
...🍂🍂🍂...
"Evan?" Panggil Nirmala pada lelaki disampingnya yang tengah fokus dengan kemudinya.
"Iya" Jawab Evan melirik Nirmala sekilas lalu kembali fokus pada jalanan didepannya.
"Em... Apa gue berhenti kuliah aja ya" ucap Nirmala, namun pandangan nya menatap deretan bangunan bertingkat yang seakan mengikuti laju mobil yang ditumpanginya.
"Kenapa? Tanya Evan melirik Nirmala.
"Gue juga gak tau kenapa, gue rasanya udah gak semangat aja gitu buat kuliah"
"Apa karena Lestari?"
"Entahlah, tapi mungkin juga. Cuma Lestari satu-satunya orang yang gue kenal dengan baik selama ini" tatapan Nirmala menyendu menatap bangunan bertingkat yang dilewatinya.
"Terus kalau kamu berhenti kuliah, kamu mau apa?"
"Cari kerja mungkin, Tante Alisa juga pernah nawarin gue buat kerja dibutik nya"
"Oh ya, Mama ku pernah menawari mu kerja dibutik nya?"
"Iya, tapi kalau Lo mau, gue juga mau kok kerja dikantor Lo"
"Tapi maaf, dikantor aku lagi gak ada lowongan. Kalau kamu mau, kamu bisa jadi office girl" Evan terkekeh.
"Jahat banget sih, masa cewek secantik gue disuruh jadi office girl, yang bemar aja" Nirmala mengerucutkan bibirnya.
"Seharusnya cewek secantik gue itu jadi sekertaris bos bos" sambungnya, lalu menatap lekat Evan.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Tatapan kamu itu mencurigakan, awas ya kalau macam-macam, aku turunin kamu dijalan" ancam Evan karena Nirmala terus menatapnya.
"Hahah" Nirmala tertawa. "Ya ampun, omongan Lo itu udah kayak cewek yang takut diperk*sa aja." Nirmala menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sumpah! Lo itu laki-laki teraneh yang pernah gue temui, dikampus aja semua cowok berlomba-lomba untuk sekadar berkenalan dengan gue. Lah elo? Jadi gak salah kan kalau gue bilang Lo itu cowok yang gak normal"
"Gue tuh cuma mau bilang, kalau gue mau jadi sekertaris Lo" Sambung Nirmala.
"Enggak" Jawab Evan dengan cepat
"Hah"
"Eh maksud aku, gak bisa karena sudah ada Ardi yang jadi sekertaris aku" ucap Evan memberi penjelasan.
"Gue heran sama Lo, biasanya bos sekeren dan setampan Lo itu lebih milih sekertaris cewek apalagi yang cantik dan seksi"
"Maaf, aku bukan orang seperti itu. Dan asal kamu tau, semua karyawan wanita dikantor tidak ada yang berpakaian yang seperti kamu bilang tadi"
"Boleh gak gue bilang kalau Lo itu munafik"
"Terserah kamu lah mau anggap aku seperti apa" Evan terus fokus pada kemudi nya, ia sudah enggan untuk menimpali lagi ucapan gadis disampingnya itu. Berbicara dengan seperti tidak akan ada habisnya, lebih baik ia saja yang mengakhiri pembicaraan.
Keduanya pun kembali larut kedalam pikiran masing-masing, hingga tak terasa mobil yang dikendarai oleh Evan dan Nirmala itu sudah terparkir rapi diparkiran kantornya.
Evan keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Nirmala, yah manusiawi jika seseorang merasa kesal dengan ucapan seseorang. Evan hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan kesal jika seseorang menyinggung perasaannya, namun ia tidak bisa berlebihan dalam menyikapinya, menurutnya biarlah orang beranggapan apa tentang nya, ia hanya menjalani kewajibannya sebagai mana mestinya.
Evan melangkah masuk lebih dulu kedalam perusahaan nya dan Nirmala mengikutinya dari belakang, semua mata karyawan langsung tertuju pada pemandangan yang langkah itu, melihat bos mereka datang ke kantor bersama seorang wanita tentu itu menjadi hal baru yang baru mereka lihat.
Benar yang diucapkan Evan, Nirmala mengendarakan pandangannya mengabsen setiap karyawan wanita yang dijumpainya sepanjang langkahnya mengikuti Evan dari belakang. Semua karyawan wanita yang bekerja di perusahaan itu mengenakan pakaian yang tertutup dan longgar.
