucap Nirmala sambil menunduk.
"Silahkan masuk." ucap Prasetya.
Nirmala masuk sambil mengamati kamar itu, kamar VVIP yang sangat mewah.
"Ini uang yang kamu minta." ucap Prasetya menunjukan tunai uang yang sudah ada didalam tas kemudian dia menaruhnya di atas meja kecil dekat pintu keluar.
Nirmala hanya diam mematung, dia bingung harus bagaimana. Uang yang ia inginkan sudah ada didepan mata, tinggal satu langkah lagi dia akan mendapatkan uang itu.
"Mau minum?" Prasetya menawarkan minuman kaleng. Melihat Nirmala yang hanya diam mematung, Prasetya berjalan kearah Nirmala.
"Tidak, terima kasih saya tidak haus." Nirmala menjawab dengan gugup, seluruh badannya bergetar melihat Prasetya jalan kearahnya. Sementara Prasetoya semakin mendekat dan dia berdiri tepat didepan Nirmala. Jarak mereka kini hanya satu jengkal. Nirmala semakin merasa ketakutan ketika tangan Prasetya memegang kain rajut yang dia pakai untuk menutupi gaunnya.
Nirmala memegang pergelangan tangan Prasetya berusaha mencegah Prasetya untuk menyentuhnya lebih jauh. Namun seketika Nirmala mengendorkan pegangan tangannya di pergelangan Prasetya, ia sadar bahwa ia harus mendapatkan uang itu. Nirmala harus melaksanakan apa yang sudah mereka sepakati agar bisa mendapatkan uang yang sangat ia inginkan.
Prasetya melanjutkan membuka kain rajut yang Nirmala pakai. Ia semakin mendekatkan badannya ketika melihat leher Nirmala yang terlihat jenjang dan putih bersih dan terlihat kontras dengan gaun yang ia kenakan. Sekilas manik mata Prasetya melihat sorot mata Nirmala seolah meminta ijin. Nirmala hanya diam dengan sorot mata yang kosong. Prasetya menganggap diamnya Nirmala sebagai persetujuan bahwa dia boleh menyentuhnya lebih jauh.
Nirmala tetap diam ketika Prasetya memeluknya, meletakkan dagunya di atas bahu Nirmala. Prasetya mencium leher jenjang Nirmala dan merasakan wangi tubuh yang sangat ia inginkan. Nirmala meneteskan air matanya dibalik pelukan Prasetya. Dia hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan Prasetya lakukan padanya malam ini.
🌷🌷Bersambung🌷🌷