NIRMALA

NIRMALA
02 Baiklah



Ceklek...


Suara pintu terbuka.


Prasetya menoleh, kaget ternyata Nirmala kembali ke ruangannya. Dengan pikiran berkecamuk dia hanya diam menatap Nirmala.


"Saya setuju" ucap Nirmala sambil menunduk, badannya bergetar, Matanya tertutup menahan rasa sakit dalam dirinya. Dia telah menyetujui menjual tubuhnya. Tidak ada hal yang lebih rendah dari apa yang dia lakukan saat ini.


Prasetya hanya diam dan bingung tidak menyangka Nirmala akan menyetujui syarat yang dia ajukan. Dia tidak tau apa yang dia rasakan. Harusnya dia jijik, ternyata Nirmala tidak berbeda dengan wanita di luar sana yang merelakan tubuhnya demi uang, tapi saat ini dia tidak merasakan hal itu. Dia tidak mengerti dengan perasaannya.


Merasa tidak ada respon, Nirmala mengangkat wajahnya menghadap Prasetya.


"Tapi saya juga punya syarat, setelah satu malam itu terlewati, kita akan bersikap biasa layaknya bos dan karyawan dan tidak ada satu orangpun yang akan tau mengenai hal ini" ucap Nirmala.


"Baiklah...." Prasetya menyetujui, berkata sambil menatap keluar jendela memunggungi Nirmala. Harusnya dia senang karena apa yang diinginkan telah disetujui Nirmala. Tapi entah mengapa dia juga merasakan kecewa dan sakit di hatinya.


"Kapan kamu membutuhkan uang itu?" tanya Prasetya


"Lebih cepat lebih baik" jawab Nirmala.


"Cih...kamu benar-benar sudah tidak sabar untuk mendapatkan uang itu" Prasetya berkata dengan senyuman yang terasa menghina. Ternyata Nirmala benar-benar gila dengan uang.


Mendengar nada ucapan Prasetya, hati Nirmala semakin sakit, tapi dia harus kuat.


"Hm...aku akan memberi tahukan waktu dan tempatnya" Prasetya bergumam menyetujui dan berkata masih dengan memunggungi Nirmala.


"Baik, saya permisi"


Nirmala berbalik dan keluar dari ruangan Prasetya. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruangan itu sambil menangis, badannya terasa lemas tidak ada kekuatan. Walaupun hancur, dia tetap harus melakukannya. Ini jalan yang paling cepat agar dia mendapatkan uang. Setelah merasa cukup kuat, Nirmala melangkah keluar meninggalkan kantornya. Selama perjalanan, dia melamun menatap lampu disepanjang jalan. Banyak hal yang dia pikirkan.


Merasa Nirmala sudah keluar dari ruangannya, Prasetya membalik badannya dan kembali ke meja kerjanya kemudian duduk di kursi kebesarannya. Mencoba melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi. Dia hanya duduk menyangga kepala dengan tangannya. Dia terus memikirkan mengapa dia melakukan hal itu, apa tujuannya, dan mengapa dia tidak merasa jijik terhadap Nirmala walaupun dia tau wanita itu menyetujui tidur dengannya demi uang 250 juta.


Saat ini usia Prasetya 35 tahun, dia berpisah dengan istrinya 5 tahun lalu ketika usia pernikahannya baru menginjak tahun ke 2. Semenjak saat ini dia sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Dia sama sekali tidak tertarik walaupun hanya untuk sekedar bersenang-senang.


Sementara itu, Nirmala sudah sampai di apartemen tempat tinggalnya. Apartemen sederhana hanya dengan 2 kamar tidur, dapur dan ruang tamu. Dia menyewa apartemen untuk tempat tinggalnya agar dekat dengan kantor tempat dia bekerja. Dia sengaja pindah dari tempat tinggalnya yang lama agar dekat dengan kantornya sekarang.


Ketika sampai di kamarnya, Nirmala langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Mengistirahatkan tubuhnya, sementara pikirannya masih tetap bekerja keras memikirkan semua masalah yang ada di dirinya. Di satu sisi satu masalah terselesaikan, dia hanya berharap semua akan baik-baik saja dan kehidupannya kembali normal.


Ini adalah week end, Nirmala tidak bekerja dan hanya akan membersihkan apartemennya. Selanjutnya dia kan beristirahat, menenangkan pikirannya. Ketika sedang membersihkan kamar, terdengar bunyi pesan masuk.


"Malam ini di Victory hotel pukul 7 malam"


-Prasetya-


🌷🌷Bersambung🌷🌷