Evan menghentikan langkahnya tepat di depan ruangannya, ia meraih knop pintu lalu melepaskannya dan kemudian ia berbalik dan menatap Nirmala dibelakangnya.
"Kita tunggu Ardi dulu" jawab Evan kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
"Yah kita tunggu didalam ruangan aja" ucap Nirmala kemudian melangkah melewati Evan dan membuka pintu ruangan itu lalu masuk.
Evan hanya bisa melongo melihat tindakan Nirmala.
"Hei kenapa gak masuk" panggil Nirmala melihat Evan yang hanya berdiri saja didepan pintu ruangannya.
"Sebentar lagi, aku tunggu Ardi dulu, dia sudah dekat"
"Yah tunggu didalam aja"
"Kamu aja yang tunggu didalam, aku disini saja" Evan pun melangkah menuju kursi kosong yang tersedia tidak jauh dari ruangannya lalu duduk disana.
"Terserah Lo deh, dasar aneh." Gumam Nirmala lalu menuju kursi kebesaran Evan dan duduk disana.
"Ternyata gini rasanya jadi bos" Nirmala memutar-mutar kursi yang didudukinya.
Karyawan yang lewat disana merasa kebingungan melihat bos mereka yang sedang duduk tak jauh dari ruangannya, sementara pintu ruangannya terbuka. Tidak pernah para karyawan itu melihat bos mereka duduk seperti tamu yang sedang menunggu dan tidak langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Pak Evan, kenapa bapak duduk disini dan tidak masuk kedalam ruangan bapak?" Tanya salah seorang karyawan pria yang seumuran dengan Evan, ia tidak bisa menahan rasa penasaran akan sikap tidak biasa Nia nya itu.
"Oh ini saya sedang menunggu Ardi" jawab Evan tersenyum pada karyawan nya itu.
"Oh, tapi maaf Pak, kenapa Pak Evan tidak menunggu di ruangan bapak saja?" Tanya karyawan itu lagi, ia benar-benar penasaran, masa menunggu sekertaris nya sendiri harus menunggu seperti itu.
"Gak apa-apa, saya tunggu Ardi disini saja, tidak lama lagi Ardi sampai" senyumannya masih setia ikut menjawab pertanyaan karyawan nya itu.
"Pintu ruangan bapak terbuka, biar saya tutup ya Pak" karyawan itu hendak menuju pintu ruangan Evan yang terbuka dan ingin menutupnya namun Evan mencegahnya.
"Eh gak usah, biarkan saja seperti itu" cegah Evan saat karyawan nya itu hendak menutup pintu ruangannya.
"Oh ya udah Pak, kalau gitu saya permisi dulu"
Evan hanya tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Karyawan itu pun pergi dengan masih merasa kebingungan dengan sikap bos nya hari ini, yang berbeda dari biasanya.
Tak lama Ardi pun datang, ia sama heran nya dengan karya tadi yang melihat Evan sedang duduk dikursi tak jauh dari ruangannya.
"Eh Van, kenapa duduk disini?" Tanya Ardi juga ikut duduk disamping Evan.
"Yah nungguin kamu lah"
"Tumben nungguin aku, ini juga kok tumben tumbenan kamu disini, Kalau nunggu aku kan bisa di ruangan kamu"
"Didalam ada gadis itu" Evan menggerakkan bola matanya kearah pintu ruangannya yang terbuka.
"Oh ya ya" Ardi memanggut-manggutkan kepalanya. "Yah aku ngerti sekarang kenapa kamu nungguin aku disini."
"Ayo masuk keruangan kamu, ada yang mau aku bicarakan dengan Nirmala" Ardi menarik tangan Evan menuju tempat dimana Nirmala berada.
Melihat pemilik ruangan itu beserta sekretaris nya masuk, Nirmala langsung beranjak dari kursi kebesaran itu lalu melangkah menuju dimana kedua lelaki itu berdiri.
Setelah didalam ruangan Evan, Ardi langsung menceritakan pada Nirmala tentang lestari yang berteriak histeris memanggil Nirmala untuk meminta maaf, Ardi juga memberitahu Nirmala bahwa lestari memintanya berjanji untuk membawa Nirmala bertemu dengan nya.
Nirmala hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Ardi, ia pun tidak tau bisa atau tidak bertemu dengan temannya itu, ia benar-benar kecewa pada Lestari.